"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba menolong
"Semoga Kalingga mau minum susu formula" ucap Kaelan tanpa dia ketahui Maryani sedang mengawasi mereka sejak mereka masuk ke kampung cadas.
"Kang... Kenapa akang tidak bisa melihatku?"
"Kang ini aku Maryani kang, aku di sini"
"Kenapa?" tanya Karna
"Tidak yah, hanya merasa kalau ada seseorang yang memanggil Kaelan" jawab Kaelan.
"Istighfar, mungkin itu adalah ulah Narno" ucap Karna dan Kaelan mengangguk.
Mereka bersiap shalat, mereka tidak shalat berjamaah karena bergantian menjaga Kalingga, Saidah bahkan sudah memandikan dan mengganti pakaian juga bedong Kalingga yang terdapat bercak darah. Untungnya pakaian bayi yang mereka siapkan belum di berikan pada orang lain, jadi pakaian itu masih bisa di gunakan Kalingga.
Saidah sempat terkejut karena melihat ada tiga sisik ular di pusar Kalingga saat dia memandikan cucunya itu, tapi dia tidak membuang itu karena dia yakin sisik ular itu adalah sisik yang di maksud Kaelan saat menjelaskan apa yang terjadi pada Kalingga.
"Cucu nenek, kamu begitu mirip ayahmu, nanti kita do'akan ibu kamu di makam kalau kamu sudah besar ya" ucap Saidah membuat Kalingga tersenyum, tapi bukan tersenyum ke arah Saidah, melainkan ke arah Maryani yang berdiri di belakang Saidah.
"Anakku...." bisik Maryani lalu menghilang dari sana.
°°°°°°°°°°°°
Di rumah Narno.
"Pak, kata si Juned Kaelan kembali ke kampung ini lagi dengan membawa bayi Kunti itu, orang orang melempar dia dengan batu tapi batu batu itu malah terpental dan kembali ke arah orang orang yang melempar pak" ungkap Beno
"Memang seperti itulah anak Kunti, dia akan di lindungi ibunya, tapi biasanya tidak akan sampai bisa menyerang balik orang, pasti ada yang lain yang melindungi bayi itu" jawab Narno yang sedang membersihkan batu cincin hitam miliknya dengan minyak khusus yang sudah di rendam dalam darah ayam cemani.
"Apa mungkin karena Mbah Karna dari kampung Mahoni ikut makanya bayi itu tidak bisa kita lukai?" tanya Beno
"Karna ikut?" tanya Narno
"Iya pak"
"Pasti Karna menggunakan jin pelindungnya untuk melindungi bayi Kunti itu, makanya kita tidak bisa menyakiti mereka, kita tunggu Kaelan kembali ke kota, setelah itu kita lihat sampai kapan bayi itu bisa bertahan di kampung ini" ucap Narno menyeringai.
"Pak, Darsih menawarkan lamaran untuk bapak" ucap Beno
"Bapak tidak mau menikah lagi, ibu kamu sudah cukup, kamu saja belum menikah padahal sudah berusia sembilan belas tahun, kamu sebenarnya mau tunggu siapa biar bapak tandai dulu?" tanya Narno
"Beno suka dengan anaknya Mbah Karna pak, Kaini" jawab Beno
"Sulit, Karna itu keras kepala, dia juga punya agama sekarang padahal dia dulu tukang main perempuan sampai punya istri empat, tapi sekarang hanya tinggal satu si Aini yang jadi istri keempatnya sekaligus dia akui dengan memakaikan gelang pernikahan adat kampung Mahoni" ungkap Narno
"Apa tidak bisa Kaini di lamar dulu pak? Beno takut Kaini di lamar anak tetua lain" ucap Beno
"Sekarang kampung mahoni tidak memakai adat lama lagi, kalau dulu anak perempuan usia empat belas tahun sudah bisa di nikahkan, sekarang usia delapan belas tahun baru bisa menikah di sana" jawab Narno
"Apa tidak bisa di lamar dulu pak?" tanya Beno
"Tidak bisa nak, carilah calon lain" jawab Narno mengusap rambut Beno, anak satu satunya karena istrinya sudah meninggal dan di banding menikah lagi, Narno lebih suka memperbesar kekuasaannya di kampung itu.
