"Dulu aku adalah bayangan yang kau injak, kini aku adalah cahaya yang akan membutakan matamu."
Selama lima tahun, Aruna percaya bahwa cinta dan pengabdian adalah kunci kebahagiaan pernikahan. Namun, ia salah. Di rumah megah keluarga Adrian, Aruna tak lebih dari pelayan tak berbayar yang dihina oleh mertuanya dan dianggap "sampah" oleh suaminya sendiri. Puncaknya, Adrian menceraikannya dengan fitnah keji, mengusirnya di tengah hujan badai tanpa sepeser pun uang, demi wanita lain yang dianggap lebih "berkelas".
Aruna hancur, namun ia tidak mati.
Aruna berjanji akan bangkit, Walau tanpa Adrian sekalipun.
Bagaimana Aruna, membalas sakit hatinya pada Adrian dan Mertuanya..!!
baca novel ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11: Secangkir Teh Hangat dan Ego yang Buta
Suasana ruang makan kediaman Adiwangsa pagi itu terasa begitu mencekam, diselimuti oleh kabut kecurigaan dan kepalsuan yang tebal. Sinar matahari yang menerobos masuk melalui jendela kaca besar seolah tidak mampu menghangatkan interaksi di antara tiga manusia yang duduk mengelilingi meja marmer tersebut.
Aruna duduk dengan tenang di kursi makan utama, tempat yang selama empat tahun ini diharamkan baginya oleh sang ibu mertua. Di hadapannya, tersaji berbagai menu sarapan mewah yang baru saja selesai diantarkan oleh pelayan rumah. Adrian duduk di sisi kanannya dengan tubuh tegang, sementara Nyonya Adiwangsa duduk di seberangnya, menatap Aruna dengan pandangan mata yang dipenuhi kebencian terpendam, namun tertahan oleh rasa takut yang mencekam.
Aruna meletakkan sendoknya perlahan, lalu menoleh ke arah Adrian. Ia memasang raut wajah yang tampak sangat lesu, pucat, dan lelah—sebuah manipulasi ekspresi yang sempurna untuk memancing rasa bersalah sekaligus ketakutan suaminya.
"Mas, aku lapar ingin makan yang banyak... Badanku rasanya sangat lemah setelah beberapa lama berada di kondisi seperti ini di rumah ini," ucap Aruna, suaranya parau dan terdengar begitu melankolis, mengayunkan ingatan pada penderitaan fisik yang ia terima beberapa hari lalu.
Adrian yang mendengarnya langsung tersentak. Bayangan tentang ponsel pintar hitam dari Pak Bambang yang berada di saku daster Aruna seketika melintas di benaknya. Ia sangat takut jika kelemahan fisik Aruna memicu wanita itu untuk menekan tombol darurat Komnas HAM. Dengan gerakan yang terburu-buru dan terkesan sangat protektif, Adrian langsung mengiyakan.
"Baik... baik, Sayang. Ayo kita makan yang banyak. Ini, biar aku ambilkan lauknya untukmu," ujar Adrian dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin, menuntun tangan Aruna dan menyendokkan nasi serta lauk ke piring istrinya dengan sangat mesra.
Nyonya Adiwangsa yang melihat pemandangan itu hanya bisa mendengus pelan, menahan kekesalan yang hampir meledak di dadanya.
Namun, kejutan dari Aruna belum berakhir. Dengan gerakan yang sangat anggun, Aruna mengalihkan pandangannya tegak lurus ke arah ibu mertuanya. "Bu, maaf... tenggorokanku rasanya sangat kering. Aku ingin minum teh manis hangat. Tolong Ibu buatkan di dapur sekarang, ya?"
Mendengar perintah yang keluar dari mulut menantu yang selama ini dianggapnya seperti budak, darah Nyonya Adiwangsa seketika mendidih. Wajah tuanya memerah padam. Ia menggebrak meja makan dengan pelan. "Ih! Kamu ini ya, Aruna—!"
"Sudahlah, Bu!" potong Adrian dengan cepat, suaranya meninggi demi memotong kalimat ibunya sebelum melebar menjadi bencana.
