Pramahita sering menganggap dirinya sebagai gadis yang tak beruntung. Selain sebagai anak tiri yang 'tidak diinginkan', Pramahita juga sering mendapatkan perlakuan semena-mena dari ibu tiri dan kakak tirinya—Loria.
Harapan Pramahita yang selalu ia panjatkan pada sang kuasa hanya satu—agar ia mendapatkan suami yang kelak bisa membuatnya merasa dicintai dan mampu merasakan bagaimana rasanya dihargai kelak oleh belahan jiwanya. Namun alih-alih mendapatkan kebahagiaan dari kesabaran yang ia tabur, Pramahita malah menikah dengan sosok yang bertolak belakang dari apa yang selalu ia harapkan.
Loria, kakak tirinya itu melarikan diri tepat sehari sebelum pernikahan, meninggalkan calon suaminya yang menahan amarah dan juga rasa malu dengan perlakuan yang tidak pantas ia dapatkan. Dengan ancaman serius yang dilontarkan oleh sosok yang seharusnya menjadi kakak iparnya kepada keluarga, Ayah Pramahita memutuskan untuk memilihnya sebagai pengantin pengganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kak Dirga
"Kak Dirga yakin aku tidak berat?"
Hita tampak begitu khawatir saat Dirga menggendongnya kedalam rumah besar keluarga Martadinata yang menjulang tinggi di hadapannya.
Sejak di rumah sakit tadi Hita sama sekali tak dibiarkan berjalan oleh laki-laki itu, bahkan kini saat mereka sampai di rumah.
Hita mengerti bahwa mungkin Dirga merasa bersalah karena telah meninggalkannya kemarin, tapi ia tak perlu sampai diperlakukan seperti ini.
"Berat? Kau bahkan lebih ringan dari kapas," balas Dirga dingin.
"Aku rasa Arseno tak memberimu makan saat berada di kediaman Wijaya, kau terlihat seperti seseorang yang kekurangan gizi," lanjutnya, membuat Hita menyesal telah bertanya.
Entah kenapa sepertinya Dirga ketus sekali pada Hita setiap kali perempuan itu bicara. Apakah Dirga begitu membencinya? Tapi bukankah Hita tak memiliki salah apa-apa untuk dibenci?
"Kakak kenapa ketus sekali?" tanya Hita, meskipun harusnya ia menyimpan saja rasa penasarannya itu. "Apakah aku ada salah pada kakak hingga Kak Dirga begitu dingin?"
"Aku memang begini dengan orang asing," balas Dirga tanpa berpikir. "Orang-orang yang tak pantas mendapatkan perhatian memang harusnya diabaikan, kan?"
Dirga mendorong pintu utama, membuka pintu kayu tinggi itu hingga terbuka menggunakan bahunya.
"Jika kau berharap aku bersikap hangat dan manis, masuklah ke dalam raga Loria, maka kau akan merasakannya," lanjut Dirga, tak pernah lupa untuk menyebut perempuan yang begitu ia cinta.
Hita terdiam sejenak, tangannya masih melingkar di leher Dirga, namun tak seerat sebelumnya. Mendengar nama Loria dari bibir pria itu bukanlah hal asing lagi, namun entah mengapa rasanya sakit sekali begitu Dirga menganggapnya sebagai orang asing.
"Kakak begitu mencintai Kak Loria, ya?" tanya Hita, nyaris seperti gumaman tak terdengar.
Langkah panjang Dirga membawa mereka memasuki area ruang tamu.
"Jika ada kata yang melebihi kata cinta, maka itulah perasaanku pada Loria," jawab Dirga. "Aku mencintai setiap hal yang ada pada Loria, setiap kekurangan dan kelebihan. Bahkan di setiap langkah kecil yang dia ambil akan ada cintaku di dalamnya."
"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkannya, untuk membuatnya berada di sisiku." Dirga belum juga berhenti. "Bahkan saat nanti, saat aku benar-benar tau di mana dia berada, maka saat itu juga aku akan melakukan cara apapun untuk mengikatnya padaku."
Kata-kata pengabdian Dirga pada Loria benar-benar membuat Hita merasa iri. Bahkan di saat Loria melakukan kesalahan yang begitu menyakiti hati laki-laki itu, Dirga masih begitu mencintainya dan memujanya.
Loria selalu dikelilingi oleh orang-orang yang mencintainya, namun entah mengapa Loria malah menyia-nyiakan semuanya. Dia kabur, lari dari orang-orang yang begitu cinta dengannya dan pergi entah kemana.
Kapan Hita akan mendapatkan cinta seperti itu?
"Kak Loria beruntung sekali," gumamnya, dagunya menyentuh pundak Dirga.
Dirga mengangguk. "Itu karena dia pantas mendapatkannya."
Dirga mengencangkan lengannya di tubuh Hita, samar-samar ibu jarinya mengelus pinggang perempuan itu yang tengah merenung dengan dagu bertumpu di bahunya.
Apa yang Dirga katakan bukanlah kebohongan. Ia sangat mencintai Loria, dan tak akan ada seorangpun yang dapat menggantinya di dalam hati Dirga.
Meskipun nanti jikalau kecurigaan Dirga benar mengenai laki-laki yang ada di dalam taksi bersama Loria, ia akan tetap menerima perempuan itu jikalau mau kembali lagi padanya. Karena Loria adalah segalanya bagi Dirga.
