NovelToon NovelToon
Aksara Cinta Sang Penulis

Aksara Cinta Sang Penulis

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Tryas menganggap Jati tak lebih dari "barang antik" yang membosankan, hingga ia melemparkan perjodohan itu kepada sahabatnya, Gayuh. Namun, di balik sikap kuno itu, Jati adalah seorang CEO dengan kasih sayang yang tak terbatas. Saat Jati mulai "meratukan" Gayuh dalam sandiwara yang ia susun sendiri, Tryas tersadar telah membuang permata. Kini, sang sahabat dituduh pengkhianat. Akankah Jati melepaskan wanita yang tulus mencintainya demi tuntutan perjodohan awal, atau justru membawa sang "pemeran pengganti" ke pelaminan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Jati menggendong tubuh Gayuh yang terasa sangat ringan masuk menembus pintu otomatis Instalasi Gawat Darurat rumah sakit miliknya sendiri, J-Medica Center.

Kedatangan mereka disambut dengan kepanikan staf medis yang sudah menerima peringatan darurat dari Pak Gunawan.

"Siapkan ruang VVIP nomor satu! Panggil Dokter Spesialis Penyakit Dalam sekarang!" perintah Jati dengan suara bariton yang menggelegar, tidak menyisakan ruang untuk bantahan.

Para perawat dan dokter berlarian, namun Jati memberikan isyarat tajam kepada Pak Gunawan.

"Ingatkan mereka. Jangan ada satu pun yang menyebutku 'Tuan' atau 'Pemilik' di depan wanita ini. Di sini, aku hanya seorang pria yang membawanya," desis Jati tajam.

Beberapa jam kemudian, di dalam kemewahan ruang VVIP yang tenang, Gayuh terbaring dengan selang infus terpasang di tangannya.

Ruangan itu begitu kontras dengan kondisi mereka saat ini. Jati duduk di samping tempat tidur, masih dengan napas yang belum teratur.

Pak Gunawan melangkah masuk dengan hati-hati.

"Tuan," bisiknya pelan.

"Kondisi Nona sudah stabil, tapi demamnya belum turun sepenuhnya. Namun, ada satu hal, jika Nona terbangun dan melihat Anda dengan kemeja custom ini di ruangan semewah ini, identitas Anda akan terbongkar dalam sekejap."

Jati menatap kemeja mahalnya, lalu melirik Gayuh yang masih terlelap.

Dengan berat hati, ia meraih jaket ojek kusamnya yang tergeletak di sofa kulit ruangan itu.

Ia memakainya kembali. Pemandangan itu sungguh ironis: seorang pria berjaket ojol kumal, duduk di kursi beludru di dalam kamar rumah sakit paling mahal di kota itu.

Tiba-tiba, tubuh Gayuh bergerak gelisah. Keringat dingin mengucur di pelipisnya.

Bibirnya yang pucat mulai bergumam, memecah keheningan ruangan.

"Jangan... jangan hina Jatiku..." gumam Gayuh dengan suara serak, seolah sedang bertarung dalam mimpi buruk.

Jati tersentak. Ia mendekatkan telinganya ke bibir Gayuh.

"Jangan... Jati orang baik... dia bukan sampah," igau Gayuh lagi, air mata merembes dari sudut matanya yang terpejam.

"Aku akan bayar utangmu, Tryas... asalkan jangan hina dia lagi... aku akan selesaikan novelnya..."

Jati tertegun. Jantungnya serasa diremas oleh tangan tak kasat mata.

Seluruh kepingan teka-teki itu kini jatuh di tempatnya. Jadi, alasan Gayuh bekerja tanpa henti hingga nyaris meregang nyawa bukan sekadar karena dedikasi pada karya, tapi karena ia ingin melindungi nama baik Jati dari hinaan Tryas Adiguna.

Wanita ini rela menghancurkan tubuhnya sendiri demi membela seorang "tukang ojek" yang sebenarnya bisa membeli seluruh gedung ini dengan jentikan jari.

Jati mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Matanya berkilat dengan amarah yang dingin dan mematikan.

"Jadi, Tryas Adiguna benar-benar datang dan merendahkanmu karena aku?" bisik Jati dengan nada rendah yang mengerikan.

Ia menatap Gayuh dengan rasa haru yang mendalam sekaligus penyesalan.

Jati menyadari bahwa uang kontrak novel yang ia berikan secara rahasia hanyalah obat penawar kecil.

Itu tidak cukup untuk membalas air mata dan rasa sakit yang dialami Gayuh semalam.

Jati berdiri, menoleh ke arah Pak Gunawan yang berdiri di dekat pintu.

"Pak Gun," ucapnya dengan suara yang bergetar karena emosi yang tertahan.

"Batalkan semua rencana investasi kita pada keluarga Adiguna. Dan besok, pastikan Tryas Adiguna kehilangan semua kontrak modelnya. Aku ingin dia merasakan apa artinya menjadi orang yang ia hina—orang yang tidak punya apa-apa."

Jati kembali menatap Gayuh, lalu menyentuh tangan wanita itu dengan sangat lembut.

"Terima kasih sudah membelaku, Gadis Penulis. Sekarang, biarkan pria ojek ini yang melakukan bagiannya untukmu."

Suara langkah kaki dari sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai marmer rumah sakit terdengar begitu angkuh, memecah ketenangan lorong ruang VVIP.

Tryas Adiguna berjalan dengan wajah masam, kacamata hitam bertengger di atas hidungnya. Setelah mendapat kabar dari Pak RT bahwa Gayuh dilarikan ke rumah sakit karena pingsan, ia tidak datang dengan buah tangan atau rasa simpati. Di tangannya, ia justru menggenggam catatan utang.

