Maira, seorang istri yang harus membagi penghasilan nya untuk istri dari kakak ipar nya yang sudah meninggal dunia.
Sang suami dan mertua hanya memanfaatkan uang nya, demi kepentingan mereka semua.
Tidak hanya itu, Suami nya, Azam malah menjalin hubungan dengan kakak ipar nya dengan alasan mau membantu janda kakak nya tersebut.
Mereka semua kelimpungan saat Maira memutuskan untuk tidak mau membantu lagi, dan menyerahkan semua nya pada Azam, suami nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
07
Pagi ini sesuai dengan tekad nya tadi malam, Maira sengaja tidak memasak sarapan untuk mereka semua. Lagian di kulkas juga sudah tidak ada lagi bahan makanan yang bisa di olah, semuanya sudah habis.
Jika selama ini saat semua bahana makanan habis, Maira akan langsung membeli nya kembali. Tapi kali ini Maira tidak akan melakukan semua nya lagi, biar lah Mama Wina yang belanja sendiri. Toh uang gaji nya Azam dikuasai oleh mereka, bukan Maira.
"Maira,,,,!!!" Teriak Mama Wina dari ruang makan.
Suara Mama Wina terdengar sangat kencang dan melengking, tetangga sebelah pasti bisa mendengar nya. Maira yang tengah memoles make up nya, hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikap Mama mertua nya.
"Maira, keluar kamu,,,, dasar menantu pemalas!" Teriak Mama Wina tepat di depan pintu kamar nya Maira dan Azam.
Tidak hanya itu, Mama Wina pun menggedor pintu dengam sangat kencang, sehingga daun pintu berguncang seolah mau lepas dari kusen nya.
"Ada apa sih Ma?" Tanya Maira santai sambil membuka pintu kamar nya.
"Kenapa kau tidak masak? Ayu mau sarapan, dia harus sekolah!" Bentak Mama Wina dengan kasar.
"Di dapur tidak ada bahan yang bisa di oleh lagi Ma, mas Azam belum memberikan aku uang belanja. Jadi gimana mau masak?" Tanya Maira dengan santai nya.
"Jangan manja kamu pake minta uang sama Azam segala, kamu itu menantu di rumah ini. Jadi sudah menjadi kewajiban mu melayani kita semua!" Ujar Mama Wina sambil menujuk wajah Maira.
"Ma, mas Azam yang punya kewajiban untuk memenuhi semua kebutuhan di rumah ini. Mengenai masalah Ayu yang belum sarapan, itu bukan urusan ku. Mbak Nia adalah ibu nya, jadi harus nya mbak Nia sendiri yang siap kan sarapan untuk anak nya, bukan aku. Lagian kan mbak Nia udah dapat uang bulanan dari mas Azam, sedangkan aku tidak. Jadi silahkan urus sendiri keperluan anak nya!" Maira berkata dengan tegas.
"Kurang ajar kau Maira!" Bentak Mama Wina lagi.
Pada saat yang bersamaan, Azam yang baru saja selesai mandi dan keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar nya. Azam mendengar keributan antara Mama dan juga istri nya.
"Ada apa sih? Pagi - pagi udah berisik banget?" Tanya Azam dengan kesal.
"Azam, lihat lah sekarang Maira sudah semakin kurang ajar. Dia sengaja tidak membuat sarapan, padahal kau tahu sendiri kan, Ayu harus sarapan dia akan pergi ke sekolah!" Mama Wina mulai mengadu pada Azam.
"Benar begitu Mai?" Tanya Azam pada Maira.
"Benar mas, kan aku udah bilang sama kamu tadi malam. Mulai hari ini aku hanya akan masak ketika kau memberikan uang belanja, sedang kan kau belum memberikan aku uang belanja. Jadi bagaimana aku mau masak!" Maira kembali mengingat kan apa yang dia katakan tadi malam.
"Pake uang kamu lah Mai, selama ini juga seperti itu!" Azam tidak mau memberikan uang belanja dengan Maira.
"Mas, aku ini istri mu. Kau bahkan tidak pernah memberikan aku uang belanja, sementara mbak Nia yang status nya hanya sebagai ipar mu. Tapi kau malah berikan dia uang nafkah setiap bulan nya!" Maira mulai protes dengan semua ketidak adilan ini.
