NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA TUAN SAGA

TAWANAN CINTA TUAN SAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Barat / CEO / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak

Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.

"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.

Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.

"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.

"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "

Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

“Ivana, pegang tangan papa. Papa akan menyelamatkanmu!”

“Ivana, ayo. Kau pasti bisa.”

Malam itu, malam yang panjang. Hujan kala itu, turun begitu deras di Avalon, California. Seorang ayah kini tengah berusaha menyelamatkan putrinya yang terjebak dan bergelantung pada sebuah dahan kecil yang berada di pinggir tebing laut. “Ivana, pegang tangan papa.”

Ivana yang kala itu masih kecil, harus mengalami nasib yang begitu buruk. “Papa, Ivana takut.”

“Tetaplah tenang Ivana, gapailah tangan papa.” Ivana benar-benar berusaha menggapai tangan itu, dahan ranting yang menjadi topangan tubuh Ivana mulai patah.

Tangan kecil itu mulai bisa menggapai genggaman tangan sang ayah. Hingga pada akhirnya, “Tertangkap.” Tuan wingston berhasil menangkap lengan putrinya, namun dahan itu benar-benar telah patah. Dengan bersusah payah, dengan tangan yang terus mengeluarkan darah tuan wingston terus mencoba menyelamatkan Ivana hingga pada akhirnya anak itu naik ke permukaan.

“Ivana, syukurlah kau selamat. Papa benar-benar cemas padamu.” Tuan wingston memeluknya dengan sangat erat.

“Papa, di mana tuan Teddy?” Ivana mencari sebuah boneka beruang miliknya, ia terus menerus mencari beruang itu.

“Papa, apakah tuan Teddy jatuh ke laut bersama dengan mobil papa?”

Tuan Wingston tak menjawab, ia juga sibuk mencari beruang itu. Hingga pada akhirnya ia menemukannya, tergeletak di jalanan dengan jarak yang tak jauh dari mereka. “Itu di sana, biar papa ambilkan untukmu ya Ivana.” Mendengar itu, Ivana pun mengangguk.

Tuan Wingston pun berjalan ke arah boneka itu, berjalan dengan menyeret kaki kirinya yang telah terluka parah. Pria itu tersenyum, menatap Ivana kecil yang benar-benar senang melihat boneka kesayangannya telah di temukan. “Ivana, papa menemukannya.” Tuan Wingston mengangkat boneka itu dengan tangannya, keduanya begitu gembira.

“Tunggulah di sana, papa akan datang untukmu.” Tuan Wingston kembali berjalan ke arah Ivana. Namun seketika wajah anak itu berubah.

Sorotan lampu tiba-tiba sangat terang berada di belakang tuan Wingston, Pria itu pun menoleh dan mendapati sebuah mobil tengah melaju ke arahnya. Dan........

“Brukkkkkkkk”

Tuan Wington tertabrak oleh mobil itu, kejadiannya begitu cepat sehingga membuat pria itu tak sempat menyelamatkan dirinya. Tuan Teddy terlempar, ia jatuh tepat di hadapan Ivana, tuan Wingston tergeletak bersimbah darah dengan jarak yang cukup jauh dari Ivana. Sedangkan truk box itu, jatuh ke dalam jurang laut bersama dengan sang sopir.

Ivana yang melihat kejadian itu benar-benar syok, seluruh tubuhnya lemas. Ia benar-benar tak berdaya, “PAPA.....” Teriakannya menggema, ia berjalan dengan kaki yang gemetar ke arah sang ayah, ia memeluknya. Menangis dan terus memeluk sang ayah.

*****

“AAAAAARRRRGGGGGHHHHH”

“Kak Ivana,”

“Ivana.” Melihat Ivana yang menangis membuat Jane dan Rei langsung berbalik badan, mereka langsung menghampirinya. Memeluknya dan mencoba menenangkan wanita itu.

“Ada apa dengannya Rei, mengapa tiba-tiba seperti ini?”

“Aku pun tidak tahu. Tidak biasanya kak Ivana seperti ini.”

"Kak Ivana tenanglah, ada denganmu. Kau bisa ceritakan semuanya pada kami." Ivana mulai tenang, ia mulai bisa kembali mengontrol emosinya.

