Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.
Daftar Karakter Utama:
Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.
Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).
Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).
Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fajar di Atas Darah: Kembalinya Sang Matahari Trowulan
Langkah Senopati Rangga Gading terhenti tepat di bibir sungai yang gelap. Ia baru saja akan melompat ke atas kudanya ketika sebuah desingan halus membelah udara.
Jleb!
Sebuah jarum beracun menancap di lehernya. Pandangan Rangga Gading mendadak berputar. Ia berlutut, mencoba meraih kerisnya, namun tenaganya seolah menguap ke angkasa. Dari balik bayang-bayang pohon besar, muncul sosok berjubah mewah yang sangat ia kenali.
"Kau terlalu banyak tahu, Rangga," suara dingin itu milik Tumenggung Gajah Pradoto. Di belakangnya, belasan mata-mata sekte Gagak Hitam berdiri dengan pedang terhunus.
Rangga Gading berusaha bicara, namun lidahnya kelu. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, ia melihat senyum licik sang Tumenggung. "Buang dia ke sungai. Biar ikan-ikan yang menghapus jejak pengkhianatannya," perintah Gajah Pradoto. Tubuh kekar sang Senopati diangkat dan dilemparkan ke arus sungai Brantas yang sedang meluap.
Jauh di hilir, di dekat sebuah jeram yang tenang, Eyang Sableng Jati sedang sibuk mencuci kakinya sambil bersiul-siul sumbang. Matanya yang rabun menangkap sesuatu yang besar tersangkut di akar pohon bakau.
"Waduh! Ikan jenis apa ini? Kok pakai baju zirah?" gumam Eyang Sableng. Dengan sekali sentakan tongkat kayunya, ia menyeret tubuh Rangga Gading ke daratan. Eyang segera menekan beberapa titik saraf di dada sang Senopati untuk mengeluarkan air dan racun. "Oalah, ini kan Senopati yang mengejar muridku. Nasibmu benar-benar malang, Nak."
Sementara itu, di istana, Gajah Pradoto murka karena semua rencananya diganggu oleh bocah "monyet" itu. Ia memanggil orang paling berbahaya di nusantara: Mahesa, sang Pendekar Kelabang Hitam.
Mahesa adalah pemimpin tertinggi sekte Gagak Hitam. Ia membawa tongkat hitam legam dengan hulu berbentuk tengkorak manusia yang mengeluarkan aroma busuk. Ratusan pasukan khusus sekte Gagak Hitam dikerahkan untuk menyisir perbukitan Trowulan.
Satya Wanara, yang sedang duduk di dahan pohon tertinggi, melihat debu yang mengepul dari kejauhan. Wajahnya yang biasanya penuh tawa kini mengeras. Ia berdiri tegak, menggenggam Toya Emas Angin Langit.
Dengan kecepatan luar biasa, Satya melompat dari pohon ke pohon, bergerak tanpa suara seperti bayangan ninja, hingga ia mendarat tepat di tengah lapangan luas, menghadang ratusan pasukan musuh seorang diri.
"Mana tuan kalian yang kumisnya seperti sikat kuda itu?" tanya Satya, suaranya dingin tanpa canda.
"Mampuslah kau, Bocah!" teriak Mahesa sambil mengayunkan tongkat tengkoraknya.
Pertempuran Sengit Meletus!
Satya memutar toyanya hingga menciptakan pusaran angin yang menghalau anak panah. Namun, Mahesa bukan lawan sembarangan. Setiap benturan antara Toya Emas dan Tongkat Tengkorak menciptakan percikan api yang membakar rumput di sekitarnya. Satya mulai terdesak; ratusan prajurit mengepungnya dari segala penjuru, mempersempit ruang geraknya.
Cring! Tongkat Mahesa hampir mengenai kepala Satya. Saat posisi Satya mulai goyah karena dikeroyok masa...
"BERHENTIIII!"
Sebuah raungan menggelegar dari arah bukit. Rangga Gading muncul dengan zirah yang masih basah, namun matanya menyala penuh amarah. Di sampingnya, Eyang Sableng Jati melompat-lompat jenaka namun dengan aura kesaktian yang menekan lawan.
"Satya! Jangan mati dulu, aku belum sempat bayar hutang nyawaku!" teriak Rangga Gading sambil menghunus Gada Kyai Guntur Geni.
Rangga Gading dan Eyang Sableng merangsek masuk ke tengah kepungan, membantu Satya menghabisi pasukan Gagak Hitam. Mahesa yang melihat situasi berbalik mencoba kabur, namun ia tidak tahu bahwa kebenaran sudah sampai ke telinga Raja.
Rangga Gading ternyata telah mengirimkan bukti-bukti yang ditemukan di gudang arsip dan pengakuan Ki Danu langsung ke tangan Prabu Brawijaya V melalui kurir rahasia sebelum ia dilumpuhkan.
Saat ini, di balairung istana, Tumenggung Gajah Pradoto sedang bersujud di bawah ujung pedang sang Prabu yang murka setelah melihat bukti-bukti pengkhianatan yang tak terbantahkan.
"Ternyata rayap itu adalah kau, Pradoto!" titah Sang Prabu.