⚠️⚠️TIDAK ADA UNSUR LGBT, NAMANYA JUGA DEWI RUBAH, YANG PALING DISUKAI ADALAH JIWA DAN TUBUH MEREKA⚠️⚠️
Bagaimana kalau seorang Dewi rubah yang dihukum malah melarikan diri? kucingnya yang selama ini seperti kucing biasa ternyata kucing dunia. bersenang-senang? tentu saja hal itu yang paling disukai nona rubah kita ini. bagaimana kesenangan nona rubah di dunia manusia dan pelarian nya? di setiap cerita akan beda judul utama karena dia tidak hanya melarikan diri, tetapi juga menjadi sistem kesenangan diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 17
Lima jam telah berlalu.
Sudah lima jam penuh sejak tubuh Lucy dinyatakan berada dalam kondisi tidak sadarkan diri oleh tim dokter yang menanganinya. Sudah lima jam pula sejak Kaito setia duduk mematung di samping ranjang perawatannya, terus menggenggam erat jemari tangannya, menolak untuk menyentuh makanan, menolak untuk memejamkan mata, dan menolak untuk melangkah pergi seingki pun. Lima jam sejak setetes air mata ketulusan cowok itu jatuh membasahi punggung tangan Lucy, dan entah mengapa sesuatu di dalam diri sang Dewi Rubah, sesuatu yang berukuran sangat kecil menyerupai sebutir debu, mendadak mulai terasa aneh dan menggelitik.
Dan sekarang, saat jarum jam dinding di dalam ruangan sudah menunjukkan tepat pukul dua dini hari, Lucy perlahan mulai membuka sepasang matanya.
Suasana di dalam kamar perawatan VVIP itu tampak sangat redup, hanya diterangi oleh pendaran cahaya temaram dari lampu tidur yang terletak di sudut ruangan. Mesin monitor detak jantung yang berada di samping ranjang terus mengeluarkan bunyi detak yang pelan, stabil, dan menenangkan. Tepat di sisi tempat tidur, Kaito tampak sudah terkulai tertidur di atas kursi besinya. Kepalanya tertunduk dalam, sementara kedua belah tangannya masih saja terus menggenggam erat jemari tangan Lucy. Bahkan di dalam tidurnya yang lelap, cowok itu sama sekali tidak memiliki niat untuk melepaskan genggaman tersebut.
Lucy terdiam menatap wajah cowok itu selama beberapa detik. Gurat wajah Kaito yang biasanya selalu memancarkan aura dingin, kaku, dan keras, kini terlihat jauh lebih lembut saat dia sedang terlelap. Ada sebaris jejak sisa air mata yang sudah mengering di sekitar permukaan kulit pipinya. Rambut hitamnya yang berantakan membuat penampilannya malam ini terlihat sangat lelah, benar-benar sebuah kelelahan yang teramat sangat.
"Lili," panggil Lucy secara perlahan di dalam dimensi kesadarannya.
"Ada apa, Lucy?"
"Tolong buat tidurnya menjadi jauh lebih lelap dari sekarang. Aku berniat untuk pergi jalan-jalan keluar sejenak."
"Pergi jalan-jalan?!" Lili seketika memekik tidak percaya. "Kamu itu baru saja siuman setelah divonis mengalami gejala gegar otak ringan, dan sekarang kamu justru berniat untuk pergi jalan-jalan?!"
"Aku merasa sangat bosan jika harus terus berbaring di atas ranjang ini selama lima jam penuh, hanya untuk mendengarkan bunyi monitor yang terus berbunyi tiada henti. Aku sedang membutuhkan udara segar sekarang."
Lili hanya bisa menghela napas panjang, sepanjang yang bisa dilakukan oleh seekor makhluk virtual di dalam kepalanya. "Baiklah kalau itu maumu. Aku akan segera memperdalam gelombang tidurnya sekarang. Dia dipastikan tidak akan bisa terbangun dalam kurun waktu satu jam ke depan."
"Pilihan yang sangat bagus."
