Bima Saputra, seorang sarjana pariwisata yang hidupnya terjerat lilitan utang keluarga, kini terjebak menjadi juragan warung sayur di Kabupaten Jatiroso. Realita yang pahit, ibu sakit, dan pernikahan diam-diam dengan wanita impiannya, Dinda, membuatnya merasa terhimpit. Namun, nasibnya berubah drastis saat ponselnya kesetrum, membuka gerbang menuju ladang virtual game Harvest Moon! Kini, ia bisa menanam buah dan sayur berkualitas dewa yang tumbuh sekejap mata, memindahkannya ke dunia nyata, dan menjualnya untuk meraup omzet gila-gilaan. Dari semangka manis hingga stroberi spesial, Bima menemukan jalan ninjanya menuju kekayaan. Bisakah ia melunasi utang ratusan juta, membahagiakan ibunya, dan meresmikan pernikahannya dengan Dinda secara terang-terangan, tanpa ada yang mencurigai rahasia ladang gaibnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perluas Saluran Penjualan! Siapa Juga yang Peduli Sama Pemandangan Malam?
Ide memproduksi massal semangka Kualitas 2 dan menjualnya dengan harga semangka sultan impor memang brilian, tapi realitanya saat ini, total semangka Kualitas 2 miliknya cuma ada segelintir itupun sudah dipotong satu buat dimakan sendiri.
Jadi, buat sekarang, mending fokus dulu ke bisnis yang ada di depan mata. Setidaknya, Bima harus memprioritaskan melunasi utang keluarga, mengumpulkan uang muka KPR rumah biar ibunya bisa tinggal di tempat yang lebih layak, lalu memboyong Dinda pulang ke rumah secara terang-terangan sebagai istri yang sah.
Memikirkan hal itu, Bima melangkah ke belakang Dinda, memeluk pinggang ramping istrinya dengan lembut. Tangannya mulai bergerilya nakal. "Din... malam ini nggak usah pulang, ya?" bisiknya.
Dinda tentu saja paham apa maksud suaminya. Ia memutar bola matanya manja dan merajuk pelan, "Kalau aku nggak pulang, Ibu pasti tahu aku lagi sama kamu, Mas. Nanti ujung-ujungnya aku diomelin panjang lebar lagi."
Bima mendesah berat. "Terus gimana dong? Udah lama banget lho aku puasa, nahan ini berat tauk."
"Hmph!" Dinda menepis tangan Bima yang makin tak tahu arah di tubuhnya, lalu mendengus manja. "Ya udah, bentar aku telepon Ibu dulu. Ngarang alasan kalau ada acara makan-makan sama orang kantor dan pulangnya kemalaman."
"Nah, itu baru istriku yang pinter! Biar aku yang booking kamarnya," sahut Bima kegirangan. Dengan cekatan, jarinya menari di layar ponsel, memesan kamar tipe Grand Deluxe di Hotel Bintang Wetan yang punya fasilitas bathtub raksasa dan ranjang King Size.
Prinsipnya jelas: kamar yang ranjangnya kecil dan nggak ada bathtub-nya, skip!
Bima menghela napas miris. Padahal mereka ini sudah sah pegang buku nikah, tapi kelakuan tiap mau naik ranjang berasa kayak anak SMA lagi pacaran backstreet. Nasib, nasib.
Selesai booking kamar, Bima iseng mengecek isi dompetnya. Syukurlah, masih ada sisa dua bungkus "jas hujan" di selipan dompet. Cukuplah buat amunisi malam ini.
"Iya, Bu, Ibu tenang aja. Aku nggak sama Mas Bima kok... Iya, paham, aku nggak bakal biarin dia ngambil kesempatan dalam kesempitan! Assalamualaikum," ucap Dinda ke telepon dengan nada meyakinkan sebelum akhirnya memutus panggilan.
Ia memeluk lengan Bima sambil bersungut-sungut, "Tuh kan, Mas denger sendiri. Ibuku tuh waspadanya sama kamu udah kayak satpam kompleks ngawasi maling jemuran... Gimana kalau kita terus terang aja sama keluarga? Aku pengennya tiap hari bisa tidur bareng kamu."
"Kasih aku waktu bentar lagi ya," Bima buru-buru menenangkan istrinya yang mulai impulsif.
Kalau mereka nekat buka kartu sekarang, kedua belah pihak pasti bakal shock dan sakit hati.