"Beno hanya mau Kaini pak" jawab Beno pergi ke kamarnya.
Narno hanya bisa menghela nafasnya, dia menyayangi Beno lebih dari apapun tapi dia juga tidak mungkin ceroboh melakukan sesuatu yang bisa membahayakan anaknya di kemudian hari.
"Anak itu, kalau sudah ada yang di inginkan akan ingat terus sampai dia mendapatkannya" gumam Narno
"Itu akan sulit terwujud Narno, Karna adalah musuh kita" ucap Malak
"Aku juga tahu Malak, itu sebabnya aku tidak memberikan ijin Beno melamar Kaini meskipun memang jika mereka menikah, mereka akan jadi pasangan yang cocok" jawab Narno
"Maryani sudah mulai muncul" ucap Malak
"Dia ada di rumah Jamal?" tanya Narno
"Ya, tapi Maryani tidak terlihat siapapun kecuali bayi itu karena dia sudah aku samarkan keberadaannya dari Kaelan juga yang lain" jawab Malak
"Terus teror warga di sini supaya mereka semakin membenci Kaelan dan keluarganya, sampai mereka menyerah dan kembali menyembah kakiku"
"Hahaha... selama ari ari itu berada di tangan kita, dia tidak akan bisa berbuat apapun Narno, mereka lemah karena bayi Kunti itu tidak akan bisa keluar dari kampung ini" ungkap Malak
Di rumah Jamal, Karna, Kaelan dan Jamal sudah membersihkan teras panggung rumah Jamal, Saidah bahkan mengajak Kalingga bermain di sana karena Kalingga tidak di pantang meskipun dia masih bayi merah.
"Kaelan, apa tid apa apa Kalingga di bawa keluar seperti ini, kami beli susu saja sana" ucap Saidah
"Jauh Bu, untuk sekarang asi dari Purnama pasti cukup, besok Kaelan beli karena toko besar hanya ada di kampung sukun dan kampung Mahoni" jawab Kaelan
"Ireng sering pergi membeli susu bayi, dulu Hamka pernah meminta dia terbang ke resort dan menyamar jadi manusia untuk membeli susu anak angkat nyi Kalia" ungkap Karna
"Nyi Kalia punya anak angkat?" tanya Jamal
"Punya kak, namanya Jaka dan Ayu, mereka korban kekejaman bapak dulu, Alhamdulillah sekarang bapak sudah bertaubat" jawab Karna
"Kalau minta tolong ayah Kalana?" tanya Kaelan
"Yang ada Kalana malah beli susu yang salah" jawab Karna dan semuanya tertawa.
"Biar Maryani yang beli kang, nanti Maryani akan simpan susunya di depan pintu" ucap Maryani yang tidak sadar kalau keberadaannya sudah di samarkan Malak.
"Tuan"
"Apa Kalana?"
"Saya merasakan ada energi lain di sekitar sini, bukan energi pasukan tanpa nama tapi yang lain"
"Apa dia berbahaya?"
"Tidak, sepertinya dia terus ada di sekitar Kaelan dan Kalingga"
"Apa mungkin itu Maryani? Tapi kenapa kita tidak bisa melihatnya"
"Saya juga tidak tahu tuan"
"Itu adalah ibu dari bayi ini, sejak tadi dia kesulitan karena energinya tercampur dengan energi Malak" ucap Parta
"Bisakah kamu menolongnya?" tanya Kalana
"Tidak bisa, tugasku adalah menjaga Kalingga dan Kaelan" jawab Parta kembali menghilang.
"Parta lebih menyebalkan dari Hamka, tuan jangan katakan hal ini pada Kaelan dulu, saya akan mencari cara untuk membebaskan Maryani" ucap Kalana
"Baiklah"
Puk.
"Astagfirullah"
"Ayah melamun sejak tadi, ada apa?" tanya Kaelan yang tidak tahu kalau Karna sedang berkomunikasi dengan Kalana.
"Ayah lupa meminta Kaini untuk beli minyak kayu putih dan minyak telon untuk Kalingga" jawab Karna
"Yang dari Mbah Rumi masih banyak yah" ucap Kaelan