Nareswari (18), gadis desa peraih beasiswa, dipaksa menerima perjodohan dengan Arjuna Bhaskara (27), CEO dingin yang sinis terhadap cinta karena trauma masa lalu. Pernikahan mereka hanyalah kontrak kaku yang didasari janji orang tua. Di apartemen yang sunyi, Nares berjuang menyeimbangkan hidup sebagai mahasiswi baru dan istri formal. Mampukah kehangatan dan kepolosan Nares, yang mendambakan rumah tangga biasa, mencairkan hati Juna yang beku dan mengubah ikatan kontrak menjadi cinta sejati, di tengah kembalinya bayangan masa lalu sang CEO?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akmaluddinl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 KHSC
Arjuna Bhaskara terbangun, tetapi ia tidak ingin membuka mata. Ia merasa sangat berat, sangat hangat, dan sangat damai. Ia berada di posisi yang seharusnya menjadi ketakutan terbesarnya: ia sedang memeluk Nareswari.
Nares meringkuk di pelukannya, wajahnya bersandar di dadanya. Tangan Juna melingkari punggungnya, memeluknya erat, sementara tangan Nares yang terluka beristirahat di bahunya. Mereka tidak hanya berbagi tempat tidur; mereka telah berbagi keintiman tidur yang mendalam.
Juna membuka matanya dan menatap rambut hitam Nares. Aroma baby powder dan sabun Nares kini bercampur dengan aroma cologne mahal Juna, menciptakan bau baru, bau yang ia mulai kenali sebagai rumah.
Juna menyadari bahwa semalam, ia tidak hanya melanggar batas yang ia buat; ia telah menghancurkan benteng emosionalnya sendiri. Ia mencari Nares, bukan sebagai CEO yang menuntut, tetapi sebagai manusia yang kesepian. Ia mencari kehangatan, dan ia menemukannya.
Tiba-tiba, Nares bergerak. Ia mendongak, matanya yang indah dan teduh menatap Juna. Nares tampak terkejut menyadari posisi mereka, tetapi ia tidak segera mundur.
“Juna… maaf. Aku…” Nares memulai, suaranya pelan dan malu.
“Tidak,” potong Juna, suaranya dalam dan serak. “Bukan kau yang harus minta maaf. Aku yang menarikmu. Itu adalah… perawatan medis.”
Nares tersenyum kecil. Ia tahu Juna berbohong. Ia bisa merasakan detak jantung Juna yang masih berpacu kencang.
“Terima kasih atas perawatan medisnya, Juna,” kata Nares, lalu ia perlahan melepaskan diri dari pelukan Juna.
Juna merasakan dingin menyerang tubuhnya saat Nares menjauh. Rasa nyaman itu hilang, digantikan oleh kekosongan yang lebih tajam dari sebelumnya. Ia telah mencicipi ketenangan, dan kini ia merindukannya.
Juna bangkit dengan cepat. Ia harus segera melarikan diri dari konfrontasi emosional ini.
“Aku harus segera ke kantor. Ada rapat mendadak,” kata Juna, berjalan cepat ke kamar mandi.
Nares hanya mengangguk, melihat punggung Juna. Ia tahu, Juna takut. Juna takut pada perasaan yang kini telah ia akui—meski hanya kepada dirinya sendiri—di tengah malam.
***
Di Bhaskara Corp, Juna mencoba memaksakan dirinya untuk fokus. Ia memimpin rapat yang sangat penting, tetapi pikirannya terus kembali ke kamar tidur. Kehangatan Nares, sentuhan lembut di dadanya.
Rio masuk ke ruang kerja Juna, membawa kabar buruk.
“Pak Juna, Larasati baru saja mengirim email anonim ke beberapa media gosip, mengklaim bahwa pernikahan Anda hanya akal-akalan. Dia bahkan menantang Anda untuk membuktikan komitmen Anda, terutama janji keturunan yang Anda buat di pesta itu,” lapor Rio, wajahnya tegang.
Juna membaca laporan Rio. Laras menggunakan serangan psikologis yang kejam: meragukan kejantanan Juna sebagai pemimpin dan meragukan validitas pernikahan mereka.
Juna berdiri, berjalan ke jendela besar. Ia menatap kota di bawahnya.
“Dia ingin bukti komitmen?” Juna berbisik dingin. “Baik. Aku akan memberinya bukti.”
Juna berbalik. Rio melihat api di mata Juna, tetapi kali ini, api itu bukan amarah, melainkan kepastian yang dingin.
