NovelToon NovelToon
Rembulan Tertusuk Ilalang

Rembulan Tertusuk Ilalang

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Romantis / Cintapertama / Nikah Kontrak / Dendam Kesumat / Roh Supernatural
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Cathleya

Rembulan Senja adalah anak yatim-piatu di sebuah panti di kota pesisir pantai. Hidupnya selalu diliputi kemalangan. Suatu hari, dirinya melihat mobil mewah terbalik dan mengeluarkan api, milik orang kaya dari kota.

Dibalik kaca, dia mengintip, tiga orang terjebak di dalamnya. Tanpa keraguan, tangan mungilnya membuka pintu yang tak bisa dibuka dari dalam. Akhirnya terbuka, salah satunya merangkak keluar dan menolong yang lainnya. Kedua orang kaya itu ternyata pemilik panti dimana dia tinggal. Lantas, dirinya dibawa ke kota, diadopsi dan disematkan nama marga keluarga angkat. Tumbuh bersama anggota keluarga, jatuh cinta dan menikah dengan salah satu pewaris. Malangnya, ada yang tak menyukai kehadirannya dan berusaha melenyapkannya!

Tiga tahun menghilang, kemudian muncul dan menuntut balas atas 'kematiannya'. Bangkit dan berjaya. Harus memilih antara cinta dan cita. Yang manakah pemenangnya!? Siapa jodoh yang diberikan Tuhan padanya? Akankah dia menjemput kebahagiaannya!?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cathleya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1. Rembulan tertusuk ilalang.

Tengah malam, daerah pinggiran pantai yang jauh dari perkotaan, suasana jalan raya beraspal tampak lengang. Tak ada suatu pun kendaraan yang melintas. Bahkan suara jangkrik pun tak enggan mengeluarkan nyanyiannya. Beberapa lampu jalan berjarak renggang, bahkan nyaris padam di beberapa titik, menerangi seadanya kawasan tersebut. Sebelah kanan adalah tebing curam dan di satu sisinya merupakan jurang dalam dan terjal.

Tiga unit kendaraan berpacu membelah keheningan malam, di pinggir jalan ketiga mobil hitam berhenti. Tampak empat orang berbadan besar berpakaian serba hitam, bergegas turun dari kendaraan sambil membopong tubuh gadis muda yang berada di bangku tengah, yang masih setengah sadar. Hanya sesekali lenguhannya terdengar memecah keheningan malam, hingga akhirnya, kesadarannya tersebut kembali utuh dan mampu mengenali sekitar. Dia tidak mengenal empat pria tersebut.

"Le ... le... pas ... kan ... a ... kuu ... hhh ...!" jeritnya histeris dengan bibir bergetar dan suara nyaris tak terdengar.

Gadis berkacamata itu memberontak sekuat tenaga. Tampak wajah pias penuh ketakutan, terbias jelas di wajahnya. Kaki kecilnya meronta dengan lemah. Tubuhnya terguncang hebat hingga kacamata berbingkai hitam yang dikenakannya jatuh ke tanah aspal dan terseret ke bahu jalan. Keempat pria tinggi besar itu tiada berucap, malah mengencangkan cekalan pada lengan dan kaki sang gadis. Salah satu pria, dari belakang kepala, membekap mulut dan dua orang memegangi kedua kaki yang meronta.

Dengan sekali aba-aba, seketika ...

Tubuh lemah itu dilemparkan ke udara. Tubuh ramping itu, mengambang, lantas menukik tajam menuju dasar jurang sedalam ratusan meter di atas permukaan laut, yang dasarnya bertebaran bebatuan runcing dan di sela bebatuan hanya ditumbuhi tanaman ilalang yang cukup rimbun.

Empat pria itu, melemparkan tubuhnya dengan enteng bagai meniupkan sehelai bulu. Lantas mereka, mundur beberapa langkah dan akhirnya memasuki ruang kemudi kendaraan. Mereka berlalu dari tempat itu, tersisa satu unit mobil mewah hitam.

Netra dari pemilik tubuh yang melayang ini tertumbuk pada bayangan enam sosok yang dia kenali, di bawah sorotan lampu jalan. Keenamnya menyandar di pagar pembatas. Senyum sinis tersungging di bibir kelimanya (tanpa diketahui sang gadis). Gadis muda itu hanya bisa menatap dengan ketakutan serta kesedihan yang mendalam, sementara tubuh rampingnya terus meluncur ke dasar jurang, tanpa bisa dihentikan.

Sebutir kristal bening meleleh dari sudut matanya seakan berkata.

"Mengapa kalian lakukan hal sekejam ini padaku!?

Apa salahku!?" pekiknya di kesenyapan malam.

Namun mulutnya hanya mengecap hampa di antara gemuruhnya angin malam yang memendarkan tangisannya.

Kedua tangannya terulur, berusaha menggapai tangan keenamnya, namun sia-sia, setiap obyek yang dilihatnya, semakin menjauh, mengecil dan menghilang dari manik hitamnya.

Booommm!!!

Bammmm!!!

Krakkkk!!!

Kwwakkkk!

Sssshhhhttt!

Terdengar dentuman keras raga dan belulang yang terpisah dari tautannya karena terjatuh dari ketinggian. Menghantam batuan cadas yg keras dan runcing di dasar jurang. Merobek kulit ari, menembus jantung.

