Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11 Salah Tempat
Kirana memandangi buket bunga mawar putih yang memenuhi sebagian besar mejanya, aroma bunga yang lembut seharusnya terasa menyenangkan tetapi pagi itu justru membuat kepalanya semakin berat. Kartu kecil bertuliskan nama Rendra masih berada di tangannya, sementara Dita dan Aiden berdiri tidak jauh dari sana dengan pendapat yang ternyata sama.
"Kalau aku jadi kamu, bunga itu akan kubuang." Dita menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Aku setuju." Aiden berhenti beberapa langkah dari meja Kirana sambil melirik buket tersebut.
Kirana mengangkat pandangan ke arah atasannya.
"Tuan sedang tidak ada rapat?" Kirana menyimpan kartu itu kembali.
"Aku punya." Aiden memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
"Lalu kenapa masih berdiri di sini?" Kirana merapikan beberapa dokumen di mejanya.
"Aku penasaran." Aiden mengangguk ke arah bunga tersebut.
"Penasaran apa?" Kirana membuka laptopnya.
"Bagaimana seseorang bisa berpikir bunga dapat memperbaiki kebodohan." Aiden mengalihkan pandangannya ke arah buket mawar.
Dita langsung menahan tawa.
"Saya mulai menyukai Bos." Dita mengangguk puas.
"Saya selalu mudah disukai." Aiden menatapnya santai.
"Tidak juga." Gavin muncul entah dari mana sambil membawa dua gelas kopi. "Sebagian besar orang bertahan karena gaji."
Aiden menoleh perlahan dan Gavin langsung mundur satu langkah.
Suasana yang sempat tegang berubah sedikit lebih ringan karena komentar Gavin, beberapa karyawan yang sejak tadi diam-diam memperhatikan juga mulai kembali bekerja namun Kirana tetap tidak tersenyum. Perhatiannya masih tertuju pada bunga yang kini terasa seperti simbol dari sesuatu yang sudah terlambat.
"Aku akan membuangnya." Kirana menutup laptopnya.
"Itu keputusan yang tepat." Dita langsung mengangguk.
"Aku bahkan belum selesai melihatnya." Gavin mencondongkan tubuh ke depan.
"Kamu mau bunga itu?" tanya Kirana.
"Mau." Gavin mengangkat tangan.
"Ambil saja." Kirana mendorong buket itu ke arahnya.
Aiden langsung mengernyit.
"Kamu serius?" Aiden melirik sahabatnya.
"Gratis." Gavin memeluk buket itu dengan wajah bahagia. "Sebagai laki-laki dewasa yang hidup sendiri, saya tidak menolak barang gratis."
Dita tertawa sampai harus memegang meja.
Tidak lama kemudian, pintu lift kembali terbuka. Beberapa orang keluar secara bersamaan, termasuk seorang pria yang langsung membuat suasana berubah.
Langkah pria terhenti saat melihat Gavin sedang memeluk buket bunga yang tadi ia kirimkan, wajah pria itu langsung berubah aneh seolah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Itu..." Rendra menunjuk bunga tersebut.
"Terima kasih." Gavin tersenyum lebar sambil mengangkat buket itu. "Bagus sekali."
"Itu bukan untukmu." Rendra menatapnya tidak percaya.
"Sekarang sudah." Gavin memeluk bunga itu lebih erat.
Dita buru-buru membalikkan badan agar tidak tertawa di depan Rendra.
"Kirana, kita perlu bicara." Rendra berjalan mendekat dengan wajah tegang.
"Saya sedang bekerja." Kirana membuka beberapa file di laptopnya.
"Hanya lima menit." Rendra berhenti di depan meja.
"Saya tidak punya lima menit." Kirana tetap fokus pada layar.
"Kirana." Rendra menarik napas panjang.
"Aku tidak ingin bicara." Kirana akhirnya mengangkat kepalanya.
Suasana di sekitar mereka kembali sunyi, beberapa karyawan mulai pura-pura sibuk sambil mencuri dengar.
"Aku datang untuk memperbaiki semuanya." Rendra berusaha menahan emosinya.
"Kalau begitu kamu datang terlambat." Kirana menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Aku mengakui kesalahanku."
"Bagus." Kirana mengangguk singkat.
"Dan aku minta maaf."
"Bagus."
Rendra menatap istrinya beberapa saat, jawaban-jawaban pendek itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada kemarahan.
"Apa tidak ada lagi yang ingin kamu katakan?" Rendra mengepalkan tangannya.
