Rendra menatap mata Luna, "Lo tadi liat?"
Luna mengangguk kecil, "Iya aku tadi liat, lagi pula kan tempat itu lumayan deket sama toko roti tempatku kerja."
"Terus kenapa tadi lo tiba-tiba samperin gue, dan obati luka gue? Lo suka sama gue?"
"Iya," balas singkat Luna membuat Rendra terdiam sebentar, hingga akhirnya ia tertawa.
"Hahaha, lo konyol banget," ucap Rendra masih tertawa, mungkin baru kali ini ia bisa tertawa lepas, setelah kurang lebih 5 tahun ia hidup seperti vampire yang jarang tertawa.
"Lo itu masih bocil, bau kencur lagi. Udah jangan mikir aneh-aneh. Sana lo pulang, abis tuh cuci kaki terus tidur," ucap Rendra.
"Emang kalau suka sama orang harus memandang umur ya?" tanya Luna.
"Sekarang gue tanya sama lo. Apa alasan lo suka sama gue?" tanya balik Rendra.
Luna menggelengkan kepalanya, "Entah aku cuma pengen deket sama Om landak aja."
"Lo aja manggil gue Om, ntar orang lain ngira gue ini Om lo, bukan pacar lo," balas Rendra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bocil Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Temani Aku Sebentar Saja
Luna menginjakan kaki di depan Perusahaan Athena. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sebagai asisten pribadi Rendra. Awalnya ia ragu untuk datang sendirian kesini.
Ia sempat meminta David untuk menemaninya, namun nyatanya ia sendiri kesulitan untuk menghubungi David, yang sejak semalam belum ada kabarnya.
"Huff!" Luna menghela napas pelan, sebelum akhirnya ia melangkah masuk ke dalam perusahaan.
Langkah kakinya terlihat ragu, bahkan sedikit menahan rasa malu. Ditambah para staf kantor yang silih berganti menatapnya. Luna hanya tersenyum mengangguk canggung, sebagai sapaan ringan karena sadar jika ia karyawan baru.
Padahal yang sebenarnya terjadi, para staf karyawan tersebut sedang terpesona melihat paras wajah cantiknya. Dengan rambut lurus tergerai bebas, ditambah pakaian kerja yang terkesan casual, membuatnya layak mendapat perhatian banyak orang.
Dari kejadian membeli dress di butik kemarin, Luna bersikeras hanya ingin memakai pakaian yang terlihat nyaman dipakai. Bukan pakaian kerja dengan rok sepaha, atau dress mini yang membentuk lekuk tubuhnya.
Sempat adu argumen dengan Rendra selama 10 menit. Akhirnya Rendra yang terpaksa mengalah, dan menuruti keinginannya.
Luna sudah masuk ke dalam lift, ia menekan beberapa angka, dan lift pun meluncur membawanya ke lantai atas.
Ting
Pintu lift terbuka, Luna segera keluar dan sedikit celingukan mencari ruang kerja Rendra, sampai akhirnya ia menemukan ruangan tersebut yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri.
Luna mengetuk pintu tersebut pelan, meminta izin untuk masuk kedalam. Hingga suara Rendra dari balik pintu terdengar, mengizinkannya untuk masuk ke dalam.
Saat pintu sudah terbuka sedikit, Luna merasa terkejut mendapati Rendra yang tengah mabuk, meminum botol vodka di tangannya.
"Kak Rendra!" Luna panik menghampiri Rendra, dan merebut botol minuman dari tangannya.
"Kakak apaan sih! Kenapa masih pagi Kakak mabuk? Gak sayang nyawa apa?" cerocos Luna tanpa henti.
Sebenarnya Rendra belum sepenuhnya mabuk. Ia masih tersadar, dan botol vodka tersebut baru saja ia membukanya. "Gue belum mabuk kok," balas Rendra sedikit memaksakan senyumnya.
Luna merasa lega mendengar jika Rendra belum meminum air setan ini. "Ingat kata-kataku ya, Kak! Kalau Kakak beneran sayang sama aku, Kakak gak boleh sentuh benda ini lagi! Kalau gak, aku bakalan diemin Kakak 2 bulan," ancamnya menatap tajam Rendra.
Sementara Rendra yang masih dalam keadaan kacau, karena ibu serta sahabatnya di sandera ayahnya, hanya bisa memaksakan senyum di depan bocil kesayangannya itu.
"Kakak kenapa? Lagi ada masalah ya?" tanya Luna yang melihat raut wajah Rendra terlihat sangat sedih. Seperti ada masalah yang sedang disembunyikan darinya.
"Nggak kok, gue gapapa," balas Rendra yang sengaja tidak memberitahu masalahnya. Ia takut jika Luna terus merasa khawatir dengannya. Padahal yang lebih khawatir disini adalah dirinya sendiri.
Rendra takut jika sewaktu-waktu ayahnya menggunakan Luna, untuk membuatnya tunduk di hadapannya lagi. Ibu, dan sahabatnya sudah membuatnya hampir tidak berdaya. Apalagi kalau sampai Luna yang menjadi target selanjutnya.
"Kak! Kak Rendra!" Luna melambaikan tangannya di depan wajah Rendra yang terlihat melamun.