Suara kepakan sayap burung pemangsa bangkai terdengar riuh dari kejauhan, seolah mengetahui ada 'calon makanan' untuk santapan malam di malam dingin. Bersamaan itu, terdengar suara benda langit (meteor) melintasi membelah atmosphere bumi.

Suara teriakkan pilu menyayat kalbu, tenggelam dalam pusaran angin malam yg cukup menggigit tulang belulang, di antara buaian mimpi. Netra sejernih madu, menatap warna jingga gelap nun jauh disana. Sesekali kelopak matanya dikedipkan untuk menatap langit berbintang.

Sakit!

Tentu saja! Namun, sakit yang mendera di sekujur tubuhnya tak sebanding dengan torehan luka di hati. Dalam khayalnya, andai dia tak menolong pasangan renta itu, mungkin nasibnya takkan berakhir setragis ini. Walau hidupnya tak pernah disinggahi kebahagiaan walau sejumput, tak pula bergelimang harta, dia yakin, masih dapat menghirup udara kehidupan.

Sepuluh menit kemudian, matanya yang mulai memburam akibat genangan cairan merah, menatap enam pasang mata, milik manusia tak beradab yang tadi dengan kejam menyuruh manusia lainnya, 'membuang' dirinya sampai ke dasar jurang dan sekarang dia berbaring di bawah cahaya temaram rembulan. Hanya suara angin mendayu yang tertangkap lemah menyusup masuk di indera pendengarannya yang melemah.

"W ... h ...y...yyyy!?"

Lirihnya dalam bahasa asing untuk menghemat tenaga, berkata dengan nafas yang tersengal, mempertanyakan perbuatan keenamnya yang tengah mengelilinginya di bawah jurang.

"Mengapa!?"

"Hahahaha!"

"Karena kamu pantas mati dengan cara ini, benalu dan penghalang dalam kehidupan bahagia kami!" ucap suara angkuh seorang pria di kisaran usia 23 tahun yang berjongkok di samping tubuhnya menahan kegeraman yang dia pendam selama bertahun-tahun dari sudut bibirnya.

Bola mata sang gadis hanya mengaruh satu jurusan ke arah langit kelam, sekelam beludru. Pandangannya telah kabur, terbenam cairan kental berwarna merah, menggenangi hati yang sakit dan rasanya mulai berakar kuat, menghujam ke dalam tulang.

Uhuk!

Uhuk!

Uhuk!

Nyuttt!

Darah segar, mengalir deras dari sela bibirnya. Perasaan nyeri semakin menyeruak di dalam dadanya, merambat di antara denyutan yang semakin melemah. Dalam ingatannya, di antara sakit kepala yang menghebat, sekelebat gambaran tentang dia dan pria tersebut, hadir, bagaikan slide video berputar riuh di kepalanya. Dalam ingatannya yang melemah, cukup jelas tergambarkan, dirinya dan pria itu adalah sepasang suami isteri!

Darah memancar dari semua liang panca indera, tertumpah melewati tiap helai rambutnya sekelam malam. Alam seolah berhenti berhembus tatkala seorang anak manusia bersusah payah menghirup sisa hawa yang tersisa untuknya. Perlahan melandai, setenang semilir angin yang melewati daun telinganya yang semakin mendingin. Satu persatu, jalinan nafasnya, merangkak tertatih-tatih di dadanya di sela kesakitan hebat yang mendera jiwa raganya.

"Inikah akhir hidup orang kecil yang miskin? Pada akhirnya harus mengalah pada kehidupan yang kejam!?"

"Tuhan! Apakah aku tak berhak hidup bahagia seperti yang lainnya. Satu hal yang kuimpikan, memiliki keluarga, merasakan kehangatan keluarga, menerima kasih sayang keluarga, makan enak, minum yang segar dan tidur nyaman!"

"Apakah tanah ini yang akan menjadi selimut tidurku dan langit berbintang sebagai atapnya!?"

"Apakah aku akan menjadi bintang yang paling bersinar terang bila sukma telah terlepas dari raga ini!?"

"Berikan aku kesempatan untuk bahagia walaupun sebentar. Berikan aku secuil waktu untuk bertemu dengannya!"

"Dia yang ku cintai yang tak pernah tahu rupa hatiku, yang tak tahu perasaanku. Aku hanya ingin melihatnya bahagia walaupun sekejap, walaupun hanya dalam mimpi!"

"Berikan aku waktu sedikit saja untukku menyatakan cinta walaupun nanti tak berbalas!"

"Izinkan aku, ya Tuhan!"

Sebait doa dia gumamkan di sisa kesadarannya yang semakin menghilang.

"Tuhan, ku mohon. Jadikan tempat kembaliku tempat yang indah. Amalanku menjadi cahaya penerang untukku. Dan tempatkan aku tempat terbaik hanya di sisi-Mu!"

"Dan aku bersaksi, tiada Tuhan selain Engkau dan Muhammad adalah hamba-Mu!"

Nun jauh di atas sana, Rembulan perak memancarkan cahayanya yang lembut di antara angin malam yang berhembus, di antara gemuruh kepakan sayap yang mendekat.

Dari pandangannya yang melemah, dia melihat, setangkai ilalang terbang tinggi tertiup angin malam, terbang jauh ke langit dan rembulan berubah menjadi jingga, berangsur memerah, di matanya seolah tangkai ilalang itu melukainya!

Di matanya, rembulan itu telah tertusuk.

Yah! Rembulan tertusuk ilalang!

Dan warna merah itu berangsur menghitam, gelap dan menghilang!

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!