"Tolong jangan pakai truk box, jujur saja itu mengingatkanku pada hal yang paling membuatku takut. Aku benci mengatakannya, tapi aku lebih setuju dengan saran Jane yang sebelumnya. Kita tunggu saja bus datang, tak masalah bagiku jika harus menunggu sampai pagi sekalipun. Asal jangan naik truk itu, aku mohon pada kalian." Napas Ivana tersengal-sengal. Ia benar-benar memiliki trauma yang mendalam akan hal itu.

"Baiklah jika memang seperti itu, namun kita akan menunggu di sini, jujur saja aku takut." Rei tak takut akan kegelapan, ia takut kepada preman jalanan yang berada di ujung gang. Mereka sedari tadi terus mengawasi mereka.

Jane mulai paham, Ia paham saat Rei terus menatap ke arah para preman itu. "Kita menjauh dari sini, mereka sepertinya mengawasi kita."

Ivana dan Rei pun mengangguk, keduanya kini pergi. Namun Jane tak benar-benar pergi, gadis itu berlari paling belakang. Jikalau benar tebakannya para preman itu tengah mengincar mereka.

"Jane, mengapa kau sangat lamban."

"Aku mengawasi Rei, kau bawa Ivana pergi. Aku bisa berkelahi, namun kalian? aku rasa tidak." ucap Jane sebari menggelengkan kepalanya.

Jane benar soal mereka, beberapa pria itu mulai mendekat ke arah mereka. Mereka tak hanya mendekat, mereka kini bahkan lari.

"Sial, guys. Cepat pergi! Sekarang!"

Jane berlari ke arah sekumpulan preman itu, "MENYINGKIRLAH DASAR KALIAN PARA BAJINGAN PAYAH"

"Wah, benar-benar gadis pemberani" ucap salah seorang preman itu yang takjub melihat kegigihan dari seorang Jane.

"Diamlah kau dasar preman jalanan payah" Jane menendang preman itu, membuatnya tersingkir ke atas aspal. Namun pria itu langsung bangun, ia menyerang Jane. Para teman preman itu berlari menghampiri Ivana dan Rei.

"Kak Ivana, mereka mengejar kita,"

"Rei, telepon polisi sekarang juga,"

"Aku panik,"

Melihat Rei dan Ivana yang tengah di kejar oleh para pria itu membuat Jane langsung pergi menghampiri mereka. "Sialan kalian, berhenti mengganggu teman-tekanku." Jane berlari dengan sangat kencang, ia menghajar para preman itu. Menarik baju kedua preman itu dari belakang. Ada satu di belakang Jane, namun Jane yang sadar langsung membuang kedua preman itu ke arah preman di belakangnya.

Ketiganya kini tergeletak, sedangkan satu preman lagi ia membawa pisau belati. Ia berencana menusuk Jane, namun gadis itu dengan cekatan terus menghindar.

Hingga pada akhirnya ketiga preman itu kembali bangkit, "Kalian menunggu apa? cepatlah lari! Sekarang!"

"Tidak," Rei mengambil balok kayu, ai arahkan balok kaya itu kepada para preman.

"Sini maju, mau aku pukul, sini" Rei dengan mata melototnya membuat para preman itu mundur.

“Ivana, pergilah. Aku dan Rei akan melawan mereka.”

Ivana pun mengangguk, “Ya, aku akan memanggil polisi, tunggulah sebentar.” Ivana berlari menjauh dari mereka, ia tahu. Tak akan aman untuknya menerima panggilan jika saat seperti ini.

"Majulah kalian, beraninya sama cewek. Wuuuuuuu" Teriak Jane sambil mengarahkan jempol tangannya ke bawah.

*****

Danuel kini tengah duduk di atas kap mobil, Pria itu kini tengah melakukan panggilan telepon dengan bosnya, Saga.

"Kalian kehilangan Ivana, kau benar-benar kehilangan dia lagi?," Tanya Saga dengan nada yang marah.

"Maaf Saga, namun serius. Kejadiannya benar-benar sangat cepat." Ujar Danuel, kepada Saga dari balik telepon.

"Cari dia aku tak mau tahu, pokoknya cari!"

Saga menutup telepon itu sepihak, “Bagaimana Danuel, apakah aman?” Tanya Martin, dan langsung mendapat tonjokan di perut dari Danuel.

“AAAARRRGGGGHHH.”

“Hai, mengapa kau memukulku.”

“Kau benar-benar masih bertanya, tak tahukah kau situasinya.” Ujar Danuel dan mendapat gelengan kepala dari Agres.

“Dewasalah Martin, dunia ini kejam.” Agres mengacak-acak rambut Martin, ia kembali ke mobil dan di lanjutkan oleh Danuel.

