Aisya harus menelan pil pahit, dua tahun pernikahan, ia belum dikaruniai keturunan. Hal ini membuat mertuanya murka dan memaksa suaminya menjatuhkan talak.
Dianggap mandul dan tak berguna, Aisya dicampakkan tanpa belas kasihan, meninggalkan luka yang menganga di hatinya.
Saat sedang mencoba menyembuhkan diri dari pengkhianatan, Aisya dipertemukan dengan Kaisar.
Penampilan Kaisar jauh dari kata rapi, rambut gondrong, jaket kulit lusuh, dan tatapan liar. Mirip preman jalanan yang tampak awur-awuran.
Sejak pandangan pertama, Kaisar jatuh cinta pada Aisya. Ia terpesona dan bertekad ingin menjadikan Aisya miliknya, memberikan semua yang gagal diberikan mantan suaminya.
Tapi, mampukah Kaisar meluluhkan hati Aisya yang sudah terlanjur hancur dan tertutup rapat? Atau apakah status dan cintanya yang tulus akan ditolak mentah-mentah oleh trauma masa lalu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Malam telah larut, tetapi ketenangan tak kunjung menghampiri kamar Aisya dan Hendra. Suara jangkrik di luar terdengar lebih nyaring dari biasanya, seolah ikut menyaksikan kegelisahan yang menyelimuti pasangan suami istri itu.
Hendra berbaring telentang di ranjang, matanya terbuka lebar menatap langit-langit kamar yang gelap. Ia tidak bisa tidur. Ucapan Ibu Marni berputar-putar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang tak henti.
“Ceraikan Aisya sekarang juga, atau Ibu bersumpah, Ibu akan usir kalian berdua dari rumah ini!”
Ancaman itu benar-benar menghancurkan pertahanannya. Ia tahu betapa egoisnya Ibu Marni, tetapi ia juga tahu bahwa ibunya tidak akan pernah menarik ucapannya.
Jika mereka diusir, dengan gaji pas-pasan, bagaimana ia bisa melindungi Aisya?
Aisya, yang sejak tadi mencoba memejamkan mata, merasakan kegelisahan Hendra. Ia membalikkan tubuhnya, menghadap Hendra.
Dalam kegelapan, ia bisa melihat gurat kekhawatiran yang jelas di wajah suaminya.
Aisya mengulurkan tangan, menyentuh pipi Hendra lembut.
“Mas, kamu nggak bisa tidur?” bisik Aisya, suaranya terdengar serak karena tangis sore tadi.
Hendra menarik napas berat, lalu meraih tangan Aisya dan menciumnya.
“Mas nggak bisa tidur, Sayang. Pikiran Mas kacau. Ibu keterlaluan kali ini.”
Aisya menggeser tubuhnya mendekat, lalu memeluk Hendra erat. Kehangatan tubuh suaminya adalah satu-satunya pelindung dari dinginnya dunia luar.
“Mas, kalau memang Ibu mengancam begitu… kalau memang perpisahan adalah satu-satunya jalan keluar supaya as nggak dicap anak durhaka, aku ikhlas, Mas.”
Kata-kata itu keluar dari bibir Aisya dengan penuh ketulusan, tetapi menghantam hati Hendra seperti besi panas. Ia melepaskan pelukan Aisya dan menatap istrinya dalam gelap.
“Apa yang kamu katakan?! Ikhlas?! Kamu gila, Sayang?! Kamu pikir Mas mau kehilangan kamu?!” Hendra hampir berteriak, tetapi ia menahan suaranya agar tidak terdengar Ibu Marni.
Aisya memegang tangan Hendra erat-erat. “Aku tahu, Mas. Aku tahu Mas sayang sama aku. Tapi Mas dengar sendiri kan, bagaimana Ibu? Beliau nggak akan pernah berhenti sampai Mas menceraikan aku.”
Air mata Aisya kembali menetes, membasahi bantal.
“Aku sudah capek, Mas. Aku sudah capek dibilang mandul, dibilang pembawa sial. Aku juga sedih karena belum bisa kasih Mas keturunan. Mungkin aku memang harus pergi supaya Mas bisa bahagia. Supaya Mas bisa dapat istri yang lebih baik, yang bisa kasih Ibu cucu.”
“Jangan bicara seperti itu, Aisya!” Hendra menarik Aisya mendekat lagi, memeluknya dengan putus asa. “Mas mencintai kamu! Mas tidak butuh wanita lain! Mau kamu mandul atau tidak, Mas tidak peduli! Mas hanya mau kamu, Aisya!”
Aisya menggeleng dalam pelukan Hendra. “Cinta Mas nggak akan menyelesaikan masalah, Mas. Kalau kita diusir, kita mau tinggal di mana? Kita nggak punya apa-apa. Aku nggak mau Mas hidup susah gara-gara membela aku.”
“Mas rela hidup susah, asalkan sama kamu, Sayang!”
“Tapi aku nggak tega melihat Mas menderita!” Aisya melepaskan diri dari pelukan.
“Aku sudah ikhlas, Mas. Kalau memang Mas mau menceraikan aku, aku terima. Daripada kita terus hidup dalam tekanan dan Ibu semakin sakit hati.”
Hendra menatap mata Aisya yang dipenuhi pengorbanan. Ia tahu Aisya berkata jujur. Aisya ingin mengorbankan dirinya demi kebahagiaan dan kedamaian Hendra, meskipun itu berarti mengorbankan hatinya sendiri.
“Mas nggak akan pernah menceraikan kamu, Aisya. Camkan itu,” ujar Hendra, suaranya tegas. “Mas mencintai kamu. Mas akan melawan Ibu. Kita akan mencari jalan keluar.”
“Bagaimana caranya, Mas? Mas aja nggak bisa tegas sama ibu.”
“Kita cari kontrakan kecil-kecilan. Mas akan kerja lebih keras. Kita akan mandiri, jauh dari Ibu. Lebih baik kita makan nasi sama kerupuk di kontrakan sendiri, daripada makan enak tapi hati kamu sakit terus-terusan di sini,” kata Hendra, menunjukkan tekad.
Aisya menatap suaminya. Ia melihat cinta yang tulus, tetapi juga keraguan yang tersembunyi. Hendra memang mencintainya, tetapi melepaskan ibunya dan memulai hidup dari nol di tengah kesulitan ekonomi adalah keputusan yang sangat berat.
“Mas serius?” tanya Aisya.
“Sangat serius, Sayang. Mas tidak akan membiarkan kamu pergi. Kita hadapi ini berdua. Kita buktikan ke Ibu, kalau kita bisa bahagia tanpa harus menuruti semua keinginannya,” janji Hendra, mencium kening Aisya sekali lagi.
Meskipun hatinya sedikit terhibur oleh tekad Hendra, Aisya tidak bisa menghilangkan firasat buruk. Aisya takut suatu saat Hendra akan meninggalkan dirinya.
“Semoga suatu saat kau tidak akan menghianati cinta kita mas.” doa Aisya dalam hati.
apa Sarah nama tengah belakang atau samping 🤣