"Dunia menyebutku sampah, tetapi langit mengenalku sebagai Kaisar Agung."
Di Sekte Pedang Giok, Qin Xiang hanyalah debu yang diinjak-injak, seorang murid magang tanpa masa depan yang hidup dalam jerat kehinaan dan penindasan.
Namun, saat segel ingatannya pecah, semua musuhnya akan dijatuhkan. Ia adalah Sang Kaisar Agung yang pernah mendikte hukum alam dan memimpin jutaan pasukan di atas langit.
Karena pengkhianatan berdarah murid kepercayaannya, ia telah kehilangan segalanya dan kini kembali bangkit untuk menagih setiap nyawa yang mengkhianatinya. Berbekal Qi Emas yang sanggup melumat baja dan pengetahuan yang melampaui nalar dunia fana, ia akan menyapu bersih setiap halangan di jalannya dan mendobrak langit untuk sekali lagi menguasainya.
GENRE: AKSI, KULTIVASI, REINKARNASI, BALAS DENDAM, HAREM.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Devourer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#35: Mereka Lagi!
Aroma pahit dari ratusan jenis tanaman obat yang dikeringkan meresap jauh ke dalam indra penciuman Qin Xiang saat ia melangkah masuk ke jantung Paviliun Seratus Herbal. Tanpa membuang waktu untuk basa-basi yang tidak perlu, ia segera menemui sang alkemis muda, Ru Tian, yang sedang sibuk memeriksa gulungan perkamen kuno. Tujuannya kali ini sangat spesifik; ia membutuhkan informasi mengenai wilayah yang dihuni oleh Binatang Buas Tingkat 3—sebuah tempat yang memiliki densitas energi lebih ganas daripada Hutan Kabut Senja yang pernah ia datangi sebelumnya.
Ru Tian meletakkan catatan inventarisnya, wajahnya yang semula cerah mendadak berubah serius saat mendengar permintaan Qin Xiang.
"Jika Tuan Muda Qin mencari tempat semacam itu, sebenarnya ada satu lokasi yang sesuai. Akan tetapi, jaraknya cukup menguras tenaga, setidaknya tiga hari perjalanan dari gerbang kota ini," jawabnya dengan suara yang merendah, seolah takut dinding-dinding paviliun ikut mendengar pembicaraan mereka. "Hutan Kematian Liar. Wilayah itu adalah tempat suci sekaligus kutukan bagi para pemburu berpengalaman. Banyak yang datang ke sana untuk mengincar Inti Binatang Buas yang langka, namun tempat itu lebih sering menjadi kuburan abadi bagi para seniman bela diri yang memiliki keberanian tanpa kekuatan yang memadai."
"Di mana koordinat tepatnya?" tanya Qin Xiang mengabaikan peringatan sementara pupil matanya berkilat penuh ketertarikan yang dingin.
"Wilayah itu membentang luas di sebelah barat Kota Dagang Luo." Ru Tian menatap Qin Xiang dengan sorot mata cemas yang nyata, mencoba mencari keraguan di wajah pemuda itu namun gagal. "Apakah Anda ingin pergi ke sana? Kabar yang sampai ke telingaku menyebutkan bahwa hutan itu telah menelan ribuan jiwa. Bahkan praktisi ranah Inti Formasi tingkat menengah pun sering kali tidak pernah kembali."
"Bahaya selalu menyediakan hadiah yang berharga di baliknya,” sahut Qin Xiang datar. Suaranya tetap tenang meski ia tahu risiko yang mengintai. "Berikan aku petanya. Aku tidak punya banyak waktu untuk menunggu."
Ru Tian hanya bisa menghela napas pasrah, menyadari bahwa tekad Qin Xiang takkan bisa dipatahkan oleh sekadar peringatan lisan. Ia segera menyerahkan sebuah gulungan peta dari kulit binatang yang tebal, serta menyelipkan sebotol pil penyelamat kelas tinggi ke tangan Qin Xiang.
"Tuan Muda tidak perlu membayar.” Ru Tian jelas ingin memenangi hati pihak lain. “Jika bisa, bawakan saja beberapa tanaman herbal setelah Anda kembali dari perjalanan."
"Tentu.” Qin Xiang mengangguk puas dengan sikap ramah pihak lain. “Terima kasih, Tuan Ru,” ujarnya.
Qin Xiang menyimpan semua pemberian itu ke dalam tas penyimpanannya dengan gerakan yang sangat efisien. Setelah berbincang sejenak, ia melangkah keluar, menghilang di balik kerumunan Kota Giok menuju tujuannya: Hutan Kematian Liar.
...
Tiga hari perjalanan ditempuh Qin Xiang dengan langkah yang stabil, membelah belantara dan padang rumput yang tak berpenghuni. Kini, ia berdiri di puncak sebuah bukit karang yang terjal, sepasang matanya yang tajam menatap siluet Kota Dagang Luo yang mulai tampak samar di kejauhan. Tempat ia akan singgah beberapa saat untuk memulihkan energinya sebelum benar-benar terjun ke dalam Hutan Kematian Liar.
