"Tiga syarat, Maya. Jangan jatuh cinta padaku, jangan mencampuri urusan dinasku, dan jangan biarkan satu orang pun di sekolahmu tahu siapa suamimu."
Lettu Arga adalah perwira muda paling berbakat dengan kekayaan yang melampaui gaji bulanannya. Baginya, pernikahan adalah strategi untuk menyelamatkan karier dari fitnah. Sementara bagi Maya, siswi SMA yang baru berusia tujuh belas tahun, pernikahan ini adalah kontrak untuk menyelamatkan nyawa ibunya.
Di depan saksi dan di bawah sumpah prajurit, mereka terikat. Maya harus belajar hidup di antara kaku dan dinginnya aturan Markas Komando, sementara Arga harus menahan diri agar tidak melewati batas terhadap "istri kecilnya" yang lebih sering memikirkan PR Matematika daripada melayani suami.
Namun, ketika musuh mulai mengincar Maya sebagai titik lemah sang Letnan, Arga sadar bahwa ia telah melanggar syarat pertamanya sendiri: Ia telah jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Tawaran yang Mustahil
Rahasia besar seolah bersembunyi di balik sorot mata pria berpakaian hitam yang menyambut mereka di depan pintu kayu jati setinggi langit-langit. Cahaya lampu di atas pintu memantul ke wajahnya, membuat matanya terlihat lebih gelap dan misterius. Maya Anindya merapatkan pelukan pada tas sekolahnya yang sudah sangat lusut sambil menatap lantai dengan tubuh yang bergetar hebat. Lorong panjang itu terasa sangat dingin serta mencekam bagi seorang siswi yang sedang dirundung duka yang sangat mendalam, jauh dari suasana rumah yang pernah dia kenal.
"Semua dokumen sudah saya siapkan sesuai dengan perintah Anda semalam," lapor pria berpakaian hitam itu sambil membungkuk dengan sangat hormat, tangannya menyimpan sesuatu di balik punggungnya. Arga tidak berkata apa-apa, hanya memberikan tanda mengangguk yang cukup untuk membuat pria itu mengeluarkan selembar amplop coklat tebal.
Arga Dirgantara hanya mengangguk singkat dan mendorong pintu ruangan yang tampak sangat luas serta penuh dengan tumpukan buku tua yang berdebu. Dinding ruangan dipenuhi dengan peta perang dan foto prajurit, menciptakan suasana yang kaku dan penuh kedisiplinan. Dia melangkah masuk dengan sangat berwibawa lalu duduk di balik meja kerja yang besar dari kayu jati, di atasnya terdapat sebuah map berwarna merah darah yang terasa menakutkan. Pria itu menyandarkan punggungnya sambil menatap Maya Anindya yang masih mematung di ambang pintu masuk ruangan, seolah menunggu perintah lebih lanjut.
"Duduklah sekarang juga sebelum kesabaran saya benar-benar habis menghadapi sikap keras kepalamu," perintah Arga Dirgantara dengan nada suara yang sangat tenang namun mengancam. Setiap kata yang keluar dari mulutnya terasa seperti batu yang dilemparkan ke arah Maya, membuatnya merasa semakin kecil.
Maya Anindya melangkah dengan sangat ragu serta takut hingga duduk di kursi kayu yang keras di hadapan pria yang kini sudah menjadi penguasa tunggal atas nasib hidupnya. Kaki dia masih gemetar, dan dia merasa seperti sedang berdiri di ambang jurang. Dia melihat map merah itu dibuka secara perlahan oleh Arga hingga memperlihatkan selembar kertas yang berisi banyak sekali poin kesepakatan tertulis dengan tulisan yang rapi. Mata gadis itu membelalak saat membaca judul besar yang tertulis di bagian paling atas kertas yang sangat bersih tersebut: KONTRAK PERNIKAHAN PERLINDUNGAN NYAWA.
"Kontrak pernikahan ini adalah satu-satunya cara agar Anda tetap hidup dan saya tetap menjalankan tugas," jelas Arga Dirgantara dengan rahang yang terlihat sangat mengeras, menandakan bahwa dia serius dan tidak mau diperdebatkan. Suaranya datar, seolah dia sedang berbicara tentang hal yang biasa dan tidak penting.
Gadis remaja itu merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat ketika menyadari bahwa pernikahannya hanyalah sebuah transaksi perlindungan nyawa yang sangat dingin. Semua harapan yang dia miliki tentang cinta dan masa depan yang indah hancur seketika. Dia tidak menyangka bahwa wasiat ayahnya akan bermuara pada selembar kertas yang sama sekali tidak melibatkan perasaan atau cinta sedikit-pun. Kemarahan mulai membakar dada Maya Anindya hingga dia berani memukul permukaan meja kerja yang sangat keras itu dengan tangan kecilnya, membuat bunyi yang keras dan mengejutkan.
"Apakah nyawa saya hanya seharga tanda tangan di atas kertas bermaterai ini?" tanya Maya Anindya dengan napas yang memburu serta tidak beraturan, air mata kembali menetes ke pipinya. Suaranya serak dan penuh kemarahan, menunjukkan bahwa dia tidak mau terjebak dalam perjanjian yang tidak adil ini.
Arga Dirgantara justru tersenyum miring seolah sedang meremehkan keberanian siswi sekolah menengah atas yang sedang berada di bawah kendalinya tersebut. Wajahnya terlihat penuh dengan rasa sombong dan keyakinan diri. Dia meraih sebuah pulpen emas yang tergantung di pinggang meja lalu melemparkannya ke arah depan hingga benda itu mendarat tepat di hadapan jari-jari Maya Anindya yang masih gemetar. Suasana di dalam ruangan itu menjadi sangat mencekam saat sang perwira mulai berdiri serta membungkukkan tubuhnya ke arah depan, menjadikan jarak antara mereka semakin dekat.
"Tanda tangan sekarang atau saya akan membiarkan musuh ayahmu menyeretmu keluar dari markas ini dengan cara yang sangat menyakitkan," ancam Arga Dirgantara dengan tatapan mata yang sangat tajam serta mematikan. Suaranya rendah namun penuh kekuatan, membuat Maya merasa seolah ada pisau yang menyorong di lehernya.