NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan
Popularitas:12.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Pagi itu Albi bangun lebih cepat dari biasanya, bahkan sebelum ayam berkokok ia sudah bangun terlebih dahulu, Albi duduk di ruang tengah, tangannya mulai terulur mengambil celengan yang sudah lama tidak disentuh.

  Albi menghitung jumlah dan menatapnya dengan rapi, lalu menuliskan sesuatu di catatan kecilnya. Perbaikan atap, sumur, biaya persalinan, biaya sekolah dasar.

Ia berhenti sejenak di baris terakhir.

Sekolah. Tangannya menegang, lalu melanjutkan menulis seolah waktu tidak boleh terbuang.

  Namun di dalam benaknya sepotong harapan-harapan kecil mulai bermunculan. "Apa aku bisa menemaninya hingga besar nanti? Apa nanti ia cukup mendapat kasih sayang dari aku," pikirnya terlalu dalam meskipun belum diminta.

☘️☘️☘️☘️☘️

  Siang hari Albi memperbaiki genteng yang mulai renggang, Nara yang memperhatikan dari bawah dadanya merasa tidak enak.

  "Kenapa harus diperbaiki sekarang?" tanya Nara.

  "Biar nati gak bocor," sahut Albi.

Kata-kata nanti seolah mengusik pikiran Nara entah itu apa. "Nanti kapan?" tanya Nara kembali.

  "Kalau musim hujan," jawab Albi sinkat.

Jawaban itu masuk akal. Tapi entah kenapa, Nara merasa seolah ada makna lain di baliknya. Beberapa hari terakhir, Albi memang sering berkata nanti. Seolah ia sedang berpacu dengan sesuatu yang tidak terlihat.

 Setelah beres memperbaiki atap genteng, Albi langsung turun, di bawahnya sudah tersedia minuman hangat dan pisang kukus, bukan teh ataupun kopi, tapi hanya air putih biasa yang memang selalu ia minum.

  "Bi, iki wedang anget, karo gedang kukus ndang di maem," ujar Nara.

  "Iyo Ndoro," sahut Albi sambil terkekeh.

  Nara menatap Albi dengan kesal, entah kenapa orang-orang disekitarnya selalu memanggilnya dengan sebutan Ndoro, padahal Nara bukan keturunan ratu Jawa.

  "Bi, kenapa sih, orang-orang manggil aku Ndoro, kan bisa saja mereka manggil aku Nduk, ataupun Nak," protes Nara.

  Sementara Albi terkekeh kecil, melihat wajah sahabatnya itu sedang cemberut. "Kamu itu cantik, kata mereka," ujar Albi pelan. "Makanya mereka antusias memanggilmu sebutan Ndoro," lanjut Albi terdengar tidak masuk akal.

 "Hah ....!" Nara terkejut mulutnya melebar sempurna membentuk huruf O. "Apa sih Bi, garing tahu," kesal Nara yang semakin membuat Albi terkikik sendiri.

  Nara beringsut, alisnya ditekuk, tangannya melipat sempurna diatas dada, tanpa sadar Albi membujuknya, layaknya seorang suami yang pengertian terhadap istrinya. "Udah, jangan ngambekan, kan bentar lagi mau punya dedek," kata Albi pelan.

  "Memangnya kalau punya Dedek dilarang ngambek gitu? Gimana kalau hati ibunya lagi sumpek," cerocos Nara.

  "Kalau sumpek, dikeluarkan saja, aku pasti dengerin."

  Deg!

  Dada Nara mendadak penuh, bukan karena tersinggung ataupun kata-kata Albi menyakitkan, tapi karena ia merasa tidak pernah didengar ataupun diperhatikan seperti ini, selama ini hanya Nara yang selalu bertanya, selalu memperhatikan tanpa berpikir jika ia juga butuh didengar ataupun diperhatikan seperti ini.

Nara terdiam, menahan getaran hati yang ada di dalam dadanya. "Bi, panggilnya pelan.

 Albi mengangkat alisnya pelan. "Iya."

  "Kenapa dari banyaknya orang, entah itu keluarga atau orang terdekat, kenapa hanya kamu yang bisa mendengar dan mengerti aku, kenapa Bi?" tanya Nara tiba-tiba, dengan air mata haru yang mulai bercucuran.

