NovelToon NovelToon
Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Membawa Kabur Benih Sang Presdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Lari Saat Hamil / Slice of Life / Anak Genius
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Rima Andriyani

Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.

Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.

Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Suasana lobi gedung Thorne Corporation terasa lengang ketika keduanya menuruni lift. Hanya satpam malam dan beberapa staf kebersihan yang terlihat lalu lalang. Elena melangkah dengan sedikit kikuk, masih merasa heran dengan perubahan sikap Alexander yang begitu mendadak.

Di depan pintu masuk, mobil hitam mewah Alexander sudah menunggu. Supir pribadi segera membukakan pintu, namun Alexander mengangkat tangan, memberi isyarat agar ia mundur.

“Aku yang akan menyetir,” ucapnya datar, seolah hal itu bukan sesuatu yang aneh bagi seorang CEO sebesar dirinya.

Elena menoleh ragu. “Tuan… tidak perlu repot. Saya bisa pulang sendiri dengan taksi.”

Alexander meliriknya cepat, sorot matanya dingin namun tegas. “Sudah kubilang, aku akan mengantarmu pulang. Masuklah.”

Elena menelan ludah, lalu menurut. Ia duduk di kursi penumpang depan, sementara Alexander masuk ke kursi pengemudi. Mesin mobil menderu halus, dan kendaraan itu meluncur ke jalan raya yang diterangi lampu kota.

Suasana di dalam mobil sempat hening beberapa saat. Elena menggenggam tasnya erat, menatap keluar jendela, mencoba menenangkan diri.

Akhirnya ia memberanikan diri berkata pelan, “Terima kasih, Tuan. Karena sudah mengantarkan saya pulang malam ini.”

Alexander menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Aku yang seharusnya minta maaf. Karena pekerjaanku membuat anakmu menunggu terlalu lama.”

Elena terdiam, kaget mendengar kata-kata itu. Jarang sekali Alexander menunjukkan empati seperti itu.

“Tidak apa-apa, Tuan,” ujarnya kemudian, berusaha menjaga formalitas. “Leon sudah terbiasa menunggu. Tapi tetap saja, saya merasa bersalah.”

Alexander tidak menjawab. Ia hanya mengerutkan alis sedikit, seakan menimbang sesuatu. Mobil terus melaju dengan tenang hingga akhirnya berhenti di depan apartemen sederhana milik Elena.

Elena menghela napas lega, lalu menoleh ke arah pria itu. “Sekali lagi terima kasih, Tuan. Karena sudah repot-repot mengantar saya.”

Ia ragu sejenak, lalu dengan nada sopan menambahkan, “Maukah Anda… eh, maksud saya… mampir sebentar? Saya hanya merasa tidak enak jika langsung masuk begitu saja.”

Kalimat itu sebenarnya hanya basa-basi, sebuah sopan santun untuk menghargai kebaikan bosnya. Elena yakin pria sebesar Alexander Thorne tidak akan menanggapi serius.

Namun alisnya terangkat kaget ketika Alexander menjawab singkat, tanpa keraguan, “Baik. Aku akan mampir.”

Elena menoleh cepat, menatapnya dengan mata melebar. “Tuan… Anda sungguh-sungguh?”

Alexander sudah melepas sabuk pengaman. “Apakah aku terlihat bercanda?”

Elena tercekat, lidahnya kelu. Ia bahkan belum sempat memproses jawabannya ketika Alexander sudah membuka pintu mobil, keluar lebih dulu, lalu berdiri tegak di trotoar.

Ia menoleh ke arah Elena yang masih duduk terpaku di dalam mobil. “Apa kau tidak akan turun?” tanyanya dengan nada datar, namun justru terdengar seperti perintah.

Elena buru-buru mengangguk, wajahnya sedikit memerah. Ia membuka pintu, keluar dengan langkah gugup, dan berjalan di samping pria itu menuju pintu masuk apartemen.

Hatinya berdegup kencang. Ia hanya berniat berbasa-basi, tapi kini… Alexander Thorne benar-benar akan masuk ke dalam kehidupannya.

Lorong apartemen itu sunyi, hanya terdengar langkah sepatu keduanya yang berderap perlahan. Lampu temaram di langit-langit memberi cahaya hangat, kontras dengan suasana megah gedung kantor yang baru saja mereka tinggalkan.

Elena berhenti di depan pintu unitnya. Tangannya sedikit bergetar ketika ia merogoh tas, mencari kunci. Sementara itu, Alexander berdiri di sampingnya dengan tenang, kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana.

