Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 31
Sementara itu, Jenita sendiri beruntung tidak ada di rumah pagi ini untuk menyaksikan tamparan kenyataan tersebut. Ia sedang pergi bersenang-senang menghabiskan uang bersama teman-teman geng kuliahnya, sama sekali tidak tahu bahwa mangsa rundungannya kini telah sah menjadi Nyonya besar di rumahnya. Di sisi lain, Gavin juga sudah berangkat pagi-pagi sekali ke kantor pusat Abrari Group bersama Husen, melarikan diri dari atmosfer rumah yang mencekik setelah pernikahan sirinya kemarin.
Melihat mertua tirinya syok, Eliza tetap berdiri dengan tenang. Tidak ada ketakutan sedikit pun di matanya. Didikan dan perlindungan dari keluarga Daneswara serta Maudi telah membentuk mental Eliza menjadi wanita yang anggun namun kokoh berprinsip.
"Selamat pagi, Tante Jihan. Mulai hari ini, mohon bimbingannya sebagai menantu di rumah ini," ucap Eliza, nadanya terdengar sangat sopan namun memiliki penekanan yang dingin, sama sekali tidak terpengaruh oleh tatapan benci Jihan.
Jihan mengepalkan tangannya rapat-rapat, menahan emosi yang tertahan di dadanya. Ia tidak berani memaki Eliza secara langsung karena bayang-bayang kekuasaan Doni Daneswara dan Rasya sang Tuan Higienis masih terngiang jelas di telinganya. "Cih, jangan panggil aku Tante. Di rumah ini, posisi kalian berdua tidak lebih dari sekadar menumpang. Jangan harap bisa bertingkah seenaknya hanya karena merasa punya keluarga angkat yang kaya!" sindir Jihan ketat, mencoba mengembalikan wibawanya yang runtuh.
"Rumah ini milik Ayah saya, Tante. Dan istri saya memiliki hak penuh untuk berada di sini," potong Faas dengan suara baritonnya yang sedingin es. Tatapan mata elangnya mengunci pergerakan Jihan, membuat wanita paruh baya itu refleks melangkah mundur karena terintimidasi.
Di tengah ketegangan itu, Megan melangkah maju dengan wajah yang berpura-pura polos dan manis. "Sudah, Ma, tidak apa-apa... biar Megan saja yang menyambut Kak Faas dan istrinya. Selamat datang ya, Kak," ucap Megan, suaranya dibuat selembut mungkin.
Namun, di balik topeng polosnya, mata Megan justru tidak bisa berhenti curi-curi pandang ke arah Faas. Sejak semalam, Megan sudah terpesona dengan ketampanan dan proporsi tubuh sempurna milik abang ipar sirinya itu. Dibandingkan dengan Gavin yang pagi ini meninggalkannya dengan sikap dingin dan muak, sosok Faas yang misterius, gagah, dan berkarisma kuat justru membuat bulu kuduk Megan meremang karena ketertarikan yang egois dan terlarang. Megan mulai memutar otak liciknya, membayangkan betapa serunya jika ia bisa memikat perhatian pria sesempurna Faas di bawah atap rumah yang sama dan membiarkan Gavin mencari uang di luar sana.
Eliza yang memiliki kepekaan tajam menangis sekilas arah pandang Megan yang tidak sopan terhadap suaminya. Alih-alih cemburu buta, Eliza justru tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat tenang namun sarat akan peringatan. Ia menggeser langkahnya sedikit, dengan sengaja berdiri tegap tepat di depan Faas, menghalangi pandangan Megan sembari menggandeng lengan kokoh suaminya dengan posesif.
"Terima kasih atas sambutan palsunya, Megan," batin Eliza, matanya menatap tajam ke arah Megan tanpa gentar sedikit pun.
Yolanda yang melihat ketangguhan Eliza langsung tersenyum puas dari balik kursi roda ibunya. Ia segera mendorong Diana mendekat. "Faas, Eliza... ayo bawa barang-barang kalian ke kamar kalian, Ibu sudah menyuruh pelayan merapikan kamar terbaik untuk kalian."
Faas mengangguk, lalu menuntun Eliza melewati Jihan dan Megan yang berdiri mematung dengan emosi yang bergejolak di dada masing-masing. Langkah pertama Eliza di kediaman Abrari telah digoreskan dengan ketegasan. Umpan telah terpasang, dan sarang serigala ini perlahan tapi pasti akan berubah menjadi panggung eksekusi bagi kepalsuan Jihan, Jenita, dan Megan.
