kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6
Setelah Safri mati jadi tumbal pesugihan Santau kiriman Samsul, desanya seminggu penuh diguyur hujan deras seperti langit juga tidak terima.
Di ujung kampung, ada keluarga Pak Kardi Hidupnya benar-benar pas-pasan, Rumah papan reot dan atapnya akan bocor kalau ditimpa hujan. Dia kerja serabutan, istrinya midah yang kerjanya sebagai ibu rumah tangga dan mempunyai 7 anak.
5 anaknya udah nikah dan pisah rumah, meski hidup mereka juga tidak jauh beda. Sisanya 2 anak yang nomor 6 bernama ayu 16 tahun masih SMA dan sebentar lagi akan naik kelas, dan anak yang bungsu bernama Siska masih sekolah kelas 3 SMP dan tak lama lagi akan lulus, tapi ibu menitipkan Siska dirumah anaknya yang lain karena terbatasnya ekonomi.
Malam itu beras di rumah habis, Bu Midah dan anaknya bernama ayu cuma bisa menahan lapar karena suaminya belum pulang dan setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Pak Kardi pulang dengan muka kusut,"pak, bentar ibu ambilin dulu air putih, mau buat kopi gulanya sudah habis", dengan wajah dipaksakan tersenyum,"air putih juga tidak apa-apa buk".
Setelah beberapa detik Midah membawakan air dan pak Kardi langsung meminumnya sampai kandas.
Di luar, Samsul ngintip dari balik pohon mangga. Matanya merah dan Pesugihannya sama Safri gagal total, uangnya tidak bertambah, badannya malah makin kurus dan sering mimpi dicekik, Dukunnya bilang. "Tumbal pertama ditolak. Kau butuh tumbal yang lebih bersih, darah keluarga yang masih utuh dan miskin Ibu dan anaknya. Itu paling manjur." saat itulah dia menargetkan keluarga pak Kardi untuk menjadikan tumbal selanjutnya.
Samsul tidak peduli lagi, Yang ada di kepalanya cuma satu: jadi cepat kaya atau mati.
Malam Jumat Kliwon, Samsul datang lagi. Kali ini dia bawa bungkusan hitam. Isinya kuku, rambut, dan foto Bu Midah yang dia curi waktu Bu Midah lewat warungnya seminggu lalu Dia juga bawa nama ayu dan ditulis pakai darah ayam hitam dan tumbal malam itu hanya menginginkan dua
Di tengah hutan, Samsul mulai ritual dan Dukun tua itu komat-kamit:
> "Santau Tuju Arah, kau yang kuundang.
> Masuklah lewat angin malam,
> Masuklah lewat makanan,
> Ambil nyawa ibu dan satu anaknya.
> Darah mereka jadi jembatan emas untukku."
Angin tiba-tiba berhenti dan Kumbang malam tidak berbunyi, Bahkan anjing kampung diam semua.
Santau itu terbagi jadi tiga:
*Santau Angin* – dikirim lewat angin
malam masuk lewat hidung pas orang tidur
dan bisa juga dari hewan seperti cicak
*Santau Makan* –yang dikirim lewat
makanan.
*Santau Darah* – dikirim lewat boneka kain
Santau ini paling ganas, karena akan
menghancurkan organ dalam
malam harinya hal aneh mulai terjadi dirumah pak Kardi. Midah terbangun dengan batuk yang tidak berhenti dan keluar darah dari mulutnya. pak Kardi saat melihat istrinya batuk dan keluar darah tidak berhenti,"ibu kenapa", dan dengan tersenyum Minah menjawab," ibu tidak apa-apa pak", tapi karena dilanda rasa khawatir, pak Kardi memanggil anaknya untuk datang kerumah, setelah semua anaknya datang dan berkumpul, mereka sepakat untuk membawa minah kerumah sakit, tapi Minah menolak dan hanya ingin di obatin lewat ramuan herbal dan karena permintaan minah.
Dan pagi harinya, batuk Midah semakin parah, wajahnya juga seputih kapas dan pada saat itu anaknya yang bernama wati datang dengan ramuan obat herbal,"buk, ayo diminum dulu obatnya", sambil memegang gelas midah menanyakan,"ini obat apa wat",
lalu wati menceritakan jika itu obat diberikan seseorang dan orang itu mengatakan jika itu obat untuk mengurangi sakit ibu. Setelah meminum ramuan itu akhirnya batuk Midah mulai berkurang, wajahnya pun tidak sepucat tadi dan perlahan-lahan kondisi Minah mulai membaik setelah meminum ramuan itu.