NovelToon NovelToon
TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

TUMBAL DI TANAH PENGABDIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horror Thriller-Horror / Tumbal
Popularitas:178
Nilai: 5
Nama Author: S. N. Aida

Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.

Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.

Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.

Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16 — KAMAR TANPA JENDELA

​Fajar menyingsing di Desa Wanasari dengan wajah yang buruk rupa.

​Tidak ada keemasan matahari terbit. Langit tertutup awan abu-abu tebal yang menggantung rendah, sisa dari badai darah semalam. Udara berbau karat bercampur arang basah. Hutan di sekeliling gubuk tua itu tampak sakit; daun-daun singkong layu berwarna cokelat kemerahan, dan tanah becek di bawah kaki mereka terlihat seperti daging giling yang membusuk.

​Nara masih berdiri di ambang pintu gubuk, matanya bengkak dan kering. Ia menatap ke arah kebun tempat Siska menghilang semalam.

​Tidak ada jejak.

​Siska lenyap ditelan kegelapan dan kerumunan warga, seolah gadis itu tidak pernah ada.

​"Kita harus gerak, Nar," suara Dion terdengar serak dari sudut gubuk.

​Nara menoleh. Keadaan Dion mengenaskan. Bajunya kotor oleh lumpur darah yang mengering, wajahnya penuh goresan, dan tatapan matanya liar di balik kacamata retaknya. Di sampingnya, Raka terbaring dengan napas yang semakin lemah. Dada Raka tidak lagi naik turun dengan wajar; ada gerakan bergelombang di bawah kulit perutnya, seolah organ dalamnya sedang diremas-remas oleh tangan tak terlihat.

​"Gerak ke mana?" tanya Nara hampa. "Hutan ditutup. Jalan ilang. Gubuk ini bentar lagi rubuh."

​"Balik ke Joglo," jawab Dion tegas.

​Nara mengernyit. "Lo gila? Joglo udah gue bakar semalem. Warga pasti ngepung tempat itu."

​"Justru itu," Dion berdiri tertatih, menyeret kakinya yang pincang. "Hujan darah semalem... itu bukan cuma buat nakutin kita. Itu buat madamin api. Mereka nggak bakal biarin jantung desa mereka angus."

​Dion mendekat ke Nara, mencengkeram bahunya dengan tangan yang dingin.

​"Nar, gue sempet liat sebelum kita lari. Apinya... apinya nggak nyentuh lorong kamar itu. Bagian depan kebakar, iya. Tapi bagian belakang... utuh. Ada yang ngelindungin kamar itu."

​Nara terdiam. Ia ingat jilatan api yang menari liar semalam. Memang, api itu seolah menghindari pintu hitam keramat itu.

​"Di sana pusatnya," lanjut Dion obsesif. "Kalau kita mau mati, seenggaknya kita mati setelah tau apa isinya. Gue nggak mau mati bodoh tanpa jawaban."

​Nara menatap Raka yang mengerang pelan. Air... dingin... igau pemuda itu.

​"Oke," putus Nara. Ia mengeratkan pegangan pada pisau dapurnya yang kini sudah berkarat karena terkena hujan darah. "Kita balik ke kandang macan."

​Perjalanan kembali ke pemukiman warga adalah teror dalam kesunyian.

​Desa Wanasari pagi itu mati suri. Pintu-pintu rumah tertutup rapat. Tidak ada warga yang terlihat. Sepertinya setelah "pesta" semalam—pesta menyambut Siska—mereka semua tertidur lelap, kekenyangan oleh energi keputusasaan yang mereka panen.

​Bau sangit (gosong) semakin menyengat saat mereka mendekati lokasi Joglo.

​Dan di sanalah bangunan itu berdiri.

​Joglo tua itu kini tampak seperti bangkai raksasa. Atap depannya runtuh sebagian, tiang-tiang penyangganya hangus menghitam seperti tulang rusuk yang patah. Sisa-sisa kursi dan meja di teras sudah menjadi arang.

​Namun, dugaan Dion benar.

​Struktur utama bangunan—bagian dalem—masih berdiri kokoh. Tembok kayunya hanya gosong di permukaan, tapi tidak rubuh. Dan anehnya, ubin tegel di teras yang penuh puing itu bersih dari abu, seolah baru saja disapu.

​"Mereka ngebersihin tempat ini subuh tadi," bisik Nara.

​Mereka memapah Raka menaiki tangga teras yang berderit. Suasana hening mencekam. Tidak ada penjaga. Tidak ada Kang Jaya atau Pak Wiryo. Seolah desa sengaja membiarkan mereka masuk kembali.