Adrian melotot tajam, memberikan kode mata yang sangat tegas kepada ibunya agar mengingat ancaman penjemputan paksa oleh polisi jika Aruna merasa terintimidasi. "Ibu duduk saja. Biar sama aku saja, Sayang. Aku yang akan ke dapur membuatkan teh hangat untukmu," lanjut Adrian, mengubah kembali suaranya menjadi manis saat menatap Aruna.
Aruna hanya diam, membiarkan Adrian berdiri dari kursinya. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sebuah rasa perih yang melankolis mendadak berdenyut menyakitkan.
Mas... seandainya saja kamu memperlakukanku seperti ini sejak dulu, dengan rasa cinta yang tulus, betapa bahagianya aku sebagai istrimu, batin Aruna, menatap punggung Adrian yang berjalan menjauh. Namun semuanya sudah terlambat. Langkah manismu hari ini bukan karena cinta, bukan karena penyesalan. Kamu hanya takut. Kamu hanya bersujud pada hukum dan nama baikmu.
Di dapur belakang, suasana tidak kalah panas. Adrian sedang mengaduk gula di dalam cangkir dengan gerakan yang kasar, meluapkan rasa frustrasinya yang terpendam. Langkah kaki yang tergesa-gesa terdengar mendekat. Nyonya Adiwangsa menyusul putranya dengan wajah yang ditekuk penuh amarah.
"Adrian! Ibu sudah tidak tahan lagi!" bisik Nyonya Adiwangsa dengan suara tertahan, napasnya memburu di samping telinga putranya. "Lebih baik kamu cepat ceraikan saja perempuan dekil itu! Ibu tidak sudi, tidak akan pernah sudi diperlakukan seperti pembantu oleh dia di rumah ini! Harga diri Ibu jatuh, Adrian!"
"Gak semudah itu, Bu!" balas Adrian dengan bisikan yang tidak kalah tajam, matanya melirik ke arah pintu dapur, takut suaranya terdengar sampai ke ruang makan. "Aruna ternyata tidak sebodoh yang kita kira selama ini! Dia memegang kartu as kita dengan adanya Komnas HAM di belakangnya. Kalau sampai petugas tolol bernama Bambang itu tahu kita masih menekannya di rumah ini, habis kita semua, Bu! Bisnis kita bisa hancur!"
Nyonya Adiwangsa mendengus kasar, memalingkan wajahnya dengan kesal. "Kamu bujuk dia baik-baik untuk cepat-cepat menyetujui perceraian itu! Yang penting sekarang seluruh aset dan perusahaan almarhum ayahnya sudah jatuh ke tangan kita, kan? Kita sudah tidak butuh wanita mandul itu lagi di hidup kita!"
Mendengar kata "perusahaan", Adrian terdiam seketika. Gerakan tangannya yang sedang mengaduk teh terhenti. Di dalam hatinya, sebuah rahasia besar bergejolak yang tidak berani ia sampaikan kepada ibunya.
Ibu tidak tahu kalau perusahaan Adiwangsa Logistik ini sudah kujanjikan akan kuberikan sebagai mas kawin resmi kepada Valerie nanti. Jangan sampai Ibu tahu soal ini dulu, bisa kacau semuanya, batin Adrian penuh dilema dan perhitungan manipulatif.
Nyonya Adiwangsa yang melihat putranya mendadak melamun langsung menepuk bahu Adrian dengan keras. "Kenapa kamu diam, Adrian? Jangan-jangan kamu mulai goyah dan masih mencintai perempuan mandul itu?!"
Hasutan demi hasutan kembali diembuskan oleh wanita tua itu dengan nada provokatif. "Adrian... Ibu ini sudah tua. Ibu ingin sekali menimang cucu, penerus darah Adiwangsa! Valerie itu jauh lebih baik daripada si Aruna! Valerie wanita karier yang pintar, dia bisa membantumu membesarkan perusahaan di luar sana. Sedangkan Aruna? Apa gunanya dia selama lima tahun ini selain hanya bisa memegang kemoceng dan mengepel lantai?!"