  Albi menghempaskan nafas perlahan, tangannya refleks tergerak langsung mengusap bulir bening itu. "Jangan menangis ya," ucapnya, pelan. "Jika kamu bertanya kenapa harus aku," diam sejenak.

  "Aku sendiri juga tidak tahu jawabannya, dari dulu aku memang care, dan tidak bisa dijelaskan ataupun dicari tahu, tentang kepedulian ku terhadapmu, semuanya mengalir begitu saja," jawab Albi.

  Dan entah kenapa Nara langsung memeluk lelaki dihadapannya itu, menumpahkan seluruh tangisannya di bahu Albi, yang terlihat agak kurusan itu.

  "Makasih sudah hadir, dan baik pada aku, jujur saja, dari dulu aku selalu sendiri," kata Nara.

  Albi memejamkan mata, dan membiarkan wanita dihadapannya itu menumpahkan semua keluh kesah di dalam dekapannya. "Sudah jangan nangis, aku gak mau, janinmu terpengaruh dengan tangisanmu," ujar Albi sambil menepuk pelan punggung Nara.

  "Makasih banyak Bi, aku gak tahu, jika tidak ada kamu, aku harus datang kemana," ucap Nara.

  Entah kenapa ucapan Nara barusan menjadi tamparan keras untuk Albi, jika ia harus lebih lama lagi hidup di dunia, agar bisa benar-benar menyiapkan masa depan Nara dan calon anaknya nanti.

  "Ya Allah, beri aku umur yang panjang," pinta Albi di dalam hati.

☘️☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu Albi ke balai desa. Langkahnya tenang, tapi rahangnya mengeras sejak ia meninggalkan rumah. Map tipis berwarna cokelat ia jepit di bawah lengan, map yang sama sejak kepulangannya dari kota, yang tak pernah ia buka di depan siapa pun.

Di balai desa, Pak Lurah sedang duduk di teras, menyeruput teh hangat. Begitu melihat Albi, pria tua itu langsung meletakkan gelasnya.

“Tumben sore-sore ke sini, Bi.”

Albi duduk di bangku kayu, menaruh map di pangkuannya. Ia tidak langsung menjawab. Jari-jarinya justru merapikan sudut map yang sudah rapi sejak awal.

“Ada sing pengin tak titipne,” ucapnya akhirnya.

Map itu berpindah tangan.

Pak Lurah membukanya sekilas. Tidak lama. Tapi cukup membuat wajahnya berubah bukan terkejut, lebih seperti orang yang paham bahwa ada keputusan besar di balik kertas-kertas itu.

“Buat jaga-jaga,” kata Albi singkat, suaranya datar.

Pak Lurah menutup map perlahan, lalu menatap Albi lama. Tatapan orang tua yang sudah terlalu sering melihat orang bersiap sebelum waktunya.

“Sampeyan mikir adoh,” katanya pelan.

Albi mengangguk kecil. “Lebih baik.”

Tidak ada kalimat tambahan. Tidak ada tanya jawab lain. Beberapa hal memang tidak perlu dijelaskan panjang-panjang, namun Albi tahu jika keputusannya ini, sudah direncanakan dengan matang.

"Yo wis lek ngono aku tak pamit disek," ujar Albo.

  Pak Lurah, mengangguk kecil. "Yo wes hati-hati," sahute pelan.

☘️☘️☘️☘️

Saat pulang, Albi membawa pulpen dan beberapa lembar kertas tambahan. Langit mulai meredup, angin sore membawa bau tanah basah. Ia melangkah lebih cepat dari biasanya, seolah ada sesuatu yang harus segera dibereskan sebelum hari benar-benar gelap.

Nara berdiri di ambang pintu ketika melihatnya datang. Matanya langsung tertuju pada tangan Albi, pada pulpen yang diselipkan di saku, pada kertas yang terlipat rapi.

“Kamu habis ngurus apa?” tanyanya.

Albi berhenti sejenak sebelum menjawab. Hanya sejenak.

“Surat-surat lama.”

Nada suaranya tenang, terlalu tenang.

