NovelToon NovelToon
Rintik Di Barisan Belakang

Rintik Di Barisan Belakang

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mentari_Senja

Aruna selalu memilih duduk di barisan paling belakang.
Di sana, dia merasa aman, terlindung dari keramaian, dari tatapan, dari hal-hal yang membuat dadanya sesak.
Hujan adalah teman terbaiknya, satu-satunya suara yang mengerti diamnya.

Sampai suatu pagi, di tengah gerimis dan jendela berkabut, Bu Maita menyebut dua nama yang tak pernah Aruna bayangkan akan berdampingan.

“Aruna Pratama dan Dhira Aksana.”

Dhira, cowok yang selalu jadi pusat perhatian, yang langkahnya tenang tapi meninggalkan riak kecil di mana pun dia lewat.
Sejak saat itu, barisan belakang bukan lagi tempat untuk bersembunyi.
Perlahan, tanpa sadar, Aruna mulai membuka ruang yang sudah lama dia kunci rapat-rapat.

Di antara rintik hujan, catatan pelajaran, dan detik-detik canggung yang tak terduga, Aruna belajar bahwa beberapa pertemuan datang seperti gerimis.
pelan, jujur, dan sulit dilupakan.

Karena kadang, seseorang masuk ke dalan hidupmu setenang hujan, tanpa suara, tapi kamu ingat selalu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurnal yang Hampir Terbaca

Pagi ini Aruna nulis di jurnalnya lagi.

Kayak biasa. Sebelum berangkat sekolah. Duduk di meja belajar kamarnya yang kecil, lampu meja masih nyala meskipun udah pagi—kebiasaan yang nggak bisa ilang—pulpen di tangan, jurnal cokelat terbuka di halaman baru.

Dia nulis pelan. Huruf-hurufnya miring kayak biasa. Berantakan. Tapi jujur.

---

Aku berharap dia melihatku.

Tapi aku tahu itu mustahil.

Cinta ini seperti buih—indah sesaat, tapi akan hilang sebelum sempat menjadi apa-apa.

Aku mencintainya dalam diam.

Dan mungkin... selamanya akan begini.

---

Aruna berhenti nulis. Ngeliat kalimat terakhir itu lama.

Matanya... panas lagi.

Tapi dia nggak nangis. Udah nggak ada air mata lagi kayaknya. Udah abis semua kemarin malem.

Dia tutup jurnalnya pelan. Masukin ke tas. Bersihin meja. Terus bersiap berangkat sekolah.

---

Jam istirahat pertama.

Aruna duduk di bangkunya—barisan keempat dari depan—sambil baca buku. Buku novel tipis berjudul "Hujan Bulan Juni" yang udah dia baca berkali-kali tapi nggak bosen.

Kayla lagi ke toilet. Jadi Aruna sendirian.

Jurnalnya... ada di meja. Terbuka.

Aruna lupa nutup.

Dia lagi asik baca, jadi nggak sadar kalau jurnalnya terbuka di halaman terakhir yang dia tulis pagi tadi. Halaman yang... yang isinya tentang Dhira.

"Run, aku ke toilet dulu ya. Bentar aja," kata Kayla tadi sebelum pergi.

"Oke, Kay."

Dan sekarang...

Aruna baca novelnya, tenggelam di cerita tentang cinta yang nggak kesampaian, nggak sadar...

Pintu kelas terbuka.

Dhira masuk.

Cowok itu jalan santai ke bangkunya—barisan kedua dari depan—terus berhenti. "Eh, penghapus gue ilang. Kemarin gue taruh di sini..."

Dia cari-cari di laci meja. Nggak ada.

"Mungkin jatuh..." gumamnya sambil nunduk, ngeliat bawah meja.

Terus dia ngeliat... ada sesuatu.

Penghapus putih kecil. Tergeletak di bawah meja Aruna.

Dhira jalan ke sana. Pelan. Ambil penghapusnya.

Dan matanya... nggak sengaja... ngeliat meja Aruna.

Ngeliat jurnal cokelat yang terbuka.

Ngeliat tulisan tinta biru di halaman itu.

Dhira... berhenti.

Matanya... baca.

Nggak sengaja. Beneran nggak sengaja.

Tapi... dia baca.

---

*Aku berharap dia melihatku.*

*Tapi aku tahu itu mustahil.*

*Cinta ini seperti buih—indah sesaat, tapi akan hilang sebelum sempat menjadi apa-apa.*

---

Dhira... membeku.

Jantungnya... berdegup aneh. Keras. Kayak lagi lari marathon padahal cuma berdiri diem.

*Siapa... siapa yang dia maksud?*

Tangannya terangkat. Pelan. Hampir... hampir membalik halaman. Pengen tau lebih banyak. Pengen tau... siapa.

Tapi...

Dia sadar.

Ini privasi Aruna.

Ini... bukan urusannya.

Dhira tarik tangannya cepet. Tutup jurnal itu pelan-pelan. Hati-hati banget. Sampai nggak bunyi.

