Arka kembali ke masa lalu di saat kota kelahiran nya masih aman dan sebelum gerombolan monster menyerang, Arka dengan kisah cinta mengejar perempuan cantik dari anak tuan penguasa kota dan kisah arka mengubah masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YuniPus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Bab 10 – Buku Divine Lightning Flame
Melihat Arya, Darma, dan Bagas menghabiskan kue yang lezat , anak-anak ningrat merasa patah hati dan sedih. Mengapa bukan mereka yang merasakannya? Sekar juga makan bersama, melihat ia makan dengan santainya merupakan pemandangan yang menghangatkan hati dan enak dipandang.
Setelah mengobrol sesaat, Sekar kembali ke kursinya. Bagas menepuk bahu Arya sambil mengedipkan mata, dan bertanya, "Sejak kapan kau akrab dengannya? Jujurlah."
Arya mengangkat bahu, "Kami hanya teman biasa!"
"Tsk, tak akan ada yang percaya!"
Darma maupun Bagas, keduanya melihat Arya dengan penuh curiga.
"Jika kalian hanya teman biasa, mengapa Ia membuatkanmu sarapan?" tanya Darma.
Bagaimanapun cara Arya menjelaskannya, Darma dan Bagas tak percaya. Beberapa anak ningrat memperhatikan Arya. Wajah mereka sangat tak bersahabat. Arya telah mencuri dewi mereka. Bagaimana bisa mereka tersenyum pada Arya.
"Mungkin ia membutuhkan pertolonganku," kata Arya.
"Anak ini begitu pandai menyimpan rahasia," pikir Darma.
Darma dan Bagas berusaha mencari tahu dari Arya, namun ia tetap tak mengatakannya. Kenyataan pahitnya, meraka memutuskan untuk mencari tahu hubungan di antara Arya dan Sekar.
Saat bel pelajaran telah berbunyi, Kirana memutar pergelangannya, dan berjalan menuju kelas. Tak seperti sikapnya yang sombong, senyum di wajahnya tampak seperti bunga krisan. "Kalian bertiga kembali ke kursi kalian!" kata Kirana sambil ke arah Arya, Darma, dan Bagas. Akan tiba tamu VIP untuk mengawasi pembelajaran hari ini, tentunya ia tak ingin terlihat galak.
"Hari ini aku akan menjelaskan mengenai pola Inscription. Pola ini sangat penting untuk pendekar atau iblis petarung. Pola ini dibagi menjadi dua, pola ukiran dan pola peperangan secara berurutan. Pola ukir dapat dilihat di baju baja dan senjata. Yang akan meningkatkan kemampuan bertarung, terutama jika digunakan oleh iblis petarung, mereka mendapatkan kekuatan yang luar biasa yang jauh di bawah kekuatan dasar mereka. Pola peperangan, mereka menggunakan dengan scroll dari pola Inscription. Dengan menuliskannya ke dalam scroll dan mengaktifkannya, dapat menimbulkan sebuah ledakan kekuatan secara tiba-tiba!"
Hal yang mengagetkan hari ini adalah, Kirana mulai dengan konten yang detail.
"Pola Inscription sangat mendalam dan misterius. Telah ada sejak era kerajaan Angin Salju. Pola ini terus mengalami perkembangan dari masa ke masa. Namun selama era kegelapan, daratan telah diambil alih oleh para binatang buas iblis. Kota Kemuliaan hanya mewarisi sebagian kecil, yang berasal dari tiga kategori. Pola Angin Salju, Pola, Sacred Flaming, pola War Prime. Di mana atribut Angin Salju terbagi dua, api dan Netral"
"Hari ini kita akan membicarakan pola ukir," ucap Kirana dengan pelannya. Nadanya sangan lembut dibanding biasanya.
Di luar kelas, tiga pria berumur duduk bersama, mendengarkan penjelasan tersebut.
"Pemahaman para anggota Keluarga Keraton cukup detail. Mengikuti kelas ini sudah lebih dari cukup!" kata salah satu pria sambil tersenyum. Ia adalah wakil kepala sekolah dari institut Anggrek Suci, Handoko.
"Beberapa murid di kelas ini cukup berpotensi, entah Lestari, Surya atau Sekar," kata seorang pria tua dengan nada bangga. Ia adalah profesor Lukman.