“Maaf, tempat saya sederhana sekali, Tuan,” ucap Elena dengan suara pelan, mencoba meredakan kegugupannya.

Alexander menatap pintu apartemen itu sejenak, lalu menoleh pada Elena. “Aku tidak keberatan dengan kesederhanaan. Yang penting, di dalam ada keluargamu.”

Elena sempat tertegun mendengar kalimat itu. Hatinya sedikit bergetar. Ia buru-buru menunduk dan memutar kunci.

Pintu terbuka, menyingkap ruang tamu mungil namun rapi. Ada sofa abu-abu sederhana, rak buku kecil, dan beberapa mainan Leon yang tersusun agak berantakan di sudut ruangan. Aroma sup sayur yang tertinggal dari makan malam tadi samar-samar masih terasa.

“Leon?” panggil Elena lembut sambil melepas sepatunya.

Tak lama, seorang anak kecil berlari keluar dari kamar dengan wajah berbinar. “Mama!” serunya.

Elena langsung jongkok, membuka tangan untuk menyambutnya. “Sayang, maaf Mama pulang terlambat.” Ia memeluk Leon erat, menutup matanya sesaat untuk menahan rasa bersalah yang membuncah.

Leon menoleh, baru menyadari ada sosok asing tinggi tegap berdiri di pintu. Matanya membesar. Dia tahu itu adalah Papa biologisnya. “Mama… itu siapa?”

Elena menoleh cepat, ragu sejenak. “Dia… Tuan Alexander. Bos Mama di kantor. Dia mengantar Mama pulang.”

Alexander melangkah masuk dengan tenang, melepas jas hitamnya dan melipatnya di lengan. Sorot matanya menatap sekeliling, kemudian jatuh pada Leon. Untuk sesaat, ia terdiam, seolah ada sesuatu dalam tatapan anak itu yang membuat dadanya bergetar tanpa sebab.

Leon berdiri di samping Elena, menatap Alexander penuh rasa ingin tahu. “Jadi… Tuan ini yang bikin Mama lembur?” tanyanya.

Elena terbatuk kecil, wajahnya memerah. “Leon!” serunya pelan, menegur.

Namun Alexander justru tersenyum tipis, senyum yang jarang sekali terlihat di wajahnya. Ia menundukkan badan sedikit, sehingga sejajar dengan tinggi Leon. “Ya. Aku yang membuat Mamamu bekerja lebih lama malam ini. Dan aku minta maaf untuk itu.”

Leon tampak heran. Pria yang begitu berwibawa, meminta maaf padanya? Ia mengedip, lalu tersenyum kecil. “Tidak apa-apa. Asal Mama tidak terlalu capek.”

Elena menatap putranya dengan mata berkaca-kaca, sementara Alexander menahan tatapan lama pada bocah itu. Ada sesuatu di balik kepolosannya yang sulit ia jelaskan.

Elena cepat-cepat berdiri. “Tuan… silakan duduk sebentar. Saya akan membuatkan teh.”

Alexander meluruskan tubuhnya, lalu mengangguk. “Baik.” Ia berjalan ke sofa dan duduk, namun matanya tak lepas dari sosok kecil yang kini sudah kembali sibuk dengan mainannya.

Elena masuk ke dapur kecil, berusaha mengatur napas. Ia masih tidak percaya pria sebesar Alexander Thorne kini duduk di ruang tamunya yang sederhana.

Sementara itu, di ruang tamu, Alexander bersandar tenang, tetapi dalam hatinya muncul perasaan aneh. Sebuah kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Suara sendok beradu pelan dengan gelas terdengar dari dapur mungil itu. Elena menuangkan teh hangat ke dalam cangkir, tangannya masih sedikit bergetar. Hatinya tak henti berdebar, membayangkan sosok pria yang kini tengah duduk di ruang tamunya.

“Tenang, Elena… ini hanya kunjungan singkat. Dia hanya bosmu. Hanya bosmu…” bisiknya pada diri sendiri, meski nada hatinya sendiri terdengar tidak yakin.

Ia membawa nampan kecil berisi dua cangkir teh ke ruang tamu. Begitu ia tiba, Alexander masih duduk di sofa, tubuh tegapnya terlihat begitu kontras dengan ruangan sederhana itu. Namun yang mengejutkan Elena adalah, pria itu tidak sekadar duduk. Ia tengah menatap Leon yang duduk di lantai dengan serius, memperhatikan sesuatu di tangan bocah itu.