"Bukan urusanku..." gumamnya pelan, suaranya... gemetar dikit.

Tapi dadanya... nggak tenang.

Dadanya penuh... pertanyaan.

*Siapa yang Aruna maksud? Apa... apa itu... gue? Atau... orang lain?*

Dhira ngeliat Aruna yang masih asik baca buku, nggak sadar dia ada di situ.

Cowok itu... senyum kecil. Sedih.

Dia ambil sticky note kuning dari sakunya—sisa tugas kemarin—terus nulis sesuatu pake pulpen. Tulisannya... rapi. Beda banget sama tulisan Aruna yang berantakan.

---

*Jaga baik-baik rahasiamu. Tapi kalau suatu hari kamu mau cerita, gue akan dengerin.*

---

Dhira tempel sticky note itu di sampul jurnal Aruna. Pelan. Hati-hati.

Terus dia pergi. Keluar kelas. Nggak noleh lagi.

---

Yang Dhira nggak tau...

Ada yang ngeliat.

Elang.

Berdiri di luar pintu kelas, di koridor, ngeliat lewat celah pintu yang terbuka dikit.

Cowok itu... dateng ke kelas ini buat minjam spidol ke Bu Maita yang lagi keluar—tugas dari guru matematika buat nulis di papan tulis kelas sebelah. Tapi Bu Maita nggak ada.

Jadi Elang tunggu.

Dan dia... liat.

Liat Dhira di dalem kelas.

Liat Dhira berdiri di meja Aruna.

Liat Dhira... nutup jurnal Aruna.

Liat Dhira nulis sesuatu di sticky note.

Liat Dhira tempel sticky note itu di jurnal.

Dan... dadanya...

Dadanya kayak dibakar.

Panas. Sesak. Sakit.

*Dhira bisa deket sama Aruna.*

*Dhira bisa sentuh barang-barangnya.*

*Dhira bisa ngobrol sama dia.*

*Sementara gue... gue bahkan nggak bisa bilang 'hai'.*

Tangannya mengepal. Erat. Sampai kuku-kukunya menancap lagi ke telapak tangan—sakit—tapi dia nggak peduli.

Matanya... berkaca-kaca.

Tapi dia nggak nangis.

Nggak di sini.

Elang berbalik. Jalan cepet. Keluar dari koridor itu. Nggak jadi tunggu Bu Maita.

Jalan ke toilet. Masuk ke bilik yang sama kayak kemarin. Kunci pintunya.

Duduk di lantai dingin.

Peluk lutut.

Dan... napasnya... sesak.

*Kenapa... kenapa gue nggak bisa berani kayak dia...*

*Kenapa gue... kenapa gue cuma bisa... liat dari jauh...*

*Kenapa...*

Tapi nggak ada jawaban.

Cuma... rasa sakit yang makin dalam.

Rasa sakit yang... nggak akan pernah hilang.

---

Beberapa menit kemudian.

Aruna nutup bukunya. Ngambil minum dari botol di tasnya. Terus...

Ngeliat mejanya.

Jurnalnya... ditutup.

*Lho? Aku... aku lupa nutup ya?*

Aruna ambil jurnalnya. Terus... dia liat.

Ada sticky note kuning nempel di sampulnya.

Aruna... kedip-kedip.

Ambil sticky note itu pelan. Baca.

---

*Jaga baik-baik rahasiamu. Tapi kalau suatu hari kamu mau cerita, gue akan dengerin.*

---

Deg.

Jantung Aruna... berhenti sedetik.

Tulisan ini...

Tulisan siapa?

Aruna ngeliat sekeliling kelas. Kosong. Cuma ada dia.

*Siapa... siapa yang nulis ini?*

Tapi... entah kenapa... dadanya hangat.

Hangat yang... nyaman.

Aruna senyum tipis. Senyum yang... jarang muncul.

Dia lipat sticky note itu hati-hati. Masukin ke dalam jurnal. Di halaman pertama. Supaya nggak ilang.

Terus... peluk jurnalnya pelan.

*Ya Allah... siapa yang nulis ini...*

*Tapi... makasih...*

*Makasih udah... ngingetin aku... kalau aku nggak sendirian...*

---

Dari luar kelas.

Di koridor.

Elang berdiri.

Dia balik lagi. Nggak tau kenapa. Mungkin... masokis. Mungkin pengen nyiksa diri sendiri.

Dia ngintip lewat celah pintu.

Liat Aruna.

Liat gadis itu baca sticky note.

Liat senyum tipis di wajahnya.

Dan...

Hatinya...

Hancur.

Lebih hancur dari kemarin.

Lebih hancur dari kapanpun.

Karena senyum itu... bukan buat dia.

Senyum itu... buat Dhira.

Elang mundur pelan. Bersandar di dinding koridor. Tutup mata.

Tarik napas dalam. Tapi napasnya... nggak bisa tenang.

Tangannya nutupin wajah.