​Mereka melangkah masuk ke ruang tengah.

​Pemandangannya mengerikan. Dinding-dinding hitam bekas terbakar menciptakan suasana gothic yang menekan dada. Cahaya matahari yang masuk lewat atap bolong menciptakan sorot-sorot cahaya tajam yang menerangi debu-debu arang yang beterbangan.

​Dan di ujung lorong yang gelap, di antara puing-puing yang hangus... pintu hitam itu berdiri tegak.

​Mulus. Mengkilap. Tanpa goresan sedikit pun.

​Bahkan kuncinya yang biasanya berkarat, kini tampak berkilau keemasan.

​Nara, Dion, dan Raka berdiri di depan pintu itu.

​"Kunci..." gumam Nara. "Kita nggak punya kuncinya. Biasanya Pak Wiryo yang pegang."

​Dion maju selangkah, hendak mengintip lubang kunci.

​Namun, belum sempat Dion menyentuh gagangnya, terdengar bunyi klik yang halus dari dalam mekanisme pintu.

​Gagang pintu itu berputar sendiri. Perlahan.

​Kreeeeek...

​Pintu hitam itu terbuka ke dalam. Gelap pekat menyambut mereka. Bau yang keluar dari sana bukan bau apek atau bau gosong. Melainkan bau dupa yang sangat wangi, bercampur dengan aroma amis darah segar dan... parfum wanita tua.

​"Dia ngundang kita masuk," bisik Raka, matanya yang sayu mendadak terbuka lebar menatap kegelapan di dalam kamar. "Ibu ada di dalem."

​Nara menelan ludah. "Ayo. Jangan pisah."

​Mereka melangkah masuk.

​Kamar itu luas. Jauh lebih luas dari yang terlihat dari luar. Dan sesuai namanya... tidak ada jendela satu pun.

​Dindingnya bukan kayu biasa, melainkan dilapisi kain beludru merah tua yang sudah berdebu, memberikan kesan seperti berada di dalam peti mati mewah atau rahim raksasa.

​Tidak ada lampu. Sumber cahaya hanya berasal dari puluhan lilin kecil yang menyala di lantai dan di atas meja-meja altar di sekeliling ruangan.

​"Gila..." desis Dion. Matanya menyapu sekeliling.

​Ruangan itu adalah museum.

​Di sepanjang dinding, berjejer foto-foto hitam putih yang dibingkai kayu jati. Foto-foto itu disusun rapi berdasarkan tahun.

​Dion mendekat ke salah satu bingkai. Ia menyekanya dengan ujung baju.

​"Tahun 2014," baca Dion.

​Di foto itu, terlihat enam mahasiswa. Tiga laki-laki, tiga perempuan. Mereka memakai jaket almamater kuning—universitas yang berbeda dengan Nara. Mereka tersenyum lebar di depan Joglo yang masih utuh.

​Tapi ada yang aneh dengan foto itu.

​Di bagian leher masing-masing mahasiswa di foto itu, ada coretan tinta merah. Sebuah garis lurus. Tanda sembelih.

​Kecuali satu orang. Seorang pemuda yang berdiri di tengah. Wajahnya dilingkari tinta hitam tebal.

​"Itu pemimpinnya," kata Nara, berdiri di samping Dion.

​Di bawah bingkai foto itu, ada sebuah kotak kaca kecil. Di dalamnya tersimpan sebuah benda: Kacamata retak yang berlumuran darah kering.

​"Ini barang mereka," Nara menyadari. "Ini trofi."

​Mereka bergeser ke bingkai selanjutnya.

​Tahun 2004.

Enam mahasiswa lagi. Almamater biru. Wajah ceria. Coretan merah di leher.

Barang di kotak kaca: Sebuah jam tangan wanita yang talinya putus.

​Tahun 1994.

Tahun 1984.

​Foto-foto itu terus mundur ke belakang, menampilkan mode pakaian yang berubah-ubah, gaya rambut yang berbeda, namun dengan nasib yang sama. Wajah-wajah muda yang penuh harapan, berakhir menjadi pajangan di dinding kamar setan.

​"Setiap sepuluh tahun," suara Dion bergetar. "Siklusnya presisi. Nggak pernah meleset."

​"Liat ini," panggil Nara dari sudut ruangan.

​Di sudut itu, terdapat sebuah meja rias kuno (tolet) dengan cermin oval besar yang sudah berbintik hitam. Di depan cermin, ada sebuah kursi kayu.

​Dan di atas meja rias itu, bukan alat make-up yang bertebaran.

