No Plagiat 🚫
NIRWANA BERDARAH: Gema Seruling di Lembah Hijau
“Biarkan mereka mengumpulkan langit di dalam Dantian… aku hanya butuh satu nada untuk meruntuhkannya.”
Yi Ling adalah anomali.
Di dunia yang mendewakan Qi, ia adalah hening yang mematikan.
Dantiannya telah hancur—namun kehampaan itu tidak mati. Ia berubah menjadi jurang tanpa dasar, melahap setiap frekuensi yang berani mendekat.
Melalui sebatang seruling bambu hijau yang tampak rapuh, Yi Ling tidak lagi bertarung dengan tenaga dalam.
Ia bertarung dengan Kidung Penghancur Struktur.
Satu tiupan—aliran Qi berbalik arah.
Dua tiupan—Dantian retak.
Tiga tiupan… dan nirwana berubah menjadi merah.
Ia bukan sampah yang bangkit.
Ia adalah Auditor Kematian—penagih yang datang untuk mengaudit setiap tetes energi yang pernah dicuri manusia dari langit.
Dan ketika gema seruling itu terdengar…
tidak ada yang tersisa selain kehancuran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gemuruh Perak di Dalam Sukma
Keheningan di Lembah Tabib Langit biasanya menenangkan, namun bagi Yi Ling, keheningan itu terasa seperti lonceng kematian. Di atas meja batu, ia merasa tubuhnya seberat gunung yang tertancap ke bumi. Namun, yang lebih menyiksanya adalah kesunyian di dalam batinnya—sebuah ruang yang biasanya diisi oleh geraman rendah dan melodi yang indah, kini terasa hampa.
"Tuan Muda... kalau kau terus memejamkan mata, aku akan benar-benar mengira kau sudah jadi mayat cantik di sini."
Suara itu. Bukan suara seruling, melainkan suara yang serak-serak basah dengan nada angkuh yang tidak bisa hilang.
Yi Ling membuka matanya perlahan. Di samping kolam teratai, seorang pria dengan rambut perak yang acak-adakan sedang duduk sambil memandangi tangannya yang transparan. Di lehernya, pola hijau merambat seperti akar yang mencekik. Itulah Xiān Yǔ. Sang Serigala Perak yang biasanya gagah menerjang musuh, kini terjebak dalam wujud manusia yang rapuh karena raganya sebagai hewan kontrak telah hancur menjadi abu di Gerbang Nirwana.
"Xiān Yǔ... kau..." suara Yi Ling parau.
"Ya, ini aku, serigala paling sial se-jagad raya!" Xiān Yǔ mendengus, mencoba berdiri namun kakinya gemetar. "Lihat aku! Raga perakku yang gagah hilang, digantikan oleh kaki manusia yang lemah ini. Dan kau tahu apa yang lebih buruk? Aku harus berbagi ruang batin dengan si kutu buku seruling itu!"
Xiān Yǔ menunjuk ke arah dada Yi Ling—tepatnya ke arah seruling giok yang tergeletak di samping bantal Yi Ling. Di dalam seruling itu, Zhui Hai, sang roh seruling, sedang mencoba memulihkan diri.
"Zhui Hai... dia selamat?" tanya Yi Ling dengan napas yang lebih teratur.
"Selamat? Dia itu lebih awet daripada kecoak!" Xiān Yǔ menggerutu sambil melangkah tertatih mendekati Yi Ling. "Tapi karena raganya hancur, dia sekarang cuma bisa bersembunyi di dalam seruling itu seperti pengecut. Dia bahkan tidak mau bicara padaku! Hei, Zhui Hai! Keluarlah! Kau pikir enak hah, membiarkan aku sendiri yang menjaga Tuan Muda dalam wujud manusia yang tidak estetik begini?"
Tiba-tiba, seruling giok di samping Yi Ling bergetar. Sebuah suara yang tenang, puitis, namun menusuk terdengar langsung di kepala mereka berdua.
"Secara logika, Xiān Yǔ... jika kau tidak berhenti berteriak, aku akan memastikan melodi berikutnya yang kudendangkan adalah melodi pemanggil petir tepat di atas kepalamu."
"Lihat! Lihat Tuan Muda!" Xiān Yǔ berteriak dramatis, menunjuk-nunjuk seruling itu. "Dia mengancamku! Dia yang roh seruling, tapi malah aku yang merasa seperti budak di sini! Padahal aku yang menahan ledakan itu paling depan sampai bulu-bulu perakku rontok semua!"
