Franceska wanita cerdas berpendidikan tinggi, berparas cantik dan berprofesi sebagai guru matematika. Suatu kombinasi yang melengkapi penampilannya yang good looking, cemerlang dan bersinar dari keluarga sederhana.
Prestasi akademik, serta kecerdasannya mengola waktu dan kesempatan, menghentarkan dia pada kesuksesan di usia muda.
Suatu hari dia mengalami kecelakaan mobil, hingga membuatnya koma. Namun hidupnya tidak berakhir di ruang ICU. Dia menjalani penglihatan dan petualangan dengan identitas baru, yang menghatarkan dia pada arti kehidupan sesungguhnya.
》Apa yang terjadi dengan Franceska di dunia petualangannya?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Petualangan Wanita Berduri."
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. PWB
...~•Happy Reading•~...
Papah Hernita tidak bisa melanjutkan pembicaraan karena putrinya sangat sedih dan merasa bersalah padanya. Sehingga rasa sayang sebagai Papah hanya bisa menepuk dan mengusap punggungnya berulang kali dalam diam. Berharap usapannya bisa menghentikan tangis tertahan dan mengurangi rasa hati yang sarat air mata.
Namun apa yang dilakukan Papanya, membuat Hernita terbawa ke masa-masa di saat Mamahnya meninggal. Papahnya melakukan hal yang sama, hingga dia terbuai dan merasakan usapan sayang Papahnya. Semua hinaan, lecehan dan luka hati yang ditahan sendiri semasa sekolah di pelita dia tumpahkan dalam pelukan Papahnya.
Ceska membiarkan Hernita mengobati luka hati dengan caranya. Agar dia menemukan kekuatan untuk melangkah di level yang lebih tinggi.
"Nita, ini masih ada waktu. Biarkan Papah pergi kerja sebentar. Nanti kita bicara lagi." Papah Hernita berusaha menghentikan tangisan putrinya.
Hernita mengangguk dan melepaskan pelukan. Perlahan dia menghapus air mata dengan tangan. "Jangan lupa kunci pintu." Ucap Papahnya lalu berjalan keluar. Hernita kembali mengangguk dan ikut keluar mengantar Papahnya hingga keluar dari pagar.
Setelah Papahnya menghilang dari pandangan, Hernita mengunci pagar dan pintu. Dia masuk ke kamar dan duduk di tepi tempat tidur untuk merenungi apa yang baru dilewati.
"Terima kasih Tuhan. Papah bisa terima dan tidak marah aku lanjutkan sekolah di harapan." Hernita berkata sambil menengadah.
'Terima kasih, Mah.' Bisik Hernita sambil memeluk guling, karena Mamahnya sudah membantu dia sepanjang hari.
'Bersyukur, harus, Nak. Tapi jangan dulu senang dan berpuas diri. Ini baru awal langkahmu. Masih banyak tantangan yang harus kau lewatin di depan.' Ceska mengingatkan.
'Iya, Mah.' Hernita makin erat peluk guling.
'Kau baru melakukan terobosan baru, tapi harus ingat, pindah sekolah bukan semuanya berakhir. Setelah pindah dari pelita ke harapan, bukan berarti kau tidak bermasalah lagi dengan teman-temanmu atau guru di sekolah yang baru.'
'Setiap orang yang memiliki kemampuan lebih akan jadi sasaran orang yang berhati iri dan jahat. Seperti pohon yang berbuah lebat, seringkali menggoda orang untuk melempar untuk jatuh atau dicuri.'
'Di pelita, kau dirundung oleh pria. Di pelita, mungkin akan alami hal yang sama dengan pria atau wanita seperti teman Jefase tadi.'
'Iya, Mah. Nita akan hati-hati.' Hernita jadi ingat kejadian sebelum pulang sekolah.
'Kau wanita, harus punya cara mengamankan diri dari orang dengan belajar bela diri. Itu bisa memberikan rasa percaya diri dan tidak takut hadapi orang-orang seperti Lenox.'
'Selain itu, kau harus mengisi kepalamu dan juga hatimu dengan berbagai hal yang baik, supaya ketika ada yang mau mengganggu atau merundung, kau tahu tidak sendiri. Kau akan makin berani, karena tahu, ada Tuhan yang besertamu. Bukan Mamah, bukan Papah.'
'Sekarang mandi, nanti Mamah ajarkan beberapa teknik dasar untuk membela diri.' Ceska berkata serius, karena dia tidak tahu berapa lama bisa bersama Hernita dan tidak mau Hernita bergantung padanya.
'Iya, Mah. Nita mandi dulu.' Hernita mengerti yang dikatakan, karena ada kala Mamahnya melarang, ada kala diam membiarkan dia yang memutuskan.
Selesai mandi, dia mengeluarkan isi tas dan seragam baru yang diberikan sekolah harapan untuk digantung, karena dia sudah lihat seragam mana saja yang harus dipakai pada hari tertentu.