Dan dia bisik pelan—sangat pelan—sampai cuma dia yang denger:

"Ya Allah... kenapa... kenapa aku nggak bisa berhenti mencintai dia..."

"Padahal dia... dia bahkan nggak tau... aku ada..."

"Kenapa... kenapa cinta ini... sakit banget..."

Tapi nggak ada jawaban.

Cuma... sunyi koridor yang kosong.

Cuma... suara langkah kaki anak-anak yang mulai balik dari kantin.

Cuma... rasa sakit yang... nggak akan pernah diketahui siapa-siapa.

Karena cinta Elang...

Adalah cinta yang terkubur.

Cinta yang nggak pernah disuarakan.

Cinta yang nggak akan pernah... pernah sampai.

---

Siang itu, pulang sekolah.

Aruna jalan sendirian lagi. Kayla ada les.

Dia jalan pelan, peluk tasnya di depan dada, kepala nunduk, tapi... senyumnya masih ada. Senyum kecil yang... nggak bisa dia ilangin.

*Siapa yang nulis sticky note itu ya...*

Dia nggak tau.

Tapi... dia berharap.

Berharap itu... Dhira.

---

Sementara itu.

Di rumahnya yang kecil.

Elang duduk di meja belajar. Buku terbuka tapi nggak dibaca.

Matanya... kosong.

Tangannya... gemetar.

Dan di hatinya...

Dia tau.

Dia tau... dia udah kalah.

Kalah sebelum perang dimulai.

Kalah sebelum dia sempet... bilang apa-apa.

Karena Aruna...

Aruna udah punya seseorang di hatinya.

Dan orang itu...

Bukan dia.

Elang tutup bukunya pelan.

Rebahan di kasur.

Ngeliat langit-langit kamar yang retak.

Dan... air mata jatuh.

Diam-diam.

Tanpa suara.

Cuma... jatuh.

Jatuh... dan nggak berhenti.

Sampai dia ketiduran dengan pipi yang basah.

Dengan hati yang... remuk.

Dengan cinta yang... nggak akan pernah tersampaikan.

1
checangel_
Tak ada lagi kata terucap 👍🙏 Aruna kamu kuat ada Author dan Reader yang stay with you 😇
Mentari_Senja: mkasih, kak🙏
total 1 replies
checangel_
Ghibah itu ............... ya seperti itu🤧, terkadang kita suka nggak sadar bahwa apa yang kita bahas itu termasuk dalam rumpun ghibah 🤧
checangel_: No comment🤭/Silent/
total 2 replies
checangel_
Rasanya gimana sih, nangis tanpa air mata /Sob/, pasti berat banget 🤧
checangel_: Waduh, beneran nangis bawang itu🤧/Hey/
total 6 replies
checangel_
Singgah hanya untuk mampir dan nitip salam 'Assalamu'alaikum' gitu ya🤭/Facepalm/🤧
Mentari_Senja: waalaikumsalam🤭
total 1 replies
checangel_
Karena cintamu hanya lewat 🤧
checangel_
Aruna/Facepalm/
checangel_
Bahkan sampai sekolah dong berita anginnya 🤧
checangel_
Wah, stalker kah /Facepalm/
checangel_: Begitulah kehidupan sekarang, banyak yang kepo /Facepalm/
total 2 replies
checangel_
Nah, benar itu kata Ibu 🤧, jangan dipendam jika menyimpan perasaan pada seseorang 😇, tapi tetap ingat ya, imanmu tetap yang paling utama
Mentari_Senja: kata2 seorang ibu emang gk pernah salah😌
total 1 replies
Risa Sangat Happy
Dhira jangan sedih ya karena bapak kamu suatu saat akan menyesal selalu membenci kamu
Yayang Risa Always Together
Dhira ngga usah patah semangat biarkan saja ayahmu mau ngomong apa
Risa Yayang Married
Dhira semangat tunjukkan bahwa kamu bisa membanggakan ayah kamu
Yayang Risa 💏👨‍👩‍👧‍👦
Dhira hidup kamu menyedihkan banget kamu di salahkan sama ayah kamu terus
Risa Imuet
Dhira kamu ngga usah pikirkan omongan ayah kandungmu
Risa Selalu Beautiful
Dhira ngga usah sedih masih ada teman kamu yang menyayangi kamu
Risa Happy With Yayang
Dhira kasihan ngga pernah dapat kasih sayang dari orang tuanya
Risa Selalu Teristimewa
Kasihan Dhira ngga pernah dapat kasih sayang dari ayahnya
Yaris Cinta Sampai Selamanya
Ternyata hidupnya Dhira menyedihkan banget ya
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Dhira abaikan saja ayah kandungmu suatu saat ayahmu menyesal karena menghina kamu dan menuduh kamu pembawa sial
Suamiku Paling Sempurna
Dhira biarkan saja ayah kandung kamu menuduh kamu apa tapi kamu tunjukkan ke dia bahwa kamu bisa jadi orang hebat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!