"Gak usah sok baik sama gue. Ingat, lo tuh orang yang paling gue benci," sewot Niar saat berhadapan dengan bos sekaligus mantan saat SMA dulu. Takdir macam apa ini? mau resign sayang gaji dan fasilitas penunjang, bertahan juga harus menyiapkan mental bertemu dengan dia setiap hari.
"Gak usah jutek gitu. Nanti minta balikan," ledek Gesta yang memang senang sekali bisa bertemu dengan mantan pacar yang terpaksa putus, padahal masih sayang.
Akankah mereka akur dan bisa profesional? happy reading.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DOA ISTRI
"Ges!" Niar spontan saja memanggil sang mantan tanpa embel-embel Pak, kepalanya mengintip, khawatir mengganggu. Gesta menoleh ke arah pintu, tersenyum tipis.
"Masuk aja, Cay!" ucapnya. "Ada apa?" tanya Gesta menatap Niar heran. Tak biasanya dia dengan suka rela masuk ke ruangan ini tanpa ada kepengingan urgent.
"Wilona," hanya menyebut nama itu, Gesta tersenyum tipis, lalu melepas berkas yang ia pegang, dan menyandarkan punggung lebarnya di kursi. "Ikut live?" tanya Gesta, dan Niar mengangguk.
"Kamu?" Niar mau bertanya lebih, tapi sepertinya Gesta enggan untuk menjawab. Ia beranjak dari kursi dan mengajak Niar duduk di sofa, keduanya duduk berdampingan. Tiba-tiba Gesta menyandarkan kepala di pundak Niar.
"Harusnya kamu yang bersandar di aku, Cay. Tapi ternyata mantan kamu selemah ini," gumam Gesta sembari memejamkan mata. Niar hanya diam.
"Kepalaku berat banget setelah kita ngobrol di cafe malam itu, Om menyerang aku, diminta menganulir semua hukuman buat Wilona, dan rahasia papa diungkap oleh Om. Aku menolak, tapi efeknya semua orang tahu pengkhianatan keluargaku, mana mama sekarang terapi ke psikolog. Lucu ya, psikolog ternyata butuh psikolog lain," ucap Gesta penuh kegetiran.
Niar menepuk punggung tangan Gesta, seolah memberikan semangat untuk sang mantan. "Rasanya aku ingin keluar dari keluargaku, Cay!" tiba-tiba saja Gesta memiringkan badannya lalu memeluk Niar, seolah mencari kekuatan.
"Kemarin aku takut bercerita ke kamu, karena aku pikir kamu menganggapku pun punya DNA pengkhianat pasangan!" jujur Gesta sembari menghirup wangi tubuh sang mantan kekasih.
"Pasti ada, cuma kembali lagi pada pribadi masing-masing. Kamu tahu bagaimana mama kamu sakit atas pengkhianatan itu, padahal sudah berlalu, akankah kamu juga tega menyakiti pasanganmu nanti!" ungkap Niar tanpa membalas pelukan sang mantan.
"Aku gak tau, Cay. Aku bisa bertahan gak di situasi ini, tinggal menunggu dari Jaka saja kapan akan dilakukan rapat dengan atasan lain."
"Porsi kepemilikan papa kamu di perusahaan ini kan masih besar, Ges. Setidaknya kamu masih punya power untuk mempertahankan apa yang papa, kakek kamu usahakan," nasehat Niar sesuai pemahamannya dalam penentuan pemimpin perusahaan.
Gesta melepas pelukan, ia bersandar di sofa dengan memijat pangkal hidungnya, terlihat sekali banyak beban yang harus dipikirkan. "Aku hanya antisipasi serangan Om saja. Entah mengapa, feelingku mengatakan Om akan berusaha merebut semuanya. Kondisi papa yang begitu, dia merasa dialah yang lebih berhak daripada aku."
"Ya tapi gak semudah itu kali, Ges. Penentuan pemimpin perusahaan kan juga ada porsi persetujuan direksi, Om kamu bisa apa."
"Entahlah, aku tinggal melihat saja nanti sampai mana aku bisa bertahan. Kamu tahu kan, aku paling gak suka dengan orang yang ingin punya sesuatu tapi menginjak kepala orang lain, dibalas akan playing victim. Gak dibalas juga keterlaluan, dan energiku tak mau kubuang untuk meladeni orang seperti itu," ungkap Gesta, sepertinya ingin melepas jabatannya.
"Gak usah mikir macam-macam dulu, kalau memang ada indikasi pengalihan aset begini, maka dari sekarang kamu mencari side job atau bangun bisnis kamu, gunakan ilmu yang kamu punya saat kuliah di LN. Jangan sampai setelah aset lepas, kamu baru mulai!" saran Niar, padahal dia sendiri hanya bergantung menjadi karyawan.