Yi Ling memejamkan mata sejenak, merasakan kehadiran dua sahabatnya. Meskipun mereka tidak lagi memiliki raga yang utuh, pertengkaran mereka adalah tanda bahwa mereka masih "hidup".
"Cukup, Xiān Yǔ," gumam Yi Ling. Ia mencoba duduk, dibantu oleh Zhi Yue yang sejak tadi memperhatikan dari balik bayangan pintu.
Zhi Yue mendekat, matanya yang tajam menatap Xiān Yǔ dengan heran. "Aku tidak pernah mengira seekor Serigala Perak bisa menjadi sekonyol ini saat berubah wujud."
"Jenderal! Jangan menghinaku!" Xiān Yǔ berkacak pinggang. "Dalam wujud serigala, aku adalah mimpi buruk musuh! Dalam wujud manusia, aku adalah... yah, aku tetap mimpi buruk, tapi dalam hal lain!"
Zhui Hai kembali mengirimkan pesan mental dari dalam seruling, kali ini lebih lembut ke arah Yi Ling. "Tuan Muda, abaikan serigala bodoh ini. Fokuslah pada aliran darahmu. Ledakan itu menyisakan residu energi Nirwana yang bisa membakarmu dari dalam jika kau tidak tenang."
"Dengar itu? Sok bijak!" Xiān Yǔ mencibir. Tapi, meskipun mulutnya tidak bisa diam, tangannya bergerak dengan sigap mengambilkan air hangat untuk Yi Ling. Gerakannya kikuk—karena ia lebih terbiasa menggunakan cakar daripada jemari manusia—tapi matanya menunjukkan kekhawatiran yang mendalam.
Yi Ling meminum air itu, matanya menatap pola hijau di leher Xiān Yǔ. "Xiān Yǔ, kau hampir berubah jadi pohon karena resonansi itu."
"Hanya 'hampir', Tuan Muda. Aku terlalu tampan untuk berakhir jadi kayu bakar," balas Xiān Yǔ dengan seringai lebar. "Tapi Zhui Hai benar... musuh-musuh di luar sana pasti sedang merayakan 'kematian' kita. Mereka pikir Gerbang Nirwana sudah melenyapkan sang Jenderal dan Tuan Muda Yi Ling."
Yi Ling mengepalkan tangannya. Sebuah aura dingin terpancar dari tubuhnya, membuat suhu di ruangan itu turun seketika. "Biarkan mereka merayakannya. Semakin besar perayaan mereka, semakin merah darah yang akan mengalir saat kita datang menjemput raga kalian kembali."
Zhui Hai memainkan sebuah nada pendek dari dalam seruling—sebuah nada keberanian yang menggetarkan sukma. Sementara Xiān Yǔ, sang Serigala Perak yang kini berwujud manusia berisik, menyambar pedang cadangan di sudut ruangan dan mengayunkannya dengan liar.
"Bagus! Itu baru Tuan Mudaku!" seru Xiān Yǔ. "Aku tidak sabar ingin mencabik-cabik mereka, meskipun sekarang aku harus pakai pedang dan bukan taring. Zhui Hai! Kau siapkan musik pengiring kematian yang paling epik!"
Di bawah bimbingan Tabib Langit dan pengawasan ketat Jenderal Zhi Yue, trio yang hancur namun belum kalah ini mulai mempersiapkan serangan balik. Lembah itu mungkin sunyi, tapi di dalamnya, sebuah badai perak dan melodi berdarah sedang ditempa ulang.
Jenderal Zhi Yue hanya bisa terdiam menyaksikan interaksi itu. Sebagai seorang wanita yang dibesarkan di barak militer yang kaku, pemandangan seorang pemuda yang berbicara dengan seruling dan seorang "mantan serigala" yang tidak bisa berhenti memuji dirinya sendiri adalah sesuatu yang berada di luar nalar perangnya. Namun, di balik kegaduhan itu, ia melihat sesuatu yang lebih dalam: sebuah ikatan yang telah melampaui kontrak darah.
"Istirahatlah, Xiān Yǔ," ujar Yi Ling sambil menyandarkan punggungnya pada dinding batu yang dingin. "Kau terus bicara seolah-olah energimu tidak terbatas, padahal kakimu gemetar seperti ranting ditiup angin."
Xiān Yǔ baru saja ingin membalas dengan ocehan panjang lainnya, namun tiba-tiba ia terhuyung. Tubuh manusianya memang belum stabil. Ia mendengus kesal, lalu duduk bersila di lantai di samping tempat tidur Yi Ling, tetap memegang pedang di pangkuannya dengan pose yang sok gagah. "Aku hanya sedang melakukan pemanasan otot, Tuan Muda. Tapi baiklah, demi menghargai permintaanmu, aku akan memberikan telingamu istirahat selama lima menit."
