Aku Nadia istri dari Mas Afif dan ibu dari Bintang. aku istri yang setia, yang selalu berusaha melayani suamiku dengan baik, menemaninya dari nol. aku juga ibu yang baik untuk anakku Bintang. singkatnya aku berusaha menjadi yang terbaik untuk suami dan anakku.
Namun di saat pernikahanku yang ke tujuh, Mas Afif memberikanku kejutan besar, dia membawa seorang wanita lain ke dalam rumah tangga kami, namanya Laras dan anak tirinya bernama Salsa, yang Bintang selalu bilang kalau anak itu adalah anak tercantik di kelasnya.
cerita perhianatan dan kebangkitan Nadia dari penghianatan suaminya.
happy reading All❤️ bantu support cerita pertama saya ya, trims🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Acaciadri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Jadi kamu mau makan, apa?.“Tanyanya padaku yang tentu membuatku langsung menaikan sebelah alis dengan tatapan tak mengerti__dia baru saja datang ke rumah bibi dan baru saja ku persilahkan duduk di halaman depan, untung sedang tidak Arka. Kalau ada mungkin Afif tidak akan selamat. Setidaknya dua atau tiga kali tonjokan lah.
Aku juga heran, bisa-bisanya dia mampir ke rumah bibi, tanpa memberitahuku pula. Heuhhh. Apa dia tak sadar diri, ya? Dia bukan suamiku lagi, hanya papa Bintang. Dan tentu saja kalau pun ingin datang menemui Bintang, harusnya dia izin dulu.
“Nomorku kamu blokir, makanya aku gak bisa kasih tahu kamu.“Ujarnya seakan tahu apa yang ada di dalam pikiranku saat ini. Benarkah? Bahkan aku lupa lho, demi membuktikan ucapannya, aku pun mengambil ponsel yang berada di atas meja lalu tenggelam dengan ponsel di tanganku, beberapa menit kemudian aku pun menghela nafasku panjang, benar apa yang dia katakan, kalau aku memang memblokir nomornya. Huhh
“Kamu bisa memberitahu bibi.“Tukasku dan membuatnya mendengus.
“Lalu aku di marahi?.“Ujarnya dan membuat menurunkan kedua bahuku.
“Jauh-jauh cuman mau nanya aku pingin makan apa?.“
Kepalanya mengangguk dan tatapannya terlihat meyakinkan sekali”Ya, memang kenapa. Siapa tahu kamu ngidam kan?.“
“Terimakasih, tapi aku tidak mau merepotkan”
“Aku ayahnya.“
“Bukan anak kamu.“Sahutku menatapnya tajam dan dia mendengus.
“Kamu bukan wanita seperti itu.“
“Dan kamu tukang selingkuh!.“
Dia memejamkan matanya sesaat lalu memicing ke arahku”Aku tahu, tapi bisakah kita tak bahas itu dulu? Sekarang aku ingin jadi sosok calon papa yang siaga untuk calon anaknya.“
“Gak perlu, aku gak butuh kamu. Urusi saja istrimu itu, dia juga sedang mengidam bukan?.“
Afif meraup wajahnya frustasi lalu geleng-geleng kepala, terlihat dia begitu kesal kepadaku. Sengaja, biar dia tidak menemuiku lagi, bertemu dengannya hanya membuatku emosi saja.
“Please Nad. Jangan begini, aku cuman mau dekat dengan anakku.“
“Dengar Mas Afif, justru kayak gini ngebuat aku curiga, ada apa? Apa ada sesuatu yang membuat keuntungan buatmu kalau dekat dengan calon anakmu yang kedua?.“Tanyaku, sudah hapal kebiasaannya, ya. Mana mungkin dia mau perhatian dan rela meninggalkan istri mudanya itu untuk mengunjungiku dengan resiko besar, yaitu di tonjok Arka, belum lagi aku yang ketus kepadanya.
“Nadia, sebenarnya mama yang nyuruh aku ke sini..“Ujarnya pelan yang seketika membuat tawaku berderai.
Sudah ku duga, bukan keinginannya semata, tapi ada sosok ibu mertuaku di belakangnya. Cuihhh.
“Sudah ku duga.“Ucapku sambil tersenyum sinis, Afif terlihat menggelengkan kepalanya lalu begitu saja meraih kedua tanganku dan segera ku hempaskan begitu saja, rasanya tak sudi sekali.
“Tapi aku juga memang ada niatan ke sini kok.“Sangkalnya yang sama sekali tidak ku percaya. Dia sudah banyak berbohong padaku, hingga aku pun sangat sulit percaya dengan kalimat yang keluar dari mulutnya.
“Terus istrimu, tahu?.“Tanyaku penasaran, dia mendesah berat dan bola matanya bergerak-gerak gelisah, tanpa menjawab apapun. Aku sudah tahu jawabannya kok.
