NovelToon NovelToon
I Love You Om Dosen

I Love You Om Dosen

Status: tamat
Genre:Dosen / Duda / Beda Usia / One Night Stand / CEO / Tamat
Popularitas:62.6k
Nilai: 5
Nama Author: Eli Priwanti

Malam kelam merenggut masa kecil Carmenita yang baru berusia delapan tahun. Sebuah tragedi misterius merobek kebahagiaannya. Kedua orang tuanya tewas di tangan sosok tak dikenal. Samudera mengambil alih. Ia mengasuh Carmenita dengan segenap jiwa, memberinya rumah dan cinta sebagai seorang ayah angkat.

Waktu berlalu, bayangan gadis kecil itu kini menjelma menjadi perempuan dewasa yang menawan. Di usia delapan belas tahun, Carmenita tumbuh dalam sunyi pengaguman.

Ia tak hanya mengagumi Samudera yang kini menjelma menjadi Dosen berkharisma, idola para mahasiswa di kampus tempatnya mengajar. Carmenita telah jatuh cinta.

Cinta yang lama dipendam itu meledak dalam pengakuan tulus. Namun. Baginya, perasaan Carmenita hanyalah "cinta monyet"; gejolak sesaat dari seorang putri yang ia jaga. Ia melihatnya sebagai anak, bukan sebagai seorang wanita.
Mampukah ketulusan dan keteguhan cinta Carmenita, yang dianggapnya ilusi kekanak-kanakan, menembus dinding pertahanan hati Samudera?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyesalan yang menghancurkan

Deru mesin mobil belum benar-benar mati saat Samudera melompat keluar dan berlari masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang berat bergema di lorong sunyi menuju kamar Carmen. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia memutar kunci pintu yang selama tiga hari ini ia gembok dari luar.

Cklek!

Pintu terbuka. Cahaya lampu lorong yang masuk ke kamar yang temaram itu memperlihatkan sosok Carmen yang tengah meringkuk di atas ranjang. Gadis itu tertidur dalam posisi janin, seolah berusaha melindungi dirinya sendiri dari dunia yang kejam.

Samudera terpaku di ambang pintu. Ia membekap mulutnya dengan kedua tangan, berusaha meredam isak tangis yang mendesak keluar. Pemandangan itu menghantam jantungnya lebih keras dari apa pun. Sosok yang ia panggil "putri kecil", yang ia rawat dengan kasih sayang selama ini, ternyata adalah wanita yang ia hancurkan di malam terkutuk itu.

Untuk memastikan kebenaran yang masih sulit diterima akalnya, Samudera melangkah pelan menuju meja rias Carmen. Matanya tertuju pada sebuah kotak beludru berwarna merah muda. Dengan napas tersengal, ia membuka kotak itu.

Di sana, di antara perhiasan kecil lainnya, tergeletak sebuah jepitan rambut kupu-kupu kristal. Samudera merogoh sakunya, mengeluarkan jepitan yang ia temukan di Hotel Grand. Saat ia mendekatkan keduanya, mereka tampak identik. Sepasang. Sempurna. Dan itu adalah bukti mutlak atas dosanya.

"Ya Tuhan... kenapa bisa jadi seperti ini?" rintih Samudera. Ia menjambak rambutnya dengan kasar, lalu ambruk terduduk di ujung ranjang. Tempat tidur itu sedikit bergoyang, membuat Carmen terusik dari tidur tidak nyenyak nya.

Carmen membuka matanya perlahan. Saat menyadari sosok tinggi Samudera berada di dalam kamarnya, ia langsung terduduk dengan wajah pucat dan penuh ketakutan.

"Om... Kenapa Om Samudera ada di sini?" tanya Carmen dengan suara serak. Tubuhnya gemetar hebat. "Apakah aku telah membuat kesalahan lagi? Tolong jangan hukum aku lagi, Om..."

Samudera menoleh, menatap Carmen dengan mata yang merah dan nanar. Ada campuran antara kemarahan pada diri sendiri dan rasa frustrasi yang luar biasa dalam tatapannya.

"Ya, kau telah melakukan banyak kesalahan, Carmen," ujar Samudera dengan suara parau yang menakutkan. "Om sudah tahu semuanya. Kau sebenarnya sudah tahu lebih dulu soal ini, kan? Kenapa kau menyembunyikan semua ini dariku?"

Jantung Carmen seakan berhenti berdetak. Ia meremas selimutnya, mencoba mencari kekuatan di tengah ketidaktahuannya yang pura-pura. "Maksud Om Sam apa? Aku... aku benar-benar tidak mengerti..."