“Kalian ingin ke mana?” tanya Martin kepada keduanya.

“Kau tak ingin ikut? Kita harus mencari calon nyonya kita, kita harus menemukannya atau Saga akan mengamuk lagi.”

“Benar juga.” Martin masuk ke dalam mobil, Agres pun dengan cepat membawa mobil itu pergi dari sana.

*****

Kini Jane benar-benar sudah terpojok, ia telah babak belur di pukuli oleh para preman itu. Sedangkan Rei, balok kayu yang ia bawa telah di patahkan oleh para preman itu menjadi dua.

Preman itu kini memukul Rei, mereka menyeret gadis itu dan membenturkan kepalanya pada dinding beberapa kali sampai akhirnya dia pingsan. “Rei,” ucap Jane yang sudah sangat tak berdaya.

Ivana kembali, ia memutar suara mobil polisi. Para preman itu hendak lari, namun sebuah bunyi telepon tiba-tiba terdengar. “Tolong berhentilah, jangan telepon di saat seperti ini.”

Ivana menekan tombol merah dan membuat telepon itu mati, namun ia kini sudah ketahuan. Para preman itu menemukannya. Salah seorang preman itu menarik rambut Ivana, mereka menyeretnya. Ivana terus berteriak meminta pertolongan. Namun tak ada satu pun bantuan yang datang, sedangkan para polisi. Mereka tak kunjung datang, Ivana kini di dorong ia kini duduk di samping Jane.

“Ivana, mengapa kau kembali ke sini?”

“Dan kau mau aku membiarkan kalian di sini, di pukul oleh para bajingan itu dengan brutal. Mereka bisa melakukan hal yang lebih gila dari ini Jane. “ Mendengar perkataan dari Ivana, para preman itu terlihat begitu senang. Salah seorang preman itu menarik dagu Ivana dan mendekat ke wajahnya.

“Pintarnya nona cantik ini, dia bahkan sudah paham maksud kita.” Ivana menatap preman itu dengan tatapan tajam.

“Lepaskan tanganmu yang kotor itu dari wajahku!”

“HAHAHAHAHA” Mereka benar-benar menertawakan Ivana sekarang. Hingga akhirnya wajah para preman itu berubah menjadi raut wajah penuh dengan kemarahan.

“Dasar wanita tak berguna ini.”

“Plakkkkkk” Pria itu menampar Ivana, tak hanya sekali, ia terus melakukannya berkali-kali hingga membuat wanita itu luruh di atas aspal.

“Berhentilah mengganggu kami, pergilah kalian!” ucap Jane, dan hal itu membuat para preman itu kian marah. Ia kini mencekik leher Jane dan membuatnya terangkat ke atas.

“Lepaskan Jane, jangan sakiti dia.” Ivana memegang kaki preman itu.

“Lepaskan, tangan-mu, dari leher-ku, aku, hhhhhh, sudah tak bisa lagi bernapas.”

“Brukkkkkk”

Preman yang berdiri paling belakang pingsan, ketiga preman itu pun berbalik badan dan mendapati 3 orang berbadan kekar menghampiri mereka. Samar-samar Ivana dapat melihat pria-pria itu sebelum akhirnya ia benar-benar pingsan.

“Guys, habisi preman sialan ini.” ujar Danuel dan di jawab anggukan oleh Agres dan Martin.

“Hal yang sepele, ini akan mudah hanya dalam hitungan menit.”

“Sial, dia benar-benar menganggap kita sepele,” ujar preman itu dan melepaskan leher Jane.

Jane melihat perkelahian itu, ia kini dapat melihat dengan jelas. Siapa para pria itu, terutama pria berbadan tinggi, tegap dengan tato elang di lengan kanannya.

“Pria itu, dia, benar-benar sangat keren.” Jane pun menutup matanya, ia juga pingsan di tempat itu.

1
Mar lina
aku mampir
Thor
An_cin: Terima kasih kak😍
total 1 replies
Homerun
Alurnya bagus dan terkonsep. Aku suka. Lanjut thor🤗
An_cin
Yang suka akal-akalan barat, ayo sini
Homerun
aw aw, sempat suuzon sama Jane. Tapi ternyata baik juga tu anak 🤭btw semangat cintaku
An_cin: makasih sayangku🤭👍
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mantap thor
An_cin: Terima kasih kak, sudah mampir 🤭👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!