Bagi Nazya, janda muda yang membawa trauma mendalam akibat mantan suaminya yang abusif, pernikahan adalah neraka yang tidak akan pernah ia masuki lagi. Namun, takdir berubah dalam semalam ketika mobil mewah milik Dafa Mahardika, seorang CEO dingin dan berkuasa, menabrak motor yang ia tumpangi bersama ayahnya hingga membuat Nazya mengalami cacat sementara.
Dihantam rasa bersalah sekaligus ketertarikan kuat pada pandangan pertama, Dafa langsung menyetujui tuntutan ayah Nazya untuk bertanggung jawab dengan cara menikahi putrinya. Nazya yang pasrah terpaksa menurut demi sang ayah.
Pernikahan mewah pun terjadi, namun penderitaan baru justru dimulai di kepala Nazya. Terjebak dalam trauma masa lalu, Nazya selalu ketakutan setiap kali berdua dengan Dafa—ia tak berani makan duluan, takut meminta nafkah, dan refleks menghindar karena mengira sang suami akan memukulnya.
Di tengah dinding trauma yang begitu tebal, mampukah kelembutan dan perlindungan posesif dari sang CEO menyembuhkan hati Nazya y
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nazla bibah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28: SETELAH BADAI MEREDA
Suara sirine mobil sedan mewah hitam milik Dafa Mahardika meraung-raung memecah kesunyian lobi bawah Rumah Sakit Pusat Mahardika. Sebelum roda kendaraan berhenti berputar sempurna di atas aspal yang basah oleh sisa hujan, Dafa sudah mendobrak pintu kemudi. Pria tegap itu melesat bak badai hitam, menerobos masuk ke dalam lobi, mengabaikan rasa perih luar biasa yang menghujam punggung bidangnya akibat luka bakar dan serpihan logam mansion yang kembali terbuka.
Sifat posesif dan jerat gairah batin kepada Nazya telah membakar habis seluruh sisa waras kesadarannya. Di dalam kepalanya hanya ada satu dorongan mutlak: menyelamatkan janda muda pilihannya dari cengkeraman aliansi busuk Baskoro dan Rendy.
BRAAAKKK!
Pintu kamar rawat nomor 305 dihantam terbuka hingga jebol dari engselnya oleh tendangan kaki lars hitam Dafa. Keadaan kamar yang gelap gulita akibat pemutusan arus listrik seketika diterangi oleh sorot lampu koridor luar yang masif.
Pemandangan di dalam kamar membuat darah di dada Dafa mendidih hingga ke titik tertinggi. Rendy—mantan suami Nazya yang brengsek—sedang menjambak kasar rambut hitam Nazya ke belakang, sementara Baskoro Sanjaya—saingan bisnis terbesarnya—berdiri di sisi ranjang dengan sebilah pisau bedah yang siap diiriskan ke leher jenjang sang janda muda. Dua bajingan itu telah bersekutu demi menjatuhkannya dari takhta.
"Lepaskan dia, Bajingan!" raung Dafa, suara baritonnya yang berat menggelegar penuh amarah dewa perang yang mengerikan.
Baskoro yang terkejut melihat kedatangan Dafa yang begitu cepat, refleks menolehkan kepalanya panik. Namun, kelengahan satu fraksi detik itu menjadi akhir dari segalanya. Sebelum Baskoro sempat menggerakkan jemarinya, Dafa sudah melesat maju dengan kecepatan predator puncak. Tangan kanannya yang kokoh mencengkeram pergelangan tangan Baskoro yang memegang pisau, lalu memutarnya ke arah belakang dengan satu sentakan brutal yang sangat konstan.
KRAAAKKK!
Suara remukan tulang pergelangan tangan Baskoro menyatu dengan lolongan kesakitannya yang melengking tinggi. Pisau bedah jatuh berdentang di atas lantai, dan tubuh tua bangka sang penguasa Sanjaya Group itu langsung ditendang kasar oleh Dafa hingga menghantam dinding beton kamar dan tumbang pingsan seketika.
Rendy yang melihat rekan aliansinya dilumpuhkan dalam sekejap mata, langsung melepaskan jambakannya pada rambut Nazya. Pria toxic itu mencoba menerjang Dafa dengan sisa tenaga dari balik ranjang, didorong oleh rasa iri yang mendalam melihat Nazya kini dimiliki oleh pria yang jauh lebih berkuasa darinya.
