NovelToon NovelToon
MARRIAGE FOR HEIR

MARRIAGE FOR HEIR

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Poligami / Keluarga / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pernikahan Liana dan Abi hanyalah kesepakatan pahit di atas kertas untuk menyambung keturunan.
Liana terjepit di antara rasa hormat kepada Genata dan status barunya sebagai istri kedua. Namun, seiring berjalannya waktu, batas antara "paman" dan "suami" mulai mengabur. Abi terjebak dalam dilema besar saat ia menyadari bahwa Liana bukan sekadar pelanjut nasab, melainkan pemilik kunci hatinya yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Siang itu setelah infus Liana akhirnya dilepas oleh dokter Wayan, suasana di villa terasa jauh lebih hidup.

Liana yang sudah berganti pakaian dengan salah satu gaun musim panas berwarna putih tulang pemberian Abi, tampak jauh lebih segar meskipun masih harus beristirahat.

Abi masuk ke kamar dengan mendorong sebuah kursi roda yang tampak sangat nyaman.

"Kaki kamu belum boleh dipaksa berjalan jauh, Li. Jadi sore ini, biarkan Mas yang menjadi supir pribadimu," ucap Abi dengan nada ceria.

Ia membantu Liana duduk di kursi roda dengan sangat hati-hati, lalu menyampirkan syal tipis di bahu istrinya.

Abi mendorong kursi roda itu keluar kamar, menyusuri selasar villa yang asri menuju area taman yang menghadap langsung ke tebing Uluwatu.

"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Liana lirih, ia masih merasa sedikit asing dengan panggilan baru itu.

"Ke tempat yang paling indah untuk melihat matahari terbenam. Mas sudah menyiapkan makan malam khusus untuk merayakan 'awal yang baru' bagi kita," jawab Abi sambil terus mendorong kursi roda itu dengan perlahan.

Mereka sampai di sebuah dek kayu yang sudah dihias dengan lampu-lampu gantung kecil dan meja makan yang ditata sangat romantis. Harum aroma laut berpadu dengan wangi bunga kamboja di sekitar mereka.

"Lihat itu," tunjuk Abi ke arah cakrawala di mana matahari mulai berubah warna menjadi jingga kemerahan.

Liana terpaku saat melihat keindahan alam di depannya sejenak membuat ia lupa akan semua rasa sakit yang dialaminya

Abi berlutut di samping kursi roda Liana, menggenggam tangannya erat.

"Mas tahu, makan malam dan baju baru tidak akan pernah cukup untuk membayar air matamu. Tapi Mas janji, mulai detik ini, Mas akan berjuang setiap hari untuk membuatmu tersenyum, bukan untuk membuatmu menangis lagi."

Liana menatap Abi, ada ketulusan yang begitu besar di mata pria itu.

Ia menarik napas dalam, membiarkan angin laut menerpa wajahnya.

Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, Liana merasa ada secercah harapan di tengah badai hidupnya.

"Terima kasih, Mas Abi," bisik Liana pelan.

Pelayan villa yang berseragam rapi mulai berdatangan dengan gerakan yang sangat tenang dan terlatih.

Satu per satu hidangan mewah mulai ditata di atas meja: Grilled Lobster dengan aroma bawang putih yang menggoda, salad segar, hingga minuman berkilau yang disajikan dalam gelas kristal.

Lampu-lampu kecil di sekitar dek mulai menyala, memberikan pendar keemasan yang cantik pada wajah Liana.

Abi membantu Liana berpindah dari kursi roda ke kursi makan dengan gerakan yang sangat protektif, memastikan kaki Liana yang masih terbalut perban tipis itu berada di posisi yang nyaman.

"Makanlah yang banyak, Li. Kamu butuh tenaga untuk pulih," ujar Abi sambil memotongkan bagian terbaik dari lobster itu untuk istrinya.

Suasana makan malam itu terasa sangat intim. Hanya ada suara deburan ombak di bawah tebing dan denting halus alat makan.

Liana mulai menikmati makanannya, dan sesekali ia tertawa kecil saat Abi menceritakan kejadian-kejadian lucu yang ia temui di kantor, berusaha keras mengalihkan pikiran Liana dari trauma mereka.

Setelah hidangan utama selesai, Abi tiba-tiba berdehem.

Wajahnya yang tadi santai berubah menjadi sedikit tegang namun penuh kesungguhan.

