NovelToon NovelToon
Sang Antagonis Cantik

Sang Antagonis Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Ketos
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sunflower_Rose

Kata orang, dia manipulatif. Jahat. Perusak.
Katanya, dia menghancurkan cinta dan kepercayaan dari dua lelaki yang tulus padanya.
Dia dituduh memecah tiga bersaudara.
Dibilang merusak hubungan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi hanya dia yang tahu bagaimana rasanya menjadi Bianca.
Tak seorang pun benar-benar paham bagaimana luka, keadaan, dan dunia yang kejam perlahan membentuknya menjadi seorang antagonis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sunflower_Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 6

Malam semakin larut di kediaman besar keluarga Anderson, namun suasana di sana justru makin terasa panas oleh ketegangan dan emosi yang merayap naik ke setiap sudut ruangan.

Di dalam kamar pribadi Kiyo, Bianca duduk bersandar pada tumpukan bantal sutra empuk dengan wajah yang masih tampak pucat pasi, sementara Kiyo duduk tenang di tepi tempat tidur sambil memegang mangkuk berisi bubur yang masih mengepul hangat.

"Ayo, satu suap lagi. Lo harus makan supaya gak lemas terus," ucap Kiyo. Suaranya yang biasanya terdengar tegas dan dingin kini berubah menjadi jauh lebih lembut, hampir terdengar seperti bisikan yang penuh bujukan.

Bianca menatap sendok yang diarahkan ke mulutnya itu dengan pandangan yang terlihat lemas dan sayu, lalu perlahan membuka bibirnya untuk menerima suapan itu. 'Hebat, Kiyo benar-benar menjadi begitu bergantung dan penurut cuma dalam semalam. Maxwell pasti akan sangat marah besar kalau tahu anak kesayangannya lebih milih duduk di sini nyuapin orang seperti gue daripada menuruti semua perintahnya,' batin Bianca dengan rasa puas yang tersembunyi.

Beberapa saat yang lalu, perdebatan sengit antara Kiyo dan Maxwell di depan pintu kamar memang sempat memuncak dan terdengar cukup keras. Saat itu Kiyo berani-beraninya berdiri teguh melawan ayahnya serta menyatakan bahwa ia bertanggung jawab penuh atas keberadaan Bianca yang ada di rumah itu.

Entah dengan cara atau alasan apa yang digunakan Kiyo, ia akhirnya berhasil meredam kemarahan Maxwell lewat penjelasan soal nama baik sekolah dan rasa kemanusiaan. Akhirnya Maxwell pun mengalah dan mengizinkan Bianca tinggal di sana untuk sementara waktu sampai kondisi kesehatannya benar-benar pulih.

"Terima kasih ya, Kak Kiyo. Aku benar-benar merepotkan..." gumam Bianca pelan setelah menelan makanan di mulutnya.

Kiyo meletakkan mangkuk kosong itu ke atas meja kecil di samping kasur, lalu dengan gerakan yang sangat lembut ia mengusap sudut bibir Bianca menggunakan ujung jarinya. Sentuhan itu begitu pelan dan hati-hati seolah Bianca adalah benda berharga yang mudah pecah dan rusak.

"Jangan ngomong kayak gitu. Gue yang bawa lo ke sini, jadi gue yang akan ngurus lo sampai sembuh total."

Deg.

Kiyo menatap tepat ke dalam mata Bianca dengan pandangan yang begitu dalam dan lekat. Ada kilat perasaan aneh yang terlihat di sana, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya kepada siapa pun. Seumur hidupnya Kiyo selalu dikelilingi oleh banyak gadis cantik dan terpandang dari kalangan atas, namun tak satu pun dari mereka yang mampu membuat detak jantungnya berubah tidak beraturan seperti saat bersama gadis yang ada di hadapannya ini.

