NovelToon NovelToon
BANGRING : Siampa Puncak Harau

BANGRING : Siampa Puncak Harau

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:129
Nilai: 5
Nama Author: Zamo

Bagaimana jadinya jika Ninja Elit hidup di bawah kekuasaan Singasari.

Hattori, Di eksekusi oleh Klan nya sendiri karena tahu terlalu banyak informasi. Jiwanya terbangun di tubuh Sena, pemuda 15 tahun yang tewas pada detik yang sama dengannya di Lembah Harau, pada masa Ekspedisi Pamalayu di Sumatera.

Awalnya Hattori hanya ingin membalaskan dendam sederhana Sena, membunuh Purwa dan Jeliteng. setelah itu ia ingin hidup damai dan membagun keluarga, tapi takdir malah menyeretnya dalam konflik lebih besar.

Ia jadi buronan Singasari dan juga jadi incaran para gerilyawan Sumatera, Pasukan Harimau yang tengah berjuang mengusir Singasari dari tanah Sumatera.

Hingga sebuah penghianatan memaksanya ke tanah Jawa, di jantung Singasari. Mencabut akar semua masalah...meruntuhkan ke
Singasari.

Ini memang bukan kisah Gajah Mada.
Tapi ini kisah dari mana sang legenda berasal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zamo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akhir Sang Bayangan (Origin Story Hattori Zen—End of Flashback)

Hattori Zen menatap gulungan itu dengan tatapan kosong. Kebenaran di dalamnya seharusnya menghancurkan jiwanya, namun sebagai seorang Jonin Iga, emosi adalah kemewahan yang sudah lama ia buang.

Ia bukan kesatria yang mencari kebenaran; ia adalah bayangan yang menghalalkan segala cara.

​Meskipun ia tahu surat ini akan membakar tanah airnya, meskipun ia tahu Ren dan lainnya mati demi sebuah pengkhianatan, Hattori tetap menggenggam gulungan itu erat.

Ia tidak membakarnya. Ia tidak merobeknya.

​Dengan langkah gontai dan tubuh yang bersimbah darah dari darahnya sendiri dan darah Yasuhira. Hattori melangkah keluar dari reruntuhan pagoda.

Setiap langkahnya meninggalkan jejak merah yang kental di atas lantai kayu. Pandangannya mengabur, namun fokusnya tetap satu: titik pertemuan.

​Ia mengabaikan rasa mual di perutnya. Ia mengabaikan teriakan nuraninya. Sebagai Shinobi, tugasnya bukan untuk menghakimi isi surat, tapi untuk memastikan surat itu sampai ke tujuannya.

Inilah kutukan seorang Shinobi; menjadi bidak yang paling setia di papan catur yang paling busuk sekalipun. Sebuah loyalitas buta bagi budak yang telah menyerahkan nyawa dan kehendaknya.

​"Misi... harus selesai," bisiknya, lebih kepada dirinya sendiri untuk menjaga kesadaran yang mulai menipis.

​Ia menatap tubuh Kaede sudah duduk tersender di pagar benteng dengan tiga anak panah tertancap di tubuhnya, tak jauh darinya Inao dan Sato sudah terbujur kaku penuh luka, disekitarnya puluhan prajurit Kamakura tergeletak dimana-mana.

Hattori berjalan dengan pandangan kosong, hawa dingin menusuk hingga ke tulangnya, tak berapa lama ia melihat Ryu yang masih bersiaga dengan busurnya, menemani tubuh sahabatnya, Kaito yang sudah tak bernyawa.

Ryu menunduk hormat melihat Hattori yang berjalan tanpa semangat, “Hattori Senpai”

“Misi berhasil, kita pulang” Balas Hattori datar.

Mereka berdua berjalan di tengah salju yang kini turun semakin lebat, hingga di balik bukit, Kenji—si penjual Sake sudah menunggu mereka dengan gerobaknya.

Tak ada sapaan, tak ada percakapan dalam perjalanan ke Iga. Hanya deru angin dengan salju yang saling berbincang; seolah Hattori, Ryu dan Kenji hanya pendengar setia.

Mereka tidak dibawa ke Desa Iga, mereka dibawa ke gunung Iga, tempat dimana para Shinobi Iga di tempa.

Salju turun semakin lebat, membungkus Gunung Iga dalam kain kafan putih yang dingin.

Entah mengapa, hari ini salju di gunung Iga terasa lebih dingin dari biasanya.

Di atas tanah yang membeku, Hattori Zen dan Ryu berlutut. Tubuh mereka penuh luka, napas mereka mengeluarkan uap putih yang berat, namun tugas telah tertunaikan.

