“Mereka menikah bukan karena cinta, tapi karena hitungan. Namun, siapa sangka... justru hitungan Jawa itulah yang akhirnya menulis takdir mereka.
Radya Cokrodinoto, pewaris tunggal keluarga bangsawan modern yang masih memegang teguh adat Jawa, dipaksa menikah dengan Raras Inten, seorang penjual jamu pegel keliling yang sederhana, hanya karena hitungan weton.
Eyangnya percaya, hanya perempuan dengan weton seperti Raras yang bisa menetralkan nasib sial dan “tolak bala” besar yang akan menimpa Radya.
Bagaimana nasib Raras di pernikahan paksa ini? sementara Radya sudah punya kekasih yang teramat ia cintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tertangkap Basah
Aku tidak butuh omong kosongmu tentang keseimbangan saat kakekku sekarat!” Suara Radya rendah dan bergetar, cengkeramannya di lengan Raras mengencang, cukup untuk meninggalkan bekas. Amarahnya bukan lagi api yang berkobar, melainkan es kering yang membakar kulit.
Raras tidak meringis kesakitan, meski denyutan nyeri mulai menjalari lengannya. Ia hanya menatap Radya, matanya yang jernih dan lelah memantulkan kekacauan di wajah suaminya. Ada kepedihan di sana, tetapi bukan untuk dirinya sendiri. Kepedihan itu untuk pria di hadapannya, pria yang sedang ditelan hidup-hidup oleh badai yang tidak ia pahami.
“Lepaskan saya, Mas,” ucap Raras pelan, suaranya tetap tenang meski hatinya remuk.
“Tuduhanmu tidak akan mengubah apa pun. Eyang butuh pertolongan, bukan kemarahan.”
“Pertolongan?” Radya tertawa sinis, tawa yang terdengar seperti kertak tulang.
“Pertolongan darimu? Perempuan yang muncul entah dari mana dan membawa semua bencana ini. Hah?” raut wajah Radya mengeras, kedua matanya menatap penuh benci pada sang istri.
“Kalau Mas percaya saya pembawa bencana, kenapa tidak pergi saja? Kenapa masih di sini?” balas Raras, nadanya bukan menantang, melainkan sebuah pertanyaan tulus yang lahir dari kelelahan atas semua tuduhan Radya.
Pertanyaan itu menghantam Radya telak. Kenapa ia masih di sini? Kenapa ia tidak bisa begitu saja mengusir perempuan ini?
Sebagian dirinya, bagian yang diracuni Ayunda dan Bayu, berteriak untuk melakukannya. Namun, ada simpul lain di dalam dirinya. Mungkin, mungkin simpul weton yang mengikatnya, yang membuatnya merasa jika Raras pergi, maka harapan terakhir untuk Eyang pun akan ikut sirna. Sebuah paradoks yang menyiksanya.
Radya mendorong Raras menjauh dengan kasar, bukan lagi mencengkeram.
“Jangan bicara padaku. Urus saja duniamu sendiri.”
Radya berbalik dan melangkah pergi, punggungnya yang tegang memancarkan kekalahan dan amarah yang belum usai.
Raras hanya menatapnya hingga hilang di belokan koridor. Ia menghela napas panjang, memijat lengannya yang memerah.
Cukup.
Menunggu dan berharap Radya sadar adalah sebuah kemewahan yang tidak ia miliki. Eyang tidak punya banyak waktu.
Bayu dan Ayunda tidak akan berhenti. Jika logika tidak bisa menembus kabut di kepala Radya, maka ia harus melawan api dengan api. Bukan dengan ilmu hitam, melainkan dengan kekuatan putih warisan leluhurnya.
Raras menyeret kakinya dengan cepat meninggalkan rumah sakit, dia harus ke tempat dimana semua ini bisa dikendalikan. Kediaman Cokrodinoto.
.
.
Sekarang Raras sudah berada di sini, kamar tamu yang dingin di kediaman Cokrodinoto, karena ia tak pernah diizinkan menempati kamar utama, Raras membuka sebuah peti kayu jati kecil peninggalan kakeknya.