Adrian menghela napas panjang, mencoba menenangkan ibunya. "Nggak, Bu... Adrian tidak pernah mencintainya lagi. Baik, saya akan coba mengobrol baik-baik dengannya di meja makan sekarang untuk menyelesaikan ini."
Adrian kembali ke ruang makan dengan membawa nampan berisi secangkir teh manis hangat yang masih mengepulkan asap. Ia meletakkannya di samping piring Aruna dengan senyuman yang dipaksakan.
"Ini, Sayang... teh hangatnya sudah siap," ucap Adrian lembut.
"Terima kasih, Mas," jawab Aruna tenang. Ia memegang cangkir tersebut, merasakan kehangatannya, lalu mengangkat pandangannya untuk menatap langsung ke dalam manik mata Adrian yang tampak gelisah. "Kenapa lama sekali di dapur, Mas? Apa yang sedang Mas bicarakan dengan Ibu di belakang tadi? Sepertinya serius sekali."
Adrian seketika gelagapan. Ia berdehem beberapa kali, mencoba menutupi kegugupannya yang tertangkap basah. "Ti... Tidak ada apa-apa, Sayang. Kami hanya membicarakan urusan rumah biasa," jawab Adrian bohong.
Ia menarik kursinya, duduk kembali di dekat Aruna, lalu memasang wajah yang penuh dengan raut manipulatif—seolah ia adalah seorang suami yang sedang mengorbankan perasaannya demi kebaikan bersama. "Oh ya... tadi Ibu sempat menyinggung lagi tentang harapannya. Ibu... sangat ingin menimang seorang cucu di usianya yang sudah semakin tua ini, Aruna."
Aruna meletakkan kembali cangkir tehnya tanpa meminumnya. Ia menatap Adrian dengan pandangan datar yang menembus langsung ke dalam kepalsuan pria itu. "Lalu...?" susul Aruna pendek.
Adrian menarik napas dalam-dalam, mempersiapkan untaian kata-kata manipulatif yang sudah ia susun di kepalanya. "Begini, Sayang... Sebelumnya aku ingin minta maaf yang sebesar-besarnya kepadamu. Sebenarnya... aku bukan tidak mencintaimu lagi selama ini. Tapi tekanan dari Ibu yang terus-menerus menuntut cucu, ditambah beban pekerjaan di perusahaan, membuatku sangat stres menghadapi kenyataan ini."
Adrian menunduk, berpura-pura sedih sebelum kembali menatap Aruna dengan tatapan menuduh yang dibungkus keprihatinan palsu. "Belum lagi... selama pernikahan kita, kamu kerjanya hanya bisa mengepel, beres-beres rumah, dan bertingkah seperti pelayan. Kamu tidak pernah tahu betapa stresnya aku di luar sana berjuang sendirian demi menghidupi rumah ini tanpa ada dukungan karier dari seorang istri."
Aruna tersenyum tipis, sebuah senyuman kelam yang sangat dingin. "Oh... jadi sekarang Mas sedang menyalahkan aku atas semua kegagalan ini?"
"Bukan... bukan begitu maksudku, Aruna!" sergah Adrian cepat, panik melihat respons dingin istrinya. "Maksudku adalah... karena Ibu sangat ingin punya cucu, sementara secara medis... kamu mandul... daripada kamu terus-menerus tersiksa batin menetap di rumah ini menerima tekanan Ibu, dan aku juga bertambah stres... bagaimana kalau kita berpisah secara baik-baik saja? Aku berjanji akan membagikan harta gono-gini secara adil untukmu. Biarkan aku menikah lagi untuk memenuhi keinginan Ibu."
"Menikah lagi... sama Valerie?" tanya Aruna, menyebut nama wanita itu tanpa ada riak cemburu sedikit pun di matanya.
Adrian mengangguk, merasa di atas angin karena mengira diskusinya berjalan mulus. "Ya... sama siapa lagi? Kamu kan tahu sendiri bagaimana kedekatanku dengannya selama ini. Apalagi, perusahaan saat ini sangat membutuhkannya untuk urusan ekspansi bisnis, sementara kamu... kamu kan hanya menikmati hasilnya saja selama ini di rumah."