​Hattori mengangkat kedua tangannya yang gemetar, menyerahkan gulungan merah Daimyo Daichi.

Sandaime Kirikage menerima surat itu melalui perantara orang kepercayaan nya, wajahnya sedingin es di sekeliling mereka, sepuluh Shinobi berdiri di samping kanan kiri Sandaime.

Tidak ada ucapan selamat. Tidak ada penghormatan bagi Obake yang telah gugur.

​CLANG—!

​Insting yang telah ditempa ribuan pertempuran membuat Hattori bergerak lebih cepat dari pikirannya. Ia menangkis serangan tiba-tiba itu dengan Ninjato-nya, berguling di atas salju yang kini ternoda merah pekat.

​Hattori menoleh ke samping.

Jantungnya seolah berhenti berdetak. Ryu, rekan terakhirnya, sudah tertelungkup. Mata Ryu membelalak menatap salju, seolah sedang bertanya pada langit: Kenapa aku dibunuh oleh klan ku sendiri?

​"Aku bisa menjamin Kaoru dan anakmu hidup dengan bangga, Hattori. Karena pemimpin keluarga mereka gugur sebagai pahlawan di misi terakhirnya," ucap Sandaime Kirikage dengan nada datar, seolah sedang membicarakan cuaca.

"Jika kau melawan, nama keluargamu akan dicap sebagai pengkhianat desa."

​Tubuh Hattori bergetar hebat. Amarah dan rasa dingin beradu di dalam dadanya. Ia menatap Ninjato-nya—pedang pendek hadiah dari mendiang gurunya. Pedang yang telah meminum darah ribuan musuh demi melindungi klan, kini tertancap dalam di tumpukan salju.

​Hattori teringat kalung warisan Keluarga Zen yang hilang di misi pertamanya.

Liontin batu hitam dengan retakan petir biru itu seharusnya melingkar di leher anaknya kelak. Namun sekarang, bahkan wajah istrinya pun mulai memudar dalam pandangannya yang mengabur.

​Hattori tersenyum pahit. Sebuah senyum yang penuh dengan racun penyesalan. Ia mendongak, membiarkan butiran salju jatuh di wajahnya yang bersimbah darah.

​"Pada akhirnya, Aku... tetap hanyalah... alat..."

​ZING—!

​Kilatan perak memotong udara fajar. Hattori tidak sempat menyelesaikan kalimatnya. Rasa asin dan dingin yang pekat memenuhi tenggorokannya. Darah menyembur seperti air bah, merampas suaranya. Tebasan itu begitu sempurna—cepat, dingin, dan tanpa belas kasihan.

​Dunia seolah terbalik saat tubuhnya luruh ke bumi yang membeku. Kalimat terakhir yang ia dengar sebelum kesadarannya padam sepenuhnya adalah bisikan kejam: ​"Ini karena kau tahu terlalu banyak...Hattori"

​Pandangannya memudar. Kegelapan merangkak masuk dari segala penjuru, menelan rasa sakit, menelan amarah, hingga hanya tersisa kekosongan yang abadi.

Hattori Zen telah mati di tanah kelahirannya sendiri. Hanya bayangan istrinya, Kaoru, di benak terkahirnya hingga semua jadi gelap gulita.

Didalam kegelapan, suara rintik hujan mengusik ketenangannya, ia perlahan membuka mata, sebuah bilik kayu dengan atap ijuk, aroma herbal menyeruak menusuk hidungnya.

Ghhk...

Ia terbatuk. Rasa asin dan dingin yang pekat memenuhi tenggorokannya. Darah segar kembali memaksa keluar dari mulutnya.

Ia terbangun dan duduk, merapa tubuhnya, ia menggenggam erat kalung yang tergantung di lehernya. “Kaoru” Bisiknya lirih.

Puti Kirai yang baru masuk bilik mematung. Air dalam baskom yang ia bawa sedikit tertumpah. Kaoru? Batinnya. Kata itu terdengar seperti sebuah doa sekaligus luka.

Ada rasa lega melihat Sena sadar, namun ada nyeri yang tak ia pahami saat mendengar Sena mengucap kata itu. Entah mengapa Puti Kirai merasa, kata itu seperti nama seseorang, jika ya, siapa Kaoru?

1
anggita
👍2iklan☝☝
anggita
Hattori.. kya nama film kartun jadul ninja Hattori🙏 🤭
Zamo: Iya 😅, soalnya yang kepikiran kenangan masa kecil
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!