Di dalamnya, tergeletak sebuah buku bersampul kulit yang sudah usang. Ia membukanya dengan hati-hati. Jari-jarinya menelusuri barisan aksara Jawa kuno yang ia pelajari sejak kecil. Matanya mencari satu bab Tolak Balak Sandyakala. Ritual penangkal bencana yang datang di waktu senja kehidupan.
Kedua mata Raras menyipit saat membaca barisan kata yang menerangkan syarat ritual.
Syaratnya berat. Membutuhkan tujuh jenis kembang dari tujuh makam berbeda yang meninggal pada hari pasaran yang sama dengan Eyang, segenggam tanah dari makam leluhur yang paling dihormati, dan air dari sendang yang dijaga oleh energi murni.
Semua harus dikumpulkan antara tengah malam hingga sebelum fajar menyingsing. Lokasi yang paling mungkin untuk menemukan semua itu hanya satu, kompleks pemakaman kuno para adipati yang letaknya tersembunyi di balik hutan kota.
Raras memejamkan mata. Ia tahu risikonya. Jika ada yang melihatnya, terutama Radya, tuduhan sebagai dukun akan semakin kuat.
Tapi pilihan apa lagi yang ia punya?
Membiarkan Eyang meninggal dan keluarga Cokrodinoto hancur di tangan pengkhianat? Tidak. Ia tidak akan membiarkannya.
***
Radya tidak bisa tidur. Ia kembali ke apartemennya, tetapi bayangan wajah tenang Raras terus menghantuinya. Bisikan Bayu tentang Raras yang sering keluyuran malam-malam berputar di kepalanya seperti kaset rusak.
"Apa mungkin… Nyonya Raras sedang mencari… bantuan lain?”
Rasa curiga menggerogotinya lebih tajam dari rasa duka. Didorong oleh impuls yang tak bisa ia kendalikan, ia menyambar kunci mobilnya lagi dan melesat kembali ke kediaman utama. Ia tidak akan masuk. Ia akan menunggu.
Radya akan membuktikan bahwa kecurigaannya, kecurigaan Ayunda, dan laporan Bayu, semuanya benar. Ia butuh pembenaran atas kebenciannya.
Pria yang tengah diambang kebingungan itu memarkir mobilnya di jalan kecil yang gelap, beberapa ratus meter dari gerbang samping, tempat yang Bayu sebutkan.
Mata elangnya terpaku pada gerbang kayu kecil yang biasa digunakan oleh para tukang kebun. Jantungnya berdebar kencang, campuran antara antisipasi dan ketakutan.
Tepat pukul satu dini hari, gerbang itu berderit pelan.
Sesosok bayangan ramping dalam balutan jarit dan baju berwarna gelap melangkah keluar. Raras. Ia membawa sebuah tas kain kecil dan bergerak dengan cepat, menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah hutan kota.
“Sialan,” desis Radya. Amarahnya membuncah.
Ternyata benar.
Dengan kasar ia menyalakan mesin mobilnya tanpa menyalakan lampu, mengikutinya dari jarak yang aman. Mobilnya merayap pelan di jalanan aspal yang sepi, sementara Raras menghilang di antara pepohonan. Radya memarkir mobilnya di tepi hutan dan melanjutkan perburuan dengan berjalan kaki.
Udara terasa dingin dan lembap. Suara jangkrik dan binatang malam lainnya terdengar riuh. Radya, seorang pria yang terbiasa dengan dengung server dan pendingin ruangan, merasa asing dan terancam di lingkungan ini. Tapi amarah memberinya keberanian. Ia terus berjalan, mengikuti gemerisik langkah Raras di depannya.
Setelah berjalan hampir lima belas menit, ia melihatnya. Raras berhenti di depan sebuah gerbang batu kuno yang ditumbuhi lumut. Pintu masuk ke pemakaman para adipati.
Jantung Radya seakan berhenti berdetak. Tempat ini terkenal keramat. Orang biasa bahkan enggan melintas di dekatnya setelah matahari terbenam. Dan istrinya… istrinya masuk ke sana sendirian di tengah malam buta.
