Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingatan Rowena
...୨ৎ D A R C E L જ⁀➴...
Rowena nerobos masuk ke kantorku dengan tatapan mengejek dan ekspresi puas di wajahnya, senang setengah mati karena berhasil membuatku menunggu.
Sekretarisku buru-buru menyusul di sampingnya, minta maaf karena mengizinkan pasien masuk tanpa pemberitahuan.
Aku pun membalasnya dengan senyum hangat. “Enggak apa-apa, Audy.”
Dia langsung tersipu lalu pergi, sementara Rowena memperhatikan punggungnya dengan amarah yang membara. Dia cemburu. Dan itu membuatku geli.
Rowena menyisir rambut panjangnya yang jatuh sampai bahu. Mataku sempat berhenti di kulit pucat lehernya yang sekarang terbuka waktu dia menutup pintu dan duduk di seberangku.
Setiap kali dia ada di kantorku, aromanya selalu mengisi ruangan. Dia bau oatmeal dan madu. Seperti roti paling montok yang mengkilap dan menggoda di etalase toko roti, memintaku menyerah dan menggigitnya. Aku ingin menjilatnya.
Semua mentega yang berkilau itu, dan aku ingin menancapkan gigi tajamku ke tekstur lembut Rowena Scarlett.
Belum.
Rencananya lima tahun.
Lima tahun di Ashenvale yang tenang ini, meneror warga sampai mereka bahkan enggak berani keluar rumah malam-malam. Karena cuma setelah lima tahun membunuh, aku akan merasa siap untuk berhenti sementara, menunda pembunuhanku selama beberapa tahun, sebelum hasrat membunuh itu kembali lagi.
Aku bisa dapatkan Rowena setelah lima tahun di sini. Aku enggak boleh menyimpang dari rencana ini, cuma karena aku ingin banget menerkam Rowena yang lezat dan harum itu.
“Selamat malam, Rowena. Gimana minggu kamu?” tanyaku, pura-pura enggak peduli sama keterlambatannya.
Matanya mengikuti bibirku waktu aku bicara, menyerap tiap gerakanku seolah-olah dialah predator yang mau memangsa aku, bukan sebaliknya.
Niat aku memang untuk memancing ketertarikannya, bikin hasratnya tumbuh dan mengakar, sampai Rowena mau melakukan apa saja demi menyenangkan aku.
Hasrat itu berbahaya.
“Membosankan,” katanya, matanya melirik cepat ke arahku sambil menyunggingkan senyum kecil yang menggoda.
Rowena Scarlett itu manusia setengah Vampir, lebih tepatnya Dhamphyr, dan dia sama sekali enggak sadar.
Awalnya aku enggak percaya. Aku kira Dhamphyr itu cuma legenda. Tapi melihat dia ada di sini sekarang, enggak ada satu pun yang bisa menyangkal itu. Untungnya, enggak ada satu pun orang selain aku yang tahu soal Rowena.
Sejak rahasia itu jatuh ke tanganku, aku selalu memastikan untuk membunuh siapa pun yang berusaha mencari tahu.
“Kamu kepikiran darah minggu ini?” tanyaku sambil menghadap wajahnya. Dia menganggap hasratnya ke darah cuma sebatas obsesi yang menyimpang, dan itu membuatku tersenyum.
Aku suka mendengarnya, dan aku sudah enggak sabar menunggu dia mencicip darah vampir aku. Itu akan mengikat kita, dia akan menjadi Tuan Putri Vampir-ku, meskipun dia enggak bisa berubah sepenuhnya, cuma terbangun.
“Iya,” jujurnya sambil mendengus kesal. Dia benci membahas ini karena sudah kebiasaan orang menganggap dia gila.
Aku enggak menganggap dia gila. Aku menganggap dia lezat. Si setengah vampir kecil ini enggak mengerti rasa laparnya yang menyimpang itu. Aku hampir enggak sabar untuk mengisi perutnya dengan darahku, merasakan dia menghisapnya dari aku.
“Kamu enggak nyoba nahan diri, kan?” tanyaku.
