Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ruang makan di kediaman mewah keluarga Ganendra.
Ruangan makan dengan pemandangan interior kelas atas, sesuai dengan selera Adisti Ganendra.
Sebuah meja makan besar terbuat dari marmer putih dari perancang ternama, terlihat elegan mendominasi ruangan itu.
Di langit-langit sebuah lampu gantung kristal yang megah nampak menjuntai, memancarkan cahaya kekuningan yang amat berkilau indah.
Malam ini, berbagai hidangan lezat tersaji mulai dari sate ayam dengan bumbu kacang, ikan bakar saus rica-rica, hingga sup hangat.
Makanan-makanan enak seperti ini biasanya jarang di dapatkan di panti asuhan.
Biasanya di panti asuhan makanan yang sering di dapet Melina adalah makanan sederhana, seperti tempe, tahu dan jika mewah maka mereka akan mendapatkan telur.
Terkadang makanan enak akan di dapat jika sedang kedatangan donatur atau tamu yang akan melakukan pekerjaan amal.
Namun, berbeda dengan hari ini yang mendapatkan makanan mewah karena dirinya akan di peristri oleh seorang Aktor terkenal.
Makanan-makanan lezat yang tersaji di atas meja marmer tidak bisa membangkitkan selera makan Melina.
Gadis itu hanya duduk dengan kaku, karena mengingat kejadian tadi siang bagaimana Ishan memperlakukannya.
Flashback on tadi siang.
"Mas lepasin! Sakit!" rintih Melina saat tangannya di tarik kasar oleh Ihsan.
Ihsan membawa gadis malang itu ke lantai atas kamarnya, lalu menyuruh Bi Nisa membawa koper milik Melina ke kamar atas nanti.
Di dalam kamar Ihsan.
Tangan Melina di lepas dengan kasar, lalu tubuhnya di pojokan ke tembok---wajah Ihsan menjadi lebih dekat padanya dan Melina merasakan napasnya.
"Apa yang kamu katakan pada Livia?!" tanya Ihsan dengan penuh penekanan.
Mendengar jawaban itu membuat Melina mengerutkan keningnya, dan hal yang membuat kaget ternyata Livia mengadu pada Ihsan.
"Tadi Mbak Livia dateng ke kampus dan labrak aku di hadapan orang-orang," ucap Melina dengan bergetar.
Ihsan yang murka langsung menarik tangan Melina dan membanting tubuh lemah itu ke atas ranjang.
Terlihat Ihsan di atasnya berusaha menindihnya, berontak pun percuma karena tenaga pria yang berusia tiga puluh tahun itu amat kuat.
"Mas! jangan kaya gini!" teriak Melina berusaha melepaskan diri.
Tubuh Ihsan sudah menindih Melina dan kedua tangan Melina di tahan oleh kedua tangan Ihsan yang kekar.
Di bagian bawah Melina bisa merasakan ada sesuatu yang keras menekannya.
"Aku nggak suka kamu bohong," ujar Ihsan matanya melotot dan menatap Melina.
Melina hanya berdecih menatap Ihsan lalu berusaha melepaskan diri.
"Kalo kamu nggak percaya, banyak saksi temen kampus aku termasuk Alvaro!" tegas Melina menatap calon suaminya.
Ihsan semakin keras menahan tangan Melina, dan matanya melotot.
"Jadi benar kamu memiliki kekasih!" bentaknya.
"Dia teman saya!" ungkapnya.
Ihsan yang kesal menarik Melina lalu menampar wajahnya, seketika gadis itu menjadi syok saat tamparan mengenai wajahnya.
PLAK!
Pipi kanan Melina terasa panas saat Ihsan menampar wajahnya.
"Ihsan...," ujar Melina memegang pipinya dengan posisi berbaring.
"Kalo begitu aku akan lakukan sesuatu yang membuatmu sadar diri!" teriak Ihsan.
Melina yang di perlakukan begitu berusaha menendang memukul, agar Ihsan tak melakukan sesuatu sampai keduanya di nikahkan.
"Mas jangan!" ucap Melina menendang.
Dan Kaki kanannya berhasil menendang bagian paha, hal ini di manfaatkan untuk melarikan diri.