“Rio, aku akan membuat pengumuman pers mendadak sore ini. Hanya untuk wartawan keuangan dan gaya hidup terpilih. Siapkan semuanya di lantai tertinggi,” perintah Juna.
“Pengumuman apa, Pak?”
Juna menatap Rio. “Aku akan mengumumkan bahwa Nareswari dan aku telah memutuskan untuk mengakhiri kontrak bisnis dan memulai pernikahan yang sesungguhnya—termasuk rencana keturunan yang dipercepat.”
Rio terkejut. “Mengakhiri kontrak? Tapi, warisan Pak Harjo…”
“Warisan itu tidak penting lagi, Rio. Kekuasaanku di perusahaan ini tidak didasarkan pada uang kakekku, tetapi pada kendaliku. Dan aku tidak akan membiarkan Laras merusak kendali itu,” kata Juna. Lalu ia menambahkan, dengan nada yang hampir tidak terdengar, “Dan aku tidak bisa lagi hidup tanpa… ketenangan yang ia berikan.
Rio mengerti. Nareswari bukan lagi sebuah alat; Nareswari adalah strategi pertahanan Juna yang baru.
***
Sebelum Juna sempat membuat pengumuman, Larasati muncul di kantor Juna, tanpa diundang. Ia berhasil menyelinap masuk melalui koneksi lamanya.
Laras masuk ke ruang kerja Juna, gaunnya mewah, matanya penuh kemenangan.
“Arjuna. Kau tidak bisa lari dari kebenaran. Semua orang tahu kau dan Nareswari tidur terpisah. Kau tidak mencintainya. Pernikahan ini palsu,” kata Laras, suaranya tajam.
“Kau salah, Laras. Kami tidak pernah tidur terpisah,” jawab Juna dingin.
Laras tersenyum sinis. “Jangan berbohong. Aku tahu Nareswari masih berstatus mahasiswi beasiswa. Dia tidak akan pernah bisa menjadi Nyonya Bhaskara yang sesungguhnya. Dia hanya gadis desa yang kau beli.”
“Nareswari lebih berharga daripada semua uang yang kau miliki, Laras. Dia memberikan aku sesuatu yang tidak pernah bisa kau berikan: ketenangan dan loyalitas tanpa syarat,” balas Juna.
Laras mendengus. “Cinta dan ketenangan? Setelah apa yang terjadi antara kita, kau masih bisa menggunakan kata-kata itu? Kau konyol, Juna. Aku kembali. Aku ingin kau membatalkan pernikahan bodohmu ini dan kembali kepadaku.”
“Kau datang terlambat, Laras. Aku sudah membuat keputusan. Pernikahanku dengan Nareswari bersifat permanen,” kata Juna.
“Permanen? Buktikan. Jika kau benar-benar berani, cium istrimu di depan semua orang lagi. Aku akan membuktikan, ciumanmu di pesta itu hanyalah akting murahan!” tantang Laras.
Juna hanya tersenyum dingin. “Aku tidak perlu menciumnya di depan umum untuk membuktikan perasaanku. Aku sudah menciumnya di tempat yang lebih pribadi. Dan aku sudah melanggar semua kontrak yang kubuat hanya untuk tidur di sampingnya.”
Laras terkejut. Juna telah melanggar bentengnya sendiri. Pengakuan Juna itu menusuk hati Laras lebih dalam dari penolakan apa pun.
“Kau… kau berbohong!” seru Laras, matanya berkaca-kaca.
“Pergi, Laras. Kau tidak lagi memiliki tempat di hidupku. Nareswari telah mengambil tempat itu, selamanya,” kata Juna, menekan tombol interkom. “Rio, usir tamu ini sekarang.”
Larasati diusir dari Bhaskara Corp, dihancurkan oleh pengakuan Juna.
***
Nares dipanggil Juna ke kantor tanpa penjelasan. Ia merasa gugup. Ia masuk ke ruang konferensi pers yang dipenuhi wartawan dan kamera. Nares melihat Juna berdiri di mimbar, posturnya tegap, tetapi matanya mencari Nares.
Juna menarik Nares ke sampingnya. Ia memegang tangan Nares—tangan yang terluka—dengan sangat erat.
“Nareswari, dengarkan aku. Kita harus berakting untuk terakhir kalinya. Ini adalah untuk menyelamatkan kekuasaanku,” bisik Juna di telinga Nares.
“Aku siap, Juna,” Nares menjawab, menatap mata Juna dengan penuh keberanian.
Juna menghadap wartawan. Cahaya kamera memenuhi ruangan.