​Melainkan foto-foto polaroid. Ratusan foto polaroid yang berserakan.

​Nara memungut satu.

​Itu foto Siska. Foto Siska sedang tidur di kamarnya dua hari yang lalu. Candid. Diambil dari sudut atas, seolah si pemotret menempel di langit-langit.

​Nara memungut foto lain.

Foto Raka sedang mandi di sumur belakang.

Foto Dion sedang menulis jurnal.

Foto Bima sedang makan.

​"Mereka ngawasin kita dari hari pertama," kata Nara, meremas foto itu. "Bukan cuma warga. Ada sesuatu di dalem rumah ini yang motret kita diem-diem."

​"Nar..." panggil Raka. Suaranya terdengar dari arah tempat tidur.

​Di tengah kamar itu, ada sebuah tempat tidur kayu berkelambu putih kusam. Raka berjalan mendekati tempat tidur itu seperti orang yang dihipnotis.

​"Jangan sentuh kasurnya, Rak," peringat Nara.

​Tapi Raka tidak peduli. Ia menunjuk ke atas kasur.

​Di atas sprei putih yang sudah menguning itu, tergeletak sebuah benda yang sangat familiar.

​Jaket almamater mereka.

​Bukan jaket Raka. Bukan jaket Dion.

​Itu jaket Nara.

​Jaket yang Nara pikir hilang saat dicuci oleh laundry desa hari kedua mereka tiba. Ternyata jaket itu ada di sini.

​Jaket itu terlipat rapi. Dan di atasnya, diletakkan sebuah konde (tusuk sanggul) emas dan secarik kertas surat.

​Nara mendekat dengan langkah berat. Tangannya gemetar saat mengambil kertas itu. Tulisannya tegak bersambung, menggunakan tinta emas yang berkilau dalam remang lilin.

​Untuk NARA AYUDIA (Calon Ibu 2024)

​Selamat datang di kamarmu, Nak.

Maafkan ketidaksopanan 'anak-anak' di luar. Mereka memang kasar kalau lapar.

Tapi di sini, di dalam rahim ini, kamu aman.

​Lihatlah sekelilingmu. Mereka semua (foto-foto di dinding) adalah kakak-kakakmu. Mereka berkorban agar Wanasari tetap hidup.

Tapi mereka lemah. Mereka pecah sebelum waktunya.

​Kamu beda. Kamu kuat. Kamu pemimpin.

Desa ini butuh Ratu yang bisa memimpin, bukan cuma Ratu yang bisa melahirkan.

Lala hanya wadah sementara. Kulitnya bagus, tapi isinya kosong.

Kami mau isimu, Nara. Tekadmu. Kemarahanmu. Dominasimu.

​Pakailah jaketmu. Dan pasanglah kondenya.

Upacara penobatanmu tinggal 3 malam lagi.

​Tertanda,

IBU SEBELUM KAMU (1974)

​Nara menjatuhkan kertas itu. Ia merasa mual. Mual yang lebih parah daripada saat mencium bau mayat Bima.

​"Mereka mau gue jadi... penerus?" bisik Nara. "Mereka nggak mau bunuh gue. Mereka mau gue gantiin posisi Ratu desa ini?"

​"Tahun 1974..." Dion menghitung cepat. "Itu 50 tahun yang lalu. Berarti Ratu yang sekarang... dia juga dulunya mahasiswa KKN?"

​Dion berlari ke dinding, mencari foto tahun 1974.

​Ia menemukannya di pojok yang paling gelap. Fotonya sudah sangat pudar, berwarna sepia.

​Di foto itu, ada tujuh mahasiswa. Enam berdiri di belakang, satu wanita duduk di kursi rotan di depan.

​Wanita itu cantik. Tatapannya tajam, dingin, dan angkuh. Ia tidak tersenyum seperti teman-temannya. Ia menatap lensa kamera dengan tatapan menantang.

​Dan wajah wanita itu...

​Dion menoleh ke Nara. Lalu kembali ke foto.

​"Nar," panggil Dion pelan. "Sini."

​Nara mendekat.

​"Liat wajah cewek ini."

​Nara menyipitkan mata. Wajah wanita di foto tahun 1974 itu... memiliki struktur tulang yang mirip dengan Nara. Mata yang sama. Garis rahang yang sama.

​"Nenek gue..." bisik Nara, lututnya lemas. "Itu foto nenek gue waktu muda."

​Dion ternganga. "Nenek lo?"