Namun, Dafa bergerak lebih cepat. Ia menarik tubuh ramping Nazya ke belakang punggung bidangnya untuk melindungi wanita itu, sementara tangan kirinya melayangkan satu pukulan lurus yang luar biasa keras tepat menghantam rahang Rendy.
BUGH!
Hantaman telat itu membuat tubuh Rendy terlempar melewati nakas obat, sebelum akhirnya tiga orang pasukan taktis divisi satu Mahardika merangsek masuk, langsung menekan tubuh Rendy ke lantai dan mengunci kedua tangannya dengan borgol besi berkekuatan tinggi.
"Bawa dua tikus ini ke ruang bawah tanah markas utama. Jangan biarkan mereka mati sebelum aku sendiri yang menguliti mereka hidup-hidup," perintah Dafa, suaranya terdengar sangat rendah, dingin, dan sarat akan ancaman pembantaian mutlak.
"Baik, Pak Dafa! Area sudah bersih dan aman!" jawab komandan tim taktis tegas, langsung menyeret tubuh Baskoro dan Rendy keluar dari kamar, menutup pintu darurat baru untuk memberikan privasi seutuhnya bagi sang penguasa tertinggi.
Begitu seluruh ancaman musuh lenyap dari dalam ruangan, atmosfer mencekam di dalam kamar rawat perlahan-lahan mulai memudar. Dafa membalikkan tubuh besarnya secepat kilat, menatap down ke arah Nazya yang masih terduduk di atas bangsal dengan tubuh ramping yang bergetar hebat akibat syok psikologis yang mendalam.
Nazya menatap wajah tegas Dafa yang kini dipenuhi noda debu hitam, tetesan air hujan, dan rembesan darah baru di balik kerah kemeja hitamnya yang koyak. Air mata kesedihan dan rasa syukur yang teramat masif tumpah ruah membasahi pipi cantiknya. Tanpa memedulikan rasa perih di kakinya, janda muda itu langsung menghamburkan seluruh tubuh kurusnya, memeluk erat leher kokoh Dafa.
"Mas Dafa... Mas Dafa selamat... Ya Tuhan, Nazya takut sekali..." tangis Nazya pecah di ceruk leher maskulin Dafa. Kedua tangan kurusnya mencengkeram erat pundak suaminya, menumpahkan seluruh rasa sesak dan kesedihan yang sedari tadi ia tahan di dalam dadanya.
Dafa merengkuh tubuh ramping Nazya ke dalam pelukan posesifnya yang mutlak. Lengan kekarnya mengunci pinggang sang istri dengan teramat erat dan rapat, mengangkat tubuh kurus Nazya dari atas bangsal dan membawanya duduk di dalam pangkuan bidangnya di atas kursi sofa besar sudut kamar. Pria itu membenamkan wajah tampannya di antara helai rambut hitam Nazya yang harum, menghirup aroma penenang jiwanya yang sempat hampir hilang malam ini.
"Menangislah, Nazya-ku... keluarkan seluruh takutmu di dadaku. Badai sudah benar-benar selesai. Tidak akan ada lagi tikus yang bisa menyentuhmu seujung kuku pun," bisik Dafa dengan suara bariton yang teramat lembut dan serak, mengusap punggung ramping istrinya dengan kehangatan pelindung terakhir yang menenangkan.
Setelah beberapa menit tangis Nazya mulai mereda menjadi sesenggukan kecil, Dafa merendahkan wajahnya. Jemari besarnya yang hangat menangkup sepasang pipi pias Nazya, memaksa janda muda itu untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata elangnya yang kini berkilat kelam bercampur pendar gairah dominan yang mulai meletup panas.
Melihat bibir ranum Nazya yang basah bercampur sisa air mata, sifat posesif dan insting predator Dafa yang sempat tertahan selama pertempuran kini menuntut hak kepemilikan seutuhnya. Kamar rawat yang remang-remang itu seketika dipenuhi oleh ketegangan intim yang luar biasa sensual di antara sepasang kekasih yang baru saja melewati neraka maut.
