NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 13 : Pisau Bedah dan Lencana Perak

Kantor pusat Solera Luxury Homes di tengah malam terasa seperti akuarium raksasa yang dingin. Cahaya rembulan memantul di dinding kaca, menciptakan bayangan panjang yang tampak seperti hantu masa lalu. Alicia Valero berdiri di depan monitor besar di ruang kerjanya yang gelap. Cahaya biru dari layar menyinari wajahnya, mempertegas gairah predator yang kini menguasai matanya.

Ia tidak sedang memeriksa laporan laba rugi. Ia sedang membedah sistem komunikasi internal perusahaannya sendiri.

“Berikan aku jejak akses ke server Proyek Ibiza, sepuluh menit sebelum kebocoran pertama terjadi,” gumam Alicia pada dirinya sendiri. Jemarinya menari di atas keyboard dengan presisi seorang dokter bedah yang sedang mencari tumor ganas.

Ponselnya bergetar. Pesan dari kepala TI yang baru ia percayai: “Nyonya, kami menemukan ID masuk yang tidak biasa. Bukan dari jajaran Direksi, melainkan dari konsol di ruang arsip fisik lantai tiga.”

Lantai tiga. Tempat Eduardo—mantan orang kepercayaan Santiago—pernah menghabiskan waktu berjam-jam sebelum dipecat.

Alicia menarik napas tajam. Drama emosional yang ia hadapi bukan lagi soal kecemburuan terhadap Isabel, melainkan soal pengkhianatan terhadap rumah yang ia bangun. Ia merasa seolah ada tangan yang meremas jantungnya setiap kali ia menyadari bahwa orang-orang yang ia gaji ternyata menjual rahasianya hanya demi sisa-sisa kesetiaan pada Santiago.

Alicia bangkit, berjalan perlahan menuju pintu. Ia tidak memanggil keamanan. Ia ingin melihat pengkhianatannya sendiri. Ia menuruni tangga darurat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet tebal.

Saat ia membuka pintu lantai tiga, ia melihat siluet seseorang di depan lemari arsip baja. Cahaya dari tablet menyinari wajah pria itu. Itu adalah Marco, asisten muda Eduardo yang masih dipertahankan karena dianggap tidak berbahaya.

“Marco,” suara Alicia memotong kesunyian seperti silet.

Pria muda itu tersentak, menjatuhkan tabletnya hingga pecah di lantai marmer. “Ny-Nyonya Valero! Saya hanya... saya hanya merapikan dokumen.”

Alicia berjalan mendekat, setiap langkahnya memancarkan otoritas yang mematikan. “Merapikan dokumen di jam dua pagi? Dengan akses ilegal ke folder keuangan Ibiza?”

“Saya disuruh, Nyonya! Pak Santiago... dia bilang ini milik perusahaannya juga!” Marco mulai gemetar, air mata ketakutan mengalir di pipinya.

“Perusahaan ini milikku,” desis Alicia, berdiri tepat di depan Marco. Ia meraih kerah kemeja pria itu, memaksa mata ketakutan itu menatapnya. “Kau bukan hanya mencuri data, Marco. Kau mencuri masa depan ratusan orang yang bekerja di sini. Kau menjual informasi kepada pria yang bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri.”

“Maafkan saya, Nyonya! Isabel... dia menjanjikan posisi di Yayasan jika saya membantu!”

Mendengar nama Isabel, kemarahan Alicia meledak. Ia melepaskan Marco dengan dorongan yang membuatnya terbentur lemari baja.

“Yayasan itu tidak akan ada lagi bulan depan,” kata Alicia, suaranya kini tenang, namun dingin yang ia pancarkan jauh lebih menakutkan daripada teriakan. “Besok pagi, tim hukumku akan menunggumu. Jangan mencoba lari. Rafael tidak menyukai orang yang melarikan diri, dan percayalah, kau tidak ingin bertemu Rafael saat dia sedang tidak senang.”

