Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.
Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.
Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.
Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.
Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.
Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.
Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.
Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#25
Setelah badai emosi yang menguras air mata itu mereda, Martin dan Nora Amelie memutuskan untuk pamit terlebih dahulu.
Sebagai pemimpin tertinggi Luther Corporation dan dokter spesialis yang sibuk, mereka memiliki banyak hal yang harus dipersiapkan di balik layar—terutama untuk menyusun strategi hukum guna menghancurkan Willem Daendels tanpa celah.
Begitu pintu geser otomatis kamar VVIP Suite itu tertutup rapat, menyisakan keheningan di dalam ruangan mewah tersebut, atmosfer di antara dua manusia yang tersisa mendadak berubah drastis.
Ruangan yang tadinya terasa tegang dan penuh tekanan kini terasa begitu intim, menyisakan kecanggungan yang manis.
Aiden berdiri mematung di samping ranjang Tuan Klatten.
Pemuda delapan belas tahun yang biasanya selalu memancarkan aura dingin, angkuh, dan tak tersentuh itu kini mendadak salah tingkah.
Perlahan namun pasti, rona merah mulai menjalar di pipi tampannya. Tidak butuh waktu lama bagi Suzanne untuk menyadari bahwa rona merah itu kini telah menjalar hingga ke ujung telinganya yang memutih.
Aiden menundukkan kepalanya sedikit, berpura-pura merapikan lengan kemejanya, namun seulas senyum bodoh tidak bisa berhenti terukir di bibirnya.
Bayangan saat Suzanne berlutut di hadapan ibunya dan dengan lantang memohon, "Bantu saya bercerai dari Willem Daendels... Dan saya berjanji akan memberikan seluruh hidup saya untuk mendampingi Aiden," terus berputar-putar di dalam otaknya laksana kaset rusak.
Kata-kata itu adalah deklarasi paling indah yang pernah Aiden dengar seumur hidupnya. Wanita yang ia gilai itu akhirnya memilihnya. Dia memilih untuk bersamanya.
Suzanne yang sedang merapikan selimut ayahnya melirik ke arah Aiden dari sudut matanya.
Melihat bagaimana berondong kekar itu tersenyum-senyum sendiri dengan telinga yang memerah padam, Suzanne menggelengkan kepalanya pelan, merasa gemas sekaligus heran.
Sifat posesif dan dewasa yang Aiden tunjukkan saat menghadapi orang tuanya tadi mendadak menguap, digantikan oleh sisi remaja delapan belas tahun yang sedang dimabuk asmara.
Merasakan waktu menjenguk ayahnya sudah selesai dan kondisi sang ayah sudah jauh lebih aman di bawah pengawasan tim dokter terbaik keluarga Stone, Suzanne menghembuskan napas pelan. Ia menoleh ke arah Aiden.
"Mari kita pulang," kata Suzanne lembut, memecah lamunan manis pemuda di hadapannya.
Aiden tersentak kecil, seolah baru saja ditarik paksa dari dunia khayalannya.
"Ah—iya. Ayo kita pulang," jawabnya dengan suara yang mendadak serak, dengan cepat berdehem untuk menutupi kegugupannya.
... * * * ...
Perjalanan pulang dari Rumah Sakit Pusat Stone menuju pusat kota Chicago menjadi perjalanan paling lambat yang pernah Aiden lakukan.
Mengendarai SUV mewah miliknya, Aiden sengaja menurunkan kecepatan mobilnya, membiarkan kendaraan lain menyalip mereka di jalan raya.
Sepanjang perjalanan, tangan kiri Aiden tidak pernah sekali pun melepaskan jemari Suzanne.
Sambil tangan kanannya mengendalikan kemudi dengan lihai, jemari kirinya yang besar dan hangat menangkup erat tangan Suzanne di atas tuas transmisi.
Ia mengusap punggung tangan wanita itu berulang kali dengan ibu jarinya, seolah ingin memastikan secara fisik bahwa Suzanne benar-benar ada di sana, di sampingnya, dan tidak akan pergi ke mana-mana lagi.
Suzanne hanya membiarkan perlakuan posesif itu.
Ada rasa aman yang luar biasa yang menyusup ke dalam hatinya setiap kali jemari Aiden mempererat genggamannya. Namun, saat mobil mulai memasuki kawasan downtown, bayangan tentang harus kembali ke apartemen nomor 202—tempat di mana Willem dan Lydia mungkin sedang memamerkan kemesraan menjijikkan mereka—membuat dada Suzanne kembali terasa sesak.
Dia tidak sudi lagi menginjakkan kaki di tempat terkutuk itu. Dia harus keluar dari sana detik ini juga.
Suzanne menarik napas dalam-dalam, menoleh menatap profil samping wajah Aiden yang tegas dari balik kemudi.
"Aiden..." panggil Suzanne pelan.
"Ya, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Aiden sigap, sedetik pun tidak melepaskan pandangan protektifnya saat menoleh sekilas ke arah Suzanne.
"Apa... apa boleh aku tinggal di apartemenmu saja?" tanya Suzanne dengan nada ragu, menggigit bibir bawahnya pelan.
Ciiit.
Aiden tanpa sengaja menginjak pedal rem sedikit lebih dalam, membuat mobil mereka sedikit tersentak di lajur lambat.