"Ya beda dong, kamu kan kerja jadi kmu wajib penuhi semua kebutuhan di rumah ini, sedang ka Nia gak kerja!" Dengan cepat Mama Wina menjawab ucapan Marsya.
"Mas, aku tanu sendiri kan kalau aku ini hanya staf biasa, gaji aku kan kecil. Sedangkan kamu kan manajer, beda loh gaji kamu pasti lebih besar!" Sindir Maira sambil tersenyum miring.
"I,, iya Mai!" Jawab Azam gugup.
Maira hanya tersenyum melihat ekspresi Azam, dia tahu suami nya tidak ingin harga diri nya jatuh di depan keluarga nya. Itu lah sebab nya Azam mengaku di depan semua orang, bahwa diri nya adalah seorang manager, padahal dia adalah staf biasa.
Sedangkan Maira, yang selama ini di sangat staf biasa oleh Azam dan keluarga nya, tanpa mereka ketahui bahwa Maira adalah seorang manager di tempat kerja nya. Keadaan yang berbalik antara Azam dan Maira.
"Jadi mas, berikan uang belanja pada ku, jika kalian mau makan. Jika tidak, maka silahkan beli bahan makanan sendiri!" Ancam Maira sambil berlalu dari hadapan suami dan juga mertua nya.
Maira langsung mengambil kunci mobil nya yang ada di atas nakas, dia ingin pergi membawa mobil nya hari ini.
"Loh Mai, mau bawa kemana mobil nya? Biar aku yang bawa!" Azam protes pada Maira.
"Aku ingin ke rumah Mama setelah pulang kerja nanti, jika aku tidak bawa mobil lalu aku jawab apa saat Mama bertanya nanti!" Jawab Maira dengan datar.
"Biar aku yang antar kamu ke rumah Mama!" Bujuk azam lagi.
"Gak perlu, mas kerja naik ojek saja!" Balas Maira dengan ketus.
Maira langsung pergi, dia tidak perduli dengab teriakan suami nya. Toh mobil ini adalah milik nya, dia membeli nya sebelum menikah dengan Azam. Tapi di depan teman - teman nya, Azam mengakui mobil ini sebagai milik nya.
Di ruang tamu, Maira berpapasan dengan Nia. Setiap pagi Nia selalu datang ke rumah ini, hanya untuk sarapan. Padahal dia punya rumah sendiri, tapi dia selalu makan di rumah Maira, entah itu pagi, siang, atau pun malam.
"Wajar saja kau tidak di karunia anak, karena kau tidak bisa berbaik hati pada anak orang lain!" Sindir Nia saat Maira berjalan keluar.
Maira yang hampir mencapai pintu, langsung menghentikan langkah nya. Dia membalikkan badan nya menghadap istri dari kakak ipar nya tersebut.
"Aku bersyukur tidak memiliki anak, dari pada memiliki anak tapi tidak mampu membesar kan nya. Jangan kan memenuhi semua kebutuhan nya, memberi nya sesuai nasi pun kau tak mampu. Setiap hari seperti pengemis, numpang makan di rumah orang lain!" Balas Maira dengan cepat.
"Kurang ajar kau Maira, kami bukan pengemis. Aku makan di rumah mertua ku, bukan di rumah mu!" Nia langsung berkata dengan muka merah padam.
"Rumah mertua mu kau bilang? Asal kau tahu Nia, setiap suap makanan yang masuk ke dalam perut anak mu dan juga diri mu, semua nya di beli dengan uang ku, bukan uang mertua mu atau pun uang nya Mas Azam. Jadi aku lah yang memberi mu makan, paham kau!" Ujar Maira dengan berani.
Setelah mengatakan itu, Maira langsung keluar dari dalam rumah nya. Dia malas terlalu lama berdebat dengan keluarga suami nya, biarlah mereka kelaparan pagi ini. Sedangkan Maira sendiri bisa sarapan di luar sebelum masuk ke kantor.
rasa sakit itu akan menjadi dasar balas dendam mu, kau harus bangkit berdiri dan lawan semua musuh mu.. TATAKAE TATAKAE
LAKNATULLAH... AYO SEMUA NYA TERIAK LAKNATULLAH