Lucy dengan penuh kehati-hatian mulai menarik jemari tangannya dari dalam cengkeraman Kaito. Seluruh persendian jarinya terasa sedikit kaku karena sudah terlalu lama berada di dalam genggaman hangat cowok itu. Dia sempat menatap lekat ke arah wajah Kaito sekali lagi, lalu tanpa adanya sebuah alasan yang jelas, dia menggerakkan ujung jarinya untuk menyentuh permukaan kulit pipi Kaito dengan sangat lembut. Sentuhan itu hanya terjadi selama satu kedipan mata, sebelum akhirnya dia membalikkan tubuhnya.
Dia melangkah perlahan menuju ke arah pintu keluar, lalu mengaktifkan sedikit porsi dari kekuatan ilahi yang dimilikinya. Dalam sekejap, struktur tubuh manusianya berubah menjadi transparan. Tubuhnya memang tidak sepenuhnya menghilang dari pandangan mata, namun itu sudah lebih dari cukup untuk membuat pergerakannya luput dari perhatian dua orang pria berbadan kekar yang sedang berjaga ketat di depan pintu kamar.
"Kaito benar-benar menempatkan beberapa orang pengawal pribadi di depan kamarku?" pikir Lucy sambil menyunggingkan senyuman tipis. "Semua ini dilakukan hanya untukku?"
"Tentu saja untuk melindungimu dari segala bentuk bahaya, sekaligus untuk mencegah agar Ren tidak memiliki kesempatan untuk masuk ke dalam ruangan ini."
"Ah, begitu rupanya." Lucy terkekeh pelan di dalam hatinya. "Jadi itu yang menjadi alasan utama mengapa Ren sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya sejak tadi. Aku sempat merasa heran mengenai hal itu."
Dia melangkah santai melewati posisi kedua pengawal tersebut tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadari kehadirannya. Suasana koridor rumah sakit terasa sangat sepi dan lengang di jam-jam rawan seperti ini. Pendaran lampu putih menerangi lorong panjang yang diisi oleh barisan pintu-pintu kamar perawatan di kedua sisinya. Bau khas cairan antiseptik yang tajam tampak memenuhi seluruh udara di sekitar tempat itu.
Lucy terus berjalan melangkah tanpa arah tujuan yang pasti. Gaun rumah sakit berwarna putih bersih yang dikenakannya tampak berkibar pelan mengikuti setiap ritme langkah kakinya. Bagian kepalanya memang masih terbalut rapi oleh perban putih, namun dia sudah sama sekali tidak merasakan adanya rasa sakit di sana. Tubuh manusia yang sudah dimodifikasi oleh kekuatan ilahi miliknya tentu memiliki kemampuan regenerasi yang jauh lebih cepat dibandingkan dengan ukuran manusia biasa.
Dia berjalan santai melewati area ruang tunggu pasien, melewati area meja penjagaan perawat yang tampak sepi, hingga akhirnya langkah kakinya terhenti saat melewati sebuah ruangan.
Sebuah suara bentakan yang sangat keras mendadak terdengar membahana.
"KAU PIKIR AKU PEDULI DENGAN KONDISIMU?! KAU LAGI-LAGI SUDAH BERHASIL MEMPERMALUKAN NAMA BAIK KELUARGA KITA DI DEPAN UMUM!"
Lucy seketika menghentikan langkah kakinya. Suara bentakan kasar itu terdengar berasal dari arah koridor sayap bagian timur, yang merupakan area khusus untuk kamar perawatan VVIP lainnya. Dia perlahan melangkah mendekat ke arah sumber suara, karena rasa penasarannya kini mulai terusik.