"Dasar lemah. Baru diminta uang sedikit saja sudah pakai acara pingsan segala," gerutu Tryas pelan sambil mencari nomor kamar.

Namun, langkahnya terhenti secara mendadak. Di depan pintu ruang VVIP nomor satu, seorang pria berdiri tegap seperti benteng yang tak tergoyahkan.

Pria itu masih mengenakan jaket ojek yang kusam, kontras dengan kemewahan dinding rumah sakit di sekelilingnya.

"Mau apa kamu ke sini?" suara Jati terdengar rendah dan dingin, lebih dingin dari suhu pendingin ruangan di lorong itu.

Tryas melepas kacamata hitamnya, menatap Jati dengan pandangan jijik yang amat sangat.

"Oh, si tukang ojek pembawa sial ini masih di sini? Minggir! Aku ada urusan dengan wanita ini. Dia harus membayar apa yang dia janjikan semalam!"

Jati tidak bergemerincing sedikit pun. Matanya menatap tajam ke arah Tryas, sebuah tatapan yang sanggup membuat direktur perusahaan besar gemetar, namun Tryas yang terlalu sombong tidak menyadarinya.

"Dia sedang istirahat. Dia pingsan karena kelelahan bekerja demi melayani keserakahanmu," ucap Jati datar.

Tryas tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat menjengkelkan.

"Kelelahan? Itu salahnya sendiri berteman dengan orang seperti kamu! Sejak ada kamu, hidup dia jadi berantakan. Kamu itu cuma parasit, tahu tidak? Kamu pembawa sial yang membuat dia harus bekerja bagai budak!"

Tryas melangkah maju, mencoba mendorong bahu Jati.

"Minggir! Aku butuh uangnya sekarang. Atau jangan-jangan, kamu yang menghabiskan uang dia untuk bayar rumah sakit mahal ini? Dasar miskin, tidak tahu diri!"

Jati menangkap pergelangan tangan Tryas sebelum wanita itu sempat menyentuhnya.

Cengkeramannya tidak menyakitkan, tapi sangat kuat dan penuh otoritas.

"Dengarkan aku baik-baik, Nona." bisik Jati tepat di depan wajah Tryas.

"Uang yang kamu tagih itu tidak ada artinya. Kamu menghina dia miskin, padahal naskah yang dia selesaikan semalam baru saja dibeli oleh perusahaan besar dengan nilai yang sanggup membeli seluruh koleksi tas mewahmu dalam sekejap."

Tryas tersentak, lalu tertawa terbahak-bahak. "Apa? Miliaran? Dari menulis cerita sampah? Jangan bermimpi! Kamu dan dia itu satu paket: sama-sama tukang khayal!"

Jati melepaskan tangan Tryas dengan sentakan halus.

Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang mengandung ancaman tersembunyi.

"Silakan tertawa sekarang, Nona. Karena besok, saat semua kontrak kerjamu dibatalkan dan namamu di-blacklist dari industri fashion, kamu akan sadar bahwa pria ojek yang kamu hina ini adalah orang yang menentukan masa depanmu."

"Kamu mengancamku? Siapa kamu?!" teriak Tryas marah, suaranya melengking di lorong rumah sakit.

"Aku?" Jati memperbaiki posisi jaket ojeknya.

"Aku hanya pria yang akan memastikan wanita yang terbaring di ranjang akan mendapatkan keadilannya. Sekarang, pergi dari sini sebelum aku memanggil keamanan untuk menyeretmu keluar seperti sampah."

Tryas menghentakkan kakinya kesal. "Awas kalian! Aku akan kembali, dan saat itu terjadi, kalian berdua akan memohon ampun padaku!"

Jati menatap kepergian Tryas dengan tatapan tajam.

Ia merogoh ponsel di balik jaketnya dan mengirim pesan singkat kepada Pak Gunawan: "Eksekusi rencana pembatalan kontrak Tryas Adiguna sekarang. Jangan sisakan satu pun."

Setelah itu, Jati berbalik dan masuk kembali ke kamar.

Ia duduk di samping Gayuh, menggenggam tangan wanita itu yang masih terpasang infus.

"Tidurlah yang nyenyak, Gayuh. Saat kamu bangun nanti, tidak akan ada lagi orang yang berani merendahkanmu."

1
Dew666
😍😍😍😍
Rahmawati
wow maharnya fantastis bgt👏👏👏
Rahmawati
hahaha, pagi pagi udah nongol aja si jati
Rahmawati
tryas km akan nyesel nanti😂
Rahmawati
lah kok malah jadi nyaman😂
Rahmawati
baru mulai baca
my name is pho: terima kasih kak🥰
total 1 replies
Vie
aaaa..... ini disini juga aku mau jati... ini udah mangap dari tadi loh... 🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
nah itu kau tahu sendiri kan.... makanya selamat tersiksa ya tryas.... 🤪🤪🤪🤪
Vie
lanjut kak.... 👍👍👍👍👍👍
Vie
iiihhhh jadi baper deh.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Vie
kamu dasar cucu durhakim.... bilang neneknya sakit.... eh ternyata lagi santai di ln..... dasar cucu durhakim... 🤭🤭🤭🤭
Vie
demi bos jadi ikutan nyamar.... 🤣🤣🤣🤣 demi apa coba hal itu dilakukan.... demi cinta... 🤭🤭🤭🤭
my name is pho: 🤭🤭 hehehe
total 1 replies
Vie
lanjut kak..... 👍👍👍👍 seru banget..
Vie: makasih kak.... aku selalu stay walau jarang komen, tapi tetap lanjut baca... lanjut sampai ceritanya tamat ya kak.. 👍👍👍👍😊😊😊
total 2 replies
Dew666
🍎🍎🍎🍎
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!