Bianca, seorang gadis asal Indonesia yang hidup dengan prinsip "hidup santai, otak agak miring," tidak pernah menyangka liburan murahannya ke Italia akan berakhir dengan bencana kosmik. Saat sedang asyik memakan gelato di depan gereja kuno, Bianca tersandung kaki sendiri dan menabrak Lorenzo De Luca, sulung dari tiga raja mafia kembar yang paling ditakuti di Eropa.
Sebuah kutukan kuno dari artefak yang mereka bawa aktif, mengakibatkan jiwa Bianca tertukar ke dalam tubuh Lorenzo yang kekar dan bertato. Bianca yang "semprul" kini harus memimpin organisasi kriminal kelas kakap, sementara Lorenzo yang dingin harus belajar memakai skincare dan menghadapi drama teman-teman kos Bianca.
Kekacauan semakin memuncak ketika dua kembar lainnya—Valerio yang gila senjata dan Dante yang manipulatif—mulai mencurigai "kakak" mereka yang tiba-tiba suka joget TikTok di tengah rapat strategi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Valerio Mulai Curiga: Kakakku Kok Centil?
Matahari sore di Roma mulai merayap turun, menyisakan warna jingga yang memantul pada jendela-jendela tinggi Palazzo De Luca. Namun, di dalam pusat latihan menembak bawah tanah, suasananya jauh dari kata damai. Valerio De Luca, si bungsu dari kembar tiga yang dikenal sebagai "Malaikat Maut" karena ketepatannya menggunakan senapan, sedang berdiri diam dengan kening berkerut.
Di depannya, Lorenzo (yang merupakan Bianca dalam tubuh sang Capo) sedang mencoba latihan menembak rutin. Biasanya, Lorenzo bisa menembak lima target dalam waktu kurang dari tiga detik dengan mata nyaris terpejam. Tapi hari ini?
BANG! BANG!
Peluru pertama menghantam langit-langit. Peluru kedua mengenai pot bunga di pojok ruangan yang sebenarnya tidak bersalah.
"Aduh, kaget! Gila, suaranya kencang banget ya, Mas Val?" Bianca (tubuh Lorenzo) menurunkan pistolnya sambil mengusap-usap telinganya. Ia sedikit berjingkat, seolah-olah getaran dari senjata itu baru saja merusak tatanan kuku yang sebenarnya tidak ada.
Valerio mendekat, matanya menyipit tajam. Ia mengambil pistol dari tangan kakaknya dengan kasar. "Lorenzo, kau memegang Beretta ini seperti sedang memegang penjepit jemuran. Kenapa tanganmu gemetar? Dan apa itu tadi? 'Aduh'?"
Bianca tertawa gugup, mencoba mengembalikan wibawa suara bariton Lorenzo yang berat. "Maksud saya... Cazzo! Pistol ini sepertinya perlu diservis, Val. Recoil-nya agak... agak genit, bikin bahu saya yang seksi ini kaget."
Valerio tidak tertawa. Ia berjalan mengelilingi kakaknya, menatapnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ada yang salah denganmu sejak kejadian di katedral itu. Kau tidak pernah mengomentari bahumu sendiri. Dan sejak kapan kau mulai memakai parfum yang baunya... seperti buah persik?"
Di kejauhan, di balik dinding kaca ruang pengawas, Lorenzo yang asli (dalam tubuh Bianca) menepuk jidatnya dengan keras. "Wanita itu... dia benar-benar mau membuat kita semua tewas di tangan adikku sendiri," desis Lorenzo. Ia segera menyalakan interkom yang terhubung ke earpiece tersembunyi di telinga Bianca.
"Tutup mulutmu, Bianca! Berhenti bersikap seperti gadis remaja yang baru pertama kali melihat kembang api! Pasang wajah sangar, sekarang!" perintah Lorenzo melalui interkom.
Bianca tersentak mendengar suara galak di telinganya. Ia segera berdehem, menarik napas panjang, dan mencoba mengerutkan alisnya hingga hampir menyatu. "Valerio, jangan banyak tanya. Saya sedang bereksperimen dengan metode 'ketenangan batin'. Musuh tidak akan menyangka kalau saya baunya wangi saat saya membolongi dahi mereka."
"Ketenangan batin?" Valerio mendengus sinis. "Kau baru saja hampir menembak lampu kristal warisan nenek kita. Dan ada satu hal lagi yang menggangguku." Valerio melangkah lebih dekat, mengintimidasi. "Kenapa saat kau berjalan, pinggulmu sedikit... bergoyang? Kau terlihat seperti model catwalk Milan yang sedang kebelet pipis."
Bianca membeku. Kebiasaan lama memang susah hilang, batinnya. Selama dua puluh tahun menjadi wanita, gerakan pinggul saat berjalan sudah menjadi otomatis. "Itu... itu taktik baru! Gerakan zigzag untuk menghindari peluru penembak jitu! Namanya The Sassy Maneuver."
Valerio menatap kakaknya dengan pandangan ngeri. "Jika Dante mendengar ini, dia akan memasukkanmu ke rumah sakit jiwa atau langsung menantangmu duel untuk merebut posisi Capo. Kau terlihat... centil, Lorenzo. Sangat centil."
Tiba-tiba, Lorenzo (dalam tubuh Bianca) masuk ke ruang latihan dengan langkah tegas—meskipun ia masih harus berjuang dengan sepatu bot miliknya. Ia membawa botol air mineral dan handuk, berpura-pura menjadi asisten yang perhatian.
"Capo, saatnya istirahat," potong Lorenzo cepat, matanya memberikan tatapan peringatan pada Bianca. "Tuan Valerio, jangan terlalu keras pada kakak Anda. Beliau sedang... mengalami stres pascatrauma karena kehilangan gelatonya kemarin."