Tepat di depan sebuah kamar, seorang pria paruh baya tampak sedang berdiri tegak dengan postur tubuh yang sangat berwibawa. Setelan jas formal yang dikenakannya terlihat sangat mahal, sebuah arloji mewah di pergelangan tangan kirinya tampak berkilau indah di bawah pendaran cahaya, dan garis wajahnya memancarkan ketampanan yang sangat tajam sekaligus berbahaya. Sepasang matanya terlihat sedingin es, dengan struktur rahang yang kokoh. Meskipun usia pria itu diperkirakan sudah menginjak angka empat puluh tahunan, namun penampilannya masih terlihat seperti seorang pria di usia akhir dua puluh tahunan yang selalu bersikap terlalu serius. Sama sekali tidak ada sehelai uban pun di rambut hitam pekatnya, dan tidak ada kerutan di wajahnya. Yang ada hanyalah sebuah ketampanan yang mutlak serta pancaran aura kekuasaan yang sangat pekat.
Sementara itu tepat di hadapannya, seorang gadis tampak sedang duduk terdiam di atas sebuah kursi roda. Gadis itu mengenakan gaun rumah sakit yang sama persis dengan yang dikenakan oleh Lucy saat ini. Rambut hitam panjangnya yang berkilau tampak membingkai sepasang mata almond yang indah, menampilkan sebuah visual wajah yang sebenarnya sangat cantik, namun malam ini terlihat sangat kuyu dan pucat. Sepasang matanya tampak membengkak karena terlalu lama menangis.
Gadis itu adalah Akane Minagawa.
Sosok yang memegang peran sebagai karakter antagonis wanita di dalam cerita dunia ini.
"Papa, aku hanya berniat untuk..." suara Akane terdengar sangat pelan dan bergetar hebat menahan rasa takut.
"Jangan pernah berani memanggilku dengan sebutan Papa!" Suara pria itu terdengar sangat dingin dan menusuk hingga ke tulang. "Kamu itu sama sekali bukan anak kandungku! Kamu hanyalah seorang anak yang kebetulan saja lahir dari rahim mendiang istriku! Dan sekarang kamu justru berada di tempat ini setelah lagi-lagi membuat sebuah keonaran di sekolah! Aku sama sekali tidak memiliki waktu luang untuk mengurusi masalah tidak penting seperti ini!"
"Tapi, Papa..."
"AKU SUDAH BILANG JANGAN PERNAH MEMANGGILKU DENGAN SEBUTAN PAPA!"
Akane seketika tersentak kaget mendengar bentakan yang menggelegar itu. Kedua belah bahunya tampak bergetar hebat, dan bulir air mata kembali luruh membasahi pipinya.
Pria paruh baya itu, ayahnya sendiri, hanya bisa menghela napas panjang dengan raut wajah penuh keterpaksaan sambil merapikan kembali setelan jasnya yang sedikit kusut. "Aku akan segera mengirimkan seorang sopir pribadi untuk menjemputmu besok pagi. Kamu harus segera pulang ke rumah sendirian. Jangan pernah berani untuk membuat masalah baru lagi di luar sana, atau aku bersumpah akan memastikan kamu tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melangkah keluar dari dalam rumah itu lagi sepanjang hidupmu."
Setelah menyelesaikan kalimat ancamannya, pria itu langsung membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi begitu saja. Langkah kakinya terlihat sangat tegas tanpa ada sedikit pun niat untuk menoleh ke arah belakang. Suara ketukan dari sepatu kulit mewahnya terdengar bergema di sepanjang koridor sebelum akhirnya lenyap sepenuhnya di ujung lorong.
Akane kini hanya bisa terduduk sendirian di atas kursi rodanya yang berhenti tepat di depan pintu kamar perawatan. Dia sama sekali tidak memilih untuk segera masuk ke dalam, melainkan hanya diam mematung di sana, tepat di dekat jendela besar sambil menatap lurus ke arah lantai dengan pandangan mata yang kosong. Air matanya terus menetes satu demi satu, membasahi kain gaun rumah sakit yang dikenakannya.
"Jadi perempuan itu yang merupakan sosok antagonis wanita di dunia ini?" tanya Lucy di dalam hatinya.
"Iya, benar. Dia adalah Akane Minagawa."
"Penampilannya ternyata sangat berbeda jauh dari apa yang selama ini aku bayangkan di dalam kepalaku."