Gesta tersenyum, "Kita diskusi pulang kantor ya, ayo kita bahas usaha kita mulai dari 0, buat modal nikah. Gimana?" tadinya wajah Gesta suntuk dan benar-benar badmood, tapi saat menyinggung rencana masa depan bersama Niar, wajahnya sumringah. Benar ya, cinta pertama bagi laki-laki itu sulit dilupakan, apalagi cinta pertamanya masih berada di lingkar hidup Gesta sendiri.
Niar tertawa, lalu menonyor pipi Gesta. "Apaan sih, modus kamu tuh terlihat banget tahu gak! Bangun usaha, ya bangun usaha aja, gak usah ada embel-embel modal nikah segala!"
"Sulit banget ya buat nerima aku lagi?" tanya Gesta kembali sendu, dan Niar mengangguk.
"Bukan karena permasalahan keluarga kamu, tapi setiap dekat kamu kayak gini, bayangan aku tersisih karena Angel muncul seketika, dan aku sering menangis karena itu dulu. Maaf jadi perempuan punya ingatan kuat itu cenderung ke dendam tak berkesudahan. Aku tak mau ambil resiko, di saat aku sudah menerima kamu, dan Angel datang. Kamu kasih perhatian lagi padanya, entah hatiku akan seperti apa. Aku tak mau itu."
"Lalu kamu berniat mencari suami selain aku?" tanya Gesta penasaran, Niar kembali tertawa.
"Ya kalau dia baik sama aku, dan aku rasa cocok sama hati aku. Kenapa tidak? Begitu pun kamu," Niar berlagak seolah mencari pengganti Gesta itu mudah. Toh sampai sekarang ia jomblo.
"Cay, ini cuma omongan kan ya, tapi aku gak rela, Cay. Setelah bertemu kamu lagi, kamu hak paten aku. Kalau perlu aku langsung menemui orang tua kamu sekarang!"
"Dih, pede amat. Dihajar Kak Rafly dulu ya minimal," ledek Niar berniat beranjak pergi.
"Ya Allah, segitunya ya?" Gesta lesu sembari memegang dadanya. Makin potek nih, hati. Perjuangannya untuk meluluhkan Niar kok semakin berat.
Lain Gesta lain juga di rumah, mama Gesta dibuat mematung saat dua orang hadir di rumah utama. Dion dan juga Wilona. Keduanya bergandengan tangan dengan wajah berseri, seolah tak ada masalah yang sedang dialami perempuan itu.
"Hai kakak ipar, ini anak sambung kamu loh," ucap Dion sembari mengenalkan Wilona. Mama Gesta ingin menangis dan berteriak, tapi ia tak mau terlihat begitu berantakan pada perempuan stress di depannya.
"Saya tidak punya anak sambung!" tegas mama Gesta sembari menuruni anak tangga, sang suami keluar dari kamar didorong oleh perawat.
Wilona tanpa sungkan langsung menghampiri papa Gesta sembari menyapa dengan riang, "Papaku!" ujarnya sumringah. Papa Gesta menatap sang istri dengan pandangan terluka, dan Dion tertawa seolah mengejek istri sang kakak.
"Mau menyangkal, suami Mbak pernah menikah dengan ibu Wilona. Bahkan pernah liburan ke mana, Bang dulu?" sindir Dion sengaja menunjukkan satu per satu pengkhianatan sang kakak.
"Ke Bali, Jogja, dan juga Yunani! Aku diajak dan aku bahagia banget, secara selama ini aku gak punya papa kaya. Makasih ya, Pa!" ini lagi Wilona semakin mempertegas.
Mama Gesta tersenyum getir, "Tidak apa-apa kalian bersenang-senang di belakangku, itu berarti kalian siap menerima konsekuensinya. Kalau gak dibayar di dunia, ya berarti ku tuntut di akhirat. Apalagi melawan istri setia," ucap beliau. Meski ingin menangis, tapi beliau menerapkan ilmu psikolognya untuk melawan pemikiran buruk. Lawan atau termakan overthinking.
"Ma...ma!" panggil papa Gesta. Hati istri mana yang rela dimadu, dan sekarang melihat sang suami hampir tak bisa apa-apa.
"Aku keluar dulu, Pa. Sudah ada yang menemani kamu, anak sambung papa yang cantik!" pamit mama Gesta daripada semakin stress di rumah ini.
Langkah beliau tegap, tak ada rasa sedih seolah keadaan ini diterima dengan lapang, tapi tahukah? Setiap langkah mama Gesta menuju mobil batinnya terus merapal Kuserahkan semuanya kepada Allah, dan aku hanya meminta hilangkan sumber penyakit hati dan pikiranku.
lanjut pasti nya..
lanjotkan kak🤭
sama2 terbuka...
jadi nya enak...bisa nyari solusi bareng..
tapi niar harus kenal dulu siapa zaldy..
Biarin aja Gesta emg demennya ma cwe bekasan yg udh berbuntut.. Biar nyaho tuh gesta dapetin cewe sekenan 🤣
Btw ga pantes thor tu cwe dikasi nama angel, hrsnya devil aja 🤭