"Jangan pura-pura bodoh, Carmen!" bentak Samudera, suaranya naik satu oktaf karena emosi yang meluap. Ia melemparkan kedua jepitan kupu-kupu itu ke atas pangkuan Carmen. "Kau sudah tahu siapa pria yang telah merenggut kesucianmu malam itu di kamar 808! Kau sudah tahu sedari awal bahwa pria brengsek itu adalah aku, pamanmu sendiri!"

Jeger!

Kata-kata itu menghantam Carmen layaknya sambaran petir di siang bolong. Rahasia yang selama ini ia simpan rapat-rapat di dasar jiwanya demi melindungi pria itu, pria yang ia cintai sekaligus ia takuti...kini terbongkar.

Carmen tidak sanggup lagi memandang wajah Samudera. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, tangisnya pecah seketika. Isakannya terdengar begitu pilu hingga seluruh tubuhnya berguncang hebat.

"Maaf... maafkan aku, Om..." gumam Carmen di balik tangisnya yang tersedu-sedu. "Aku hanya tidak ingin Om membenci dirimu sendiri... Aku tidak ingin Om hancur karena tahu kebenarannya..."

Samudera hanya bisa terpaku, melihat gadis yang ia sakiti justru masih memikirkan perasaannya. Ruangan itu kini hanya dipenuhi oleh suara tangis penyesalan yang tak akan pernah bisa mengulang waktu.

Samudera bergeser, mengikis jarak di antara mereka. Dengan tangan yang masih gemetar, ia mencoba meraih jemari Carmen yang dingin. Gerakannya begitu hati-hati, seolah Carmen adalah porselen retak yang akan hancur jika disentuh terlalu keras.

"Maaf... tolong maafkan Om-mu ini, Carmen. Om sudah sangat menyakitimu, menghancurkan masa depanmu, bahkan mengurung mu seperti binatang," bisik Samudera dengan suara parau yang penuh dengan duka.

Carmen mendongak. Di balik mata yang sembap, ia melihat kehancuran yang sama di mata pria itu. Tanpa mampu menahan diri lagi, Carmen menghambur ke pelukan Samudera. Ia mendekap pria itu sangat erat, bahunya naik turun karena tangis yang semakin histeris. Ia menumpahkan segala ketakutan yang ia pendam sendiri selama berminggu-minggu.

"Tolong maafkan aku juga, Om... maaf karena selama ini aku berbohong," isak Carmen di dada Samudera. "Aku takut... aku takut sekali jika Om tahu, Om akan membenciku. Tapi kejadian malam itu... itu murni karena ulah seseorang yang membenciku. Sayangnya aku tidak memiliki bukti kejahatannya. Aku hanyalah korban dari mereka, Om!"

Mendengar itu, rahang Samudera mengeras. Giginya mengatup rapat hingga terdengar bunyi gemeletuk. Amarah yang tadinya ia arahkan pada "pria asing" kini berbalik sepenuhnya menjadi keinginan untuk membalas dendam pada siapa pun yang telah menjebak mereka berdua.

"Kau tenang saja, Carmen. Om akan selidiki masalah ini sampai ke akar-akarnya. Siapa pun mereka, mereka akan membayar setiap tetes air matamu," tegas Samudera sembari mengelus rambut Carmen. "Dan untuk masalah kehamilanmu... Om janji, Om akan bertanggung jawab sepenuhnya. Tolong, maafkan Om."

Carmen melepaskan pelukannya perlahan, menatap Samudera dengan tatapan kosong yang menyayat hati. "Tidak, Om... Om Sam tidak bersalah. Malam itu Om di bawah pengaruh obat juga Kan? Sama seperti ku. Aku... aku sudah memutuskan untuk melakukan aborsi. Aku tidak ingin Om terbebani oleh janin ini. Jadi Om tidak perlu merasa bertanggung jawab."

"Apa?!" Samudera tersentak. Mendengar kata "aborsi" meluncur dari bibir Carmen, amarahnya kembali tersulut, namun kali ini karena rasa protektif. "Kau mau menjadi seorang pembunuh, Carmen?"

"Tapi ini aib, Om..."

"Janin itu tidak berdosa! Dia darah dagingku!" bentak Samudera, namun segera melembutkan suaranya saat melihat Carmen menciut. "Aku tetap akan bertanggung jawab. Aku... aku akan menikahi mu, Carmen!"

Deg!

Jantung Carmen seolah berhenti berdetak. Ia tertegun, menatap pria di hadapannya dengan perasaan yang campur aduk. Bahagia, sedih, dan ngeri melebur menjadi satu.

