Jaka Utama adalah seorang "Antagonis" profesional. Tugasnya sederhana: menjadi tunangan jahat yang menyebalkan, dipermalukan oleh sang pahlawan, lalu mati secara tragis agar cerita berakhir bahagia. Namun, di reinkarnasinya yang ke-99, sebuah kesalahan fatal terjadi. Kalimat puitis yang ia ucapkan saat sekarat justru membuat sang Heroine (pahlawan wanita) jatuh hati padanya, membantai sang jagoan utama, dan merusak seluruh alur dunia!
Kini, Jaka terbangun kembali di Joglo miliknya untuk kesempatan ke-100—kesempatan terakhirnya. Kali ini, ia dibekali sebuah sistem baru: Buku Harian Ajaib. Cukup dengan menuliskan keluh kesah dan rencana jahatnya setiap hari, ia akan mendapatkan kekuatan luar biasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wirabumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
“Suara apa itu!”
Ratna Menur terperanjat. “Kenapa teriakan ini… terdengar sangat aneh?”
“Sepertinya itu suara pelayan pribadi Jaka Utama. Namanya Naningsih, kan?”
Ratna Menur merasa penasaran sekaligus terpikat oleh suara aneh Naningsih. Dia berjalan pelan ke arah pintu kamar asisten pribadi itu dan mengintip melalui celah pintu. Ruangannya tampak kosong, tapi di balik penyekat kamar mandi, kabut uap membumbung tinggi dan suara kecipak air terdengar samar-samar.
Aroma wangi bunga dari sabun mandi tercium oleh hidung Ratna melalui celah pintu. Dia segera mengerti bahwa Naningsih sedang mandi.
“Tapi kenapa harus teriak-teriak aneh saat mandi? Ja-jangan-jangan terjadi sesuatu!” Ratna merasa bingung. Namun, karena tujuannya ke sini adalah mencari Jaka Utama, dia tidak mau ambil pusing.
Dia kembali ke pintu kamar Jaka. “Hmph, kalau nanti dia lihat aku ada di sini, wajahnya pasti bakal lucu sekali, hi hi hi.”
Membayangkan ekspresi terkejut Jaka Utama, Ratna Menur tersenyum puas. Dia mengetuk pintu kayu itu.
Tok! Tok!
Tidak ada jawaban. “Masih tidur? Dasar kerbau.”
Ratna akhirnya mendorong pintu dan mendapati pintu itu tidak dikunci. “Mana orangnya?” Setelah masuk ke dalam, dia mencari ke sekeliling tapi tidak menemukan batang hidung Jaka Utama.
Saat itulah, dari kamar Naningsih di sebelah, terdengar suara byur! air tumpah yang sangat keras.
“Jangan-jangan…”
“Si bajingan Jaka sedang bersama Naningsih dan suara aneh tadi itu—…?”
Pikiran Ratna Menur langsung melayang ke kemungkinan yang tidak-tidak. Naningsih adalah asisten pribadi Jaka Utama. Selain melindungi Jaka, dia juga mengurus kebutuhan sehari-hari Jaka yang paling dasar. Bahkan selentingan kabar mengatakan, urusan mandi pun Naningsih selalu membantu Jaka. Pendek kata, mereka hampir tak terpisahkan.
Apalagi, Jaka pernah menulis di buku hariannya bahwa dia akan memberikan "kekuatan pinggang dewa"-nya kepada Naningsih. Kalau begitu, mereka pasti sekarang sedang di kamar mandi…
“Bajingan!”
Ratna Menur mengepalkan tinjunya, giginya gemeletuk menahan amarah. Menatap kamar Naningsih di sebelah, entah kenapa hatinya terasa sangat tidak nyaman.
“Hmph! Jaka Utama ini benar-benar keterlaluan!”
“Masih jadi tunanganku, tapi sebelum kontrak pernikahan dibatalkan, dia sudah berani berbuat asusila di siang bolong dengan asistennya sendiri?”
“Katanya cuma cinta padaku? Pembohong!”
“Tidak punya harga diri sebagai tunangan!”
“Mati saja kamu!”
Ratna menendang meja kayu di depannya dengan emosi. Dengan niat melabrak, dia mendatangi pintu kamar Naningsih. Dia memutuskan untuk menjalankan tugasnya sebagai calon istri dan menghentikan perselingkuhan tunangannya!
BRAK!
Pintu kamar itu ditendang hingga terbuka lebar. Ratna Menur memaki keras sambil melangkah menuju kamar mandi.
“Jaka, kamu buaya darat! Keluar sekarang! Lihat ak— ugh!”
Baru saja melangkah masuk, kakinya mendadak kehilangan tumpuan. Ratna terpeleset hebat dan jatuh tersungkur dengan posisi merangkak.
“Sakit sekali… Kenapa lantai ini licin sekali sih?” keluhnya kesal. Ratna mencoba bangkit, namun saat itulah dia merasakan sensasi dingin di lehernya.
Suara dingin seorang wanita terdengar dari belakangnya.
“Neng Ratna, ada perlu apa mencari saya?”
“Hah?”
Tubuh Ratna menegang. Dia melihat mata Keris Teratai Air sudah bersandar di lehernya. Dengan gugup dia menoleh ke belakang dan melihat Naningsih.
