Ricky Riswan ( Yasir Hamdan)seorang pekerja di kota Jakarta yang baru saja mendapatkan gelombang PHK dari perusahannya tempatnya bekerja, ia memutuskan untuk kembali ke Tasikmalaya, di mana tanah kelahirannya berada ,ia berencana untuk mengembangkan dan mengolah lahan milik keluarganya , hanya saja di tengah jalan ,mobil bus yang ditumpanginya mengalami kecelakaan dan meledak ,dan saat ia sadar ia berada di desa yang sangat asing bagi dirinya dan baru mengetahui bahwa dirinya akan dijadikan sebagai pengantin pria untuk dua gadis yang tidak dia kenal , bagaimana kelanjutan cerita ini, masih lama bro ,mungkin nunggu dua tahun atau lebih...!!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pecinta timur10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 rasa penasaran Halimah
Siang itu ,tampak terlihat seorang pemuda naik ke atas bukit dengan beban kayu kering di pundaknya , keringat segar membasahi seluruh pakaiannya yang sederhana .
Tidak ada keluhan, atau merasakan lelah yang biasa terdengar dari orang yang naik ke atas bukit, matanya tampak bersinar terang dan semangat membara tampak terlihat jelas dari wajahnya.
Saat sampai di halaman yang cukup untuk bermain bola voli, pemuda itu berhenti dan meletakan kayu bakar yang lumayan banyak itu ke tanah. Setelah itu ia membuka pintu rumah dan mendapati bahwa tidak ada seorang pun di dalam rumah.
" ya memang ini masih siang namun waktu istirahat belum tiba " gumamnya mulai berjalan menuju dapur, ia berencana untuk memasak keong sawah yang sudah di rebus terlebih dahulu .
Tanpa canggung atau kaku ,ia dengan cepat membuat bumbu yang cukup untuk lima kg keong sawah yang sudah direbusnya.
" karena ini musim penghujan , maka sayur keong sawah memang tepat untuk di buat dan bisa sekali langsung habis di jual, " pikirnya tersenyum.
Ia berfikir untuk membuat sayur keong dengan bumbu yang memiliki cita rasa dari masa depan, di mana bumbu bumbu yang sebelumnya ia beli di pasar desa telah menjadi satu dan memunculkan aroma masako yang sangat kental dengan aroma daging ayam .
" hahahaha akhirnya aku berhasil membuat masako versi sederhana " serunya gembira, tanpa menunggu lama , bumbu langsung di masukan kedalam keong sawah yang sudah panas dan terasa tekstur lembut dan kenyal terasa saat sendok kayu menyentuh keong sawah yang ada di dalam periuk.
Aroma wangi menyebar hingga ke luar , namun tidak ada orang yang datang mendekati , karena kediamannya adalah paling terpencil dari desa Plarangan itu sendiri, tepat berada di belakang garis desa , dekat dengan persawahan warga desa ,sehingga pemandangan dari atas bukit sangat memanjakan mata ,terutama saat pagi hari dan sore hari yang cerah .
Tepat pada pukul dua belas kali kentongan terdengar di kejauhan, masakannya sudah masak dan sayur keong sawah sudah siap untuk di jual , dan secara bersamaan, dua gadis muda datang dengan wajah penuh peluh.
" assalamualaikum mas !"
" waalaikum salam "
Kedua gadis muda itu sudah tahu bahwa suaminya sudah pulang dan tanpa merasa sungkan langsung masuk ke dalam rumah lalu mencium telapak tangan suaminya yang sedang sibuk di dapur .
" mas kenapa tidak menunggu kami ," ucap Lestari saat melihat bahwa pemuda yang ada di depannya sudah selesai memasak makanan yang sangat menggugah selera .
" tidak apa apa, lebih cepat lebih baik , gimana apa sudah selesai mencabut benih padinya ?"
" sudah mas , lihat kami berdua membawa beberapa uang hasil dari kerja di sawah, " ucapnya memperlihatkan sepuluh uang perak lima sen yang cukup untuk membeli beberapa kebutuhan pokok .
" bagus, kalian berdua sangat pekerja keras , tenang saja nanti malam kakakmu ini akan memperlakukan kalian berdua dengan baik " ujar Yasir tertawa .
" mas kenapa tidak ambil uangnya ?" Mata gadis muda itu terlihat bingung dan menatap ke arah telapak tangannya yang penuh dengan koin sen .
" itu hak kalian berdua, aku tidak memiliki kewajiban untuk memilikinya , " kata Yasir menggelengkan kepala, ia merasa seperti orang tua yang harus menilai pekerjaan kedua anaknya dan memujinya merupakan hal yang harus di lakukannya.