Faas dan Eliza melangkah mantap menaiki tangga marmer menuju sayap kanan lantai atas. Di sana, sebuah pintu jati ganda terbuka, menampilkan kamar pribadi Faas yang sangat luas, mewah, dan berdesain modern minimalis, sangat kontras dengan citra pengangguran yang selama ini melekat padanya.
Seharian penuh, sepasang pengantin baru itu menghabiskan waktu di dalam kamar. Namun, momen ini tidak dihabiskan berdua saja. Diana, dengan bantuan kursi rodanya, ikut menghabiskan waktu berjam-jam di sana. Ibu dan anak-anaknya itu larut dalam perbincangan hangat, saling melepas rindu dan tawa, mengompensasi tahun-tahun kesepian yang sempat mereka lewati. Diana baru turun kembali ke kamar nya menjelang petang demi bersiap untuk makan malam.
Pukul tujuh malam, lonceng makan malam berdentang. Suasana di ruang makan mewah keluarga Abrari mendadak mencekam saat Faas turun bersama Eliza yang tampak anggun mengenakan gamis kasual berwarna pastel dan jilbab senada yang menutup dadanya.
Husen sudah duduk di kursi kebesaran, sementara Jihan dan Megan berada di sisinya. Tak lama kemudian, Gavin dan Jenita melangkah masuk setelah pulang dari aktivitas mereka.
Detik itu juga, ruang makan langsung dilanda gempa emosi.
"L-lo...?! Ngapain lo ada di rumah gue?!" pekik Jenita histeris, telunjuknya bergetar menunjuk wajah Eliza. Matanya hampir keluar karena syok mendalam melihat gadis yang paling ia benci dan selalu ia rundung di kampus, kini berada di dalam rumahnya sendiri.
Gavin pun tidak kalah terkejut. Langkah kakinya mendadak terkunci. Namun, berbeda dari Jenita yang memancarkan kebencian, sepasang mata Gavin justru menatap Eliza dengan binar ketertarikan yang tak mampu ia sembunyikan. Pria itu terpaku, menyadari bahwa perempuan berhijab biru di lorong mal yang telah mengusik pikirannya selama berhari-hari, malam ini berdiri di hadapannya sebagai istri sah dari abang kandungnya sendiri. Ada rasa sesal, tidak rela, sekaligus gairah yang terusik di dalam dada Gavin.
"Jaga bicaramu, Jenita! Dia adalah Eliza, istri sah abangmu, dan dia adalah putri dari keluarga Daneswara!" bentak Husen dengan suara baritonnya, mencoba meredam histeria putrinya sebelum memicu masalah dengan relasi bisnisnya.
"Putri Daneswara apa, Pa?!" potong Jenita, suaranya melengking tajam memicu perdebatan panas di meja makan. "Jenita tahu semuanya! Dia itu cuma anak angkat! Aslinya dia itu anak narapidana miskin bernama Seina yang dulu sengaja menukar dia sama Maudi waktu bayi!"
Jihan langsung menyambar ucapan putrinya, ikut menyudutkan Eliza dengan senyum sinis yang menusuk. "Jenita benar, Mas. Biar bagaimanapun, darah yang mengalir di tubuh perempuan ini adalah darah kriminal. Kalau saja ibunya yang narapidana itu dulu tidak licik menukar bayi, Eliza saat ini pasti cuma jadi wanita miskin di pinggir jalan, jangankan kuliah, makan pun susah! Dia cuma beruntung nasibnya dicuci oleh keluarga Daneswara, kita semua harus hati-hati, bisa saja kan, ada udang di balik batu!"
Megan yang duduk di samping Gavin ikut mengangguk-angguk kecil, memasang wajah pura-pura prihatin namun matanya berkilat senang melihat Eliza dipojokkan, sekaligus curi-curi pandang pada Faas yang duduk tegak dengan ekspresi sedingin es.
Mendengar hinaan yang bertubi-tubi tentang asal-usulnya dan ibu kandungnya, Eliza tidak setetes pun meneteskan air mata. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke arah Jihan dan Jenita dengan sorot mata yang begitu tenang namun tajam.