"Menikahlah dengannya, atau kamu pergi dari rumah ini tanpa membawa apa pun!"
Tepat dua hari sebelum pernikahan adiknya, Aira dipaksa menikah dengan pria kusam dari ujung desa demi membuang sial. Dewa, pria yang hanya bermodalkan motor tua dan pakaian lusuh, menjadi suaminya dalam semalam.
Aira sudah bersiap hidup melarat. Namun, saat ia mulai tulus mencintai sang suami di tengah kemiskinan, sebuah iring-iringan mobil mewah datang menjemput.
Siapa sangka, pria yang dihina keluarganya sebagai fakir itu ternyata pemegang tahta tertinggi di kota ini. Saat topeng terbuka, mampukah Aira bertahan di dunia suaminya yang penuh intrik, atau justru ia yang akan berbalik meninggalkan kemewahan itu?
Simak Kisah Selanjutnya Di Cerita Novel => Sultan Desa.
By - Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
"Ai... kamu tegang ya?" goda Dewa, suaranya berubah menjadi bisikan rendah yang sangat seksi.
"S-siapa yang tegang! Aku cuma sedang berpikir... AC di rumah ini dingin sekali, Mas. Apa tidak bisa dimatikan saja? Boros listrik," kilah Aira, mencoba mencari alasan sekenanya demi menutupi rasa gugupnya yang sudah di ubun-ubun.
Dewa tersenyum tipis. Ia meraih dagu Aira dengan jemarinya yang hangat, memaksa istrinya untuk menatap langsung ke dalam manik mata hitamnya yang kini meredup oleh gairah yang tertahan selama berbulan-bulan.
"AC-nya tidak usah dimatikan. Kalau kamu kedinginan, biar aku yang menghangatkanmu," bisik Dewa pelan.
Aira menahan napas. Wajah Dewa perlahan mendekat. Aroma maskulin bercampur wangi sabun mewah dari tubuh pria itu benar-benar mengunci seluruh panca indra Aira. Saat bibir hangat Dewa menyentuh bibirnya dengan sangat lembut, Aira memejamkan matanya rapat-rapat.
Sentuhan itu awalnya terasa ragu dan penuh kehati-hatian, seolah Dewa sedang memperlakukan sepotong porselen yang sangat rapuh. Namun, desah pelan yang lolos dari bibir Aira tampaknya meruntuhkan sisa-sisa pertahanan sang CEO.
Genggaman Dewa di pinggang Aira semakin erat, memperdalam ciuman mereka yang kini berubah menjadi penuh tuntutan namun tetap sarat akan rasa hormat yang mendalam.
Dewa perlahan merebahkan tubuh Aira ke atas kasur sutra yang empuk, tanpa sedetik pun memutus ciuman mereka. Daster katun Aira sedikit tersingkap, memperlihatkan kulit kakinya yang mulus. Jantung mereka berpacu bersama, menciptakan ritme yang memenuhi keheningan kamar mewah itu.
Ketika Dewa menjauhkan wajahnya sedikit untuk menatap istrinya, ia melihat mata Aira yang berkaca-kaca karena luapan emosi. Ada rasa haru, cinta, dan kepasrahan yang murni di sana.
"Mas Dewa..." bisik Aira parau, jemari mungilnya meremas kaus yang dikenakan Dewa. "Kamu... benar-benar milikku kan? Besok kamu tidak akan kembali jadi orang asing?"
Dewa mengecup kening Aira dengan lama dan penuh perasaan, lalu turun ke kelopak matanya yang basah, dan berakhir di pipinya.
"Aku milikmu, Aira. Jiwa dan ragaku, bahkan seluruh harta yang ada di gedung bawah sana, semuanya tidak ada artinya jika tidak ada kamu di sisiku. Malam ini, biarkan aku menjadi suamimu yang seutuhnya."
Aira mengangguk pelan, air mata harunya menetes namun segera diusap oleh ibu jari Dewa. Ketegangan dan rasa canggung itu perlahan menguap, digantikan oleh kehangatan cinta yang membara di bawah temaram lampu kamar Pradipta.
Malam itu, di atas ranjang mewah yang tak lagi terasa luas, dua hati yang sempat terpisah oleh dinding kebohongan akhirnya menyatu dalam ikatan yang paling suci.
~~~
Keesokan paginya, tirai otomatis kamar terbuka secara perlahan, menumpahkan cahaya matahari pagi yang cerah ke dalam kamar.
Aira mengerjap-erjap, merasakan lengan kekoh Dewa masih melingkar protektif di perutnya, memeluknya dari belakang bagai guling.
Tubuhnya terasa sedikit pegal, namun ada rasa hangat dan bahagia yang luar biasa yang menjalar di dadanya. Ia tersenyum mengingat kejadian semalam.
Namun, senyum Aira mendadak hilang digantikan oleh rasa panik saat matanya melirik jam dinding digital di atas TV layar datar. Jam delapan pagi!
"Astagfirullah! Mas! Mas Dewa, bangun, Mas!" Aira langsung heboh, mengguncang-guncang bahu suaminya dengan brutal.
Dewa yang masih setengah mengantuk hanya melenguh kecil, malah mempererat pelukannya di pinggang Aira. "Sebentar lagi, Sayang... hari ini akhir pekan..."
"Akhir pekan bagaimana! Ini sudah jam delapan lewat, Mas! Kamu pasti terlambat bekerja! Ayo bangun, aku belum masak nasi!" teriak Aira panik, insting istri kuli bangunannya masih melekat 100% di dalam otaknya.
Dewa yang mendengar kata bekerja dan masak nasi langsung membuka matanya. Ia terdiam selama dua detik, menatap langit-langit kamar mewahnya, lalu sedetik kemudian tawa gedenya kembali pecah di pagi hari yang cerah itu. Ia berguling, memeluk Aira gemas hingga istrinya itu memekik.
"Ai, Ai... dengerin aku," kata Dewa sambil mencium pipi Aira bertubi-tubi sampai istrinya itu kegelian. "Pemilik proyeknya itu aku. Jadi tidak akan ada yang berani memarahiku karena terlambat bekerja, Sayang."
Aira tertegun, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Oh iya... aku lupa kalau suamiku sekarang sudah jadi orang kaya."
Dewa tersenyum manis, mengusap rambut Aira yang sedikit berantakan dengan sayang. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu bangun subuh-subuh untuk mencuci baju lagi. Tapi, ada satu hal yang harus kamu siapkan."
"Apa itu, Mas?" tanya Aira bingung.
Dewa mengubah ekspresi wajahnya menjadi lebih serius, ada kilat pelindung di matanya. "Nanti siang, aku harus membawamu ke kantor pusat untuk tanda tangan pengalihan saham atas namamu. Dan... Mamaku mengundang beberapa kolega bisnisnya untuk datang minum teh sore ini. Mereka... bukan orang-orang yang ramah seperti tetangga kontrakan kita, Aira."
Aira terdiam. Ia menatap ke luar jendela balkon, melihat gedung-gedung pencakar langit yang tegak berdiri menantang langit. Di dalam hatinya, rasa cemas kembali merayap. Ia tahu, kebahagiaan malam ini hanyalah gerbang pembuka dari dunia baru yang penuh dengan ular berbisa.
...----------------...
To Be Continue ....