NovelToon NovelToon
Dao Of The Fate Severer

Dao Of The Fate Severer

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anonim

Menceritakan Jiang Xuan yang kembali kemasa lalu tepatnya saat dia berusia 15 tahu, dengan mata takdir dan teknik kaligrafiya dia membantai musuhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anonim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Rasa sakit yang menusuk dada adalah hal pertama yang menyambut kesadaran Jiang Xuan. Bukan rasa sakit ilusi dari ruang mentalnya, melainkan penderitaan fisik yang luar biasa nyata. Tiga tulang rusuknya yang patah bergesekan dengan otot setiap kali ia menarik napas. Luka tusuk di pinggangnya berdenyut panas, memancarkan perih yang menjalar hingga ke sumsum tulangnya.

Ia perlahan membuka mata. Langit-langit kayu yang berjamur dan dipenuhi sarang laba-laba menggantikan kegelapan ruang kesadarannya. Bau apek dari kasur jerami dan kelembapan khas penginapan murah menyengat hidungnya. Otaknya yang tajam langsung berputar, memproses informasi tanpa sedikit pun kepanikan. Dia tidak mati. Segel Kontrak Jiwa masih berputar di batas kesadarannya, menandakan pelayannya masih hidup dan menjalankan fungsinya.

Kriet.

Pintu kayu kamar itu terbuka. Lin Ruoxue melangkah masuk. Gadis itu tidak lagi mengenakan jubah abu-abu kebanggaan Sekte Awan Azure. Ia mengenakan pakaian linen kasar berwarna kecokelatan yang biasa dipakai oleh pekerja kasar, menyembunyikan kulit pucat dan hawa esnya dengan sangat rapi. Di tangannya, ia membawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan asap berbau herbal murahan yang sangat tajam dan memuakkan.

Melihat mata Jiang Xuan telah terbuka, Lin Ruoxue berhenti sejenak di ambang pintu. Tangannya menggenggam mangkuk itu sedikit lebih erat.

Namun, sebelum gadis itu sempat bersuara, sebuah gumpalan bulu putih menyerupai keluar dari saku jubah kasarnya dengan kecepatan kilat.

"Kyuu!"

Baozi melompat penuh kegirangan ke udara dan mendarat tepat di atas dada Jiang Xuan, mencoba menjilati dagu majikannya yang baru saja sadar.

Rem.

Beban makhluk kecil itu menekan tepat di atas tulang rusuk Jiang Xuan yang patah.

"Binatang keparat," umpat Jiang Xuan dengan suara serak dan mematikan.

Tanpa ragu, ia mencengkeram tengkuk Baozi dan melemparkan makhluk bulat itu ke sudut ruangan tanpa tenaga berlebih, cukup untuk membuatnya menabrak tumpukan kain kotor. Baozi mencicit protes, mengusap hidungnya, lalu membentuk kerutan di sudut ruangan, menyadari sifat majikannya tidak berubah sedikit pun.

Jiang Xuan tidak menoleh untuk melihat kondisi Lin Ruoxue. Ia tidak memedulikan bagaimana gadis itu menyeretnya keluar dari tempat penampungan yang runtuh, bagaimana ia menghindari monster di jalan, atau bagaimana ia merawat lukanya. Bagi Jiang Xuan, sebuah tameng memang seharusnya melindungi pemegangnya. Mengucapkan terima kasih pada alat adalah pencernaan yang tidak berguna.

"Berapa lama aku tidak sadar?" tanya Jiang Xuan datar, mencoba duduk sambil menyandarkan punggung ke dinding kayu. Wajahnya sedikit meringis, namun ia menguasai ekspresi dengan cepat.

Lin Ruoxue menggertakkan giginya. Ia menahan keinginan yang kuat untuk menyiramkan ramuan herbal panas itu tepat ke wajah pemuda iblis di depannya. Segel Teratai Hitam di dahi berdenyut pelan, memaksanya menelan kebenciannya bulat-bulat.

"Tiga hari," jawab Lin Ruoxue dingin. Gadis itu meletakkan mangkuk obat di atas meja kayu yang reyot di samping kasur. "Aku membawamu keluar tepat sebelum menara itu runtuh menelan altar. Kita sekarang berada di Kota Kayu Hitam, sebuah kota perbatasan di ujung paling luar wilayah sekte."