Ibunya Bima mungkin bakal senang tapi sekaligus diliputi rasa bersalah yang besar. Di sisi lain, orang tua Dinda pasti bakal kecewa berat, marah, dan merasa kecolongan. Sekalipun pada akhirnya keluarga Dinda terpaksa tutup mata dan menerima pernikahan itu, hubungan antarkeluarga dijamin bakal canggung dan meninggalkan luka di hati mertuanya.
Saat ini (di tahun 2024), harga rata-rata properti perumahan di Kabupaten Jatiroso sudah menyentuh angka gila-gilaan, yakni Rp 24.000.000 per meter persegi. Untuk sebuah rumah tipe 100 saja, kalau ditotal dengan biaya pajak dan urus surat-surat, harganya bisa tembus Rp 2,6 Miliar. Uang mukanya paling tidak butuh Rp 800 Juta, dan kalau ditambah biaya renovasi serta isi perabotan, ia harus pegang uang segar minimal Rp 1,2 Miliar.
Dulu, jangankan beli rumah miliaran, buat beli bakso aja Bima mikir dua kali. Tapi sekarang beda cerita. Kalau dia bisa memperluas jaringan bisnis semangkanya dan memastikan seluruh panen dari 24 petak lahannya ludes terjual setiap hari, uang Rp 1,2 Miliar itu bisa ia kumpulkan cuma dalam waktu dua bulan!
Bahkan, kalau level karakternya naik dan ia bisa membuka lahan yang lebih luas, waktunya bakal jauh lebih singkat.
Nanti, begitu kuncinya sudah di tangan, Bima bakal menjemput Dinda pulang dengan kepala tegak, memberikan kejutan super mewah, sekaligus membuktikan kelayakannya di depan mertuanya. Dengan begitu, resepsi pernikahan kedua belah pihak bisa digelar dengan meriah dan tanpa ada yang merasa direndahkan, kan?
"Iya deh, aku nurut aja. Yuk berangkat sekarang," ujar Dinda sambil tersenyum manis dan mengangguk.
Dinda tak pernah meragukan suaminya. Bima adalah laki-laki pilihannya sendiri. Kalaupun ujung-ujungnya Bima gagal dan mereka tetap harus menempuh jalur nekat buat terang-terangan di depan keluarga tanpa bawa apa-apa, Dinda sudah siap mental.
Hotel Bintang Wetan adalah hotel termewah di Kabupaten Jatiroso. Posisinya menghadap langsung ke arah taman sungai dengan pemandangan lampu-lampu kota yang indah di malam hari.
Tapi yah, nama juga sepasang suami-istri yang lagi sakau asmara masuk kamar hotel. Siapa juga yang sempat peduli sama keindahan pemandangan malam di luar jendela?
Setelah kelar urusan check-in dan mengamankan kunci akses dari resepsionis, Bima langsung menarik tangan Dinda masuk ke dalam lift. Begitu kaki mereka menginjak kamar dan pintu dikunci rapat, Bima tanpa ba-bi-bu langsung melucuti pertahanan Dinda dan menggendongnya lurus ke arah bathtub raksasa.
…
Beberapa jam kemudian, dengan senyum puas khas bapak-bapak yang habis menang arisan, Bima menggandeng tangan Dinda keluar dari lobi hotel. Mereka mampir sebentar ke warung pecel lele tendaan di pinggir jalan untuk mengisi perut yang keroncongan habis olahraga malam, lalu Bima mengantar istrinya pulang ke rumah orang tuanya.
Setelah perpisahan singkat di gang rumah Dinda, Bima kembali ke rumahnya sendiri dan langsung mengecek layar antarmuka gamenya.
Ternyata, pas dia lagi sibuk "bercocok tanam" sama istrinya di hotel tadi, sistem gamenya memunculkan notifikasi panik karena ladangnya diserang hama ulat dan ditumbuhi rumput liar. Boro-boro sempat ngurusin hama game, ngurusin "hama" di hotel aja udah nguras energi!
Keesokan paginya.
Semangka di 24 petak lahannya kembali memunculkan ikon matang.
Bima memerintahkan karakter gamenya untuk memanen seluruh buah ke dalam gudang, membabat sulur yang mengering, lalu kembali menaburkan benih. Dengan ritme ini, menjelang sore nanti pasti sudah ada kloter baru yang siap panen lagi.
