Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
"Jika Anda tahu dokumen itu akan merusak reputasi Anda, mengapa Anda justru mengakuinya di depan saya sekarang? Anda tahu saya tidak bisa disuap untuk menghapus berita, bukan?".
"Kami ke sini tidak untuk menyuap Anda, Pak Anwar," kini Kirana yang mengambil alih pembicaraan. Dia memajukan tubuhnya sedikit, menatap Anwar dengan pandangan yang tegas dan profesional. "Kami ke sini untuk memberikan Anda kebenaran yang utuh. Dokumen yang akan Anda terima pukul tujuh nanti adalah potongan teka-teki yang sengaja disebarkan oleh Pak Baskoro untuk mengalihkan perhatian publik dari kejahatan korporasi yang sesungguhnya".
Kirana kemudian membuka tabletnya, mengalirkan data demi data ke hadapan Anwar Husada. Dia membeberkan bukti-bukti keterlibatan Pak Baskoro dalam kasus pencucian uang, konspirasi sabotase proyek superblok, hingga rekaman audio pemerasan yang dilakukan oleh Hendrawan Hartono yang dengan jelas menyebutkan nama Baskoro sebagai dalang utamanya.
"Kontrak pertunangan itu," lanjut Kirana dengan suara yang stabil, meskipun dia harus menyebutkan bagian paling personal dari hidupnya. "Awalnya memang sebuah kesepakatan profesional untuk melindungi stabilitas internal perusahaan dari rongrongan faksi Pak Baskoro yang mencoba memanfaatkan latar belakang keluarga saya. Pak Baskoro menggeledah ruangan Pak Radit secara ilegal untuk menemukan draf itu, lalu menggunakannya sebagai senjata terakhir setelah dia tahu posisinya terdesak oleh pihak kepolisian".
Anwar Husada mendengarkan dengan saksama, sesekali matanya membaca transkrip rekaman suara Hendrawan yang tertera di layar tablet Kirana. Sebagai jurnalis senior, dia bisa membedakan antara kepanikan orang yang mencoba menutupi kesalahan dengan ketegasan orang yang sedang menyajikan fakta strategis.
"Jadi," Anwar menyandarkan punggungnya di kursi jati, mengetuk-ngetukan pulpennya di meja. "Baskoro mencoba menggunakan agensi saya sebagai alat balas dendam pribadinya setelah dia kalah dalam perang perebutan kekuasaan di Baskara Group?".
"Tepat sekali," sahut Radit. "Jika Anda menayangkan berita itu hanya berdasarkan email anonim pukul tujuh nanti, Anda hanya akan menyajikan sebuah gosip pernikahan korporat yang murahan. Tapi jika Anda menggabungkannya dengan seluruh bukti kejahatan finansial, pemerasan, dan penangkapan Baskoro yang ada di dalam flashdisk ini... Fakta Nusantara akan menjadi media pertama yang menayangkan investigasi eksklusif terlengkap tentang kejatuhan salah satu oligarki korup terbesar tahun ini".
Ruangan itu kembali sunyi. Jarum jam di dinding kantor redaksi terus berdetak, menunjukkan pukul enam sore. Tinggal satu jam lagi menuju waktu ledakan bom digital Pak Baskoro.
Anwar Husada menatap flashdisk di mejanya lama, menimbang-nimbang nilai jurnalisme dari dua pilihan di depannya. Hingga akhirnya, sebuah senyuman tipis muncul di wajahnya yang penuh kerutan. Dia mengambil flashdisk itu dan memasukkannya ke dalam saku kemejanya.
"Anda berdua adalah kombinasi yang sangat berbahaya di dunia bisnis," kata Anwar dengan nada kagum yang tulus. "Baiklah, Pak Raditya, Nona Kirana. Saya terima eksklusivitas ini. Begitu email dari Baskoro masuk ke sistem kami pukul tujuh malam nanti, tim saya tidak akan menjadikannya sebagai berita utama mandiri. Dokumen itu akan kami masukkan sebagai lampiran bukti dari artikel investigasi besar tentang skandal korupsi dan sabotase Baskoro".
Anwar bangkit berdiri, mengulurkan tangannya kepada Radit.
"Terima kasih telah membawakan kebenaran ini langsung ke meja saya sebelum musuh Anda sempat memanipulasinya".
Radit menjabat tangan jurnalis senior itu dengan mantap.