Jauh di lubuk hati Dirga berharap agar Loria lari dari pernikahan bukan karena berpaling pada pria lain, khususnya bukan pria misterius di dalam taksi itu.
Dirga sedikit kesusahan saat mencoba membuka pintu kamar yang terkunci. Laki-laki itu menurunkan tas-tas belanjaan untuk mengambil benda kecil itu dari jasnya.
Dirga menggendong Hita masuk, perlahan-lahan mendaratkan perempuan itu di atas kasur empuk bertiang empat yang tak lagi terdapat hiasan seperti saat pertama kali Hita datang sebagai pengantin baru.
"Terimakasih," ujar Hita saat Dirga memposisikan bantal di kepala tempat tidur.
Dirga mengangguk, mundur begitu selesai membantu Hita menemukan posisi nyaman.
Setidaknya ini untuk menekan rasa bersalahnya setelah insiden kemarin, dan Dirga rasa ini sudah cukup untuk menebus luka-luka yang terukir di sekujur tubuh perempuan itu. Perhatiannya begitu mahal harganya.
"Istirahatlah," ujar Dirga, tangannya membuka laci dan mengeluarkan sebuah benda pipih yang baru saja ia beli kemarin bersama Wisnu.
"Apa itu?" tanya Hita dengan mata berbinarnya yang terlihat begitu polosnya. Hita tau itu ponsel, tapi entah mengapa pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibirnya.
"Ponsel," jawab Dirga, mengulurkan benda itu kepada Hita dengan wajah yang nyaris tanpa ekspresi. "Kau mengatakan bahwa kau tidak punya ponsel, kan? Gunakan ini untuk menghubungiku jika ada sesuatu yang kau butuhkan. Nomorku sudah aku masukkan di sana."
Hita dengan ragu-ragu meraih ponsel yang diulurkan oleh Dirga. Dari modelnya, sepertinya itu adalah ponsel mahal keluaran terbaru.
Ini sedikit berbeda dengan ponsel milik Hita sebelumnya yang berisi tombol dan layarnya yang hanya setengah. Jika ponsel yang ini layarnya penuh.
"Terimakasih, Kak." Hita tersenyum ke arah Dirga sesaat, matanya begitu kagum saat menatap ponsel baru di tangannya.
Dirga memperhatikan setiap ekspresi di wajah Hita, seolah-olah itu adalah pemberian pertama yang pernah perempuan itu dapatkan.
Terkadang Dirga ingin menyebutnya berlebihan, namun ia ingat siapa Hita ini, anak buangan keluarga Wijaya yang jauh berbeda dengannya.
Sudut bibirnya sedikit terangkat begitu Hita membolak-balikkan benda itu di tangannya.
"Gunakan baik-baik," pesan Dirga, nadanya masih dingin seperti biasanya, walaupun tanpa sadar senyum tipis tercetak di wajahnya. "Pastikan tidak kau jatuhkan lagi ke dalam mesin cuci," lanjutnya, seketika membuat Hita menoleh dan tersenyum.
"Tidak akan terjadi lagi," janjinya dengan suara yang begitu halus.
Drtt..
Drtt..
Dirga menyipitkan matanya saat merasakan getaran di sakunya.
Segera Dirga mengeluarkan ponselnya dan mendapati nama Wisnu tertera di layar.
"Pak, saya mendapatkan informasi mengenai laki-laki yang berada di taksi bersama Nona Loria."
Pesan yang dikirimkan oleh Wisnu itu membuat Dirga terdiam sejenak, rasa takut dan senang memenuhinya. Rasa takut dipicu oleh ketakutannya akan peran pria asing itu dalam kaburnya Loria, dan rasa senang karena mungkin ini adalah petunjuk nyata untuk menemukan Loria.
Dirga memasukkan kembali ponselnya, menatap Hita yang masih sibuk menganggumi pemberiannya.
"Untuk sementara ini istirahatlah," kata Dirga, mencuri perhatian Hita. "Ada hal penting yang harus aku lakukan. Hubungi aku jika ada sesuatu yang kau butuhkan."
Dengan itu Dirga berbalik melangkah ke arah pintu dengan ketenangan yang biasa. Namun saat berada di ambang pintu, Dirga menoleh ke arah Hita melalui bahunya sekali lagi.
"Dan jika tak ada hal yang penting, jangan hubungi aku," peringatnya.
Hita memperhatikan kepergian Dirga, lalu menatap kembali benda yang berada di tangannya. Hita tau Dirga tak suka diganggu olehnya, dan segala perhatian yang ia dapatkan ini hanya bentuk tanggungjawabnya.
Hita memencet tombol di sisi ponsel itu hingga layarnya menyala, senyum kecil tercetak di wajahnya begitu mengetuk aplikasi kontak dan hanya mendapati satu nomor saja di sana.
Kak Dirga.
Hanya itu saja, dan Dirga sendiri yang menyimpan kontak itu di ponsel barunya.
Bersambung...
aku ko ga rela dia sama Dirga ending nya kata" itu loh menjijikan
Hita kalau udah pergi atau dekat sama orang lain baru terasa ,,Bram boleh juga Thor biar panas
suka cerita nya biarpun Dirga kasar banget sih rada nyesek
i give coffee 4 u
baru baca novel sperti ini CEO ledhoooooooooo ga ketulungan mulutnya pedes luar biasa macam ibu komplek dihhh najis tralala deh kamu Dirga