​"Nenek gue pernah cerita dia KKN di desa terpencil di Jawa Tengah. Tapi dia nggak pernah nyebut nama desanya. Dia bilang temen-temennya meninggal karena wabah kolera, cuma dia yang selamet."

​Nara mundur, menabrak meja rias.

​"Bohong..." desis Nara. "Nenek bohong. Dia bukan selamet karena keberuntungan. Dia selamet karena dia... dia jadi Ratu."

​Realisasi itu menghantam Nara. Darah di tubuhnya bukan darah sembarangan. Ia ditarik ke desa ini bukan karena kebetulan. Ia ditarik karena garis keturunan.

​Desa ini memanggil cucunya pulang untuk menggantikan neneknya yang kekuatannya mungkin sudah memudar.

​"Gue... gue pewaris kutukan ini?" air mata Nara menetes.

​Tiba-tiba, pintu kamar terbanting menutup. BRAK!

​Gelap gulita. Lilin-lilin padam serentak oleh hembusan angin yang tidak wajar.

​"Dion! Raka!" teriak Nara panik.

​"Sakit, Nar! SAKIT!" jeritan Raka membelah kegelapan.

​Dalam gelap, Nara mendengar suara tulang patah. Krak... Krek...

​"Raka?!" Nara meraba-raba saku, menyalakan korek api.

​Cahaya api kecil menyinari pemandangan di tengah ruangan.

​Raka sedang melayang.

​Tubuhnya terangkat satu meter dari kasur. Punggungnya melengkung ke belakang hingga tidak wajar. Dan dari mulut Raka yang terbuka lebar, keluar asap hitam pekat yang membentuk wujud manusia.

​Asap itu memadat, membentuk sosok wanita tua dengan kebaya kuno tahun 70-an.

​Sosok itu melayang di atas tubuh Raka, wajahnya persis seperti nenek Nara di foto, tapi versi yang sudah membusuk dan jahat.

​Sosok itu menatap Nara sambil tersenyum.

​"Cucu durhaka," desis sosok itu. Suaranya bergema di seluruh ruangan. "Udah disiapin karpet merah, malah mau bakar rumah sendiri."

​Sosok itu menunjuk Raka.

​"Karena kamu nakal... mainanmu ini Ibu ambil ya."

​Tangan asap sosok itu menembus dada Raka.

​Raka mengejang hebat. Matanya melotot menatap Nara. Tatapan minta tolong yang terakhir.

​"Nara... lari..." bisik Raka lemah.

​Sosok itu menarik tangannya keluar. Di genggaman asapnya, ada gumpalan cahaya merah yang berdenyut. Jantung Raka.

​Bukan jantung fisik, tapi jantung sukma.

​Tubuh Raka jatuh berdebam ke kasur. Diam. Mati.

​Mata Raka masih terbuka, menatap langit-langit kelambu, tapi cahayanya sudah padam. Mayat kedua telah jatuh.

​"RAKA!" teriak Nara histeris. Ia hendak menerjang maju, tapi Dion menahannya kuat-kuat dari belakang.

​"Dia udah mati, Nar! Jangan sentuh! Itu jebakan!" teriak Dion.

​Sosok nenek tua itu tertawa, lalu perlahan memudar, menyerap masuk ke dalam dinding-dinding beludru kamar.

​"Tinggal dua..." bisik suara itu sebelum menghilang. "Tiga hari lagi, Nara. Pakai kondenya. Atau Dion yang selanjutnya."

​Pintu kamar terbuka sendiri perlahan. Cahaya matahari siang yang terik dari luar masuk, menyinari mayat Raka yang terbaring kaku di kasur pengantin setan itu.

​Nara jatuh terduduk di lantai. Tangisannya pecah. Bukan tangisan sedih, tapi tangisan kemarahan yang bercampur dengan rasa pengkhianatan darah dagingnya sendiri.

​Ia bukan sekadar tumbal. Ia adalah putri mahkota dari kerajaan iblis ini. Dan neneknya sendiri yang telah menjualnya sejak ia masih dalam kandungan.

​Dion menatap mayat Raka, lalu menatap Nara. Di mata Dion, ketakutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kecurigaan.

​"Lo..." Dion mundur selangkah menjauh dari Nara. "Lo cucu dia? Berarti lo... lo bagian dari mereka, Nar?"

​"Nggak, Yon! Sumpah gue nggak tau!"

​Tapi Dion sudah tidak percaya. Di dalam kamar tanpa jendela yang penuh foto mayat itu, benih perpecahan terakhir telah ditanam. Nara kini sendirian. Benar-benar sendirian di tengah warisan dosa keluarganya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!