Selain Handoko, seorang pria tua berjubah abu-abu duduk di samping mereka. Lukman tak mengetahui identitasnya. Pria ini duduk santai Namun terlihat sangat kuat, berwibawa, membuat Lukman berhati-hati dengan tiap kata yang ia keluarkan. Ia takut membuat masalah.
"Bagaimana?" tanya Handoko pada pria berjubah.
"Mhm," balas pria berjubah tak langsung menjawab.
Lukman berbisik dalam hatinya, "Siapa pria ini, ia memperlakukan seorang wakil kepala sekolah biasa saja. Statusnya pasti tinggi. Aku khawatir statusnya bahkan melebihi kepala sekolah Anggrek Suci."
Setelah berpikir hal tersebut, Lukman tak berani untuk berbicara lagi.
Para murid tak tahu bahwa beberapa orang tengah mengawasi pelajaran hari ini dari luar kelas. Merupakan hal yang tak biasa mendengarkan Kirana menjelaskan hal detail, olehnya mereka memperhatikan dengan saksama dan mendengarkannya.
Kirana mendongakkan sedikit dadanya. Wajahnya penuh kebanggaan, dan berkata, "Hari ini aku akan menjelaskan pola Sacred Flaming! Penelitian mengenai pola ini, Sacred family tak diragukan dalam hal kepemimpinan!"
"Pola Sacred Flaming memiliki 66 pola dasar. Contohnya pola ini…," Kirana menggambar sebuah totem dari beberapa pola yang menyatu di papan berwarna hitam, "Ini adalah pola Scarlet Sunburst. Pola ini diciptakan oleh keturunan pertama Sacred family house master. Pola perunggu yang paling kuat! Pola ini terdiri dari 36 pola dasar yang disatukan. Pola ini paling rumit di antara pola perunggu lainnya, berikutnya penjelasan mengenai 36 pola dasar."
Kirana mulai berbicara tak henti.
Sebagian murid mendengarkan dengan penuh ketertarikan, hanya Arya yang tak memperhatikan. Ia tak begitu tertarik dengan pola-pola dasar. Selain itu Sacred Family memiliki lebih dari 600 pola dasar, bukan 66.
Jika bukan karena Lestari dan harta karun dalam institut ini, Arya tak akan berada di kelas ini mendengarkan penjelasan yang tak berguna. Menurutnya, pemahaman Kirana masih rendah, pelajarannya hampir tak dapat disimak. Mulai dari pola Scarlet Sunburst yang sederhana adalah pola perunggu terkuat hanyalah omong kosong.
Kirana menatap keseluruhan murid di kelasnya, dan pandangannya tertuju pada Arya. Sebelumnya, Arya bersitegang dan meremehkannya. Ia bahkan bertaruh dengannya. Kirana sangat membencinya selama ini. Saat ia melihat Arya tak memperhatikan, ia tertawa dalam hati. Ia akhirnya menemukan kesempatan! Kirana melanjutkan bualannya tentang 36 pola dasar. Arya sama sekali tak tertarik dan hanya berbaring di meja.
Saat itu, Handoko, yang sedang duduk di luar, tak terlihat senang ketika melihat tingkah Arya. Ia melihat pria berjubah di sampingnya. Hari ini ada sosok penting yang mengawasi kelas ini dan murid itu hanya tidur di kelas. Ia memberikan noda di wajah institut. Ia tak tahu nama murid itu. Jika ia tahu, ia akan mengeluarkannya dari institut dan tak akan membiarkannya kembali!.
Melihat pria berjubah tak bereaksi sedikitpun terhadap tingkah Arya, Handoko merasa lega.
Lukman berkata, "Di kelas calon petarung, hal yang mungkin untuk memiliki murid yang baik dan nakal. Aku akan menghukum murid itu! Orang tuanya telah menghabiskan banyak uang untuk belajar, bukan untuk tidur!"
Handoko Mengangguk.
Karena Arya hanya tidur, semua murid melihat wajah Kirana menahan emosi. Bukankah murid yang tidur berarti pelajarannya membosankan?
"Arya!" kata Kirana dengan suara dalam sambil berjalan ke arahnya.
Arya tertidur dengan pulasnya seperti tak pernah menikmatinya beberapa minggu lalu. Ia perlahan-lahan membuka matanya, terlihat mengantuk, dan berkata, "Ada apa?"
Melihat kejadian itu, beberapa anak ningrat menahan tawa mereka. Mereka sangat ingin melihat Arya mendapatkan masalah. Siapa suruh sudah mengambil dewi kami?
