Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kobaran Gairah
Sore itu, cahaya matahari jatuh miring di antara batu-batu merah yang mengitari area latihan. Udara terasa hangat, tidak menyengat, seperti napas api yang dijinakkan. Lin Feiyan berdiri di tepi lingkaran batu, jemarinya saling mengait tanpa sadar. Dadanya masih menyimpan sisa kelelahan dari hari-hari sebelumnya—latihan kuil, kegagalan, dan rasa kosong yang belum juga pergi.
“Wajahmu muram sekali,” suara ceria itu datang dari belakangnya. “Padahal cuacanya bagus.”
Feiyan menoleh. Yan Mei berdiri dengan senyum lebar, rambutnya terikat longgar, ujung-ujungnya berkilau kemerahan diterpa cahaya. Jubahnya ringan, seolah sengaja dipilih untuk sore yang hangat. Tatapannya menyapu Feiyan dari ujung kepala hingga kaki, lalu berhenti di wajahnya.
“Kudengar kau bertahan dengan baik,” katanya, nada suaranya terdengar tulus sekaligus menggoda. “Setelah latihan di kuil, maksudku.”
Feiyan mengangguk kecil. “Aku… mencoba.”
“Bagus.” Yan Mei melangkah mendekat, jarak di antara mereka menyempit begitu saja. “Kalau begitu, aku punya sesuatu yang mungkin cocok untukmu. Latihan kecil. Tidak kaku. Tidak menekan.” Ia memiringkan kepala. “Lebih menyenangkan.”
Kata terakhir itu diucapkannya dengan penekanan halus. Feiyan ragu. Ia menatap lingkaran batu merah, melihat aliran lava kecil yang mengalir di parit buatan sekte—tenang, terkendali, memantulkan cahaya jingga lembut.
“Ini aman?” tanyanya.
Yan Mei tertawa kecil. “Tentu. Api jinak. Kita tidak sedang membakar dunia.” Ia mengedipkan mata. “Lagipula, aku di sini.”
Entah kenapa, itu cukup. Feiyan mengangguk.
Mereka masuk ke tengah lingkaran. Panas terasa lebih jelas di sana, merambat ke kulit seperti selimut hangat. Yan Mei berdiri di hadapannya, telapak tangan terbuka.
“Latihan api emosional,” katanya. “Kau tidak perlu memaksa Qi. Biarkan perasaanmu memimpin. Pilih emosi yang ringan. Kenangan yang membuatmu tersenyum.”
Feiyan menutup mata. Ia menarik napas, mencoba menemukan sesuatu yang tidak menyakitkan. Senyum kecil muncul di wajahnya—kenangan sederhana, pagi yang tenang, angin yang bersih. Saat ia membuka mata, api kecil menyala di antara telapak tangannya. Lembut, berwarna jingga pucat, bergetar pelan seperti nyala lilin.
“Ah—lihat itu,” Yan Mei bertepuk tangan kecil. “Cantik.”
Feiyan menelan ludah, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Api itu stabil, hangat, tidak melukai. Untuk sesaat, ia merasa mampu.
“Pertahankan,” kata Yan Mei. “Jangan pikirkan teknik. Dengarkan detak jantungmu.”
Ia melangkah mendekat. Terlalu dekat, Feiyan sadar, tapi tidak mundur. Suara Yan Mei menjadi lebih pelan, seolah hanya untuk mereka berdua. Panas di udara bertambah, atau mungkin hanya perasaannya yang berubah. Api di tangannya berdenyut mengikuti napasnya.
“Bagus,” bisik Yan Mei. “Kau cepat belajar.”
Feiyan merasakan gugup kecil yang menyelinap. Senang, malu, ingin dipuji—semuanya bercampur. Api bereaksi. Nyala itu membesar sesaat, lalu mengecil, lalu bergetar tidak beraturan. Aliran Qi di dalam dadanya ikut berdenyut, tidak konsisten.
“Tenang,” kata Yan Mei, tertawa kecil. “Kau terlalu memikirkannya.”
Ia meraih tangan Feiyan, jemarinya menyentuh ringan. “Begini.”
Sentuhan itu seperti percikan. Api melonjak, panasnya meningkat. Feiyan tersentak, napasnya terputus sejenak. Jantungnya berdebar lebih cepat, dan api mengikuti irama itu—naik, turun, berdenyut.
“A-aku—” Feiyan mencoba menarik tangannya, tapi Yan Mei hanya menahan sebentar, lalu melepasnya dengan senyum puas.