Keheningan yang sebenarnya akhirnya turun menyelimuti ruangan itu. Di luar, cahaya rembulan Lembah Tabib Langit mulai memucat, berganti dengan semburat jingga di ufuk timur. Angin pagi membawa aroma pinus dan obat-obatan yang menenangkan, namun bagi mereka yang berada di dalam ruangan itu, kedamaian hanyalah jeda singkat sebelum badai.
Yi Ling memejamkan mata, namun batinnya tetap terjaga. Ia bisa merasakan Zhui Hai yang mulai bermeditasi di dalam seruling, menyusun kembali melodi-melodi pelindung yang sempat hancur. Ia juga merasakan napas Xiān Yǔ yang mulai teratur, meskipun sesekali pemuda berambut perak itu masih menggerutu dalam tidurnya tentang betapa sempitnya menjadi manusia.
"Zhi Yue," panggil Yi Ling tanpa membuka mata.
"Ya?" sahut sang Jenderal pendek.
"Terima kasih. Kau bisa saja pergi saat ledakan itu terjadi, tapi kau memilih untuk menyeret tiga beban ini bersamamu."
Zhi Yue menatap ke arah jendela, ke arah jalanan setapak yang akan mereka lalui besok. "Secara logika, aku adalah seorang Jenderal. Dan seorang Jenderal tidak pernah meninggalkan kawanannya, seaneh apa pun kawanan itu."
Yi Ling tidak menjawab lagi. Ia membiarkan sisa-sisa energi di lembah itu meresap ke dalam lukanya. Di dalam kegelapan batinnya, ia bersumpah. Perjalanan ke Barat ini tidak akan lagi menjadi sekadar pelarian dari takdir. Bersama sang Serigala yang berisik dan Roh Seruling yang tenang, ia akan menulis ulang hukum Nirwana.
Dunia mungkin menganggap mereka sudah hancur, namun dari abu pembakaran Gerbang Nirwana, sebuah legenda baru sedang menarik napas pertamanya.
Dan saat fajar benar-benar menyingsing, mereka tidak akan lagi berjalan sebagai korban, melainkan sebagai pemburu yang siap menagih hutang nyawa pada langit yang telah mengkhianati mereka.
Lembah Tabib Langit menjadi saksi bisu; bahwa persaudaraan yang ditempa dalam darah dan penderitaan, tidak akan pernah bisa dipadamkan oleh kematian sekalipun.
Perjalanan mereka masih panjang, namun untuk pertama kalinya sejak ledakan itu, Yi Ling merasa jiwanya tidak lagi sendirian. Ia memiliki melodi yang menjaganya, dan taring perak yang siap mencabik siapa pun yang menghalangi jalannya.
Di tengah keheningan Lembah Tabib Langit, perbedaan itu terlihat sangat kontras. Xiān Yǔ sedang sibuk mencoba menggerakkan jari-jari manusianya dengan kasar, sesekali mengutuk karena ia merindukan cakar peraknya yang tajam.
"Tuan Muda, lihat! Jari-jari ini terlalu pendek! Bagaimana aku bisa mencabik tenggorokan musuh dengan tangan sehalus ini? Ini penghinaan bagi bangsa serigala!" seru Xiān Yǔ sambil menghentakkan kakinya ke lantai batu.
Dari dalam seruling giok yang tergeletak di meja, sebuah getaran biru yang sangat tenang terpancar. Suara Zhui Hai mengalir masuk ke batin mereka, begitu jernih dan dingin seperti air pegunungan.
"Secara logika, Xiān Yǔ... jika kau tidak bisa diam, aku akan menggunakan energi sisa ini untuk menjahit mulutmu dengan benang suara. Kau memalukan identitas kita sebagai pelindung Tuan Muda."
Xiān Yǔ langsung terdiam, wajahnya memerah karena kesal namun ia tidak berani membantah. Di dunia ini, hanya ketenangan Zhui Hai yang bisa membungkam kebuasan (dan keberisikan) Xiān Yǔ.
Yi Ling menghela napas, namun hatinya terasa lengkap. Inilah timnya. Satu yang bertugas mengoyak musuh dengan keberanian yang berisik, dan satu lagi yang bertugas menjaga kewarasan mereka dengan melodi yang tenang namun mematikan.
"Ayo berangkat," ujar Yi Ling sambil menyambar seruling gioknya dan melangkah keluar. "Dunia sudah terlalu lama tenang tanpa suara seruling Zhui Hai dan raungan Xiān Yǔ."