Selama ini, ia memang memendam rasa cinta yang terlarang pada pria yang telah merawatnya ini. Mendengar kata "nikah" adalah mimpinya yang paling rahasia. Namun, saat mimpi itu terwujud di tengah tragedi seperti ini, hatinya justru terasa perih. Ia melihat mata Samudera, di sana hanya ada rasa bersalah, kewajiban, dan penebusan dosa. Tidak ada binar cinta yang ia harapkan.

"Menikah... denganku?" tanya Carmen lirih, air matanya kembali menetes.

"Iya. Kita akan menikah secepatnya. Tidak akan ada yang berani menyentuhmu atau menghina anak itu jika kau menjadi istriku," jawab Samudera tegas, meski sorot matanya tetap menyiratkan luka yang sangat dalam.

Carmen hanya bisa terdiam. Ia tahu, mulai saat ini, hidup mereka tidak akan pernah sama lagi. Pernikahan ini mungkin akan mengikat mereka selamanya, namun ia bertanya-tanya dalam hati: Mampukah cinta tumbuh di atas tanah yang sudah hangus oleh penyesalan?

Bersambung...

1
Si Memeh
baguuuuuussss
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: terimakasih kak 🙏😊
total 1 replies
Teh Yen
jangan percaya begitu saja Carmen dia jg tadi kan mengatakan suatu kebohongan padamu tentang samudra masa percaya begitu saja sih
Teh Yen
jd brasa nonton film Conan penuh misteri d plot twist nya seru ih
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: kk suka anime Conan ya? aku suka bgt malah 🤭
total 1 replies
Teh Yen
hayo loh kamu ketauan tp apa motifnya nya Amanda melakukan itu apakah ada dendam pribadi atau keluarga pada orang tua Carmen ???
Teh Yen
aku rasa c Amanda itu memutar balikan fakta agar Carmen membenci samudra toh niatnya pasti Karena balas dendam gegara gebetannya kamu rebut Carmen ... jadi jangan percaya apapun kita Amanda
gila.yah temen terdekat yg dia percaya ternyata berkhianat huuh smoga carmen bisa segera d temukan
Teh Yen
itu siapa Carmen apakah mereka orang yg smaa yg membunuh orang tua mu ?
Teh Yen
smoga carmen d calon bayinya baik.baik saja
farel jangan macam" yah kamu tidak tau siapa sam sebenarnya kan jangan main" dengannya
Teh Yen
kamu terlalu polos Carmen untuk menganggap farel baik sebagai teman 😏
ayo om sam kasih jawab logis atas pertanyaan farel biar.mukit mereka semuanya bungkam
Teh Yen
Mantapz Carmen tunjukkan kalau sam adalah milikmu seutuhnya ,,,, jauhkan dari bibit" wanita pelakor 😏
Teh Yen
Carmen engg ada kapoknya bikin om sam cemburu hihii
Teh Yen
jangan galak galak lah om ingat posisi kalian d kampus ini kalau ketauan kan berabe nanti
💕£LI P®iwanti ✍️⃞⃟𝑹𝑨: nah, betul itu 🤣🤣🤣
total 1 replies
Teh Yen
waduh ternyata c farel keponakannya Tante may yah sih dunia sempit banget yah 🤭
Teh Yen
pagi yg manis uuuhh so sweet yah
Carmen ayo kasih paham jangan biarkan bibit pelakor masuk ke dlm rumah tanggamu yah
Teh Yen
akhirnya kata keramatnya terucap.jg hehe 😁
Teh Yen
cie c om.udh mulai pandai memuji hihi ,, Carmen jantungmu baik baik saja kan tp d pastikan pipimu memerah hihii
Teh Yen
kalau.conta bilang om Carmen pasti sneng kalau cintanya berbalas
Teh Yen
masih mau menyangkal om hehe 😁 ya terserah om sih itu mah paling uring" Ngan sendiri nanti hihii
Teh Yen
kenapa engg blng kalau kamu cemburu aj om gt aj gengsi hihii
Teh Yen
waah visual farrel.gantneg banget yah 😍

nah loh Tiara siap siap kamu d depak dari kampus karena.2 kesalahan sekaligus 😏 menjebak Carmen dengan minuman itu d menyebarkan foto dengan caption fitnah huuh 😤
Teh Yen
waduh gawat smoga saja om sam cari tau segera orang yg sudah nyebarin gosip d grup wa yah biar tau rasa tuh c Tiara perlu d kasih pelajaran tambahan kyny cwek satu itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!