Pria muda itu menoleh sepenuhnya dengan mata melebar, menatap Suzanne dengan pandangan tidak percaya.
"Hah? Di apartemen k-ku?" gagap Aiden, suaranya naik satu oktav. Jantungnya mendadak berdegup kencang laksana genderang perang.
Melihat reaksi berlebihan dari Aiden, wajah Suzanne ikut merona merah.
"J-jika tidak boleh, tidak apa-apa. Aku bisa mencari hotel kecil atau—"
"B-boleh! Tentu saja boleh, sangat boleh!" potong Aiden dengan cepat, memotong kalimat Suzanne dengan nada panik yang kentara. Ia berdehem lagi, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh.
"Maksudku... kau memang harus segera keluar dari rumah suamimu... maksudku, si brengsek Willem itu. Kamar di apartemenku selalu terbuka untukmu, Suzanne. Kau tidak boleh pergi ke hotel mana pun."
Senyum kemenangan dan rasa tidak sabar seketika membuncah di dalam dada Aiden. Tinggal bersama Suzanne di bawah satu atap tanpa gangguan dari Daendels adalah impian terbesarnya yang terwujud lebih cepat dari perkiraan.
... * * *...
Tidak butuh waktu lama bagi SUV mewah Aiden untuk melesat masuk ke dalam gedung apartemen elite miliknya yang terletak di lantai teratas kawasan eksklusif.
Aiden membukakan pintu untuk Suzanne, membimbing wanita itu melewati koridor marmer, dan menekan kode sandi digital pada pintu unit apartemennya yang luas dan berdesain modern minimalis.
Begitu pintu terbuka, aroma maskulin khas kayu cendana dan mint yang menjadi ciri khas Aiden langsung menyambut indra penciuman Suzanne.
Ruangan itu sangat rapi dan mewah, dengan dinding kaca besar yang menghadap langsung ke arah lanskap kota.
Aiden meletakkan kunci mobilnya di atas konter dapur, lalu berbalik menatap Suzanne yang masih berdiri canggung di dekat sofa.
"Nah, karena kau akan tinggal di sini untuk waktu yang lama..."
Aiden melangkah mendekat, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan gaya sok keren, mencoba menutupi debaran jantungnya.
"Kau bebas memilih. Kau mau menempati kamar utama, atau kau mau di kamar tamu?"
Suzanne terdiam sejenak, melirik ke arah pintu kamar utama yang terletak di ujung koridor—kamar tempat kejadian gila malam itu terjadi. Semburat merah kembali muncul di pipinya.
"Aku di kamar tamu saja," jawab Suzanne dengan cepat, menghindari tatapan mata Aiden yang teramat intens.
Aiden mengerutkan keningnya, gurat kecewa langsung tercetak jelas di wajah tampannya.
Ia maju satu langkah, menundukkan tubuhnya sedikit agar sejajar dengan tinggi Suzanne.
"Kenapa di kamar tamu? Kenapa tidak di kamar utama saja, Suzanne?" tanya Aiden dengan nada merajuk khas remaja yang tidak mendapatkan apa yang diinginkannya.
"Itu kamarmu, Aiden. Lagi pula... Ah, iya, aku tidak nyaman berada di sana," jawab Suzanne jujur, memalingkan wajahnya ke arah lain.
Berada di kamar utama itu hanya akan membuatnya terus-menerus mengingat bagaimana tubuh kekar Aiden mengukungnya di atas ranjang king-size tersebut.
Mendengar alasan 'tidak nyaman' dari bibir Suzanne, sebuah kilat jahil dan seringai nakal mendadak muncul di sudut bibir Aiden.
Sisi mesum dan dominannya kembali mengambil alih. Ia melangkah maju hingga tubuh tegapnya hampir menempel pada dada Suzanne, mengurung wanita itu di antara tubuhnya dan sandaran sofa.
Aiden menundukkan kepalanya, berbisik tepat di samping telinga Suzanne dengan nada suara yang rendah, berat, dan teramat seksi.
"Kenapa tidak nyaman, hm? Kau... kau teringat rasa sakitmu karena aku melakukannya terlalu kasar malam itu... atau kau teringat suaramu sendiri yang meracau berkali-kali di atas ranjang itu, Sayang?"
Mata Suzanne seketika membelalak sempurna mendengarkan kalimat vulgar yang meluncur tanpa dosa dari bibir berondong delapan belas tahun itu.
Wajahnya seketika memerah padam laksana kepiting rebus hingga ke lehernya.
Dengan sentakan panik, Suzanne mendorong dada bidang Aiden dengan kedua tangannya, menjauhkan wajah pemuda itu yang terlalu dekat.
"Aiden! Kau... kau mesum ya?!" teriak Suzanne dengan suara melengking, memukuli lengan kekar Aiden dengan tas rajutnya karena rasa malu yang luar biasa telah membakar seluruh kesadarannya.
Aiden justru tertawa lepas, suara tawa baritonnya yang renyah memenuhi seluruh penjuru apartemen mewah itu. Ia dengan mudah menangkap kedua pergelangan tangan Suzanne, menarik wanita itu kembali ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif.
Di dalam dekapan itu, Aiden tersenyum penuh kemenangan, tahu bahwa wanita dewasa di pelukannya ini kini tidak akan pernah bisa lepas lagi dari jerat pesonanya.
😌
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