"Li, Mas punya sesuatu untukmu."

Abi merogoh saku jas tipisnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru tua yang elegan.

Ia membukanya perlahan di hadapan Liana. Di dalamnya, melingkar sebuah kalung berlian dengan desain minimalis namun sangat mewah.

Berlian utamanya yang berbentuk pear-cut berkilau tajam tertimpa cahaya lampu, memantulkan warna-warna pelangi yang memukau.

Liana tertegun sampai sendok pencuci mulutnya terhenti di udara.

"Mas, ini terlalu berlebihan."

"Tidak ada yang berlebihan untuk istriku," potong Abi dengan suara rendah yang dalam.

Kemudian ia berdiri dan berjalan ke belakang kursi Liana.

"Boleh Mas pasangkan?"

Liana hanya mengangguk pelan. Ia merasakan jari-jari besar Abi yang hangat menyentuh tengkuknya saat pria itu mengaitkan pengunci kalung.

Dinginnya berlian itu menyentuh kulit leher Liana, memberikan kontras yang aneh namun menenangkan.

Abi kembali duduk di depan Liana, ia meraih kedua tangan istrinya dan menatapnya lekat.

"Kalung ini bukan sekadar perhiasan, Li. Berlian ini melambangkan janji Mas. Seperti berlian yang tidak bisa hancur, Mas ingin membangun kembali kepercayaanmu yang sempat retak. Setiap kali kamu melihat kalung ini di cermin, ingatlah bahwa kamu adalah wanita paling berharga di hidup Mas."

Liana menunduk, jarinya meraba liontin berlian yang kini menggantung di lehernya.

Air mata haru yang kali ini tidak terasa pahit mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Terima kasih, Mas Abi. Kalungnya sangat cantik."

Malam itu, di bawah saksi bisu bintang-bintang Uluwatu, tembok pertahanan Liana benar-benar mulai runtuh, sementara Abi merasa ia baru saja diberikan kesempatan kedua oleh semesta untuk mencintai dengan cara yang benar.

Setelah suasana haru itu, Liana merasa sedikit lebih percaya diri.

Ia menatap ke arah Abi yang masih menatapnya dengan penuh duka yang kini berubah menjadi pemujaan.

"Mas, boleh kita foto berdua? Aku ingin mengabadikan momen ini," pinta Liana pelan.

Abi tentu saja tidak menolak. Ia segera berdiri di samping kursi roda Liana, merangkul bahu istrinya dengan erat sementara Liana memegang liontin berlian barunya.

Di bawah cahaya lampu temaram dengan latar belakang laut malam, mereka terlihat seperti pasangan yang paling bahagia di dunia.

Liana segera membuka ponselnya. Ia mengunggah foto tersebut di statusnya dengan caption yang singkat namun sangat menohok:

Ternyata, bahagia itu sederhana. Cukup bersama orang yang paling menghargaimu dan tahu cara menebus kesalahannya. Terima kasih untuk hadiah indahnya, Mas Abi. #UluwatuNight #NewChapter

Sementara itu, di rumah besar mereka di Jakarta, suasana terasa mati.

Genata sedang duduk di tepi ranjang dengan ponsel di tangan. Saat ia melihat status Liana muncul di layar, dunianya seakan runtuh.

Melihat kalung berlian yang melingkar di leher Liana, kalung yang jauh lebih mewah dari apa pun yang pernah Abi berikan padanya—membuat darah Genata mendidih. Belum lagi panggilan "Mas Abi" yang ditulis Liana dengan begitu bangganya.

"Kurang ajar! Jadi ini alasan kamu mematikan teleponku, Mas? Kamu bersenang-senang dengan pelacur itu?!" teriak Genata histeris.

Rasa cemburu yang buta dan sakit hati yang memuncak membuat Genata kehilangan akal sehatnya.

Ia bangkit dan mulai mengamuk di dalam kamar utama yang kini terasa asing baginya.

Ia menarik seprai sutra dari tempat tidur mereka dan melemparnya ke lantai.

Ia membuka lemari dan mengeluarkan semua kemeja serta jas milik Abi, lalu melemparkannya ke luar pintu kamar.

Ia meraih foto pernikahan mereka yang terbingkai besar di dinding, lalu membantingnya ke lantai hingga kacanya hancur berkeping-keping.

"Kalau aku tidak bisa bahagia, tidak akan ada yang boleh bahagia di rumah ini!"