Di dalam gudang penyimpanan game, hasil panen kloter pagi ini bertumpuk menjadi satu dengan hasil panen kloter sore kemarin.
Kunci pintu warung rapat-rapat.
Berteleportasi masuk ke dalam game.
Begitu melangkah ke dalam gudang, pemandangan tumpukan semangka raksasa yang menggunung bagai bukit kecil langsung menyambutnya.
Semangka Tanpa Biji: 836 buah (Kualitas 1)
Semangka Tanpa Biji: 7 buah (Kualitas 2)
Total dari dua kloter panen tersebut menghasilkan 843 buah semangka. Dan yang menggembirakan, ada tambahan 7 buah semangka Kualitas 2 yang kembali dipisahkan secara otomatis oleh sistem.
Bima kembali ke dunia nyata. Sambil nyeruput bubur ayam yang baru ia beli, ia memacu motornya ke gudang sewaan. Butuh waktu lumayan lama baginya untuk melakukan ritual kuli panggul lintas dimensi, memindahkan 843 buah semangka itu ke dunia nyata. Setelah semuanya beres, ia merekam video tumpukan raksasa itu dan melemparnya ke grup WhatsApp seperti biasa.
Tak lama, Darjo dan gerombolan bos warung lainnya bermunculan memberikan respon. Sayangnya, yang melakukan order hanyalah para pelanggan lama. Tidak ada satu pun pesanan dari warung baru.
Grup WhatsApp itu memang didominasi oleh pedagang sayur dan ikan laut. Potensi pasar dari grup itu rupanya sudah mencapai batas maksimalnya.
Setelah direkap, jumlah total pesanan hari ini cukup lumayan, yakni 411 buah semangka.
Bima segera mengangkut pesanan itu ke motor Tossa-nya. Menghabiskan waktu 3 jam untuk bolak-balik mengantar ke puluhan lapak yang berbeda. Total berat 411 buah semangka itu adalah 2.260 Kg. Dengan harga grosir, Bima mengantongi Rp 13.562.000 tunai.
Tapi masalahnya... begitu kembali ke gudang, masih ada sisa 422 buah semangka! Ditambah lagi, sore nanti bakal ada panen 400 buah lagi. Jelas, dia wajib segera mencari jalur distribusi raksasa yang baru!
Dan jujur saja, targetnya sudah terkunci jelas di kepalanya: Toserba Makmur Jaya di kawasan Wetan Mall!
Wetan Mall adalah pusat hiburan dan denyut nadi perekonomian di Jatiroso. Lahan parkirnya seluas lapangan bola, dan di dalamnya terdapat bioskop, tempat karaoke, food court, hingga arena bermain anak. Benar-benar pusat keramaian paling gila di kota ini.
Toserba Makmur Jaya menguasai seluruh lantai satu gedung tersebut. Areanya masif, pilihan barangnya super komplit, dan arus pengunjung hariannya adalah yang tertinggi se-Jatiroso.
Bahkan kalau seluruh penjualan semangka dari lapaknya Darjo dkk digabung jadi satu, belum tentu bisa ngalahin omzet stan buah segar di Toserba Makmur Jaya dalam sehari.
Bima langsung bergerak cepat. Ia mengambil dua buah semangka Kualitas 1, menaruhnya di keranjang motor listriknya, dan meluncur ke arah Wetan Mall.
Sekarang, misinya cuma satu: bagaimana caranya meloloskan semangkanya masuk ke jaringan supply rak supermarket raksasa ini.
Dari informasi yang ia korek sebelumnya, selain lewat tender resmi yang ribet, staf purchasing (pengadaan barang) di Toserba Makmur Jaya juga sering mengambil barang supply lepasan yang harganya diklaim 'lebih miring'.
Dan sudah jadi rahasia umum di Indonesia, jalur 'miring' begini pasti ada pelicinnya.
Setibanya di area pintu bongkar muat khusus supplier, Bima langsung beraksi. Ia menyelinapkan sebungkus rokok Surya 12 ke saku kemeja satpam penjaga pintu, sambil basa-basi menanyakan di mana letak ruangan manajer pengadaan barang.
Sakti. Begitu sebungkus Surya mendarat mulus di saku, si satpam mendadak berubah ramah paripurna. Ia bahkan proaktif membantu Bima mengangkat semangka itu sampai ke depan pintu ruangan Manajer Cipto di bagian Purchasing.