“Mas, Laras itu istri kamu lho, ya. Izin dulu.“
“Kalau aku izin, dia gak bakal izinin aku!.“
“Yaudah, jangan ke sini kalau gitu. Aku gak mau ya, di sebut sebagai wanita penggoda suami orang, padahal gugatan sudah ku layangkan ke pengadilan, dan sebentar kagi sidang kita akan segera di mulai.“
Dia menatapku tajam.
“Kalau aku tetep gak mau.“Timpalnya yang membuatku mendelik tajam ke arahnya.
“Terpaksa ku bongkar soal perselingkuhanmu itu dan kamu juga Laras bisa di penjara.“
Tatapan Afif berubah lembut dan wajahnya terlihat getir.
“Kamu tega sama aku? Lagian waktu itu aku khilaf.“
“Oh khilaf, ya? Kalau dua kali apa masih khilaf?.“Sindirku dan membuat wajahnya kontan terkejut dengan kedua bola mata bergerak-gerak gelisah, serta dengan keringat yang terlihat berada di keningnya. Apakah dia gugup aku tahu soal isi video yang di kirim oleh salah satu teman Laras itu.
“Kamu nonton?.“Tanyanya yang ku jawab dengan anggukan cepat, jangan tanya bagaimana hatiku dan perasaanku saat itu, tentu saja hancur lebur, hatiku terasa di sayat-sayat oleh benda tajam__tentu, sebagai wanita biasa, saat itu aku menangis sejadi-jadinya, bahkan saking kesalnya dan marahnya, aku pun membanting pintu, menghancurkan beberapa peralatan kecantikanku, tapi itu dulu. Sekarang aku sudah waras, aku tidak akan menangis lagi, rasanya Afif tidak se-istimewa itu untuk ku tangisi lagi.
“Tentu saja.“Ucapku sambil mengulas senyumku.
“Aku khilaf waktu itu.“
“Ya, sudah terjadi juga, apa mau di kata.“
“Tapi please jangan laporin aku ke polisi.“
“Makanya jangan persulit proses perceraian kita, tanda tangani saja gugatannya dan jangan datang ke pengadilan.“
“Tapi aku masih cinta kamu, Nad.“Ungkapnya yang sama sekali tidak membuat hatiku terketuk, yang ada sebaliknya. Aku ingin muntah saking mualnya.
“Cinta? Kamu bisa mengatakan itu di saat begini?.“Tanyaku tak habis pikir.
“Ya, memang perasaanku begitu kok.“
“Terus maksud kamu dengan menikahi Laras, apa? Jangan katakan kalau kamu juga cinta sama dia?.“Tudingku yang membuat wajahnya nampak sedikit pias.
Ku hela nafasku panjang”Memang lelaki zaman sekarang gila-gila semua, ya! Maruk tahu, kamu menginginkan kami berdua, kamu lebih tahu dari siapapun, kalu aku gak bisa di duakan!.“Tegasku sambil memandangnya tajam.
“Terus aku harus bagaimana? Papanya nuntut aku supaya menikah dengan Laras.“
“Ya, kamu bisa menolak kalau kamu inget punya aku dan Bintang!.“
“Aku gak bisa Nad, papanya__.“
“Berjasa besar di dalam hidupmu dan anaknya terlanjur kamu 'pakai' begitu kan?.“Ucapku memotong pembicaraannya dan Afif mengangguk sambil menundukan kepalanya.
Aku tertawa getir, sampai-sampai Afif pun mendongakan wajahnya dan menatapku dengan satu alisnya yang terangkat.
“Dan kamu menginginkan kami berdua?.“Tanyaku yang di jawab dengan anggukan kepalanya, aku menarik satu sudut bibirku dan terbentuk sebuah kesinisan di sana.
“Silahkan pergi dari rumah ini.“
“Kamu ngusir aku? Padahal aku datang baik-baik.“
Baik-baik apanya, justru dia malah membuat emosiku terlonjak tajam, sialan. Andai bibi tidak punya tetangga mungkin aku sudah menamparnya, ucapan yang terlontar dari mulutnya benar-benar membuatku naik pitam.
“Aku cuman mau nanya kamu pingin makan apa.“
“Please pergi, mas.. akhh perutku, sa..kit..“Lalu begitu saja perutku tiba-tiba terasa sakit sekali, sampai tanganku berada di atasnya dan mencoba mengusap-ngusapnya beberapa kali, berharap kalau rasa sakit itu akan menghilang. Namun tetap saja rasa sakit itu masihlah bertahan di sana.
Afif tanpa babibu menggendongku dan membuat tubuhku bergerak liar bagai cacing kepanasan. Aku mencoba menggoyang-goyangkan tubuhku supaya bisa lepas dari gendongannya__tapi percuma. Tenaga Afif lebih besar.
“Lepas..akhhh.“Ucapku sambil meringis ketika rasa sakit itu semakin menjadi, sebagai pelampiasan, aku pun memegang tangannya erat sekali.
“Diem, aku bawa ke rumah sakit.“Tukasnya dan pada akhirnya aku hanya bisa pasrah saja.