 ****

Sementara itu di ruang makan lantai bawah, Gwen baru saja melangkah masuk dengan jaket kulit yang masih terasa lembap terkena sisa-sisa rintik hujan di luar sana. Wajahnya tampak sangat lelah dan lesu setelah seharian menghabiskan waktu di studio musik milik temannya. Di meja makan yang besar itu, Eleanor dan Joy sudah duduk dengan tenang menghadapi hidangan makan malam yang terlihat mewah dan berlimpah. Sementara Maxwell sendiri sudah kembali masuk ke ruang kerjanya sejak selesai berdebat dengan Kiyo tadi.

"Baru pulang, Gwen?" tanya Eleanor tanpa menoleh sedikit pun, tangannya tetap bergerak anggun memotong daging di piringnya.

"Iya, Ma. Macetnya bener-bener nggak masuk akal tadi," jawab Gwen singkat. Ia menarik kursi kosong di samping Joy lalu mulai mengambil nasi ke piringnya sendiri. Mata Gwen menyapu seluruh isi meja makan dengan dahi yang sedikit berkerut bingung. "Loh, Kiyo mana? Belum pulang? Tumben jam begini nggak kelihatan batang hidungnya."

Joy yang sedari tadi hanya sibuk mengaduk-aduk sup di mangkuknya menyahut pelan tanpa mengangkat wajah, "Lagi di atas, Kak."

Gwen makin mengernyitkan keningnya tak paham. "Di atas? Nggak makan bareng? Tumben amat tuh anak sok sibuk di kamar."

Eleanor menyesap air putih di gelasnya dengan tenang sebelum menjawab pertanyaan putrinya itu, "Kiyo lagi nemenin temennya di kamar. Temennya lagi sakit, jadi dia minta izin buat nyuapin di atas."

"Hah? Temen siapa?" Gwen tertawa kecil seolah mendengar hal yang tak masuk akal. Ia menganggap ucapan ibunya itu sebagai candaan belaka. "Sejak kapan Kiyo punya temen yang semanja itu sampe minta disuapin? Weichen? Tuh cowok kan biasanya paling anti kelihatan lembek. Atau Jonathan?"

Eleanor menggeleng pelan tetap dengan sikap tenangnya. "Bukan. Katanya namanya Bianca. Temen sekolah kalian yang pingsan kehujanan tadi sore."

Prang!

Benda logam berupa sendok di tangan Gwen jatuh menghantam piring makan hingga menimbulkan bunyi nyaring yang cukup memekakkan telinga. Gwen langsung berdiri tegak dari kursinya hingga membuat kursi itu bergeser dan berderit kasar di atas lantai keramik. Wajahnya yang tadinya tampak lesu dan tak bersemangat kini berubah drastis menjadi tegang dan penuh emosi yang meluap.

"Apa?! Bianca?!" seru Gwen. Suaranya naik beberapa nada lebih tinggi hingga membuat para pelayan yang berdiri di sudut ruangan ikut tersentak kaget. "Maksud Mama, Bianca anak beasiswa itu?! Sekarang dia ada di kamar Kiyo?!"

Joy dan Eleanor menatap Gwen dengan pandangan heran bercampur bingung. Joy mengerutkan keningnya makin dalam sebab merasa reaksi kakaknya ini benar-benar berlebihan dan nggak wajar sama sekali.

"Iya, Kiyo yang bawa. Katanya dia trauma hujan dan pingsan di jalan. Papa udah ngizinin dia nginep beberapa hari," jelas Eleanor dengan nada bicara yang masih terdengar biasa saja dan bingung. "Gwen, kamu kenapa sampe berdiri gitu?"

Gwen sama sekali tidak memedulikan pertanyaan ibunya. Napasnya berubah jadi cepat dan berat seolah habis berlari jauh.

'Sialan! Kenapa harus Kiyo yang nemuin dia?! Kenapa Bianca bisa sampe masuk ke kamar pribadi Kiyo?!' batin Gwen yang seketika terbakar rasa cemburu dan marah yang besar. Di mata dan pikiran Gwen, Bianca adalah miliknya seorang saja sejak kejadian di lapangan basket kemarin.