Genata berlari ke ruang tamu, menyapu semua pajangan kristal dan barang-barang koleksi Abi hingga hancur berantakan.

Para asisten rumah tangga yang baru bekerja disana hanya bisa berdiri ketakutan di sudut ruangan, tak berani mendekat melihat majikan mereka yang biasanya lembut kini berubah seperti orang kesurupan.

Rumah yang biasanya rapi itu kini berubah menjadi medan perang penuh puing.

Genata terduduk di tengah kekacauan itu, menangis meraung-raung sambil mencengkeram pecahan foto Abi.

Ia merasa dikhianati oleh rencana yang ia buat sendiri.

Napas Genata tersengal-sengal, matanya merah menatap kepingan kaca foto pernikahannya yang kini hancur di bawah kakinya.

Rasa cemburu itu sudah bermutasi menjadi racun yang membakar seluruh kewarasannya.

Baginya, berlian di leher Liana adalah simbol kematian posisinya di hati Abi.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia melangkah menuju laci meja rias. Di sana, ia menemukan beberapa botol obat—obat penenang dan obat tidur yang selama ini ia konsumsi dosis kecil untuk mengatasi kecemasannya.

"Kamu lebih memilih dia, Mas? Kamu membuang aku demi keponakanmu itu?" bisik Genata dengan suara parau yang mengerikan.

Tanpa berpikir panjang, Genata membuka botol-botol itu.

Satu per satu butiran obat itu ia tuangkan ke telapak tangannya hingga menggunung

Ia ingin membuat Abi merasa bersalah seumur hidup. Ia ingin Abi melihat bahwa cinta yang Abi khianati berujung pada maut.

Glek!

Genata menelan semua obat itu sekaligus dengan bantuan sisa air minum di atas meja.

Tubuhnya kemudian merosot, duduk bersandar di kaki tempat tidur di tengah kekacauan barang-barang yang baru saja ia hancurkan.

Sambil menunggu kegelapan menjemput kesadarannya, ia meraih ponselnya.

Dengan sisa tenaga, ia mengirimkan satu pesan terakhir kepada Abi, berharap ini akan menjadi senjata pamungkas untuk memaksa suaminya itu segera pulang meninggalkan Liana di Bali.

"Selamat bersenang-senang di Bali, Mas. Foto pernikahan kita sudah hancur, sama seperti hatiku. Mungkin saat kamu pulang nanti, kamu tidak akan menemukanku lagi. Aku sudah meminum semuanya. Aku mencintaimu, tapi aku tidak sanggup melihatmu bersama dia."

Pandangan Genata mulai kabur. Ponsel di tangannya terjatuh ke lantai.

Ia memejamkan mata, membayangkan deru mobil Abi masuk ke halaman rumah, membayangkan tangan Abi yang panik mencoba menyadarkannya.

Di ambang kesadarannya, ia hanya ingin satu hal yaitu kekalahan atas Liana, meskipun nyawa taruhannya.

1
Sasikarin Sasikarin
di bolak balik belum juga tayang /Shy/
Sasikarin Sasikarin
lanjuttttt... 🤭
Sasikarin Sasikarin
💪 othor tuk berkarya 🙏
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lg lg banjir /Sob/
Sasikarin Sasikarin
good job author bikin novelnya mewek mulu. 🤭
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
hi hi... lanjut si thor tambah seru si ceritanya
Sasikarin Sasikarin
hihi.... lanjut si thor tambah seru alna? 😁
Sasikarin Sasikarin
aduh thor napa g minghat dulu liana nya. nyesek aq baca nya.. lanjutttttty 🙏
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt 💪
اختی وحی
jngn balik lu biarin abi stres
Sasikarin Sasikarin
💪 othor makin penasaran nasib si paman
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt t seru nih
my name is pho: sudah kak.
selamat membaca 🥰
total 4 replies
my name is pho
sabar kak
Sasikarin Sasikarin
lanjuttt
my name is pho: siap kak
besok lagi
total 1 replies
اختی وحی
kok sepi ya pdhl ceritanya bagus
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
Sasikarin Sasikarin
lanjutttt thor please... banjir air mata nih
Sasikarin Sasikarin
sukaaaa ceritanya, buat mewek dan meresap kata2nya, sumpah nie cerita buat mengaduk emosi pembaca .💪
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
اختی وحی
makin seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!