Alicia berbalik, meninggalkan Marco yang ambruk di lantai. Ia telah memotong tumor itu. Ia telah membersihkan kotoran terakhir Santiago dari gedungnya. Namun, di dalam hatinya, rasa lelah yang amat sangat mulai merayap. Ia butuh sesuatu untuk membakar rasa pahit ini.

...****************...

Alicia kembali ke penthouse Rafael di La Castellana dengan perasaan berkecamuk. Ia menemukan Rafael sedang duduk di sofa kulit hitam, mengenakan kemeja yang tidak dikancingkan, sedang menimang sebuah lencana perak kuno—mungkin properti dari koleksi antiknya.

​Rafael menoleh, melihat kilatan di mata Alicia. “Kau menemukannya?”

​“Marco. Asisten Eduardo. Anak kecil yang malang... tertipu oleh janji surga Isabel,” jawab Alicia, melepas sepatu hak tingginya dan melemparnya sembarangan. “Aku muak, Rafael. Aku muak dengan drama emosional ini. Aku ingin menjadi orang lain malam ini.”

​Rafael berdiri, seringai liciknya muncul. Ia meletakkan lencana perak itu di atas meja. “Orang lain? Siapa yang kau inginkan, mi reina?”

Alicia menghela napas panjang. "Aku muak menjadi CEO yang harus selalu curiga pada setiap senyuman karyawannya. Malam ini, aku tidak ingin menjadi Alicia Valero."

​Rafael meletakkan gelasnya, matanya berkilat penuh pengertian. Ia berjalan menuju sebuah lemari antik dan mengeluarkan sebuah kotak kayu. "Kalau begitu, mari kita buat aturan baru di kota ini, mi reina."

​Rafael masuk ke kamar mandi dan keluar beberapa menit kemudian dengan transformasi total. Ia mengenakan kemeja cokelat kulit dengan lencana perak mengkilap di dadanya—sebuah kostum Sheriff yang sangat detail, lengkap dengan sabuk kulit dan topi koboi yang menutupi sebagian matanya. Auranya berubah menjadi pria hukum yang tak kenal ampun.

​"Di kota ini, ada seorang dokter yang melakukan bedah ilegal pada hati orang-orang," ujar Rafael dengan nada bicara yang kasar dan dominan.

​Alicia tersenyum untuk pertama kalinya malam itu. Ia masuk ke ruang ganti dan keluar mengenakan jubah putih pendek yang ketat, stetoskop perak menggantung di lehernya, dan kacamata berbingkai hitam yang memberinya kesan Dokter yang sangat cerdas namun berbahaya.

​"Sheriff," sapa Alicia, suaranya berubah menjadi sensual dan menantang. "Aku tidak tahu bahwa melakukan bedah pada pengkhianat adalah sebuah kejahatan."

​Rafael melangkah maju, lencana peraknya menangkap cahaya lampu temaram. Ia memojokkan Alicia ke dinding. "Melakukan bedah tanpa izin Sheriff adalah pelanggaran berat, Dokter. Kau menyimpan terlalu banyak rahasia di bawah jubah putihmu itu."

​Rafael menarik borgol dari sabuknya, mengunci salah satu tangan Alicia ke tiang tempat tidur yang terbuat dari kayu jati. Bunyi logam yang beradu menciptakan ketegangan yang membuat bulu kuduk Alicia meremang.

​"Tahan aku jika kau berani, Sheriff," tantang Alicia, napasnya mulai tidak beraturan saat tangan Rafael menjelajahi garis leher jubahnya.

​"Aku akan melakukan lebih dari sekadar menahanmu," bisik Rafael di telinganya. "Aku akan memeriksa setiap inci dari 'pasien' paling berbahaya di Madrid ini."

Permainan terus berlanjut, dan peran itu bukan sekadar fantasi; bagi Alicia, itu adalah cara untuk melepaskan beban emosionalnya. Di bawah dominasi sang 'Sheriff', ia tidak perlu menjadi pemimpin. Ia bisa menjadi tawanan yang menyerahkan seluruh tanggung jawabnya kepada pria yang ia percayai.