"Gwen ke kamar Kiyo dulu."

"Gwen, kamu belum selesai makan!" tegur Eleanor dengan nada menegah.

"Udah nggak laper lagi, Ma!" Gwen langsung melangkah lebar bergegas menuju tangga, meninggalkan meja makan dan hidangannya begitu saja.

Joy hanya bisa menatap punggung Gwen yang makin menjauh lalu hilang di balik tangga, setelah itu ia beralih menatap ke arah langit-langit lantai atas. Tangannya mengepal kuat di bawah meja yang tak terlihat orang lain.

'Kenapa sih... kenapa semua orang jadi gila gara-gara Bianca? Kak Kiyo yang biasanya dingin dan tertutup bisa berubah jadi kayak perawat pribadi, sekarang Kak Gwen juga ikut meledak marah,' batin Joy penuh rasa curiga dan tanda tanya besar.

'Siapa lo sebenernya, Bi? Lo kayak magnet kuat yang narik kedua kakak gue masuk ke jalur yang sama.'

Namun di balik rasa curiga dan herannya itu, Joy juga merasa ada rasa takut yang perlahan tumbuh. Ia takut jika ternyata Bianca benar-benar punya maksud atau niat yang tidak baik. Selama ini Joy cuma ingin menjalani hidupnya dengan tenang dan damai tanpa masalah.

'Selama lo nggak nyakitin kedua kakak gue dan nggak deket-deket sama Jonathan, gue nggak masalah. Tapi kalo lo macem-macem...'

Tak lama kemudian Gwen sudah sampai di depan pintu kamar Kiyo dengan napas yang tersengal-sengal karena terburu-buru. Tanpa mengetuk pintu atau meminta izin terlebih dahulu, ia langsung memutar tombol pintu dan mendorong daun pintu itu masuk dengan kasar.

Brak!

Di dalam ruangan itu, Kiyo yang baru saja selesai merapikan mangkuk dan peralatan makan langsung menoleh cepat dengan tatapan yang tajam dan waspada. Sementara Bianca berpura-pura terkejut dan takut lalu menarik selimutnya lebih tinggi menutupi sebagian wajah, menampilkan ekspresi ketakutan yang sangat meyakinkan.

"Gwen! Bisa sopan dikit nggak kalo masuk kamar orang?!" bentak Kiyo. Ia segera melangkah maju berdiri menghalangi pandangan Gwen ke arah Bianca yang ada di atas kasur.

Gwen sama sekali tidak membalas bentakan itu. Matanya menatap lekat-lekat ke arah Bianca yang tampak begitu lemah dan rapuh terbaring di atas tempat tidur milik adiknya. "Ngapain dia di sini, Kiyo? Dan kenapa harus lo yang jagain dia?"

"Dia lagi sakit, Gwen. Gue nemuin dia pingsan di jalan. Lo nggak punya hati ya liat orang kesulitan?!" Kiyo melangkah maju satu langkah lagi, menatap menantang kakaknya itu.

"Banyak kamar tamu di rumah ini, Kiyo! Kenapa harus di kamar lo?! Lo sengaja mau ambil kesempatan, kan?" Gwen ikut mendekat hingga jarak mereka cuma tersisa beberapa sentimeter saja. Dua saudara kandung itu saling bertatapan dengan pandangan yang begitu tajam dan penuh persaingan.

"Gue cuma mau mastiin dia aman. Gue nggak percaya sama orang lain di rumah ini buat jagain dia," jawab Kiyo dengan nada yang tenang tapi tegas.

Gwen tertawa sinis, sebuah tawa yang terdengar penuh rasa sakit hati dan kemarahan yang tertahan lama. "Aman? Atau lo cuma mau cari muka pas dia lagi lemah? Gue tau akal bulus lo, Kiyo."