Namun, Ihsan yang kuat berhasil menangkap tubuhnya.
Sekuat apapun Melina berontak tetap tak bisa, Melina kembali di lempar ke atas ranjang oleh Ihsan.
"Ihsan saya nggak ada perselingkuhan! Saya ama Alvaro, Juan, dan Keyro cuman sahabat!" jelas Melina berusaha melepaskan diri.
"Lagian Keyro dan Juan udah punya pacar!" lanjutnya.
Melina berusaha berontak, dan semua sia-sia---Ihsan berhasil menindih tubuh kecil itu.
"Lalu bagaimana dengan Alvaro, hah?" tanyanya.
"Aku hanya teman," jawabnya.
Ihsan dengan kasar mencengkram dagu Melina, dan melotot ke arah wajahnya.
Plak! satu tamparan lagi mendarat di pipi Melina, dan satu tamparan itu membuat Melina kembali syok.
"Dasar wanita matre! kamu mau menikahiku karena perlu uang!" teriaknya.
Tangan Ihsan mencengkram wajah gadis malang itu yang terbaring di ranjang.
"Kalo kamu mau uang akan aku beri, tapi itu tak gratis!" desis Ihsan.
"Mas jangan! kita harus menikah dulu!" teriak Melina.
"Tolong!!" teriak Melina.
Tapi beruntung Ihsan tak sempat melakukan itu, karena suara dering ponsel dari nakas menghalanginya melakukan tingkah bejad itu.
Itu telepon dari managernya, untuk bicara soal cuti syuting selama seminggu karena akan menikah.
Hal ini adalah kesempatan bagi Melina untuk melarikan diri, keluar kamar dan berlari sambil menangis.
Flashback off di meja makan.
Di meja makan malam ini Melina mengenakan gaun rayon berwarna violet dengan lengan pendek yang sedikit mengembang.
Rambut Melina di biarkan tergerai menutupi bahunya, kepalanya terus menunduk menatap piring yang kosong.
Karena di hadapannya, calon suaminya---Ishan Ganendra duduk dengan mata yang tajam ke arahnya.
Pria yang mengenakan kaos lengan panjang berwarna abu-abu dan celana santai itu nampak tak suka dengan calon istrinya.
Matanya yang tajam terus menghunus ke arah Melina dengan penuh kebencian, seolah-olah gadis itu adalah parasit yang terpaksa harus di terima.
Diantara mereka berdua, di ujung duduk Adisti---ibu dari Ishan sekaligus calon mertua Melina.
Adisti nampak anggun meski terlihat santai, mengenakan atasan dan rok santai berwarna merah cerah.
Senyumnya lembut, namun ada ketegasan.
"Makanlah Melina. Jangan sungkan, kamu akan menjadi bagian dari rumah ini," ujar Adisti memecah kesunyian.
Hening, sementara hanya denting peralatan makan yang menemani mereka.
Tatapan Ihsan juga menatap tak suka pada Melina.
"Ehmm..." dehem Adisti mengambil minum.
Melina dan Ihsan yang tengah mengunyah makanan langsung menatap Adisti.
"Kita harus membicarakan persiapan terakhir. Pernikahan akan diadakan secara tertutup dan private. Hanya keluarga inti dan saksi saja."
"Iya Nyonya...," ucap Melina hanya bisa mengangguk kecil.
"Bagus," potong Ishan.
"Karena memang tidak ada yang perlu dibanggakan dari pernikahan ini. Ini hanya sebuah keinginan mama yang mau punya cucu dari gadis muda dan memiliki menantu yang bisa di jadikan kacung?" ujar Ishan dengan suara pelan.
"Ishan!" tegur Adisti.
"Iya Mah, Maaf."
"Melina kamu panggil saya Mama, karena kamu akan jadi menantu saya."
Melina hanya tersenyum dan mengangguk, karena perasaan canggung.
Pernikahan yang seharusnya menjadi suci dan sakral, bagi Ihsan hanyalah beban yang menjijikan.
Adisti hanya menghela napas, menatap putranya---tangannya menyentuh tangan Melina dengan tersenyum seolah menguatkan gadis ini.
*
*
*
*
*
*