Dia memisahkan mana yang masih bisa dicuci dan mana yang harus dipakai esok hari. Ketika melihat sisa lontong yang diberikan Jefase, hatinya menghangat dan berterima kasih atas kebaikan Jefase.
Sesuatu yang tidak pernah dia terima saat bersekolah di pelita. Saat menghabiskan lontong dan air mineral, sebuah pesan masuk. Dia tersenyum baca pesan Jefase yang memberikan nomor telponnya.
Hernita ketik ucapan terima kasih dan kirim dengan hati lega. Jefase mau berikan nomor telpon padanya. Tiba-tiba Jefase telpon.
"Hallo, Nita. Ganggu?"
"Ngga Jefa. Ini baru selesai rapiin seragam."
"Ok. Aku mau coba usulmu untuk mengerjakan soal dengan cara telpon. Karna akhir minggu depan sudah mulai kompetisi. Punya waktu?"
"Iya, bisa. Sebentar ya, aku buka laptop. Mau kerjakan yang mana dulu?"
"Untuk team saja, supaya aku tahu mau kerjakan yang mana."
'Nita, tutup telpon dulu. Kau perlu siapkan soal.' Ceska menghentikan pembicaraan Hernita dan Jefase. 'Iya, Mah.'
"Jefa, aku siapkan soal team dulu, ya. Atau kau sudah punya soal buat team?"
"Aku belum punya soal, karna ngga nyangka akan ikut team." Jefase menjelaskan, karena dia tidak siap. Dia merasa lega, Hernita sudah berbicara lebih baik dengannya dan tidak terpengaruh dengan gangguan Lorna.
"Kalau begitu, tutup telpon dulu, ya."
"Ok. Aku tunggu." Jefase menutup telpon dengan hati tenang.
'Nita, catat soal yang Mamah bilang. Kalian selesaikan sendiri. Nanti Mamah perbaiki kalau ada yang salah.' Ceska berkata cepat.
'Oh, Mamah bisa bantu matematik? Makasih, Mah.' Hernita jadi girang mengetahui Mamahnya bisa bantu bikin soal.
Hernita mencatat semua soal yang dikatakan Ceska. Dia makin bersemangat, karena setiap soal yang dikatakan Mamanya adalah soal yang belum pernah dia kerjakan dan sulit.
'Itu cukup dulu. Kalian kerjakan dan tentukan waktunya.' Ucap Ceska setelah memberikan 10 soal untuk team dan perorangan. Ceska lakukan seperti guru pembimbing.
'Baik, Mah.' Hernita meletakan pulpen, lalu ambil telpon. Dia bekerja cepat, karena ditunggu Jefase.
"Hallo, Jefa. Itu aku kirim satu soal, ya. Kita kerjakan dulu."
"Ok. Aku sudah terima. Kau sudah kerjakan ini?"
"Belum. Mau kerjakan sama-sama. Mau kasih batas waktu berapa lama?"
"Sesuai batas waktu yang ditentukan. Nanti kita perbaiki kalau terlalu lama atau salah." Jefa ikut semangat lihat soal yang diberikan Hernita.
Beberapa waktu kemudian, mereka terus perbaiki waktu agar lebih cepat menyelesaikan soal dan juga mengoreksi kesalahan dibawah bimbingan Ceska melalui Hernita.
"Jefa, besok-besok masih ada waktu kita perbaiki lagi. Ini baru pernah kerja team, jadi agak canggung dan lambat selesai. Mungkin karna tidak bisa sama-sama, jadi tidak bisa bicara saat lihat ada yang salah dikerjakan."
"Aku mengerti. Nanti kita kerjakan bersama setelah kepala sekola mendaftar." Ucap Jefase sambil lihat soal yang dikerjakan bersama. Dia mulai mengerti, titik lemahnya.
"Iya. Sekarang kita coba selesaikan perorangan, ya." Hernita tidak mau buang kesempatan.
"Sebentar Nita. Kita tidak perlu selesaikan soal untuk perorangan. Karna sepertinya dengan skema yang dikasih kepala sekolah, kita berdua bisa saling berhadapan saat kompetisi perorangan."
"Iya. Aku tahu, itu bisa terjadi. Tapi mari kita belajar soal untuk perorangan juga untuk antisipasi keadaan saat kompetisi."
"Kalau terjadi sesuatu denganku, kau bisa tangani. Begitu juga sebaliknya. Kita bisa sama-sama berjuang buat sekolah." Hernita mau Jefa masuk juga sebagai pemenang untuk membawa nama sekolah barunya.
Jefase terkejut mendengar yang dipikirkan Hernita. Suatu pemikiran yang tidak umum bagi orang yang akan berlomba dan bersaing untuk memperoleh pengakuan individu.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~•○¤○•~...