Assalamualaikum readers ketemu lagi di novel Author lagi, semoga kalian tidak bosan membaca novel Author, Happy reading....
CINTA BISA BERTAHAN DALAM KESEDERHANAAN
TETAPI TIDAK DALAM PENGHINAAN
CINTA ITU SUCI DAN HARUS DI HORMATI
KETIKA RASA HORMAT DALAM CINTA MENGHILANG
CINTA ITU AKAN PERLAHAN PERGI.
Bastian Wirayudha pria berusia 33 tahun harus hidup seperti robot di dalam keluarga istrinya shopia Valentine Grace 30 tahun, kehidupan Bastian di istana mewah milik istrinya tak ubahnya seorang budak, ia harus mengikuti setiap perkataan ayah mertuanya yang dikenal seorang konglomerat yang memiliki kekuasaan yang besar di bidang ekonomi maupun pemerintahan.
Bastian bukanlah pria miskin, ia juga berasal dari keluarga pengusaha yang cukup mapan, tapi karena strata keluarga Bastian lebih rendah, maka Bastian seperti tidak ada harga dirinya di keluarga istrinya.
suatu hari ia bertemu gadis sederhana yang menyimpan sejuta rahasia, yang menyadarkan dia akan sebuah arti cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Mia. t, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 16
Malam setelah pertengkaran besar di ruang keluarga itu, suasana rumah keluarga Tan terasa jauh lebih dingin dari biasanya.
Brandon memang masih marah.
Namun di balik kemarahannya, ada sesuatu yang tidak ingin ia akui.
Kekhawatiran.
Karena untuk pertama kalinya, ia melihat bahwa Bastian benar-benar siap pergi.
Bukan sekadar mengancam.
Bukan sekadar memberontak.
Melainkan benar-benar siap meninggalkan rumah itu kapan saja.
Dan itu membuat Brandon sadar akan satu hal yang selama ini ia abaikan.
Perusahaan mereka masih membutuhkan Bastian.
Sangat membutuhkan.
Terutama setelah kegagalan proyek Surabaya.
Terutama setelah Arlon berkali-kali menunjukkan bahwa kemampuannya tidak sebaik yang selama ini dibanggakan.
Selama ini memang menampilkan Arlon di depan setelah proyek itu berhasil, dan menyisihkan Bastian yang bekerja keras untuk keberhasilan proyek.
Di ruang kerja pribadinya.
Brandon duduk sambil memijat pelipis.
Di hadapannya berdiri Sophia.
" Kamu harus bicara dengan suamimu."
Sophia menghela napas.
" Pa ..."
" Bujuk dia."
" Dia tidak akan mendengarkanku semudah itu."
Brandon menghela napas panjang.
Untuk pertama kalinya, pria itu terlihat lebih tua dari biasanya.
"Kalau dia pergi sekarang..."
Brandon tidak melanjutkan kalimatnya.
Namun Sophia mengerti.
Perusahaan sedang tidak dalam kondisi terbaik.
Dan ayahnya tahu itu.
" Kamu istrinya."
" Aku yakin kamu bisa membujuk dia, lakukan apa yang dia inginkan"
Shopia terdiam, ia tahu apa keinginan Bastian.
Bastian ingin sekali keluar dari rumah ini.
" Hanya kamu yang mungkin masih bisa membuatnya bertahan."
" Pa..."
" Bagaimana jika Bastian ingin mengajakku tinggal di rumah sendiri "
Brandon menatap ke arah putrinya sambil mengeryitkan dahinya.
" Maksudmu apa?"
" Beberapa hari yang lalu Bastian mengajakku untuk pindah dari rumah ini " kata Shopia dengan nada yang sedikit takut.
Brandon Tan nampak diam sejenak.
Ia mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.
" Jika ia masih mau bertahan di perusahaan, untuk sementara waktu tidak apa-apa, tapi setelah perusahaan sudah stabil, kamu harus bisa membawanya pulang kemari " kata Brandon
Malam itu.
Sophia berdiri cukup lama di depan pintu kamar.
Mencoba mengumpulkan keberanian.
Karena beberapa bulan terakhir, setiap percakapan dengan Bastian hampir selalu berakhir dengan pertengkaran.