"Terima kasih atas integritas Anda, Pak Anwar".
___
Pukul tujuh malam lebih lima belas menit. Hujan deras mengguyur kota Jakarta saat SUV hitam Radit bergerak meninggalkan kawasan Cikini. Di dalam mobil, layar ponsel Kirana yang memantau situs utama Fakta Nusantara tiba-tiba memuat ulang 'refresh' secara otomatis. Sebuah artikel utama dengan judul besar bermodal huruf tebal langsung muncul di halaman depan.
*EKSKLUSIF: Kejatuhan Komisaris Senior Baskara Group dalam Pusaran Korupsi, Pemerasan, dan Sabotase Korporasi*.
Kirana membaca cepat isi artikel tersebut. Nama Pak Baskoro dan Hendrawan Hartono terpampang jelas sebagai tersangka utama, sementara detail mengenai draf kontrak pertunangan mereka ditulis secara naratif sebagai 'langkah taktis pihak manajemen direksi untuk melindungi integritas perusahaan dari ancaman internal'. Tidak ada narasi skandal murahan, yang ada justru pujian terselubung atas kecerdikan Radit dan Kirana dalam menghadapi serangan faksi korup.
Kirana menghela napas lega yang teramat panjang, menyandarkan punggungnya di kursi penumpang yang empuk. Ketegangan yang mengikat tubuhnya selama lima jam terakhir akhirnya runtuh sepenuhnya.
"Kita berhasil, Radit" ucap Kirana, matanya menatap rintik hujan di kaca jendela dengan perasaan damai yang sudah lama tidak dia rasakan.
Radit melirik Kirana dari balik kemudi, senyumannya terasa begitu hangat di tengah dinginnya malam yang diguyur hujan. Dia mengulurkan tangan kirinya, perlahan meletakkannya di atas punggung tangan Kirana yang berada di atas paha wanita itu, memberikan remasan lembut yang penuh arti.
"Bukan kita berhasil, Kirana," ujar Radit lembut, suaranya terdengar begitu tulus tanpa ada kepura-puraan korporat sedikit pun. "Tapi kamu yang berhasil menyelamatkan kita. Sekarang, berhubung jam formal sudah lewat jauh dan bom waktunya sudah jinak... bagaimana kalau kita rayakan kemenangan ini dengan makan malam yang sesungguhnya?".
Kirana tidak menarik tangannya dari genggaman Radit, dia justru membalikkan telapak tangannya untum membalas genggaman pria itu dengan kehangatan yang sama.
"Selama makan malamnya tidak melibatkan dokumen revisi anggaran, saya ikut Anda, Pak Radit".
"Baiklah" balas Radit.
Beberapa menit kemudian Kirana mengernyitkan dahi saat mobil bergerak menyusuri jalan masuk beraspal yang dikelilingi taman bergaya Eropa. Di ujung jalan tersebut, berdiri sebuah rumah bergaya modern tropis berlantai dua dengan dinding kaca besar yang memancarkan cahaya lampu kuning hangat dari dalam.
"Ini... bukan restoran," ujar Kirana, menoleh ke arah Radit dengan tatapan penuh tanya.
"Ini rumah pribadiku," jawab Radit santai seraya mematikan mesin mobil. "Bukan rumah utama tempat Ibu tinggal yang biasa kamu kunjungi untuk urusan keluarga. Ini tempat yang kubeli dengan uang bonus pertamaku sebagai Direktur Operasional tiga tahun lalu. Tidak ada staf kantor yang tahu tempat ini, bahkan Tika sekalipun".
Kirana terpaku di kursinya sejenak. Masuk ke dalam ranah pribadi seorang Raditya Baskara di luar urusan pekerjaan terasa seperti melangkah ke wilayah tak dipetakan yang berbahaya bagi kestabilan hatinya. Namun, sebelum dia sempat memikirkan alasan untuk menolak, Radit sudah turun dari mobil dan memutari kap mesin sambil membawa sebuah payung besar berwarna hitam.
Radit membuka pintu penumpang di sisi Kirana, mengulurkan tangannya dengan sikap ksatria yang sempurna di bawah guyuran hujan. Sikap gentleman yang jarang sekali dilihat orang lain.
"Turunlah. Udara di luar semakin dingin, dan aku tidak mau sekretaris utamaku jatuh sakit besok pagi karena keras kepala tidak mau menerima perlindungan".