"Mas Dafa... punggungmu berdarah lagi..." lirih Nazya dengan suara yang parau, jemari kurusnya menyentuh robekan kemeja Dafa dengan binar mata yang dipenuhi rasa sedih dan khawatir.
"Luka ini tidak ada artinya dibandingkan dengan rasa hausku padamu malam ini, Nazya," desis Dafa rendah, suaranya terdengar sangat berat dan penuh intimidasi sensual yang membuat detak jantung Nazya berpacu gila.
Tanpa memberikan kesempatan bagi Nazya untuk menjawab, Dafa merendahkan wajah tegasnya, membungkam bibir ranum Nazya ke dalam sebuah ciuman yang teramat intens, dalam, dan menuntut. Ciuman itu awalnya terasa kasar dan posesif, meluapkan seluruh rasa takut kehilangan yang sempat mencengkeram jiwa sang CEO, sebelum akhirnya berubah menjadi lumatan yang teramat lembut, manis, dan sarat akan gairah dewasa yang membakar habis sisa-sisa hawa dingin malam.
Nazya melenguh lirih di sela ciuman mereka, kedua tangan kurusnya merayap naik, meremas rambut hitam Dafa yang basah seiring dengan tubuh rampingnya yang semakin ditarik rapat menempel pada dada bidang Dafa yang panas. Sentuhan intim yang teramat pekat itu mengalirkan getaran kepemilikan mutlak menembus hingga ke pusat kesadaran mereka, menegaskan bahwa janda muda ini adalah belahan jiwa yang tak akan pernah dilepaskan oleh sang penguasa Mahardika.
Tangan kekar Dafa bergerak nakal namun anggun, menyusup di balik pinggang ramping Nazya, meremas lembut lekuk tubuh suci istrinya di balik gaun rumah sakit yang tipis, meningkatkan suhu ruangan menjadi teramat panas oleh jalinan romansa dewasa yang berkelas di antara mereka berdua.
Satu jam kemudian, setelah badai emosi dan luapan gairah di antara mereka berdua mulai mereda dengan tenang, Nazya telah tertidur pulas di dalam pelukan dada bidang Dafa dengan selimut tebal yang membungkus tubuh rampingnya. Dafa sendiri masih terjaga, bersandar di kepala ranjang sembari terus mengusap lembut pucuk kepala istrinya dengan tatapan posesif yang tak pernah pudar.
KREEEKKK...
Pintu kamar rawat perlahan digeser terbuka dari luar dengan teramat pelan agar tidak mengganggu istirahat Nazya. Mikael melangkah masuk dengan langkah kaki yang diseret pelan, wajahnya kembali dipenuhi oleh ekspresi kecemasan baru yang luar biasa pekat.
Dafa melirik tajam ke arah asisten pribadinya, memberikan isyarat mata agar Mikael tidak mengeluarkan suara keras. Pria dominan itu menurunkan tubuh Nazya dengan perlahan di atas kasur, lalu bangkit berdiri dan melangkah mendekati Mikael di dekat pintu luar.
"Ada apa lagi, Mikael? Jika ini bukan masalah hidup dan mati, aku akan memotong lidahmu," desis Dafa dingin dengan suara bariton yang sangat rendah.
Mikael menelan ludahnya dengan susah payah, menyerahkan sebuah gawai pintar yang menampilkan rekaman kamera tersembunyi dari dalam sel isolasi bawah tanah markas utama. Di dalam layar itu, tampak Adrian Mahardika yang baru saja siuman dari pingsannya, sedang tertawa histeris sembari menunjuk ke arah tato tanda lingkaran hitam aneh yang mendadak muncul dan merambat cepat di kulit lehernya sendiri.
"P-Pak Dafa... ini gila... Tuan Adrian baru saja berteriak mengatakan bahwa konspirasi ini belum selesai," suara Mikael bergetar hebat menahan ngeri. "Dia bilang... dia hanyalah sebuah boneka umpan. Dalang asli yang memegang seluruh kendali dana gelap Mahardika, yang merancang pembunuhan Ibu Kandung Anda, dan yang malam ini sedang bergerak menuju rumah singgah Mami Kinanti... adalah kakek kandung Anda sendiri, Tuan Besar Aryo Mahardika, yang selama sepuluh tahun ini berpura-pura lumpuh di atas kursi roda!"