Nara mengerutkan kening. “Kenapa tiba-tiba?”

Albi tersenyum tipis, senyum yang cepat sekali hilang.

“Biar rapi.”

Ia melangkah masuk, meletakkan kertas itu di laci, lalu menutupnya pelan.

Gerakannya seperti orang yang tidak ingin ada suara berlebih. Jawaban itu tidak salah.

Tapi entah kenapa, Nara merasa ada sesuatu yang tidak ikut pulang bersama kata-kata itu sebuah penjelasan yang sengaja ditinggalkan di luar.

Dan untuk pertama kalinya, Nara menyadari:

ada hal-hal tentang Albi yang tidak ingin ia ketahui, tapi juga tidak sanggup ia abaikan.

"Ya Allah semoga saja Albi tidak kenapa-napa," batin Nara.

Bersambung ....

Pagi Kakak ....

Semoga suka ya

1
Astrid valleria.s.
makasih thor 🙏🌹🌹🌹
Ummee
menyesal selalu datang di belakang ya Ardan...
Sugiharti Rusli
apa saat nanti Ardan tahu kalo Arbani adalah darah dagingnya sendiri, dia akan menuntut kepada sang mantan istri🙄🙄
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Nara yang berasal dari keluarga broken home, dia malah menyalah kan dirinya yang tidak bisa melakukan apa yang menurut suaminya berlebihan kala itu,,,
Sugiharti Rusli
padahal sikap Nara dulu adalah selayaknya seorang istri yang bertanya, tapi bagi Ardan dulu itu adalah gangguan,,,
Sugiharti Rusli
dan ternyata dia menyadari kalo yang punya masalah dulu saat berumah tangga dengan Nara adalah dirinya sendiri,,,
Sugiharti Rusli
mungkin si Ardan definisi laki" atau suami yang tidak pandai bersyukur yah dia dulu,,,
Sugiharti Rusli
tapi takdir malah mempertemukan mereka cepat dan sang putra masih belum dewasa buat mengerti kalo suatu saat dia harus berkata jujur tentang jati diri ayah kandung Arbani,,,
Sugiharti Rusli
sepertinya Nara tidak pernah berharap dia akan menjumpai lagi mantan suaminya seumur hidup yah,,,
Sugiharti Rusli
entah apa nanti Arbani akan mempertanya kan siapa sebenarnya laki" itu dan kenapa sang ibu mengenalnya,,,
Sugiharti Rusli
meski Nara tidak mengatakan apa" tentang sang putra kepada Ardan, tapi sepertinya Ardan tahu kalo itu anak kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
wah ternyata pertemuan tak terduga antara Nara dan Ardan lebih cepat terjadi yah sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang ada istilah darah lebih kental dari pada air yah, entah apa nanti sosok Ardan apa akan bisa masuk dalam diri Arbani kalo dia tahu itu ayah kandungnya,,,
Sugiharti Rusli
bahkan cara dia mengingatkan sang ayah buat minum obat maupun makan juga dilakukan dengan perkataan yang tidak memaksa, tapi justru membuat Albi merasa bersalah padanya,,,
Sugiharti Rusli
dan sepertinya Arbani juga tipikal anak yang penurut dan mudah diarahkan, karena dia dibesarkan dengan kasih yang tulus dari kedua ortunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi sang ayah maupun ibunya tidak berkata dengan nada keras selama ini, baik menegur maupun dalam bicara sehari-hari
Sugiharti Rusli
bahkan di mata teman" nya sosok Arbani sangat berbeda yah, sepertinya ada unsur pola asuh kedua ortunya yah,,,
Sugiharti Rusli
kalo dalam pendidikan Parenting sekarang, apa yang Arbani rasakan dia tidak nengalami yang namanya 'Fatherless' bersama Albi,,,
Sugiharti Rusli
apa nanti kalo Albi pergi, sang putra akan memendam rasa kehilangan akan sosok sang ayah yah, mengingat Albi sudah jadi sosok pahlawan bagi dirinya,,,
Sugiharti Rusli
dan Arbani tuh menunjukannya bukan dengan hal" yang besar, tapi hal kecil yang sangat menyentuh yah😔😔😔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!