"Kota perbatasan," gumam Jiang Xuan. Otaknya bekerja menyusun peta. Tempat pelarian yang ideal. Jauh dari mata-mata elit sekte, penuh dengan pedagang gelap, buronan, tentara bayaran, dan kultivator liar. Tempat di mana nyawa sangat murah dan identitas sangat mudah dibeli atau disamarkan.

"Apa yang terjadi pada sekte setelah reruntuhan runtuh?" Jiang Xuan menatap langsung ke mata Lin Ruoxue, suaranya tajam menuntut laporan intelijen.

Lin Ruoxue menyilangkan lengannya. Wajahnya menegang mengingat berita yang ia dengar saat menyelinap ke pasar kota pagi ini.

"Kekacauan besar. Pintu masuk Reruntuhan Kuno hancur total tertimbun longsor. Lempeng giok kehidupan milik delapan ribu murid luar pecah serentak di Balai Leluhur sekte dalam waktu kurang dari satu jam. Tapi bukan itu yang membuat mereka murka."

Gadis itu menarik napas pelan, mencoba menekan nada suaranya agar tidak terdengar dari luar kamar. "Lempeng kehidupan tiga Diakon pembimbing dan Leluhur Sekte yang berdiam di pengasingan juga hancur menjadi abu di saat yang bersamaan. Sekte Awan Azure kehilangan separuh fondasi kekuatan mereka dalam satu malam. Petinggi sekte menjadi gila."

"Tentu saja mereka gila," Jiang Xuan menyeringai sinis, sebuah senyum yang sama sekali tidak sesuai dengan kondisi fisiknya yang hancur. Ia tahu persis apa yang dirasakan para petinggi sekte itu. Rencana kebangkitan yang mereka susun dengan mengorbankan ribuan nyawa dirampas hingga tak bersisa olehnya.

"Kepala Sekte telah menyebarkan perintah perburuan besar-besaran," lanjut Lin Ruoxue, nada suaranya dipenuhi ketegangan yang nyata. "Mereka mengeluarkan hadiah puluhan ribu batu roh tingkat menengah untuk siapa saja yang bisa memberikan informasi tentang kejadian di dalam reruntuhan. Mereka sedang mencari siapa pun yang selamat. Jika kita ketahuan kembali hidup-hidup, mereka tidak akan menyambut kita sebagai murid yang beruntung. Mereka akan membedah otak kita untuk mencari tahu bagaimana Leluhur mereka bisa mati."

Jiang Xuan mengambil mangkuk tanah liat dari meja. Ia menelan ramuan herbal yang rasanya seperti lumpur busuk itu dalam satu tegukan panjang, tidak memedulikan panas yang membakar tenggorokannya. Obat murahan, namun cukup untuk mempercepat pembekuan darah di organ dalamnya.

Ia meletakkan mangkuk itu kembali dengan bunyi denting pelan. Pikiran rasionalnya telah menyusun skenario terbaik dari kekacauan ini.

"Biarkan mereka menyebar perintah perburuan sampai gunung mereka rata dengan tanah," ucap Jiang Xuan mengusap sisa cairan dari bibirnya. "Delapan ribu peserta mati. Di mata sekte, Jiang Xuan si tahap dua dan Lin Ruoxue hanyalah dua nama di antara ribuan nama yang terhapus di dalam catatan kematian."

Jiang Xuan menatap ke arah jendela kayu yang tertutup rapat, tempat debu menari di bawah celah sinar matahari sore.

"Selama tidak ada murid sekte atau Tetua yang mengenali wajah kita secara langsung di jalanan, kita aman. Identitas kita sebagai murid Sekte Awan Azure telah mati terkubur di dalam gua itu." Jiang Xuan beralih menatap Lin Ruoxue, matanya memancarkan perhitungan licik. "Mulai sekarang, sekte itu hanyalah masa lalu. Kita adalah kultivator liar."