Akhirnya ia membuka pintu.
Bastian sedang duduk di balkon kamar sambil membawa kopinya.
Mata Bastian menatap langit yang gelap, ia masih menata hatinya.
Tak lama Bastian Mendengar langkah kaki istrinya, ia menoleh ke belakang dan mengangkat pandangan.
" Bas...kita perlu bicara "
" Bicara apa lagi ?"
Sophia berjalan mendekat.
Bastian meletakkan cangkirnya.
" Bas...tolong dengarkan aku "
" Kali ini saja tolong jangan seperti ."
Tatapan wanita itu terlihat berbeda.
Tidak sekeras biasanya.
Tidak setajam biasanya.
Bastian pun memilih diam dan mendengarkan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara.
Sophia terlihat kesulitan memulai pembicaraan.
Hal yang jarang terjadi.
Biasanya ia selalu tahu apa yang ingin dikatakan.
Akhirnya Sophia menarik napas panjang.
" Tolong jangan mengambil keputusan yang gegabah, tolong pikirkan Vallen "
Bastian sedikit mengernyit.
Tentunya ia tidak menyangka akan mendengar kalimat itu.
Sepertinya Istrinya masih membela keluarganya.
" Papa melakukan itu, hanya demi kebahagian kita "
" Lihatlah, selama kita tinggal di sini, kita tidak pernah kekurangan apapun "
" Bas, perusahaan sedang tidak baik-baik "
" Tolong singkirkan sedikit egomu Bas, pikirkan juga Vallen "
Bastian terus menatap ke arah Shopia.
" Jika kamu ingin aku terus mengurus perusahaan itu, maka ikutlah denganku " kata Bastian.
" Tentang rumah sendiri."
Bastian terdiam dan mengangguk.
Sophia menunduk.
" Aku tahu selama ini kamu tidak nyaman tinggal di sini." kata Shopia.
" Sudah lama sebenarnya."
jawab Bastian tenang.
Sophia mengangguk pelan.
" Aku tahu."
Untuk sesaat suasana kembali sunyi.
Kemudian Sophia melanjutkan.
" Aku akan ikut."
Bastian menatapnya.
Ada sedikit rasa tak percaya dengan ucapan Shopia barusan.
Sophia membalas tatapan itu.
" Aku akan ikut kalau kamu ingin tinggal di rumah sendiri."
Kalimat itu membuat Bastian benar-benar terdiam.
Karena itu adalah hal yang selama ini selalu ditolak Sophia.
Namun kali ini wanita itu mengatakannya sendiri.
" Aku serius."
kata Sophia.
" Tapi..."
Ia menggigit bibir bawahnya.
" Aku butuh waktu."
" Waktu untuk apa?"
Sophia menatap keluar balkon.
" Aku tidak bisa langsung pergi begitu saja."
" Aku akan membicarakan ini pelan-pelan pada papa dan mama"
Bastian memahami maksudnya.
Keluarga Tan.
Bisnis keluarga.
Aset.
Dan seluruh kehidupan mewah yang selama ini membesarkan Sophia.
Tidak mudah bagi wanita itu meninggalkan semuanya dalam semalam.
" Aku hanya minta waktu."
ulang Sophia.
" Beri aku kesempatan untuk mengurus semuanya."
Bastian memandang istrinya cukup lama.
Mencoba mencari tahu apakah wanita itu sungguh-sungguh atau hanya sedang menjalankan perintah seseorang.
Karena setelah bertahun-tahun menikah, ia mengenal Sophia dengan cukup baik.
" Apa papa yang menyuruhmu?"
tanya Bastian tiba-tiba.
Sophia membeku.
Dan itu sudah menjadi jawaban.
Bastian tersenyum tipis.
Bukan senyum bahagia.
Melainkan senyum yang penuh pemahaman.
" Ternyata benar."
Sophia langsung menunduk.
" Bukan....kamu salah paham Bas, ini murni dari hatiku "
Bastian tersenyum tipis.
" Bastian dengarkan aku dulu."
" Bastian, kamu tahu sejak kecil aku tak pernah pergi dari rumah ini, akan butuh waktu aku untuk menyakinkan keputusanku ini "
" Shopia, aku yang mengajakku pergi dari sini, aku adalah suamimu, aku tak akan membiarkanmu dan vallen kekurangan ataupun kelaparan "
" Bastian."