Elena menaruh teh di meja. “Silakan, Tuan.”

Alexander hanya menoleh sekilas dan mengangguk singkat, kemudian kembali menatap Leon.

“Apa yang sedang kau buat?” tanyanya dengan nada datar namun penuh perhatian.

Leon yang tadinya sibuk menyusun potongan kecil dari kardus bekas menoleh sebentar, lalu menjawab polos, “Robot, Tuan. Tapi bukan robot beneran. Cuma mainan aja.”

Alexander mencondongkan tubuh, memerhatikan lebih dekat. Potongan-potongan itu ternyata disusun dengan begitu rapi, lengkap dengan sambungan kecil dari kawat bekas. Meskipun terlihat sederhana, ada pola presisi dalam susunan itu, sesuatu yang tidak biasa untuk anak seusianya.

“Elena,” ucap Alexander pelan, matanya masih tertuju pada Leon. “Anakmu… tampaknya cerdas sekali.”

Elena menghela napas kecil, berusaha meredakan detak jantungnya. Ia duduk di kursi sebelah sofa. “Ah… Leon memang suka membuat hal-hal seperti itu. Tapi saya kira semua anak seumuran dia juga begitu. Dia hanya… suka penasaran.”

Leon menoleh sebentar, lalu tersenyum ke arah ibunya. “Mama suka meremehkan aku.”

Elena tertawa kecil, menepuk lembut bahu putranya. “Bukan begitu, Sayang. Mama hanya tidak ingin kau terlalu berbangga diri.”

Alexander menyandarkan punggungnya, jemarinya menyentuh cangkir teh di meja, namun matanya tetap menatap Leon. Ada rasa yang sulit dijelaskan dalam dadanya. Seperti melihat cerminan kecil dari sesuatu yang akrab, namun tidak bisa ia sebutkan.

Keheningan sesaat tercipta, hanya diisi oleh bunyi jam dinding dan suara kecil dari Leon yang kembali sibuk dengan mainannya.

Akhirnya Alexander berdehem pelan. “Kau membesarkannya seorang diri?”

Pertanyaan itu membuat Elena menegang. Tangannya hampir saja menjatuhkan cangkir teh yang baru saja ia angkat. Ia menatap pria itu dengan ragu, lalu tersenyum tipis. “Ya. Hanya saya dan Leon.”

Alexander mengangguk singkat, wajahnya tetap datar. Namun matanya menajam, seakan menyimpan sesuatu yang tidak diucapkan.

Elena buru-buru menambahkan, mencoba mengalihkan suasana, “Tuan, teh Anda akan dingin.”

Alexander menatapnya sesaat, lalu mengangkat cangkir itu. Ia menyeruput pelan, kemudian menaruhnya kembali. “Hm. Teh yang sederhana. Tapi hangat.”

Elena menghela napas lega, meski dadanya masih penuh dengan kegelisahan. Ia tahu percakapan barusan bisa berbahaya jika terus digali.

Leon tiba-tiba berdiri, membawa hasil rakitan kecilnya dan menunjukkannya pada Alexander. “Tuan, lihat! Kalau ditekan di sini, kepalanya bisa bergerak.”

Alexander menerima robot kecil itu, lalu menguji menekan bagian yang dimaksud. Kepala kecil dari kardus itu benar-benar bergerak. Ia mengangkat alisnya, kali ini benar-benar terkesan.

“Bagus,” ucapnya singkat. “Sangat bagus.”

Leon tersenyum lebar. “Makasih!”

Elena tersenyum melihat interaksi itu, meski hatinya terasa kian berdebar. Ia tidak tahu mengapa, tapi malam ini ia merasa garis hidupnya mulai berpotongan terlalu dekat dengan Alexander Thorne. Dan yang paling ia takutkan, suatu saat, rahasia yang ia sembunyikan rapat akan terbuka.

Alexander kembali meletakkan robot kecil itu di meja. Pandangannya lalu beralih pada Elena, tatapannya dalam, sulit ditebak. “Elena…” suaranya berat. “Kau harus lebih sering pulang tepat waktu. Anakmu berharga.”

Kata-kata itu sederhana, tapi terasa seperti perintah sekaligus peringatan. Elena hanya bisa mengangguk pelan, menundukkan wajahnya.

1
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Ayano Rosie (Rosneneng juanda)
kok tuba tiba setting London ya?
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya
tia
lanjut Thor
Wulan Sari
ibu kasih kopi ☕ buat up lagi next
Wulan Sari
salam sudah ibu kasih kopi buat semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!