Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Teratai Di Atas Abu
Bab 3 — Pengemis Tua dan Semangkuk Mi Panas
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Lian Hua kini tinggal bersama A Bao di sebuah gubuk reyot yang berdiri di celah bukit, tak jauh dari kaki pegunungan utara. Tempat itu sederhana sekali, hanya berupa empat tiang kayu dan atap jerami yang sering bocor bila hujan turun, namun bagi Lian Hua, gubuk kecil itu adalah tempat berteduh paling aman yang ia miliki semenjak klannya musnah.
Setiap hari, Lian Hua membantu A Bao mengurus segala urusan rumah tangga. Ia mengumpulkan kayu bakar, mengambil air dari sungai yang airnya sedingin es, serta mencuci pakaian dan memasak apa saja yang ada. A Bao sendiri hampir tak pernah melakukan pekerjaan berat. Sebagian besar waktunya dihabiskan dengan tidur-tiduran di dekat perapian, minum anggur, atau duduk diam menatap ke arah ufuk selatan sambil bergumam sendiri—entah sedang mengingat masa lalu atau sekadar mengoceh karena mabuk.
Meski begitu, lelaki tua itu bukanlah orang biasa. Di sela-sela waktu luang, A Bao sering bercerita tentang dunia persilatan yang luas dan berbahaya. Duduk bersila di atas tanah dingin sambil menyesap anggur, ia menceritakan tentang sekte-sekte besar yang berkuasa, tentang pendekar-pendekar hebat yang namanya disegani di seluruh penjuru negeri, tentang aturan tak tertulis yang berlaku, dan juga tentang kekacauan, persaingan, serta pengkhianatan yang kerap terjadi di balik kemegahan dunia persilatan.
“Dunia ini tak seindah yang kau bayangkan, anak muda,” ucap A Bao suatu hari, saat mereka sedang duduk di depan gubuk menikmati angin sore yang sejuk. “Di luar sana, kekuatan adalah segalanya. Siapa yang lebih kuat, dialah yang berhak menentukan benar salah. Orang lemah hanyalah seperti semut yang bisa diinjak kapan saja tanpa ada yang peduli. Itulah hukum yang berlaku di mana pun kau berada.”
Lian Hua mendengarkan dengan saksama, menyimpan setiap kata itu dalam benaknya. Di saat yang sama, ia juga sadar betapa beratnya nasib yang menimpanya. Meridian di dalam tubuhnya rusak parah akibat serangan dulu, membuatnya tak bisa menampung tenaga dalam sebagaimana kultivator lain. Ia pernah mencoba berkultivasi mengikuti cara-cara dasar yang ia ingat dari klannya, namun setiap kali ia berusaha menggerakkan tenaga, dadanya terasa nyeri luar biasa seolah akan terbelah dua. Hal itu membuatnya hanya bisa menghela napas panjang, dan makin yakin bahwa orang-orang dulu benar—ia memang dianggap sampah di mata dunia persilatan.
Suatu sore, A Bao mengajak Lian Hua turun ke pasar terdekat di kaki gunung. Pasar itu ramai dan berisik, penuh pedagang, pengelana, serta pendekar yang lewat. Di sudut pasar, ada seorang lelaki tua berpakaian compang-camping duduk bersandar di tembok batu, tubuhnya kurus kering, wajahnya penuh debu, dan kakinya cacat tak bisa bergerak. Di hadapannya terhampar kain lusuh dengan beberapa benda kecil yang dijualnya. Banyak orang lewat, tapi tak satu pun yang berhenti atau peduli padanya.
Lian Hua merasa iba melihatnya. Ia mengeluarkan sedikit uang tembaga yang ia kumpulkan dari hasil membantu penduduk sekitar, lalu membeli semangkuk mi panas yang mengepul uapnya. Ia lalu membawanya menghampiri lelaki tua itu, meletakkannya pelan di hadapan orang tua itu.
“Silakan dimakan, Paman,” ucap Lian Hua sopan.
Lelaki tua itu mendongak perlahan. Matanya keruh namun memancarkan sorot yang tak terduga tajam. Ia menatap Lian Hua lama sekali, lalu tersenyum tipis dan menerima mangkuk itu dengan tangan gemetar. “Terima kasih, anak muda. Kau berhati mulia. Namun ingatlah... di dunia ini, kebaikan saja takkan cukup membuatmu selamat. Kadang, kebaikan malah bisa jadi alasan bagi orang jahat untuk mencelakaikanmu.”
Setelah kembali ke gubuk dan hari mulai larut, Lian Hua tak bisa melupakan kata-kata lelaki tua itu. Ia duduk diam di dekat perapian, wajahnya tampak serius. Ia menatap A Bao yang sedang duduk bersila sambil memutar-mutar labu anggurnya di tangan.
“Paman A Bao,” panggil Lian Hua pelan. “Kau sering bercerita tentang dunia persilatan, tentang kekuatan, tentang aturan yang keras itu. Aku tahu aku lemah sekarang, aku tahu meridianku rusak dan dianggap tak berguna. Tapi aku takkan menyerah. Aku harus menjadi kuat, sekuat apa pun caranya. Aku harus pergi ke Menara Darah Hitam suatu hari nanti, dan menuntut balas atas apa yang mereka perbuat pada klanku.”
Saat mendengar ucapan itu, senyum santai di bibir A Bao perlahan lenyap. Ia meletakkan labu anggurnya ke samping, lalu menatap Lian Hua dengan pandangan yang sangat serius, jauh lebih serius dari biasanya.
“Dengarkan aku baik-baik, Hua’er,” ucap A Bao dengan suara berat dan tegas. “Aku tahu api dendam di dadamu takkan mudah padam. Aku tahu betapa sakit dan pedihnya apa yang kau alami. Tapi ingatlah satu hal ini baik-baik: Menara Darah Hitam bukanlah musuh yang bisa kau kalahkan atau kau balas hanya dengan mengandalkan kebencian, semangat, atau sekadar kemauan keras.”
Ia berhenti sejenak, menatap nyala api yang menari-nari di perapian, lalu melanjutkan dengan nada rendah, “Organisasi itu sudah ada ratusan tahun lamanya. Kekuatan mereka jauh di luar dugaan orang biasa. Cabang mereka menjalar ke seluruh penjuru negeri, tersembunyi di balik bayang-bayang, bersekutu dengan kekuatan-kekuatan gelap yang bahkan nama saja sudah cukup membuat pendekar hebat gemetar ketakutan. Klan Teratai Suci yang dulu besar dan kuat saja bisa mereka musnahkan begitu saja tanpa banyak yang tahu... apa artinya itu? Artinya, kekuatan mereka bukan sekadar besar, tapi jauh di atas apa yang bisa kau bayangkan sekarang.”
A Bao mendekat sedikit, menatap tepat ke manik mata Lian Hua.
“Jika kau hanya berpikir untuk membalas dendam dengan kebencian semata, kau takkan pernah sampai ke depan gerbang mereka. Kau hanya akan mati sia-sia, sama seperti orang-orang klanmu dulu. Ingatlah... jalan ke sana sangat panjang, penuh duri dan darah. Sebelum kau bisa menuntut balas, kau harus belajar dulu apa artinya menjadi kuat yang sesungguhnya—kuat bukan hanya di badan, tapi juga di hati dan akal pikiranmu.”