" Keputusan ada di tanganmu Shopia, jika kamu tidak mau ikut aku, tidak masalah "
" Kamu dengar kata papa tadi kan, dia sudah memintaku pergi dari rumah ini "
" Bas.."
" Aku akan pergi "
Suara Bastian tetap tenang.
Namun justru ketenangan itu membuat Sophia merasa gugup dan bingung harus bagaimana untuk menyakinkan Bastian.
" Bagaimana dengan Vallen, tolong pikirkan Vallen, tunggu sebentar saja " kata Shopia.
" Shopia, tolong jangan bawa-bawa Vallen "
" Bas, Vallen sudah sejak kecil tinggal disini, dia juga akan butuh waktu untuk semua ini "
Bastian terdiam dan menatap dingin Shopia.
" Jujur lah, apa papa yang menyuruhmu untuk menahanku " kata Bastian.
Karena sedari tadi Shopia bicaranya terus berputar-putar.
Shopia menghela nafasnya.
Brandon memang tidak ingin kehilangan orang yang selama ini diam-diam menopang banyak bagian perusahaan.
Sophia menghela napas.
" Aku tidak akan bohong."
Untuk pertama kalinya, ia memilih jujur.
" Papa memang memintaku bicara denganmu."
" Tapi ini juga murni dari hatiku Bas, aku tak ingin rumah tangga kita berantakan "
Bastian tersenyum kecil.
" Tapi..."
Sophia melanjutkan cepat.
"Itu bukan satu-satunya alasan aku ada di sini."
Bastian tidak menjawab.
Sophia menatapnya.
" Aku memang butuh waktu."
" Dan aku memang belum siap meninggalkan semuanya."
" Tapi aku juga tidak ingin kehilangan pernikahan kita."
Kalimat itu membuat suasana menjadi lebih sunyi.
Karena selama beberapa bulan terakhir, hampir tidak pernah ada percakapan yang benar-benar jujur di antara mereka.
Bastian berdiri dari kursinya.
Kemudian berjalan ke pagar balkon.
Memandang lampu-lampu kota di kejauhan.
Sophia menunggu jawabannya dengan cemas.
Beberapa menit berlalu.
Akhirnya Bastian berbicara.
" Aku akan memberimu waktu."
Sophia mengangkat kepala.
" Tapi tidak selamanya."
Wanita itu mengangguk pelan.
" Aku mengerti."
" Aku sudah terlalu lama menunggu banyak hal, Sophia."
Suara Bastian terdengar lelah.
" Sekarang aku tidak ingin terus menunggu tanpa kepastian."
Sophia menunduk.
Karena ia tahu perkataan itu bukan hanya tentang rumah baru.
Tetapi tentang pernikahan mereka.
Tentang semua luka yang selama ini diabaikan.
Tentang semua kesempatan yang pernah disia-siakan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Sophia menyadari bahwa jika ia tidak benar-benar berubah, mungkin suatu hari nanti Bastian tidak hanya meninggalkan rumah keluarga Tan.
Tetapi juga meninggalkan dirinya.
Shopia harus bisa membuat Bastian bertahan di sisinya.
#####
🥰🥰
Terima kasih Upnya Kak Mia..
apa yang sebenarnya Zayn pikirkan dengan situasi seperti yang di alami Ghina serta tujuan intinya terhadap Bastian maupun keluarga Tan..
soga semua akan terungkap dengan berjalannya waktu dn Bastian bebas dari belenggu keluarga Tan lebih dari istri laknatnya..😡😡😡
cepat up lg ya thor biar g darting kbnyakan pikiran
dengan nempunyai istri jalang, mertua dan klrga istri yg Diktator. merasa plg hrbat, padahal yg bekerja mati2 an Bastian. mwreka hanya ti ggal mengambil hasil pemikirn dan kerja keras ny 😔😔😔
Seru banget ngikutin kisah keluarga Dio Cs - Kendaru Cs. & Narendra Cs.
pokoknya Baper abiiisss... 👍🏻👍👍🏻💙💛💙😘😘😘