"Apa yang dia lakukan?" gumam Radya semakin curiga.
Radya bersembunyi di balik sebuah pohon beringin raksasa, napasnya tertahan. Dari celah dedaunan, ia mengamati setiap gerak-gerik Raras.
Perempuan itu tidak terlihat seperti penyihir jahat. Ia bergerak pelan menunduk dengan penuh hormat. Ia berhenti di depan sebuah nisan tua, membungkuk dalam, dan membisikkan sesuatu yang terdengar seperti doa izin. Lalu dengan hati-hati, ia memetik sekuntum bunga kenanga yang mekar sempurna. Raras melakukannya berulang kali, berpindah dari satu makam ke makam lain, memilih bunga yang berbeda-beda dengan sangat teliti.
Bagi Raras, setiap bunga adalah doa. Setiap sentuhan adalah permohonan. Tapi bagi Radya, pemandangan itu adalah horor. Setiap bunga yang dipetik terlihat seperti bahan untuk ramuan kutukan. Setiap bisikan terdengar seperti mantra pemanggil setan.
Puncaknya adalah saat Raras berlutut di depan sebuah makam yang paling besar dan megah, makam sang adipati pendiri wilayah itu. Ia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memejamkan mata, dan berdiam diri untuk waktu yang lama. Kemudian, dengan sangat perlahan, ia mengambil segenggam tanah dari dekat nisan dan memasukkannya ke dalam kantong kain.
Cukup sudah.
Semua bukti yang ia butuhkan terpampang jelas di depan matanya. Istrinya, perempuan yang dinikahinya untuk menolak bala, justru sedang mengakrabi sumber bala itu sendiri. Ia sedang melakukan ritual, entah untuk memperkuat posisinya, atau lebih buruk lagi, untuk mencelakai Eyang dan menyalahkan takdir.
Radya tidak menunggu lebih lama. Ia berbalik dan berjalan kembali ke mobilnya dengan langkah cepat, hatinya membeku menjadi bongkahan es. Ia tidak akan mencegat Raras di sini. Tidak. Ia akan menunggunya di rumah. Ia akan menangkap basah perempuan itu dengan semua ‘peralatan sihirnya’ tepat di depan pintu.
Satu jam kemudian, Raras kembali melalui gerbang samping. Wajahnya pucat karena kelelahan, tapi matanya memancarkan secercah harapan. Di tangannya, tas kain itu terasa berat oleh harapan dan doa. Ia melangkah pelan, ingin segera memulai ritual penyucian sebelum fajar.
Saat ia hendak melangkah menuju paviliun belakang, sesosok bayangan tinggi dan legam muncul dari kegelapan teras, menghalangi jalannya.
Radya.
Pria itu berdiri diam, wajahnya tak terbaca di bawah cahaya rembulan yang redup. Tapi Raras bisa merasakan aura dingin yang memancar darinya, lebih dingin dari udara malam itu.
“Sudah selesai ritualnya?” tanya Radya, suaranya datar, tanpa emosi, yang justru membuatnya terdengar jauh lebih mengerikan.
Raras berhenti melangkah, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu apa artinya ini.
“Mas…?”
Radya maju selangkah, tatapannya menembus Raras, tajam dan penuh penghinaan. Ia melirik tas kain di tangan Raras dengan jijik.
“Aku tanya, sudah selesai main dukun-dukunannya?” desisnya.
Radya merebut tas itu dari tangan Raras dengan kasar. Isinya tumpah ke atas rumput yang berembun, tujuh jenis kembang, segenggam tanah yang dibungkus daun pisang, dan sebuah botol kecil berisi air sendang.
Radya menatap benda-benda itu, lalu kembali menatap Raras dengan senyum miring yang kejam dan jijik.
“Hebat sekali. Benar-benar hebat. Jadi ini rencanamu, hah? Pergi ke kuburan tengah malam, mengumpulkan semua sampah ini…”
Radya berhenti sejenak, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. Matanya yang membara mengunci mata Raras yang tetap tenang.
“Berharap Eyang bangun besok pagi dan langsung memberimu seluruh warisan karena ‘jasa’ spiritualmu, begitu?”