NovelToon NovelToon
Batas Sunyi Kinaya

Batas Sunyi Kinaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Action
Popularitas:272
Nilai: 5
Nama Author: AKSARA NISKALA

​"Ayah, bawa boneka matanya besar ya? Kinaya nggak mau tidur sendirian!"

​Janji itu hancur bersama truk kontainer di perempatan maut. Haidar terbangun di Niskala, dimensi sunyi tanpa manusia. Satu-satunya cara bicara pada dunianya hanya lewat coretan dinding yang muncul secara misterius di depan putrinya, Kinaya.

​Namun, Haidar diburu "Penjaga" kegelapan. Ada rahasia kelam di balik boneka itu yang mulai terungkap. Haidar harus berjuang kembali atau terjebak selamanya sebagai gema. Karena batas antara kasih sayang dan kutukan hanyalah setipis hembusan napas.

​"Aku tidak mati, Kinaya. Aku hanya tertinggal di balik sunyimu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AKSARA NISKALA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9: EKSEKUSI PERTAMA

​Makhluk berjubah putih itu memberikan sebuah benda padaku—sebuah belati yang bilahnya tampak seperti potongan bayangan yang membeku. Tidak ada beratnya, namun setiap kali aku menggenggamnya, aku bisa merasakan emosi negatif yang meluap-luap dari benda itu. Dingin, tajam, dan seolah-olah memiliki detak jantungnya sendiri.

​"Tugasmu adalah memutus rantai," ucap si Jubah Putih sembari jarinya menunjuk ke arah pinggiran kota yang tertutup kabut tebal. "Ada seseorang yang mencoba masuk ke dalam mimpi seorang anak manusia. Dia ingin membisikkan janji palsu agar jiwanya ditarik ke sini. Hentikan dia sebelum fajar Niskala menyingsing."

​Aku menelan ludah. "Bagaimana caranya?"

​"Gunakan belati itu. Satu sayatan pada bayangannya cukup untuk membuangnya ke jurang terdalam Niskala, tempat di mana mereka takkan pernah bisa melihat cahaya lagi."

​Aku berjalan menembus kabut, mengikuti koordinat yang berdenyut di dalam kepalaku. Setiap langkah terasa aneh; aku merasa lebih kuat, tapi sekaligus lebih dingin. Aku sampai di sebuah rumah tua yang tampak transparan. Di dalamnya, di dimensi yang berbeda, aku bisa melihat seorang anak laki-laki sedang tidur dengan gelisah. Di samping ranjangnya, berdiri sosok wanita dengan rambut kusut yang sedang membisikkan sesuatu ke telinga anak itu.

​"Ikut Ibu, Sayang... di sini kita bisa bermain selamanya..." bisik wanita itu. Suaranya penuh dengan kerinduan yang beracun.

​Aku tahu perasaan itu. Itu perasaan yang sama saat aku ingin menarik Kinaya ke sini tempo hari. Bedanya, wanita ini tidak peduli jika anak itu mati, dia hanya ingin temannya. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.

​"Berhenti!" teriakku sambil melompat masuk menembus dinding transparan itu.

​Wanita itu menoleh. Wajahnya hancur setengah, menunjukkan keputusasaan yang luar biasa. "Jangan ganggu kami! Dia anakku! Aku hanya ingin dia bersamaku!"

​"Kau akan membunuhnya!" balasku sambil menghunuskan belati bayangan itu.

​"Lebih baik dia mati bersamaku daripada hidup menderita tanpa ibu di sana!" raungnya. Dia menerjangku dengan kuku-kuku yang tajam.

​Kami bergulat di lantai yang terasa seperti awan. Kekuatannya besar karena dipicu oleh kegilaan. Namun, setiap kali aku teringat senyum Kinaya saat memakan es krim di rumah sakit tadi, tekadku menguat. Aku bukan sedang membunuh wanita ini; aku sedang menyelamatkan anak itu dari nasib yang sama denganku. Dengan satu gerakan cepat, aku mengayunkan belati itu. SRAK!

