NovelToon NovelToon
Janda Muda Pilihan CEO

Janda Muda Pilihan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: nazla bibah

Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12: BENTENG DI TENGAH BADAI

Suara bentakan yang menggema di lobi utama gedung Mahardika Global Group itu seketika menjatuhkan keheningan yang mencekam. Puluhan pasang mata karyawan yang awalnya sibuk dengan urusan masing-masing kini beralih fokus, berkerumun membentuk lingkaran untuk menyaksikan tontonan gratis di siang bolong. Di tengah lingkaran itu, Nazya berdiri mematung dengan tubuh yang gemetar hebat.

Sepasang mata jernihnya menatap sosok Rendy Pratama yang melangkah maju dengan angkuh. ID card karyawan tingkat rendah berkode 'Divisi Logistik' berayun di dada pria itu, sangat kontras dengan langkah kakinya yang seolah merasa memiliki seluruh gedung pencakar langit ini.

"Kenapa lu diam, hah?! Punya kuping gak?!" bentak Rendy lagi, wajahnya memerah karena amarah yang tak mendasar. "Gak tahu malu banget lu ya, Nazya! Sudah janda, miskin, pincang pula sekarang! Mau ngapain lu datang ke kantor megah tempat gue kerja? Mau minta uang? Atau mau mengemis belas kasihan sama gue karena lu sengsara setelah gue cerai?!"

Cacian kasar itu menghantam telinga Nazya bagai hantaman fisik yang telak. Memori kelam dua tahun lalu saat ia diseret dan dilempar keluar dari rumah kontrakan oleh pria ini mendadak berputar hebat di kepalanya. Nazya meremas map kulit cokelat di dadanya semakin erat, mencoba mencari kekuatan yang fana. Napasnya memburu, dan air mata ketakutan mulai menggenang di pelupuk matanya.

Beberapa karyawan wanita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik, melayangkan pandangan menghina ke arah Nazya.

"Oh, jadi perempuan itu mantan istrinya Rendy? Kasihan banget ya, penampilannya kampung begitu, pantas saja diceraikan."

"Iya, lagipula ngapain coba datang ke kantor kita? Bikin malu saja. Satpam harusnya langsung usir orang asing kayak dia."

Mendengar bisikan-bisikan menghina dari orang-orang di sekitarnya yang terpengaruh oleh kata-kata Rendy, Nazya merasa dunianya runtuh seketika. Ketakutan terbesarnya menjadi kenyataan. Di mata orang-orang ini, ia hanyalah seonggok sampah yang mengotori lantai marmer yang mengilat. Dengan suara yang tercekat menahan tangis, Nazya mencoba membela diri. "S-saya... saya ke sini bukan untuk bertemu kamu, Rendy. Saya hanya ingin mengantarkan berkas..."

"Halah! Alasan klasik!" potong Rendy dengan tawa merendahkan yang memuakkan. Ia maju satu langkah, berniat merebut paksa map cokelat dari dekapan Nazya. "Berkas apa? Paling cuma kertas kosong buat modus lu biar bisa masuk ke sini dan cari perhatian gue lagi! Perempuan parasit kayak lu itu gak pantes ada di—"

"HENTIKAN!"

Sebuah suara bariton yang sangat berat, dingin, dan menggelegar penuh otoritas mutlak mendadak memotong kalimat Rendy. Suara itu begitu bertenaga, sanggup membekukan aliran darah siapa pun yang mendengarnya.

Kerumunan karyawan yang awalnya berisik seketika terbelah menjadi dua jalur secara teratur. Dari arah lift eksekutif, sosok Dafa Mahardika melangkah maju. Pria itu mengenakan setelan jas hitam custom-made yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Aura dominasi dan kekuasaan yang ia pancarkan siang ini terasa sepuluh kali lipat lebih mencekam dari biasanya. Di belakangnya, beberapa pengawal pribadi dan kepala keamanan gedung berjalan dengan wajah tegap berwajah pucat.

Rendy yang mengenali sosok tertinggi di perusahaannya itu seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Tubuhnya membungkuk hormat secara otomatis dengan wajah yang mendadak pucat pias. "P-Pak Dafa... Selamat siang, Pak. Maaf atas kegaduhan ini, Pak. Perempuan asing ini tiba-tiba masuk dan—"

Dafa mengabaikan total keberadaan Rendy, seolah pria itu hanyalah sebutir debu tak kasatmata yang tidak layak mendapatkan perhatiannya. Langkah kaki Dafa yang mantap beritme di atas lantai marmer, berjalan lurus membelah kerumunan, lalu berhenti tepat di depan Nazya.

Melihat suaminya datang, Nazya mendongak dengan air mata yang akhirnya menetes membasahi pipinya. Tubuhnya masih gemetar oleh sisa-sisa trauma. Nazya berpikir Dafa akan marah besar karena ia telah memicu keributan yang memalukan di lobi kantornya.