Valerio menatap "asisten" itu dengan rasa ingin tahu yang besar. "Kau lagi. Kenapa kau selalu muncul setiap kali Lorenzo mulai bertingkah aneh? Dan kau... Nona... cara berdirimu sangat mirip dengan instruktur militerku di Rusia."
Lorenzo (tubuh Bianca) terdiam sesaat, lalu segera melembutkan posisinya. "Ah, itu... saya dulu pernah ikut klub senam pagi, Tuan. Jadi postur saya tegak."
"Senam pagi?" Valerio tertawa hambar. "Che ridicolo (Sangat konyol). Baiklah, aku akan pergi. Tapi Lorenzo," ia menatap tubuh kakaknya sekali lagi, "jika besok aku melihatmu memakai lip balm atau mengoleskan sesuatu yang berkilau di bibirmu, aku sendiri yang akan menyeretmu ke tengah hutan untuk berburu babi hutan agar hormon maskulinmu kembali."
Setelah Valerio keluar dari ruangan, Bianca langsung merosot duduk di lantai. "Huwaaa! Mas Lorenzo, adikmu serem banget! Matanya kayak mau nelan saya hidup-hidup!"
Lorenzo (tubuh Bianca) mendekat dan menjewer telinga tubuh aslinya sendiri. "Sudah kubilang, jangan banyak gaya! Kau hampir saja membuat kita tamat! 'Sassy Maneuver'? Apa di otakmu hanya ada istilah-istilah media sosial?!"
"Aduh, aduh! Lepas, Mas! Sakit tahu!" keluh Bianca. "Lagian siapa yang tahan disuruh megang pistol berat begitu? Tangan kamu ini isinya otot semua, capek bawanya!"
Lorenzo melepaskan jewerannya dan menghela napas panjang. "Dengar, Valerio itu berbeda dengan Dante. Dante menggunakan otaknya, tapi Valerio menggunakan instingnya. Dia seperti anjing pemburu. Sekali dia mencium bau kebohongan, dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan bangkainya. Kita harus lebih hati-hati."
"Tapi Mas," Bianca menatap Lorenzo dengan mata berbinar-binar. "Adikmu yang itu... kalau lagi marah makin ganteng ya? Kayak pemeran utama di film aksi yang lagi keringetan. Hawt banget!"
Wajah Lorenzo memerah, yang terlihat sangat lucu di wajah cantik Bianca. "Dia itu adikku! Dan kau sekarang berada di tubuhku! Jangan berani-berani kau naksir adikku sendiri dengan menggunakan wajahku!"
"Lho, kan jiwa saya yang naksir! Gimana sih," balas Bianca santai. "Lagian, kalau kita nggak bisa balik lagi ke tubuh masing-masing, mending saya nikah sama salah satu kembaran kamu aja. Biar tetep jadi keluarga De Luca, kan?"
"TIDAK AKAN!" teriak Lorenzo frustrasi. "Aku akan mencari cara untuk mengembalikan kita, bahkan jika aku harus menggeledah setiap perpustakaan rahasia di Italia!"
Tiba-tiba, suara Dante terdengar dari interkom. "Lorenzo, Valerio, Bianca... segera ke ruang makan malam. Ada tamu istimewa yang datang tanpa diundang. Perwakilan dari keluarga klan mafia Sisilia, Don Pietro. Dia ingin melihat calon tunangan Lorenzo."
Bianca dan Lorenzo saling pandang.
"Tunangan?" tanya Bianca melongo. "Mas, kamu punya tunangan?!"
Lorenzo mematung. Wajahnya pucat pasi. "Sial... aku lupa. Ayahku mengatur perjodohan politik sebelum dia meninggal. Namanya Isabella Moretti, putri dari musuh kita sendiri untuk perdamaian. Dan malam ini ayahnya datang untuk menagih janji."
Bianca malah nyengir lebar, memperlihatkan deretan gigi putih Lorenzo yang rapi. "Asyik! Ada drama perjodohan! Mas, tenang saja. Biar saya yang urus Isabella itu. Saya bakal bikin dia ilfeel (hilang feeling) sampai dia minta batalin nikah sendiri!"
"Jangan berbuat yang aneh-aneh, Bianca!" peringat Lorenzo.
"Tenang, Mas. Strategi saya kali ini namanya: The Professional Jomblo Act. Kita lihat seberapa tahan dia sama 'Mas Lorenzo' yang versi baru ini."
Lorenzo hanya bisa berdoa dalam hati. Jika tadi Valerio hanya mencurigai Lorenzo menjadi centil, ia takut malam ini seluruh keluarga mafia Italia akan mengira Lorenzo De Luca telah berubah menjadi pelawak keliling.
Sambil berjalan menuju ruang makan, Bianca sempat-sempatnya membisikkan sesuatu pada Lorenzo. "Mas, kalau Isabella itu cantik, boleh nggak saya minta nomor WhatsApp-nya? Buat koleksi kalau nanti saya balik ke tubuh saya lagi."
Lorenzo tidak menjawab. Ia hanya mempertimbangkan apakah menabrakkan kepalanya ke pilar marmer istana bisa memicu pertukaran jiwa kembali, atau malah hanya akan menambah penderitaannya malam ini.
......................
Glosarium Bahasa Italia di Bab Ini:
Cazzo: Brengsek/Sialan.
Recoil: Hentakan senjata saat ditembakkan.
Che ridicolo: Betapa konyolnya.
Capo: Bos/Pemimpin.
Don: Sebutan kehormatan untuk pemimpin mafia.
Signore: Tuan.
Ahi: Aduh.
Stupida: Bodoh (perempuan).