Mendengar kalimat terakhir Adrian yang begitu sombong dan melupakan sejarah, Aruna menarik napas panjang. Rasa melankolisnya kini telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh kepastian hukum yang mutlak dalam beberapa hari ke depan.
"Baiklah kalau memang itu yang Mas inginkan dari pernikahan lima tahun kita ini," jawab Aruna dengan nada suara yang teramat tenang, membuat bulu kuduk Adrian mendadak meremang tanpa alasan yang jelas. "Mas... jangan pernah menyesali keputusan ini di kemudian hari."
Kening Adrian berkerut, ego besarnya merasa terusik oleh kalimat peringatan dari Aruna. "Maksudmu apa, Aruna? Justru kebalikannya, aku yang takut kamu yang akan menyesal setelah kita bercerai nanti. Kamu tidak punya keahlian apa-apa, tidak punya keluarga lagi. Setelah keluar dari rumah ini, siapa yang akan memberimu makan?"
Aruna berdiri dari kursi makannya, menatap Adrian dari ketinggian dengan tatapan mata yang sangat tajam dan sarat akan intrik yang mengerikan.
"Itu nanti akan menjadi urusanku sendiri, Mas," ucap Aruna dengan penekanan yang dingin. Ia melangkah satu tindakan mendekati Adrian, lalu berbisik, "Mas... apa Mas sudah membaca dengan benar-benar teliti hasil pemeriksaan dokter dulu? Dan apa Mas tahu... siapa sebenarnya yang paling berjasa atas berdirinya seluruh aset di PT Adiwangsa Logistik yang Mas banggakan itu?"
Wajah Adrian seketika memerah, tersinggung oleh pertanyaan Aruna yang meremehkan kecerdasannya. "Jelas saya ini bukan orang bodoh, Aruna! Aku tahu persis seluruh seluk-beluk perusahaanku sendiri!" jawab Adrian dengan nada angkuh yang kembali muncul.
"Oke... kalau begitu," Aruna melangkah mundur, kembali memasang wajah pasrahnya yang menipu. "Tinggal beberapa hari lagi sebelum sidang putusan kita diketok palu. Boleh kan... aku menikmati suasana dan sisa hari terakhirku di rumah mewah ini dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapa pun?"
Adrian menghela napas lega, senyum kemenangannya kembali mengembang di wajahnya yang kecut. "Tentu saja boleh. Kamu memang istri yang pengertian, Aruna. Maaf... kalau selama ini Mas banyak mengecewakanmu."
Aruna menatap suaminya untuk terakhir kali sebelum berbalik. "Selalu, Mas. Kamu selalu mengecewakanku," jawab Aruna datar.
Kalimat pendek Aruna sukses membuat muka Adrian kembali kecut dan tidak suka, merasa egonya tergores oleh ketenangan istrinya yang tidak biasa. Namun, ia mengabaikan firasat buruk tersebut, mengira itu hanyalah pembelaan diri terakhir dari seorang wanita yang kalah.
Aruna membalikkan tubuhnya dan melangkah dengan anggun menuju kamar tidur utama di lantai dua. Begitu pintu kamar tertutup rapat dan ia menguncinya dari dalam, Aruna langsung merogoh ponsel hitam canggih pemberian Komnas HAM dari sakunya. Ia mendial sebuah nomor cepat yang langsung terhubung ke ruang kerja pribadi Paman Aldo.
"Paman," bisik Aruna, matanya berkilat penuh rencana besar di balik kegelapan kamar. "Umpan sudah dimakan sepenuhnya oleh Adrian. Dia baru saja mengonfirmasi bahwa dia akan menceraikanku demi Valerie dan demi mengalihkan saham perusahaan sebagai mahar pernikahan mereka. Siapkan tim hukum dan notaris kita sekarang. Dalam beberapa hari lagi, saat mereka mengira telah memenangkan segalanya... kita akan jatuhkan bom waktu finansial dan medis itu tepat di atas kepala mereka."
Rencana berikutnya telah terpasang dengan sempurna, dan di dalam kamar utama itu, Aruna mulai menghitung mundur hari-hari terakhir kejayaan semu keluarga Adiwangsa.