​Bilah hitam itu membelah bayangan si wanita. Dia menjerit, bukan jeritan suara, melainkan jeritan eksistensi yang memudar. Tubuhnya perlahan tersedot ke dalam lantai yang berubah menjadi pusaran hitam pekat. Dalam sekejap, dia lenyap, meninggalkan keheningan yang mencekam. Di dunia nyata, anak laki-laki itu mendadak tenang. Napasnya teratur, dan dia mulai tersenyum dalam tidurnya.

​Aku berdiri terengah-engah, menatap belati di tanganku yang kini berpendar merah redup. Aku merasa mual. Aku baru saja membuang seseorang ke tempat yang lebih buruk dari ini. Apakah ini harga yang harus kubayar untuk satu jam bersama Kinaya?

​"Kerja yang bagus, Penjaga," suara si Jubah Putih bergema dari balik bayang-bayang. "Satu tugas selesai. Pergilah. Waktumu dimulai sekarang."

​Seketika, duniaku berputar. Aku tidak lagi berada di rumah tua itu. Aku berdiri di kamar rawat Kinaya. Suasananya sepi, hanya ada suara detak jam dinding dan embusan angin dari jendela yang sedikit terbuka. Kinaya sedang tidur pulas. Rina tertidur di kursi samping tempat tidur, kepalanya bersandar pada lengannya sendiri. Aku mendekat perlahan. Kali ini, tidak ada rasa sakit saat aku mendekati frekuensi mereka. Aku merasa ringan, seperti udara.

​Aku duduk di tepi tempat tidur Kinaya. Aku tidak berani menyentuhnya, tapi aku meniupkan udara dingin dengan lembut ke arah keningnya yang berkeringat.

​"Ayah..." igau Kinaya pelan. Jantungku berdegup kencang. Apakah dia ingat?

​"Ayah... bonekanya... jangan pergi..." lanjutnya dalam mimpi.

​Air mataku jatuh, namun tidak membasahi seprainya. Air mataku menguap menjadi embun tipis sebelum menyentuh kain. Dia tidak ingat namaku, dia tidak ingat wajahku, tapi di dalam mimpinya, aku masih menjadi sosok yang menjaga boneka beruang itu. Aku adalah pelindung tak bernama yang dia rindukan tanpa dia tahu alasannya.

​"Ayah di sini, Sayang. Ayah akan selalu jadi angin yang menyejukkan tidurmu," bisikku, meskipun aku tahu dia takkan mendengarnya sebagai suara, melainkan sebagai rasa nyaman yang tiba-tiba hadir di hatinya.

​Aku menghabiskan satu jam itu hanya dengan menatapnya. Memperhatikan setiap embusan napasnya, setiap gerak kecil jemarinya. Ini adalah satu jam paling berharga dalam seluruh keberadaanku di Niskala. Namun, saat jarum jam menunjukkan waktu telah habis, tubuhku mulai terasa transparan dan tertarik kembali ke kegelapan.

​"Sampai jumpa besok, Kinaya," ucapku sebelum benar-benar lenyap.

​Aku kembali ke Menara Pemantau dengan perasaan yang campur aduk. Aku telah menjadi eksekutor Niskala. Aku telah menukar kedamaian jiwa lain demi kebahagiaanku sendiri. Tapi saat aku melihat belati di tanganku, aku tahu... aku akan melakukannya lagi. Seribu kali lagi, jika itu artinya aku bisa melihat Kinaya bernapas satu hari lagi.

1
T28J
saya mampir kesini juga kak 👍
Manusia Ikan 🫪
hmmmm
AKSARA NISKALA
nantikan terus kelanjutannya ya kak😍
Wigati Maharani
ceritanya keren si tapi masih agak bingung ini alur nya gimana, apa beda dimensi atau gimana bikin penasaran banget😭 cepet update torrr
Wigati Maharani
ceritanya kayak ada horor" nyaa 😭 agak takut sii bacanya tp penasaran😞
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!