"Ada." Kirana menutup laptopnya perlahan.
Rendra langsung terlihat sedikit berharap.
"Aku ingin bekerja." Kirana kembali membuka file yang sedang diperiksa.
Gavin menunduk cepat, bahunya mulai bergetar.
"Jangan tertawa." Aiden melirik sahabatnya.
"Saya sedang batuk." Gavin memegang dadanya.
"Kamu tidak batuk."
"Saya batuk secara emosional."
Dita langsung menutup mulutnya dan Aiden memijat pelipis, kadang ia benar-benar tidak mengerti bagaimana Gavin bisa bertahan hidup sampai sekarang.
"Kirana, tolong dengarkan aku." Rendra menatap wanita itu dengan putus asa.
"Aku sudah mendengarkan selama delapan bulan." Kirana mengangkat pandangannya lagi. "Sekarang giliran aku yang selesai bicara."
Rendra membeku.
"Aku tidak ingin hidup dengan seseorang yang harus terus kuperiksa kejujurannya." Kirana menyilangkan kedua tangannya di atas meja. "Aku tidak ingin menunggu setiap malam sambil bertanya-tanya apakah suamiku sedang bekerja atau sedang bersama wanita lain."
"Kirana..." Rendra menundukkan kepalanya.
"Aku lelah." Kirana mengembuskan napas pelan.
Untuk pertama kalinya sejak pagi, ada kelelahan yang benar-benar terlihat di wajahnya.
Di ruang yang sama, Aiden memilih diam. Biasanya ia selalu memiliki sesuatu untuk dikomentari, namun kali ini tidak. Mendengar Kirana berbicara dengan suara setenang itu justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
"Aku akan berubah." Rendra mengangkat kepalanya lagi.
"Mungkin." Kirana mengangguk pelan.
"Berikan aku kesempatan."
"Aku sudah memberimu banyak kesempatan." Kirana menggenggam pulpen di tangannya. "Masalahnya, kamu menggunakannya untuk berbohong."
Kalimat itu membuat Rendra kehilangan kata-kata.
Beberapa detik berlalu tanpa suara, ketegangan memenuhi ruangan hingga bahkan suara ketikan dari meja lain terdengar lebih jelas dari biasanya. Tidak ada yang berani menyela karena semua orang tahu percakapan itu jauh lebih penting daripada pekerjaan apa pun.
"Aku tidak akan menyerah." Rendra menegakkan tubuhnya.
"Itu hakmu." Kirana kembali memusatkan perhatian ke layar laptop.
"Aku akan membuatmu memaafkanku."
"Itu urusanmu." Kirana mulai mengetik laporan yang tertunda.
"Aku serius."
"Aku juga." Kirana tetap tidak menoleh.
Rendra akhirnya pergi setelah menyadari tidak ada lagi yang bisa ia lakukan hari itu namun sebelum masuk ke lift, pria itu sempat berhenti dan menoleh ke arah Aiden yang berdiri tidak jauh dari meja Kirana.
Tatapan mereka bertemu, tidak ada kata-kata, tetapi cukup untuk membuat suasana kembali menegang. Rendra mungkin tidak tahu banyak tentang Aiden, namun nalurinya mengatakan satu hal pria itu berbahaya.
Setelah lift tertutup, Gavin mengembuskan napas panjang.
"Syukurlah." Gavin meletakkan buket bunga di atas lemari arsip.
"Apa?" tanya Dita penasaran.
"Saya takut mereka berkelahi." Gavin mengusap dadanya.
"Kamu terlalu banyak menonton drama." Dita menggeleng.
"Dan Bos terlalu tampan untuk masuk penjara." Gavin menatap Aiden serius.
Aiden langsung mengambil map di meja terdekat. Gavin refleks mundur.
.
Kirana akhirnya kembali bekerja dengan tenang namun beberapa menit kemudian, sebuah email baru masuk ke kotak surat kantornya. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan karena mengira itu hanya laporan biasa. Namun saat membaca nama pengirimnya, jemarinya langsung berhenti di atas keyboard.
Pengirim: Divisi Human Resource
Subjek: Pengajuan Mutasi Karyawan
Kirana membuka email tersebut perlahan, matanya bergerak dari satu baris ke baris berikutnya hingga akhirnya berhenti pada satu nama yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Rendra Atmajaya.
Dan yang membuatnya terkejut bukan nama itu, melainkan tujuan mutasi yang tertulis di bawahnya.
Pradana Group.