“Enggak, lah. Tentu aja enggak,” desahnya sambil memutar mata.
“Anak baik,” gumamku pelan sambil tersenyum.
Dia bereaksi persis seperti yang aku mau.
Aku bisa melihat utting-nya mengeras menembus bajunya yang tipis, dan aku bisa dengar napasnya yang halus.
Menurutku, Rowena itu imut banget. Bibirnya tebal dan meskipun dadanya kecil, tapi dia cantik, tubuhnya juga ramping. Bahkan, saking imutnya sampai aku ingin gigit dia.
Dia akan gampang dikendalikan saat waktunya tiba. Sampai saat itu, dia enggak akan ke mana-mana.
Aku cowok sederhana dengan kebutuhan yang juga sederhana. Aku enggak pernah khawatir meski kebutuhan-kebutuhan ini kedengarannya menakutkan, mengganggu, bahkan menjijikkan untuk orang lain.
Enggak pernah ada satu momen pun dalam hidupku di mana aku peduli sama kenyamanan orang lain. Justru sebaliknya, ketidaknyamanan merekalah yang membuatku puas.
Membunuh selalu menjadi pilihanku untuk melengkapi kebutuhan itu. Dan di proses memotong-motong anggota tubuh mereka, di situlah aku merasa senang. Aku menikmatinya.
Aku selalu buang mayat-mayat itu ke tempat sampah di sekitar kota, taktik pembuangan favoritku. Aku tahu akan lebih aman kalau mayat-mayat itu enggak ketemu, tapi sensasinya enggak tertandingi saat dunia melihat apa yang sudah aku perbuat, dan aku suka itu.
Setiap kali aku melakukannya, aku selalu membantai korbanku habis-habisan, membedah mereka. Tangan, kaki, jari, lengan, paha, telinga, lidah … aku menikmatinya.
Saat itu, saat aku sedang bersenang-senang dengan korban-korbanku, dan sialnya aku harus menemukan Dhamphyr ini dan menghapus ingatannya sampai dia hampir lupa siapa namanya sendiri. Dia membuatku kesal karena nekat menyelinap masuk ke rumahku malam itu.
Dan ingatan yang aku hapus kala itu ....
Aku gigit sarung tangan kulitku, menariknya sampai lepas sambil berjalan ke arahnya yang terduduk di Cold Room Rubanahku. Tangan satunya membebaskan titiddku yang sudah tegang, dan aku genggam erat, meremasnya.
Tangan aku bergerak makin cepat, satu tangan mencengkeram tepi diding stainless. Mataku terpejam, dan aku biarkan Rowena membuka pahanya dengan dua jari berlumur darah.
Kemudian aku membungkuk, menjilat lipatan pangkal di antara kedua kakinya yang basah oleh cairan rahimnya. Suara dia serak, sambil menyebut namaku, jari-jarinya mencengkeram rambutku.
Erangan pun lolos dari bibirku.
Aku hirup aroma basah di antara kedua kakinya sebelum membanting tubuhnya ke dinding stainless Cold Room. Aku lihat ekspresi puas di wajahnya saat dia menjilat darahku dan mendorong pinggulnya ke pinggulku. Aku ingat tatapan takut di wajahnya waktu pertama kali aku memergoki dia bersembunyi di bawah wastafel.
Erangan berat keluar dari bibirku saat sadar cairan kental akan menyembur. Dan aku angkat tangan satunya untuk mencekik leher Rowena, mencengkeramnya erat waktu gelombang kenikmatan itu menyapu tubuh aku.
Bibirku lepas dari lehernya, dan aku mendengus kesal sambil mencoba memompa titidku yang sudah capek dan enggak bisa bereaksi lagi.
Pelepasan ini enggak pernah cukup. Aku meringis melihat apa yang sudah aku lakukan, cairan putih kental mengalir dari lipatan rahim Rowena.
Tentu saja Rowena akan jadi peliharaanku yang duduk manis di kandangnya, menunggu sampai aku pakai untuk apa pun yang aku mau.