"Dia pasti mati kali ini!"
Darma dan Bagas tersenyum satu sama lain. Bagaimanapun juga tidur di kelas merupakan hal yang sangat berani.
Tingkah Arya membuat Kirana sangat marah. Ia berkata dengan suara yang dalam, "Kau tidur di kelasku, apakah kau sudah tahu mengenai semua hal yang aku jelaskan?"
"Ya," kata Arya tenang.
"Kau….," Kirana terdiam dengan kata-kata Arya. Sejak awal ia telah tertidur. Sekarang ia berkata mengetahui semuanya. Siapa yang akan percaya?
"Karena kau telah paham, kenapa kau tidak menjelaskan tentang pola Inscription di papan?" kata Kirana Dingin.
Arya melihat ke pola Inscription dan berkata, "Ini adalah pola Sacred Flaming tingkat rendah. Tak dapat disamakan dengan pola perunggu. Dengan 38 pola dalam strukturnya, kekuatannya masih lemah, namun jika digunakan untuk merebus air, akan sangat berguna"
Mendengar kata Arya, seluruh kelas tertawa.
"Haha, aku hampir mati karena lucu, ia sama sekali tak mendengarkan. Sebenarnya pola Scarlet Sunburst memiliki 38 pola dasar dalam strukturnya, sejak awal, guru Kirana hanya mengatakan 36 pola dasar dalam strukturnya."
"Aku tertawa hingga mengeluarkan air mata. Arya mengatakan itu hanya berguna untuk merebus air!" kata salah satu anak ningrat sambil tertawa.
Sementara Lestari hanya tersenyum, Kirana menjadi marah. Arya baru saja mengatakan bahwa pola perunggu yang diwariskan di keluarganya hanya untuk merebus air. Ini adalah sebuah penghinaan! Di antara semua murid, hanya Sekar yang tetap tenang. Ia merasa bahwa Arya gemar membuat orang-orang merasa gundah. Orang-orang ini tak mengetahui kemampuan Arya.
Sementara itu, di luar ruangan. Lukman juga tertawa. "Murid ini sangat lucu. Kepintaran yang ia miliki membuatnya berkata struktur Scarlet Sunburst memiliki 38 pola dasar dan hanya mampu untuk merebus air!"
Saat ia tertawa, ia melihat wakil kepala sekolah, Handoko, dan pria berjubah tak tertawa. Ia tiba-tiba menghentikan tawanya sambil menekan perut.
"Apanya yang lucu? Scarlet Sunburst memang terdiri dari 38 pola dasar." kata Handoko. Dalam penelitian mendalam, terdapat 2 pola dasar Scarlet Sunburst yang terbentuk dari 4 pola dasar bukan dari 2 pola dasar . Namun, yang membuatnya terkejut adalah informasi tersebut berasal dari seorang siswa. Apakah siswa ini hanya menebak? Dan untuk level ahli seperti mereka, ini hanyalah pola Inscription yang hanya untuk merebus air, tak memiliki dampak dalam pertarungan.
Tersirat cahaya tajam dari mata pria berjubah, namun ia hanya terdiam tak berkata apapun.
"Omong kosong!" teriak Kirana marah. Wajahnya memerah. Sebagai anggota Sacred Family, ia tak dapat menerima seseorang menghina pola Scarlet Sunburst.
Arya tak memperhatikan para murid yang menertawainya dan melanjutkan, "Pola Inscription ini berasal dari buku ketujuh Divine Lightning Fire. Nama aslinya adalah pola Lightning Flame Burst. Terdiri dari 60 pola dasar. Pola tersebut sangat sulit, namun beberapa orang bodoh yang menganggap dirinya pandai mengambilnya dan memotong bagian dari pola Inscription, sedikit berubah, dan berganti menjadi lebih familiar dengan nama pola Scarlet Sunburst. Tanpa kemampuan bertarung, hanya dapat diberikan untuk dipelajari."
Buku Divine Lightning Fire, apa itu? Para murid saling melihat satu sama lain.
Arya mengatakan bahwa generasi pertama house master Sacred Family adalah keledai dungu? Kirana sangat marah, ia tak tahu buku apa itu atau catatan apa yang tertulis di edisi ke tujuh.
"Bodoh! Buku itu tak pernah ada!" pikir Kirana sejenak dan berkata. "Edisi ketujuh buku Divine Lightning Fire? Itu hanya bualan Arya!"