“Lihat? Kau peka,” katanya. “Itu bagus. Api suka hati yang peka.”
Feiyan mengangguk, meski kepalanya terasa ringan. Api itu kembali mengecil, lalu berdenyut lagi. Ada sensasi aneh—panas yang bukan sepenuhnya dari Qi. Ia sulit membedakan.
Yan Mei berkelilingnya, langkahnya ringan. “Sekarang, fokus pada napas. Jangan menahan apa pun.”
Feiyan mencoba. Namun setiap kali Yan Mei mendekat, setiap kali suaranya terdengar terlalu dekat, api bereaksi. Qi di meridiannya bergetar halus, seakan terseret oleh emosi yang tak ia pahami. Di kedalaman dadanya, resonansi samar berdenyut—Twin Flame Oath level awal merespons, memperkuat gelombang kecil itu tanpa ia sadari.
“Kau memanas,” kata Yan Mei ceria. “Jangan takut.”
Api tiba-tiba padam.
Dinginnya datang cepat, kontras dengan panas sebelumnya. Feiyan terhuyung, dunia berputar. Yan Mei segera meraih bahunya, menariknya ke dalam pelukan singkat agar ia tidak jatuh. Aroma hangat menyelimuti, membuat pikirannya semakin kacau.
“Pelan,” bisik Yan Mei di dekat telinganya. “Tarik napas.”
Feiyan terengah, jantungnya masih berdebar tidak teratur. Panas tersisa di dadanya, membingungkan. Ia berdiri tegak kembali, menjauh setengah langkah.
“Maaf,” katanya cepat. “Aku… gagal mengendalikan.”
Yan Mei menggeleng, senyumnya tetap cerah. “Bukan gagal. Kau hanya sensitif.” Ia mengulurkan tangan, mengusap rambut Feiyan singkat. “Itu bukan hal buruk.”
Feiyan menunduk, rasa bersalah merayap. “Aku akan berlatih lebih baik.”
“Kita berhenti dulu,” kata Yan Mei ringan. “Cukup untuk hari ini.”
Api di sekeliling mereka meredup. Panas udara berkurang, tapi sisa-sisanya masih tinggal di dada Feiyan. Ia menelan ludah, mencoba menenangkan napas. Yan Mei menatapnya dengan mata berkilat kecil, seperti api yang belum padam sepenuhnya.
“Latihan ini cocok untukmu,” katanya. “Kau hanya perlu… terbiasa.”
Feiyan mengangguk, tidak sepenuhnya mengerti, namun sulit menolak rasa hangat yang tertinggal. Di dalam dirinya, Qi masih berdenyut tak stabil—dan ia tidak menyadarinya.
Yan Mei tidak langsung melepaskannya. Tangannya masih berada di punggung Feiyan, telapak yang hangat itu menempel seolah tanpa maksud lain selain menahan keseimbangan. Namun Feiyan merasakan denyut aneh di dadanya, seperti api kecil yang belum padam dan mencari udara.
“Kau gemetar,” kata Yan Mei pelan, hampir berbisik. “Apa kau kedinginan?”
Feiyan menggeleng, tapi suaranya tidak keluar. Sensasi panas dan dingin bergantian merayap dari pusat dadanya ke ujung-ujung jari. Ia menarik napas, mencoba menenangkan aliran Qi, namun setiap tarikan terasa tersangkut, seolah jalurnya tidak lagi lurus.
Yan Mei melangkah memutar, berdiri tepat di depannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Feiyan bisa melihat pantulan cahaya api di mata Yan Mei. Senyum itu tetap ada—cerah, ceria—namun kini terasa lebih tajam.
“Kita coba sekali lagi,” katanya ringan. “Tapi kali ini… jangan berpikir.”
“Aku takut Qi-ku—” Feiyan memulai.
“Justru itu.” Yan Mei mengangkat tangan, telunjuknya menyentuh ringan di bawah dagu Feiyan, memaksanya mengangkat wajah. “Qi yang ragu itu seperti api yang setengah padam. Kau harus memberinya alasan untuk menyala.”
Sentuhan itu membuat Feiyan menelan ludah. Dadanya kembali hangat, lebih cepat dari sebelumnya. Ia menutup mata, mencoba mengikuti arahan. Begitu ia membuka telapak tangan, api kecil muncul lagi—kali ini lebih terang, lebih gelisah.