Rambut Naningsih disanggul berantakan. Wajahnya sangat merah. Tubuhnya lengket dan basah, hanya terbalut jubah mandi ungu. Karena lekuk tubuhnya yang terlalu menonjol, jubah itu tampak sesak dan pas-pasan, seolah bisa terlepas kapan saja.
“Hmph!” batin Ratna sengit. Besar sekali, apa itu hasil kerja si Jaka! Apalagi siang-siang begini mandi berdua, dasar tidak tahu malu!
Keangkuhan Ratna Menur sebagai putri bupati langsung memuncak. Dia berbalik dan menatap tajam mata Naningsih.
“Aku ingat kamu. Namamu Naningsih, asisten pribadi Jaka Utama, kan?”
“Benar, itu saya,” jawab Naningsih datar.
Ratna mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan nada memerintah.
“Karena kamu adalah asisten Jaka, dan Jaka adalah tunanganku, maka otomatis kamu juga pelayanku! Turunkan senjatamu!”
“Lalu?” Naningsih menjawab dingin. Kerisnya tidak bergeming sedikit pun.
“Kamu!” Ratna geram melihat asisten ini berani membangkang. Dia pun berteriak ke arah kamar mandi. “Jaka! Keluar sekarang! Lihat ini, asistenmu kurang ajar sekali!”
Namun, tidak ada jawaban dari balik penyekat kamar mandi.
“Bajingan! Keluar! Pria macam apa yang bersembunyi di balik punggung wanita!”
“Apa yang membuat Neng berpikir Gusti Jaka ada di sini bersama saya?” potong Naningsih.
“Hmph! Dia tidak ada di kamarnya. Kalau tidak di sini, memangnya di mana lagi? Jangan bilang dia pergi sendirian melawan harimau siluman di hutan sana, dia kan penakut!” Ratna yakin Jaka bersembunyi di dalam.
Naningsih menarik kerisnya. Jadi dia mencari Gusti Jaka? Berarti Gusti Jaka tidak ada di kamarnya? Apa dia benar-benar keluar sendirian tanpa perlindunganku? Nekat sekali.
Naningsih merasa tidak senang. Jika Jaka sampai celaka atau dimakan siluman, maka dendam pribadinya tidak akan tuntas.
“Bagaimana mungkin dia tidak ada di kamarmu!” Ratna Menur berkacak pinggang, sambil menunjuk lekuk tubuh Naningsih yang basah dengan marah. “Aku dengar sendiri tadi! Kamu teriak-teriak kencang sekali dan ada suara air berisik!”
“Hm?!”
Tatapan Naningsih menjadi sangat dingin. Aura tenaga dalam di tubuhnya tiba-tiba melonjak, membuat jubah mandinya berkibar tertiup angin gaib.
“Neng pikir... apa yang sedang saya lakukan dengannya di kamar mandi?” suaranya tenang, tapi niat membunuhnya sangat terasa.
Ratna Menur menciut. Dia baru sadar bahwa Naningsih adalah pendekar tingkat Penyatuan Asal, setingkat dengan ayahnya, Sang Bupati! Dia bisa saja terbunuh di sini.
“Ah... tidak... bukan apa-apa...” Ratna memaksakan diri untuk tenang. “Karena Jaka tidak ada, aku... aku keluar dulu. Eh? Kamu kenapa?”
Ratna menyadari ada yang aneh. Wajah Naningsih menjadi jauh lebih merah dan matanya tampak sayu, seperti kehilangan fokus.
“……”
Naningsih tidak menjawab. Dalam hatinya dia merutuki diri sendiri karena baru saja mengaktifkan tenaga dalam, yang membuat Racun Tirta di tubuhnya bereaksi sepuluh kali lebih cepat. Sensasi aneh itu kini meledak di sekujur tubuhnya.
“Mmm~”
Sebuah rintihan tertahan keluar dari tenggorokannya. Lendir transparan mulai merembes dari seluruh pori-pori kulitnya. Keris di tangannya jatuh berdenting ke lantai. Dia mendekap perutnya sendiri, giginya gemeretak. Kakinya lemas seketika.
Tubuh Naningsih limbung dan jatuh tepat ke arah Ratna Menur.
“Ah! Ja-jangan mendekat...!” Ratna ketakutan dan mencoba mundur. Namun karena lantai yang penuh lendir licin, dia malah terpeleset jatuh ke belakang.
BRUK!
Mereka berdua jatuh di lantai secara bersamaan.
“Ah! Cepat bangun!” Ratna Menur yang tertindih tubuh Naningsih berusaha mendorong wanita itu sekuat tenaga.
Namun, karena tubuh Naningsih sangat licin oleh lendir dan tenaga Ratna tidak sebanding, jubah mandi Naningsih malah tersingkap akibat dorongan itu.
“Kamu! Apa-apaan sih!” Ratna panik. Situasi ini benar-benar di luar kendalinya. “Lepaskan aku! Teganya kamu melakukan ini padaku!”
Ratna berjuang dengan putus asa, tapi tubuh Naningsih yang licin dan berat menguncinya di lantai.
“Kalau kamu tidak lepas, aku akan lapor Jaka supaya kamu dipecat... Mmmmmmmmm~?!”
Mata Ratna Menur seketika melotot, tubuhnya menegang lurus seolah tersengat listrik.