​Rafael merobek kancing jubah dokter Alicia dengan satu sentakan, memperlihatkan pakaian dalam renda hitam di baliknya. "Diagnosis pertama: Detak jantungmu terlalu cepat, Dokter. Apa kau takut padaku?"

​"Aku takut kau tidak akan cukup kasar untuk membuatku lupa pada pengkhianatan orang yang aku percaya," rintih Alicia, menarik kerah kemeja Rafael, memaksa pria itu untuk menciumnya.

​Ciuman itu kasar, penuh dengan rasa kepemilikan. Rafael menggunakan berat tubuhnya untuk menekan Alicia ke kasur. Gairah yang meledak di antara mereka adalah bentuk komunikasi yang paling jujur. Di sini, tidak ada saham, tidak ada skandal media, tidak ada Santiago. Hanya ada dua orang yang saling membutuhkan untuk tetap waras.

​"Kau adalah milikku, Dokter," gumam Rafael di tengah cumbuan panas mereka. "Bukan milik Solera, bukan milik masa lalumu. Hanya milikku."

​"Ya, Sheriff... hukum aku karena telah meragukan kekuatanku sendiri," balas Alicia, suaranya serak oleh hasrat.

​Setiap sentuhan Rafael terasa seperti pisau bedah yang mengangkat semua rasa sakit hati Alicia. Ketika Rafael melepaskan borgolnya dan membiarkan Alicia mengambil kendali sesaat, Alicia menggunakan stetoskopnya—bukan untuk mendengar detak jantung, tetapi sebagai alat untuk mengikat tangan Rafael ke belakang kepalanya.

​"Sekarang giliranmu menjadi pasianku, Sheriff," bisik Alicia, duduk di atas perut Rafael yang berotot. "Aku akan memastikan lencana ini tidak akan menyelamatkanmu dari apa yang akan kulakukan padamu."

​Drama emosional itu memuncak dalam ledakan gairah yang membuat mereka berdua terengah-engah dalam keheningan malam. Di bawah selimut sutra, dengan kostum yang kini berserakan di lantai, Alicia merasa utuh kembali. Ia menangis pelan di dada Rafael—bukan karena sedih, tapi karena kelegaan yang luar biasa.

​"Kau sudah melakukannya, Alicia," bisik Rafael, memeluknya erat. "Kau sudah membersihkan rumahmu. Jangan biarkan tikus-tikus itu mencuri kedamaianmu."

​"Aku tahu," jawab Alicia, menyeka air matanya. "Aku hanya butuh diingatkan bahwa aku punya tempat untuk pulang, di mana aku tidak perlu memakai topeng."

...****************...

Keesokan paginya, Alicia berdiri di depan jendela besar kantornya. Mengenakan setelan merah darah yang mencolok. Marco sudah pergi, pengacara sedang bekerja, dan tim keamanan baru yang dipimpin oleh orang-orang Rafael sudah berjaga di setiap sudut.

​Ponselnya berdering. Itu adalah pesan dari Rafael: "Sheriff sedang mengawasi kotanya. Pastikan Dokternya tidak terlalu kejam hari ini."

​Alicia tersenyum kecil. Ia memanggil sekretaris barunya melalui interkom.

​"Jadwalkan pertemuan dengan seluruh departemen dalam sepuluh menit. Dan beritahu mereka, siapa pun yang masih memiliki kontak dengan Santiago Valero, saya sarankan untuk mengundurkan diri sekarang sebelum saya menemukan nama mereka di daftar 'bedah' saya berikutnya."

​Alicia menutup telepon. Ketakutan itu hilang. Konflik internal Solera belum sepenuhnya usai, tetapi ia kini tahu cara menghadapinya. Dengan Rafael di sisinya, dan kekuatan yang ia temukan kembali di dalam kamar yang terkunci, ia siap menghancurkan sisa-sisa kerajaan Santiago hingga ke akar-akarnya.

1
🦊 Ara Aurora 🦊
Kk mampir yuk 😁
🦊 Ara Aurora 🦊
Alicia kasihnya 😢😢
(Panda%Sya)💸☘️
Semangat terus ya thor💪
Nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!