"Jaga mulut lo, Gwen! Mending lo keluar sekarang sebelum gue panggil Papa!"

Gwen melirik sekilas ke arah Bianca yang masih diam membisu dengan mata yang sudah berkaca-kaca seolah mau menangis. "Bi..Lo beneran mau di sini sama dia? Lo nggak tahu Kiyo ini sebenernya kayak gimana?"

Bianca menatap Gwen dengan pandangan memohon yang terlihat begitu memilukan hati siapa saja yang melihatnya. "Kak... Kak Gwen... maafkan aku... aku hanya... aku sangat takut tadi saat hujan... Kak Kiyo....yang...nyelamatin aku."

Suara Bianca yang bergetar itu rasanya seolah menyiramkan bensin ke atas api amarah yang sudah berkobar di dada Gwen. Gwen merasa ia harus segera bertindak menyelamatkan Bianca dari cengkeraman adiknya sendiri.

"Udah, Bianca nggak butuh ceramah lo. Keluar sekarang!" Kiyo mendorong bahu Gwen pelan namun tegas mengarah ke pintu.

"Gue nggak bakal tinggal diem, Kiyo. Inget itu," desis Gwen mengancam sebelum akhirnya pintu kamar ditutup dengan keras oleh Kiyo tepat di depan wajahnya.

Di dalam kamar yang kini kembali sepi itu, Kiyo menarik napas panjang berusaha menenangkan diri dan mengendalikan emosinya yang sempat memuncak. Ia kembali berbalik badan menatap ke arah Bianca yang masih diam di kasur. "Maafin Gwen, ya. Dia bener-bener nggak jelas kalo lagi capek."

Bianca mengangguk pelan seolah mengerti dan tenang, padahal jauh di dalam hatinya ia sedang bersorak penuh kemenangan dan rasa puas. 'Ya... teruslah berantem. Teruslah rebutin gue.'

1
Nian Sari
suka banget sama persahabatan mereka😍
Nian Sari
sangat mengganaskan sekali
Nian Sari
suka banget🎊
Nian Sari
lah dah lanjut ternyata😱
Tab Adrian
nexttt lahhh... aku kasian sma semuanyaaa
Tab Adrian
dag dig duggg antara apa nihhhh🔥🔥
Tab Adrian
biii.. bales dendam itu sakitt lohhh.. 🥺😐
Tab Adrian
kerasaa bgt centill nya si tuan putri Anderson ituu
Tab Adrian
nyesekk.. semuanya nyesekk.. jiejie ini kalok bikin cerita gk pernah gagal.. selalu bisa bikin pembacaannya masuk ke dalam ceritaaa😍😍😍
Tab Adrian
banyak bgt ya, peluang Bianca buat hancurin keluarga itu
Tab Adrian
jdi semuanya nyakittttt😭
Tab Adrian
😍sakit bgt jdi Bianca banyak beban yg dy tanggung.. pdhl dy cuma pengen bebas hidup kyk remaja biasa pada umumnya tanpa memikirkan dendam dendam dn dendam.. tp aku juga pendendam sihh😅
Tab Adrian
hati hati bi..
Tab Adrian
tuan muda Anderson yg malang ututuru~
Tab Adrian
klok kiyo tau kebenarannya akankah dy terus berjuang demi cintanya atau malah milih untuk berperang
paijo londo
kurang ajar si Jo itu membuat trauma dan dendam banget ayo bec ancurin si Jon tor itu
Reva Reva nia wirlyana putri
wihhh udh lanjut
Reva Reva nia wirlyana putri
bagus kaliii
Reva Reva nia wirlyana putri
kasian biancaaa
Reva Reva nia wirlyana putri
joy tukeran tempet tok atau enggak kan cjm yg jadi pemeran joy, joy nya jdi cwo aja biar pasangan nya sama aku🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!