Lin Ruoxue menatap pemuda itu dengan perasaan campur aduk. Tidak ada rasa panik, tidak ada penyesalan, apalagi rasa bersalah di mata Jiang Xuan setelah menyebabkan runtuhnya fondasi sebuah sekte besar. Hanya ada rencana demi rencana yang diukir di atas kelicikan. Ia telah benar-benar mengikatkan nasibnya pada seorang monster pragmatis yang melihat dunia sebagai papan catur berdarah.

"Cincin penyimpanan yang kuberikan padamu. Apa isinya masih utuh?" tanya Jiang Xuan mengalihkan topik ke hal yang paling krusial.

Lin Ruoxue mendengus kasar. "Aku telah mengumpulkan semua barang jarahan dari Paviliun Pedang Patah sesuai perintahmu. Beberapa senjata tingkat menengah, ratusan batu roh tingkat rendah, dan material siluman. Cincin utamamu yang berisi harta Penguasa Bintang juga aman di jarimu. Tidak ada yang kucuri saat kau pingsan."

"Bagus," Jiang Xuan mengangguk pelan, memaksakan tubuhnya untuk berdiri meski rasa sakit kembali menusuk pinggangnya. "Kekuatan tahap delapanku masih belum stabil karena paksaan energi altar. Aku butuh sumber daya untuk memulihkan tulangku dan memperbaiki meridian. Obat murahan ini tidak akan cukup."

Ia berjalan tertatih menuju meja kecil dan mengambil sepotong kain bersih untuk mengikat bagian perutnya yang terluka.

"Kota ini penuh dengan tikus pasar gelap dan pedagang serakah," ucap Jiang Xuan dingin. "Kita memiliki senjata dari mayat murid elit sekte dan material siluman untuk dijual. Kita akan pergi ke pasar gelap malam ini, mencuci barang curian kita menjadi pil pemulihan tingkat tinggi."

Lin Ruoxue mengerutkan kening. "Berjalan keluar di saat sekte sedang memburu informasi adalah tindakan bodoh. Luka fisikmu bahkan belum menutup sepenuhnya."

"Bersembunyi di penginapan busuk ini sampai uang kita habis jauh lebih bodoh," potong Jiang Xuan tanpa memberikan ruang untuk berdebat. "Gunakan penyamaran. Tutupi wajahmu. Kau yang akan melakukan transaksi, sementara aku akan mengawasi dari bayangan."

Jiang Xuan melirik ke arah Baozi yang masih tertutup di sudut ruangan. "Dan pastikan bola lemak itu tidak keluar dari sakumu. Jika hidungnya membuat kita mendapat masalah di pasar gelap, aku akan menjualnya sebagai bahan obat kuat."

Lin Ruoxue menghela napas panjang, sebuah desahan kepasrahan yang pahit. Ia mengambil jubah bertudung dari kursi dan melemparkannya ke arah Jiang Xuan. Perburuan dari sekte mungkin mengancam dari segala penjuru, tetapi bagi Jiang Xuan, itu hanyalah rintangan kecil menuju tujuan master puncak pembasmian. Langkah pertama sang Pemutus Takdir di dunia luar akhirnya dimulai dari kota perbatasan yang gelap ini.

1
Shadow
Yahhh keren juga gaya Jiang Xuan tapi jangan kejam x sam Lin ya
Shadow
MC nya sadis
Shadow
Kasat sekali kamu Jiang Xuan
Shadow
Ye Chan tingkat 8, kenapa yang di periksa murid luar yang baru tumbuh ? Harusnya murid dalam atau murid inti yang di periksa.. Para tetua sekte begitu sombong sama murid yang lemah, Padahal anggota sekte sendiri.
Shadow
Kecewa neh MC nya...
Thor, kurangi sifat jahat MC nya
Harusnya dia bersyukur, bisa memulai dari awal dan memperbaiki semuanya
Teteh Lia
Kalau kultivator gini tuh, ada film na nda ya?
@arv_65: cari di play store donghive
total 3 replies
Shadow
Terlalu banyak kalimat kiasan
Shadow
Sepertinya bagus neh ceritanya
Teteh Lia
Kebanyakan, novel genre seperti ini, pakai nama Xuan.
Sebenar na, Xuan itu arti na apa ya? 🙏
Dao Biru: Yap beda hanse beda nada beda pinyin beda arti
total 6 replies
@arv_65
okee
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!