“Selamat malam, rekan-rekan media. Saya, Arjuna Bhaskara, CEO Bhaskara Corp, hari ini ingin menyampaikan dua pengumuman penting yang berkaitan dengan masa depan perusahaan dan kehidupan pribadi saya.”
Juna menarik napas. “Yang pertama, Kontrak pernikahan yang sebelumnya saya buat dengan istri saya, Nareswari Kirana, telah dibatalkan dan tidak berlaku lagi per hari ini.”
Semua wartawan terkejut, berbisik-bisik, memikirkan perpisahan.
Juna mengangkat tangannya. “Tunggu. Kontrak itu dibatalkan, karena kami telah memutuskan untuk menggantinya dengan pernikahan yang sesungguhnya yang didasari oleh komitmen penuh dan saling memiliki.”
Keheningan melanda ruangan, diikuti oleh kilatan kamera yang membabi buta.
“Yang kedua, dan ini adalah hal yang paling penting. Saya telah mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan yang tidak pernah saya duga dari Nareswari. Oleh karena itu, kami dengan bangga mengumumkan, bahwa kami telah memulai program keturunan yang ambisius, dan kami berharap untuk segera menyambut pewaris Bhaskara Corp yang baru.”
Pengumuman ini adalah bom nuklir di dunia bisnis Jakarta. Juna tidak hanya mengakui perasaannya secara terselubung, ia juga secara efektif mengakhiri semua desas-desus, dan menghancurkan harapan Larasati.
Seorang wartawan bertanya, “Pak Juna, apakah Anda bisa mengonfirmasi, Anda dan Nyonya Nareswari sudah berbagi keintiman sebagai pasangan suami istri?”
Juna menoleh ke Nares. Ia menatap Nares, tatapannya kini bukan akting, melainkan penuh kehangatan. Juna mengambil tangan Nares, lalu mencium lembut tangan Nares yang terluka.
“Kami sudah berbagi lebih dari sekadar keintiman, Pak. Kami berbagi tempat tidur, dan kami berbagi kehidupan” kata Juna.
Setelah konferensi pers yang singkat dan eksplosif itu, Juna membawa Nares keluar.
***
Di dalam mobil, Nares menatap Juna.
“Juna, kau bilang kita telah memulai program keturunan… itu berarti… kau telah melanggar kontrak kita secara total,” kata Nares, suaranya dipenuhi pertanyaan.
Juna menyetir dalam diam untuk waktu yang lama.
“Aku sudah memberitahumu, Nareswari. Kau berbahaya,” kata Juna, akhirnya memecah keheningan. “Kau membuatku membutuhkanmu. Kau membuatku melanggar semua aturan yang kubuat untuk melindungi diriku sendiri.”
Juna menghentikan mobil. Ia menoleh, menatap Nares dengan mata gelap yang dipenuhi emosi yang kompleks.
“Aku membatalkan kontrak itu di depan umum, karena aku tidak ingin ada lagi batas antara kita. Aku tidak tahu apakah ini cinta, Nares. Tapi aku tahu, aku tidak bisa tidur tanpa memelukmu. Aku tidak bisa bekerja tanpa tahu kau ada di apartemenku. Itu adalah ketergantungan, dan itu adalah hal yang paling kubenci, tetapi kau membuatnya terasa benar.”
Juna meraih tangan Nares, tangan yang tidak terluka, dan menciumnya.
“Aku membutuhkanmu, Nareswari. Lebih dari yang kubutuhkan pada kekuasaan atau warisan. Jadi, mulai sekarang, kita tidak lagi menjalankan kontrak. Kita menjalankan pernikahan,” Juna menegaskan.
“Dan tentang program keturunan itu…” Nares bertanya lagi, suaranya bergetar.
Juna tersenyum, senyum yang sangat tulus, senyum yang jarang sekali terlihat.
“Itu adalah bagian dari pernikahan yang sesungguhnya, Nareswari. Tapi kita akan melakukannya dengan perlahan, dengan rasa hormat. Bukan karena kontrak, bukan karena tekanan, tetapi karena aku ingin kau menjadi ibu dari anakku. Aku ingin anakku mewarisi ketenangan mu.”
Juna kemudian menarik Nares mendekat, dan untuk pertama kalinya, ia mencium Nares, bukan sebagai CEO yang membuat pernyataan publik, tetapi sebagai suami yang mengakui perasaannya. Ciuman itu adalah janji, ciuman yang membatalkan kontrak lama mereka, dan memulai babak baru dalam pernikahan mereka.
Bersambung