"Iya," balas Rendra dengan suara pelan.
"Tuh kan beneran Kakak lagi ada masalah. Cerita dong sama aku," pinta Luna terlihat khawatir.
"Kalau gue gak mau?"
"Aku ngambek nanti, gak mau ngomong sama kakak satu minggu!" ancam Luna melipat tangan di dada, dan melihat ke arah lain.
Bukannya merasa takut, Rendra malah gemas melihat bocilnya pura-pura merajuk. "Udah sini jangan ngambek mulu, cepet tua nanti," ucapnya sambil menarik pelan Luna duduk di pangkuannya.
"Eh! Awas ya kalau mau mesum! Ini kantor waktunya buat kerja ih!" Luna mendesis kesal, melihat Rendra yang makin hari, makin berani menyentuh tubuhnya.
"Emangnya gak boleh ya, Sayang?" Rendra mengendus leher Luna. "Ini kan kantor gue. Jadi suka-suka gue lah mau ngapain," ia menarik tubuh Luna agar semakin menempel ke tubuhnya.
Rendra mengelus punggung Luna, mencium aroma parfum yang tercium sangat harum, dan menggoda. "Lo sengaja ya, pake parfum yang bisa bikin gue tergoda sama lo hari ini?"
"Eh-eh. Udah ya mesumnya, nyebut Kak. Nyebut!" Luna menjauhkan kepala Rendra menggunakan jari telunjuknya.
Rendra mengerucutkan bibirnya, "Masa gak boleh mesum sih sama pacar sendiri."
"Mesumnya kalau udah nikah sayangku," gemas Luna mencubit kedua pipi Rendra.
"Ya udah, yuk nikah sekarang. Gue booking seluruh KUA kalau perlu."
"Astaga! Gak sabaran banget sih jadi orang," Luna geleng-geleng kepala merasa heran.
"Ya abisnya lo gak kasih jatah ke pacar lo sendiri."
Tak
"Aww, sakit Cil!" Rendra mengelus dahinya saat Luna dengan tega menyentil-nya.
"Sukurin! Kalau perlu biar Kakak sadar sekalian. Enakan aja main minta jatah, nikah aja belum. Jangankan nikah, ngaku pacaran tapi manggilnya masih 'Lo-gue'. Apaan tuh," cerocos Luna tanpa henti membuat telinga Rendra sedikit berdenyut.
"Iya deh. Gue ganti pake 'aku-kamu'. Tapi sebagai gantinya kasih aku perawan kamu ya sayang," pinta Rendra tersenyum genit.
Plak
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Rendra. "Dek! Kok di tampar mulu sih akunya. Atit tau," rengeknya seperti bayi dugong.
Sementara Luna sudah kehabisan kata-kata, untuk menghadapi tingkah mesum pacarnya hari ini. "Ish! Udah sih. Mending kita segera siap-siap. Ada rapat penting nanti siang," ucapnya yang sudah mengerti schedule Rendra hari ini.
Luna ingin beranjak pergi, namun Rendra masih menahan Luna di atas pangkuannya. "Tanggung jawab dulu udah nyiksa aku hari ini," ucapnya sedikit manja.
"Mau tanggung jawab gimana, sayang? Lagi udah pantes Kakak aku siksa hari ini, biar besok-besok gak mesum lagi," balas Luna.
"Ish! Minimal obati dulu dong luka ku," rengeknya yang semakin menjadi-jadi. Membuat Luna sedikit ingin menyentil ginjal Rendra, yang hari ini tiba-tiba bersikap manja kepadanya.
"Ya udah sini aku cium," Luna memilih mengalah biar urusannya cepat selesai.
"Nah gitu dong. Sini sayang yang sakit," tunjuk Rendra di dahinya, dan Luna pun menciumnya.
"Asik! Ini lagi sayang yang sakit," tunjuknya yang kali ini di pipi, dan sekali lagi Luna menciumnya.
"Dan ini sayang yang terakhir," tunjuknya di bibir, namun Luna tidak menciumnya.
"Ish gak mau! Orang yang sakit cuma dahi sama pipi. Kenapa bibirnya jadi ikutan," ucap Luna menatap sebal Rendra, yang bisa ia tebak sedang mengambil kesempatan darinya.
"Ya udah kalau gitu aku aja yang mengobati sendiri," Rendra tersenyum penuh arti.
"Hah? Maksu...... emmm hhhh," belum sempat Luna membalas perkataan Rendra. Bibirnya sudah terlebih dahulu dicium pacar mesumnya itu.
Sementara Rendra tidak peduli dengan Luna yang kewalahan, mengimbangi gerakan bibirnya. Ia melumat lembut bibir Luna yang tipis, dan tidak peduli jika nanti bakalan bengkak.
Rendra hanya ingin menyalurkan perasaannya. Sebenarnya hari ini ia memang tidak baik-baik saja. Namun ia beruntung memiliki Luna, yang bisa mengobati rasa sakitnya. Meski tanpa menceritakan masalahnya, Rendra sudah merasa lebih baik saat ia mulai buas menikmati bibir manis milik Luna. Hingga membuat bocilnya itu mulai kehabisan napas, namun Rendra sama sekali tidak ingin melepas ciuman mereka.