" ouh begitu ya , kalau begitu akan kami simpan saja untuk kebutuhan lain yang mendesak " ucapnya dengan mengambil bambu yang cukup besar , lalu memasukan beberapa koin perak ke dalamnya .
Yasir hanya tersenyum, ia kembali sibuk mengurus persiapan untuk berdagang makanan di sore hari, ia berencana untuk berkeliling desa dan sudah tahu di mana tempat yang biasa orang berkumpul berada .
" mas ,tari akan kembali ke sawah dulu, menjemput umi yang masih ada di sana , mas sama imah saja yang jualannya, tidak apa apa kan " mata gadis muda itu terlihat merasa bersalah dan sedikit menunduk .
" tidak apa apa , itu juga baik , umi juga perlu ada teman yang menemaninya , dengan imah sudah cukup " ucap Yasir mengelus rambut kepala yang diikat menggunakan tali plastik itu , entah kebiasaan dari zaman modern yang suka mengelus rambut bulu kucing yang halus ,ia merasa sangat senang dan terus menerus sampai kehidupannya kedua di zaman kolonial Belanda.
" ya , assalamualaikum mas ...!" Ucapnya seraya mencium punggung tangan Yasir , wajahnya sedikit memerah dan segera pergi meninggalkan mereka berdua di rumah.
" mas , semuanya sudah siap , kapan kita akan jualan " Halimah dengan mata yang cerah membawa setumpuk bungkus daun jati yang sudah di modifikasi sedemikian rupa dan terlihat seperti piring sungguhan .
" tunggu saat kentongan berbunyi dua kali, " kata Yasir tersenyum, ia meletakan semua barangnya di atas kursi bambu dan ia sendiri duduk di lantai bambu yang ada di dalam rumah .
" imah di sawah apa sudah makan?"
" sudah mas tadi , ya umi Rapiah membawa nasi jagung yang sangat banyak jadi kami berdua sudah kenyang " katanya tertawa.
" ya , syukurlah kalau sudah makan , mas juga sudah tadi saat baru saja sampai dari desa " katanya bersandar di dinding bambu yang cukup rapat.
" mas , imah apa boleh bertanya?"
" ya ada apa ...?"
" tadi saat di sawah, imah mendengar bahwa suami istri harus anu , tapi aku bingung kenapa mas tidak melakukannya, apakah kami berdua tidak bagus untuk itu "
Yasir terhenyak, ia merasa perkataan itu membuatnya berfikir untuk masa depan keluarganya .
Dengan senyum, ia menggeser duduknya dan dekat dengan gadis muda yang baru berkembang itu , " bukan karena mas tidak ingin ,tapi rumah baru belum di buat , apa imah mau bila suara suara aneh terdengar oleh umi di dalam kamar ?" Mata pemuda itu sedikit melirik ke arah kain jarik yang lusuh dan hanya bisa menghela nafas pelan .
" suara aneh ... umhh maksudnya apa ya mas , ?" Tanyanya polos .
" ya itu , suara aneh , mungkin kalau kita berdua mencobanya sekarang, suara aneh itu muncul " ucap Yasir menggosok hidungnya yang tidak gatal .
" ohh kalau begitu , apa bisa di coba sekarang mas , imah penasaran dengan suara aneh itu " ucapnya dengan wajah yang benar benar polos .
" apa imah yakin mau dengar , nanti malah ketagihan dan menangis .." kata Yasir memegang bahu kurus gadis muda di sampingnya.
" tidak apa apa , imah sudah besar , tidak akan menangis...!" Katanya dengan wajah dibuat begitu imut di masanya.
" oke !"
Pemuda itu menarik pelan lengan gadis muda yang awalnya duduk diatas lantai bambu ,membawanya masuk ke dalam kamar .
Sampai di tempat , pemuda itu mendorong sedikit gadis muda itu ke atas tempat tidur dan dengan gairah yang mulai datang, Yasir mendekatkan bibirnya ke arah bibir mungil gadis muda yang tampak sudah memiliki wajah merah .
Cup ...
" umu ...mhhh..!"
" mas ...."
Jari jari kokoh telapak tangannya dengan pelan membuka ikatan kain gadis muda dan terlihat di dalamnya ikatan kain berwarna putih bersih menutupi dua buah dada yang sudah berkembang begitu baik.
" mas , apakah ini tidak apa apa ..?"tanyanya dengan wajah merah yang sudah panas .