seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14. KEPUTUSAN DI RUANG NDALEM
"Alqin, sahabatku. Kita sudah berteman lama. Tapi kejadian tadi siang... benar-benar di luar perkiraan saya," buka Abi Vero.
"Vero, saya benar-benar minta maaf. Ayini memang tidak punya adab, saya gagal mendidiknya," ucap Alqin dengan suara bergetar.
Abi Vero menyalakan layar televisi besar di ruang tamu tersebut. Ia memutar rekaman CCTV dari area halaman utama.
Terlihat jelas bagaimana Ayini berteriak dengan lantang, dan yang paling membuat semua orang menahan napas adalah bagian di mana Ayini sebelumnya (di taman MTQ) sempat menarik lengan baju Alvaro dan menggandengnya—sebuah rekaman yang juga diambil oleh kamera pengawas sudut taman.
Melihat rekaman gandengan tangan itu, Umi Ayisah menghela napas panjang.
"Alvaro... apa benar ini terjadi?"
Alvaro mengangkat wajahnya sedikit, namun tidak menatap siapa pun.
"Benar Umi. Tapi itu terjadi karena ketidaksengajaan dan Alvaro sudah mencoba menghindar. Namun, fitnah sudah tersebar karena ucapan Ayini di depan umum tadi."
Ayini yang duduk di samping ibunya hanya bisa meremas ujung jilbabnya. Ia ingin menangis, tapi rasa malunya jauh lebih besar.
"Astagfirullah alazim... Ayini, kenapa kamu nekat begitu?" tangis Namyesa pecah.
Abi Vero mematikan televisi. Ia menatap Alqin, lalu menatap Alvaro dan Ayini secara bergantian.
Sebagai pemimpin pesantren, ia tahu bahwa martabat putranya dan pesantren harus dijaga.
Ucapan Ayini yang mengklaim Alvaro sebagai "calon suami" di depan publik bukan hal sepele di dunia pesantren.
"Setelah saya berdiskusi dengan Umi, dan melihat bagaimana kondisi yang ada... fitnah ini tidak bisa dibersihkan hanya dengan kata maaf," ucap Abi Vero mantap.
"Lalu apa maksudmu, Vero?" tanya Alpin, ayah Kevin.
"Untuk menjaga kehormatan Alvaro sebagai calon penerus pondok, dan untuk memastikan Ayini mendapatkan bimbingan yang tepat dan permanen...
saya memutuskan untuk mengesahkan apa yang Ayini katakan tadi siang," lanjut Abi Vero.
Ayini tersentak. Gus Alvaro langsung mengangkat wajahnya dengan mata membelalak.
"Abi?" Alvaro akhirnya bersuara, nada bicaranya penuh keterkejutan.
"Kita akan menjodohkan mereka. Kita akan menikahkan Alvaro dan Ayini segera setelah Ayini menyelesaikan masa studinya di sini, atau setidaknya dalam waktu dekat secara agama untuk menghindari fitnah lebih jauh," tegas Abi Vero.
Ruangan itu mendadak hening. Hazian Alqin dan Namyesa saling pandang, ada rasa lega namun juga rasa tidak enak hati
Sementara itu, Ayini yang biasanya bar-bar dan banyak bicara, kini benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menunduk malu, wajahnya merah padam seungu buah naga.
Gus Alvaro mematung. Ia menatap lantai dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang. Ia adalah seorang Gus yang sangat dewasa, yang selalu merencanakan masa depannya dengan penuh perhitungan.
Menikahi gadis yang baru berusia 16 tahun, yang bar-bar, nakal, dan bermulut pedas? Ini benar-benar di luar rencana hidupnya.
Namun, di sela-sela rasa syoknya, Alvaro teringat bagaimana Ayini melantunkan ayat suci malam itu di selasar. Ia teringat bagaimana Ayini berusaha berubah beberapa hari ini.
Alvaro menghela napas panjang, menutup matanya sejenak. "Jika ini adalah perintah Abi dan demi menjaga kehormatan pesantren... Alvaro patuh," ucapnya dengan suara berat yang bergetar.
Ayini yang mendengar jawaban Alvaro, jantungnya seolah ingin melompat keluar. Ia tidak menyangka "Gus Kulkas" itu akan setuju.
Ia melirik sedikit ke arah Alvaro, dan untuk pertama kalinya, ia melihat sisi rapuh dari pemuda yang selalu terlihat sempurna itu.
"Ayini... kamu bersedia?" tanya Papah Alqin tegas.
Ayini terdiam lama, lalu mengangguk pelan sekali. "Iya Pah... Ayini mau. Maafin Ayini udah bikin malu..."
Di pojok ruangan, Kevin hanya bisa geleng-geleng kepala. "Astagfirullah alazim... beneran jadi nih si Ayini jadi Bu Nyai? Dunia beneran udah mau kiamat," gumamnya pelan.
Malam itu, di bawah langit Barito Utara yang tenang, sebuah takdir baru telah dipahat.
Sebuah perjodohan yang berawal dari ke-bar-bar-an seorang gadis kota dan kedinginan seorang putra kyai.
Namun, mereka tidak tahu bahwa setelah keputusan ini, ujian yang sebenarnya baru saja dimulai.
Karena pernikahan bukan hanya soal status, tapi soal bagaimana menyatukan dua kutub yang sangat berbeda.