Satpam itu sudah hafal luar kepala dengan orang-orang modelan Bima yang datang bawa sample buah. Pak Manajer Cipto juga sudah wanti-wanti, kalau ada supplier datang bawa barang bagus, langsung giring masuk saja ke ruangannya.
Manajer Cipto adalah sesosok pria paruh baya dengan perut buncit dan rambut berminyak klimis. Begitu mendengar niatan Bima, ia langsung memasang wajah serius dan menginspeksi dua semangka tersebut dengan gaya sok detektif. "Hmm... Dilihat dari luar sih bentuknya lumayan. Kualitas buahnya kelihatan bagus."
"Gimana, Pak Manajer? Kira-kira semangka saya ini bisa masuk jadi barang display supermarket, nggak?" tanya Bima to the point.
Wajah Manajer Cipto seketika berubah berat, seolah sedang memikul beban penderitaan rakyat. Ia mendesah pura-pura serba salah. "Wah, Mas Bima... sampeyan kan tahu sendiri, yang datang nawarin pasokan buah ke sini tuh tiap hari ngantre. Lagian, saya ini udah punya kontrak kerja sama dengan supplier tetap. Dalam bisnis itu kan kita harus junjung tinggi yang namanya integritas dan kejujuran."
"..."
Integritas gigimu, batin Bima mengumpat. Bima sadar ini cuma gimmick negosiasi. Kalau orang ini benar-benar menjunjung integritas, dia nggak bakal ngeladenin obrolan sejauh ini. Bima pun langsung menembak, "Pak Manajer, ujung-ujungnya supermarket kan cari cuan. Harga grosir di luaran sana sekarang Rp 6.000 per kilo. Khusus buat Bapak, saya banting harganya jadi Rp 5.200 per kilo gimana?"
Wajah Cipto masih disetel pada mode 'serba salah'. "Waduh, Mas Bima, posisi saya ini bener-bener repot lho. Nggak enak sama supplier lama."
Bima tertawa dalam hati. Dasar lintah birokrasi, minta disuap aja banyak dramanya. Sambil tersenyum ramah ia berkata, "Gini deh, Pak Manajer... Biar sama-sama enak, saya diskon lagi jadi Rp 4.800 per kilo! Hitung-hitung bagi rezeki lah buat kita berdua."
Bima berani banting harga segila itu karena dia satu-satunya orang di muka bumi ini yang jualan semangka tanpa modal seperak pun. Semuanya untung bersih!
Mendengar angka Rp 4.800, senyum licik langsung mengembang di wajah Manajer Cipto. "Hahaha... Mas Bima ini rupanya pengusaha muda yang sangat pengertian dan paham kondisi lapangan. Kalau niatnya udah tulus begini, ya sudah, supermarket kami siap menampung semangka Mas Bima. Tapi ingat ya, Mas... nanti di nota fakturnya, sampeyan tulis harganya Rp 5.600 per kilo. Paham kan maksud saya?"
"Siap, laksanakan, Pak Cipto. Saya mah orangnya paham aturan main," balas Bima sambil tertawa basa-basi, padahal di dalam hatinya ia sedang sibuk mengabsen seluruh isi kebun binatang.
Strategi mark-up nota kosong begini sudah basi. Pakai harga faktur Rp 5.600 per kilo saja, harganya sudah lebih murah Rp 400 dibanding grosir pasaran. Atasan supermarket pasti bakal senang dan menganggap Cipto pintar menawar.
Sementara itu, selisih Rp 800 per kilo dari harga asli kesepakatan mereka bakal meluncur mulus masuk ke kantong pribadi Cipto!
Kelihatannya memang cuma receh Rp 800 per kilo. Tapi kalau dalam sehari Bima menyetor 2.500 kilogram semangka? Itu artinya Cipto mengantongi Rp 2.000.000 uang haram cuma dalam sehari! Sebulan bisa tembus Rp 60.000.000!
Ini baru dari satu komoditas semangka lho. Coba bayangkan ada berapa puluh jenis sayur dan buah yang dipasok ke supermarket raksasa ini setiap harinya? Seberapa gila uang pelicin yang dikeruk oleh manajer babi gendut ini tiap bulan?
Sumpah, bener-bener...