Namun, yang dilakukan Dafa berikutnya seketika menjatuhkan rahang semua orang yang ada di dalam lobi tersebut.

Dafa membungkukkan sedikit tubuh tegapnya, lalu mengulurkan tangan kanannya yang besar dan hangat untuk menghapus air mata yang mengalir di pipi Nazya dengan gerakan yang luar biasa lembut dan protektif—sebuah perlakuan yang belum pernah ditunjukkan oleh sang CEO dingin kepada wanita mana pun di dunia ini.

"Siapa yang berani membuatmu menangis di rumahku sendiri, Nazya?" tanya Dafa. Suaranya tidak lagi membentak, terdengar sangat tenang namun sarat akan ancaman kematian bagi siapa pun yang menjadi penyebabnya.

Nazya terpaku, menatap Dafa dengan pandangan tidak percaya. "Mas Dafa..." bisik Nazya sangat lirih.

Mendengar panggilan 'Mas Dafa' dan melihat interaksi yang begitu intim itu, Rendy bergetar hebat di tempatnya berdiri. Jantungnya seolah melompat keluar dari dadanya. "P-Pak Dafa... Anda... Anda mengenal janda pembawa sial ini?" tanya Rendy dengan suara yang patah-patah, mencoba mencari sisa-sisa kewarasannya.

Dafa perlahan membalikkan tubuhnya. Ia berdiri tegap di depan Nazya, mengubah dirinya menjadi tameng kokoh yang menutup total tubuh istrinya dari pandangan menghina orang-orang. Sepasang mata elang Dafa kini menatap lurus ke arah Rendy dengan pandangan yang sangat dingin, kejam, dan penuh haus darah.

"Jaga bicaramu, Rendy Pratama," ucap Dafa, setiap kata yang keluar dari bibirnya ditekan dengan intonasi yang sangat mematikan. "Wanita terhormat yang baru saja kamu caci maki dan kamu rendahkan harganya di depan umum ini... adalah Nazya Humaira Mahardika. Dia adalah istri sahku. Nyonya besar sekaligus pemilik tunggal dari seluruh aset Mahardika Global Group tempatmu mengemis sesuap nasi selama ini."

BOOM!

Pengakuan lantang dari mulut Dafa seketika menjatuhkan bom atom yang menghancurkan seluruh lobi kantor. Puluhan karyawan yang ada di sana membelalakkan mata sempurna, beberapa dari mereka bahkan menutup mulut dengan tangan karena syok yang luar biasa. Wanita bersahaja yang tadi mereka hina sebagai janda miskin yang pincang... ternyata adalah istri dari tuhan mereka di perusahaan ini!

Rendy menatap Dafa dan Nazya bergantian dengan lutut yang mendadak lemas bagai jeli. Wajahnya yang tadi angkuh kini berubah menjadi seputih kertas semen. Seluruh dunianya seketika gelap gulita saat menyadari bahwa pria berkuasa yang memegang kendali atas hidup dan masa depannya saat ini... adalah suami baru dari mantan istri yang selalu ia siksa.

Dafa menyunggingkan senyum tipis yang sangat mengerikan menatap kehancuran Rendy. "Kepala Keamanan," panggil Dafa tanpa mengalihkan pandangannya.

"Siap, Pak!" Kepala keamanan maju dan memberi hormat tegak.

"Seret bajingan ini keluar dari gedungku sekarang juga. Cabut hak karyawan dan seluruh pesangonnya, black-list namanya dari seluruh jaringan perusahaan di Indonesia, dan pastikan dia tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan apa pun lagi seumur hidupnya," perintah Dafa dingin, memberikan hukuman mutlak yang menghancurkan total masa depan Rendy dalam satu kalimat bisnis. "Jika dia berani menginjakkan kakinya lagi di sekitar istriku... kalian tahu apa yang harus dilakukan pada tubuhnya."

"Baik, Pak! Laksanakan!" Dua satpam bertubuh kekar langsung maju, mencengkeram kedua lengan Rendy dengan kasar dan menyeretnya pergi dari lobi di tengah jeritan minta ampun Rendy yang menyedihkan.

Setelah lobi kembali sunyi, Dafa berbalik menghadap Nazya. Sifat posesifnya mendominasi sepenuhnya. Tanpa memedulikan puluhan pasang mata karyawannya yang masih melongo tak percaya, Dafa menyusupkan lengannya di pinggang Nazya, lalu merengkuh tubuh ramping istrinya ke dalam pelukan dadanya yang bidang, mendekapnya erat seolah ingin menegaskan pada seluruh dunia bahwa wanita ini berada di bawah perlindungan mutlaknya.

1
miilieaa
halo kak, baru awal baca udah seru nihh
miilieaa: baik kakak, saya lanjut baca dulu lagi yaa kak
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!