“Bagus,” Yan Mei bertepuk tangan kecil. “Sekarang rasakan.”
Ia mendekat, bahunya hampir menyentuh dada Feiyan. Aroma hangat menyelimuti, membuat pikirannya kabur. Api di telapak tangan Feiyan berdenyut lebih cepat, mengikuti detak jantungnya yang melonjak.
“Yan Mei, aku—” Napasnya terputus saat api tiba-tiba membesar, menjilat udara dengan nyala jingga terang.
“Tenang,” kata Yan Mei sambil tertawa kecil. “Aku di sini.”
Ia meraih pergelangan tangan Feiyan, memutar sedikit posisi telapak itu. Api bereaksi keras. Nyala melonjak lalu runtuh, menyisakan panas yang menampar meridian Feiyan. Qi di dalam tubuhnya bergetar tidak beraturan, seolah ada arus yang ditarik ke banyak arah sekaligus.
Feiyan tersentak, keningnya berkerut. “Sakit—”
“Hanya sebentar.” Yan Mei menempelkan telapak tangannya di dada Feiyan, tepat di atas jantung. “Rasakan api dari sini.”
Detik itu juga, panas menjalar deras. Bukan lagi dari telapak tangan, melainkan dari dalam. Feiyan terengah, punggungnya melengkung sedikit. Api di tangannya padam, namun panas di dadanya justru membesar, berdenyut mengikuti jantung.
“Apa yang kau lakukan?” suaranya bergetar.
“Menyelaraskan,” jawab Yan Mei lembut. “Api dan perasaanmu… harus bertemu.”
Twin Flame Oath bereaksi samar, resonansi kecilnya membesar karena kondisi Feiyan yang rapuh. Emosi yang belum sempat ia cerna—malu, ingin diterima, takut ditinggalkan—tersulut bersama panas itu. Qi-nya kehilangan ritme, naik turun seperti napas yang tercekik.
“Cukup!” Feiyan mundur setengah langkah, tangannya refleks menahan dada. Kepalanya ringan, pandangannya berkunang. “Aku… aku tidak bisa.”
Yan Mei segera mundur, mengangkat kedua tangan seolah tak bersalah. Senyumnya berubah lembut. “Maaf. Aku terlalu bersemangat.”
Feiyan menggeleng, mencoba berdiri tegak. Api di sekeliling mereka tetap jinak, tapi tubuhnya terasa asing. Seolah ada sesuatu yang tertinggal, berdenyut pelan di dalam.
“Kau baik-baik saja?” tanya Yan Mei, suaranya kini menenangkan. Ia mendekat lagi, kali ini lebih hati-hati, menyentuh lengan Feiyan dengan lembut. “Kau memang sensitif. Itu bukan kesalahan.”
Feiyan mengangguk pelan. Rasa bersalah menyusup. “Aku selalu… begini.”
“Justru itu yang menarik.” Yan Mei tertawa kecil, lalu menahan diri. Ia menepuk bahu Feiyan. “Latihan hari ini cukup. Kau sudah bekerja keras.”
Feiyan menghela napas, lega sekaligus kosong. Panas di dadanya perlahan mereda, menyisakan sisa denyut yang sulit dijelaskan. Qi-nya terasa tidak stabil—bukan hancur, tapi mudah tergelincir, seperti api yang siap menyala kembali oleh sentuhan kecil.
Mereka berjalan keluar dari lingkaran batu. Cahaya jingga senja mulai memudar, digantikan bayangan panjang. Feiyan melangkah perlahan, tubuhnya terasa lebih ringan namun rapuh.
Yan Mei berhenti, memutar tubuhnya. Ia menatap Feiyan, mata itu berkilat oleh cahaya api yang tersisa. Senyum nakal muncul, berbeda dari sebelumnya—lebih berani, lebih dekat.
“Feiyan,” katanya pelan. “Kau tahu apa yang terjadi hari ini?”
Feiyan menggeleng.
Yan Mei melangkah mendekat sekali lagi, begitu dekat hingga panas tubuh mereka hampir menyatu. Ia mencondongkan wajahnya, suara turun menjadi bisikan yang berdenyut seperti api.
“Semakin dekat kau denganku, semakin kau terbakar.”
Feiyan menelan ludah. Dadanya kembali hangat, denyut kecil itu menjawab kata-kata Yan Mei. Ia berdiri diam, tidak tahu apakah panas yang menyala itu berasal dari api… atau sesuatu yang lebih berbahaya.