"Hmm..."
Sesuatu mengganggu.
Telinga Qin Xiang menangkap getaran frekuensi energi yang janggal di udara. Getaran itu membawa aroma amis darah yang tertiup angin dari lembah sempit di bawah bukit.
Ia mengalihkan pandangannya ke bawah.
Di sana, sebuah iring-iringan kereta dagang tengah terjebak dalam pembantaian yang mengerikan. Sekelompok bandit berbaju hitam merangsek dengan buas, mencoba menjarah sesuatu di dalam kereta kuda.
Di pusat pusaran pertempuran, seorang pria dengan luka sayatan yang masih basah di wajahnya terus berteriak memberikan perintah parau. Pria itu, Kapten Han, berdiri dengan kaki yang gemetar akibat kelelahan dan kehilangan banyak darah. Pedangnya sudah dipenuhi takik, namun ia tetap bersikeras menjaga posisi di depan kereta kuda utama yang mewah demi melindungi seorang nona muda berambut hitam legam yang menatap keluar dengan sorot mata penuh horor dari balik jendela kecil. Jemarinya mencengkeram kusen kayu hingga memutih, menyaksikan satu per satu pelindungnya tewas mengenaskan.
"Nona Muda, tetaplah di dalam! Aku, Han, menjamin keselamatan Anda selama jantung ini masih berdetak!" serunya sembari menebas seorang penyerang. Akan tetapi, lawan mereka bukan bandit amatir. Mereka adalah Kelompok Assassin Bulan Sabit Merah yang dikenal kejam. Sabit-sabit merah mereka berkelebat dengan kecepatan yang sulit diikuti mata fana para penjaga Qi Fondasi.
Sing—!
Sing—!
Sing—!
Jeritan kematian pecah beruntun, menyayat kesunyian hutan bak simfoni duka yang kelam. Percikan darah menghambur ke batang-batang pohon kuno, menciptakan atmosfer horor yang mampu melumpuhkan nyali siapa pun yang menyaksikannya. Han hanya bisa menggigit bibirnya erat hingga berdarah, menahan perih di perutnya yang terkena sabetan. Hatinya luluh lantak mendengar jeritan rekan-rekan seperjuangannya yang gugur. Kini, hanya tersisa beberapa penjaga yang terlihat putus asa di tengah kepungan para pembunuh bayaran yang berkilauan haus darah.
"Kalian cukup ulet rupanya." Pemimpin assassin itu menyeringai penuh kemenangan di balik kain merahnya. "Hehe, apa kau berharap pada rekanmu yang melarikan diri kembali ke kota untuk meminta bantuan? Saat mereka tiba, mereka hanya akan menemukan tumpukan daging busuk yang tidak bisa lagi dikenali."
“Hah...” Kapten Han terlihat sedikit putus asa. Ia juga sadar bahwa posisi mereka saat ini hampir mustahil untuk keluar hidup-hidup, kecuali ada seorang dewa penyelamat yang tiba-tiba turun dari langit untuk mengubah nasib mereka.
Namun...
"Teknik Pedang: Manifestasi Pedang."
Suara dingin yang dipenuhi oleh niat membunuh seketika memenuhi atmosfer di lembah itu seolah membeku. Langit di atas mereka mendadak robek oleh pendar cahaya keemasan yang menyilaukan mata. Belasan pedang cahaya yang terbentuk dari konsentrasi Qi emas yang luar biasa padat tercipta dari ketiadaan, melayang angkuh di udara sebelum menghantam turun serupa badai meteor yang membawa murka para dewa.
Sringgg!
Boom!
Pedang-pedang emas itu meluncur dengan kecepatan yang melampaui kedipan mata. Satu bilah menghantam tanah tepat di depan Kapten Han, menciptakan gelombang kejut yang melempar mundur para assassin hingga terjungkal ke samping.
Sementara bilah-bilah lainnya mengejar mangsa mereka dengan presisi yang mengerikan; menghancurkan senjata sabit lawan hingga berkeping-keping dan membakar jubah hitam mereka dengan sisa pendar cahaya yang menyengat. Hutan yang semula terkesan suram kini bermandikan cahaya emas yang murni.
Di tengah hujan cahaya yang menyilaukan itu, Qin Xiang melayang turun dengan perlahan dari puncak bukit. Jubah putihnya berkibar tenang, seolah tidak tersentuh oleh debu dan darah di sekelilingnya. Saat kakinya menyentuh tanah yang hangus, gelombang Qi emas menyapu sisa-sisa debu pertempuran, memperlihatkan tatapan matanya yang sedalam jurang maut. Pemimpin assassin yang tadinya begitu congkak, kini hanya bisa mematung dengan sorot mata waspada, mencoba untuk menyelidiki level kekuatan pihak lain.
...
Bersambung!
Apa alasan Qin Xiang akan menyelamatkan mereka? Kebaikan hati? Atau...
Jangan lupa tinggalkan like dan vote sebelum lanjut, terima kasih :)