NovelToon NovelToon
Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Penyesalan Kalian Sudah Terlambat!

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Bad Boy / Idola sekolah
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Aira dan Airin adalah kembar yang tak pernah serupa. Airin adalah "Permata Maheswari"—cantik, cerdas, dan dicintai. Sementara Aira hanyalah "Cacat Produksi"—kusam, bodoh, dan terbuang di gudang belakang karena tak mampu bersaing dengan standar keluarga yang gila gelar.

Satu-satunya cahaya dalam hidup Aira adalah ingatan tentang Alvaro, bocah laki-laki kumal yang dulu ia selamatkan dan ia beri seluruh hatinya. Namun, ketika Alvaro kembali sebagai pewaris tunggal konglomerat yang tampan dan berkuasa, takdir mempermainkan Aira dengan kejam.

Alvaro salah mengenali "Ai" sahabat kecilnya. Berkat kelicikan dan nama mereka yang hampir mirip, Airin dengan mudah mencuri identitas Aira. Kini, pria yang paling dicintai Aira justru menjadi orang yang paling rajin menghina dan merundungnya demi membela sang kembaran palsu.

Di tengah luka yang menganga, muncul Bara—sang bad boy penguasa sekolah yang menolak tunduk pada siapa pun. Bara berjanji akan memberikan dunia pada Aira.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

"Loe beneran mau gue anter sampai masuk ke kamar, atau loe cukup berani buat jalan sendiri ke dalem?"

Suara Bara yang berat dan sedikit serak memecah keheningan malam saat motor besarnya berhenti tepat di bawah bayangan pohon beringin besar, beberapa meter sebelum gerbang utama kediaman Maheswari. Bara mematikan mesin, namun ia tidak langsung turun. Ia melepaskan helm full-face-nya, membiarkan rambut hitamnya yang sedikit berantakan tertiup angin malam. Di bawah pendar lampu jalan yang temaram, wajahnya tampak begitu tegas—rahang yang kokoh, hidung bangir, dan sorot mata liar yang entah kenapa sekarang terasa begitu teduh bagiku.

Aku tertawa kecil, suara yang sangat jarang keluar dari mulutku belakangan ini. "Nggak usah gila, Bara. Bisa-bisa Papa langsung panggil polisi kalau liat loe nangkring di depan pintu utama."

"Polisi? Gue kira dia bakal panggil tentara sekalian buat ngusir preman kayak gue," Bara menyeringai, sebuah senyum miring yang tampak sangat tampan dan keren. Ia menyandarkan kedua tangannya di atas setang motor, menatapku dengan binar jenaka yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Tawa loe... lumayan juga. Jangan sering-sering disembunyiin, entah kenapa bikin muka loe yang pas-pasan itu jadi agak mendingan."

"Bara!" Aku memukul bahunya pelan, dan tawa kami kembali pecah secara singkat. Rasanya sangat ringan. Untuk beberapa saat, aku benar-benar lupa kalau aku sedang berdiri di ambang pintu 'neraka' yang selama belas tahun ini kusebut rumah.

Namun, tawa itu seketika terhenti saat sebuah sorot lampu putih yang sangat terang mendadak membelah kegelapan dari arah gerbang. Sebuah mobil Mercedes-Benz hitam yang sangat kukenal—mobil Alvaro—terparkir tepat di depan gerbang, menghalangi jalan masuk.

Alvaro ada di sana.

Udara di sekitarku mendadak berubah menjadi sangat dingin. Aku bisa merasakan jantungku berdegup kencang, bukan karena debaran manis seperti tadi di atas motor, melainkan karena rasa sesak yang mulai menghimpit paru-paruku.

Alvaro keluar dari mobilnya. Ia tidak langsung menghampiri kami. Ia hanya berdiri bersandar di pintu mobil, melipat tangan di depan dada dengan kemeja yang sudah sedikit kusut dan dasi yang dilonggarkan. Di bawah sorot lampu gerbang, wajahnya tampak merah padam, rahangnya mengeras, dan matanya menatap tajam ke arah kami—terutama ke arah tanganku yang masih memegang bahu Bara.

"Puas main-mainnya, Aira?"

Suara Alvaro rendah, namun tajamnya melebihi silet. Ia melangkah maju perlahan, setiap ketukan sepatunya di atas aspal terasa seperti palu yang menghantam hatiku. Tatapannya penuh dengan kejijikan dan amarah yang meluap-luap.

"Aku nggak tahu kalau 'kelainan mental' kamu sekarang sudah merambah ke hobi kelayapan malam-malam sama berandal sekolah," ucap Alvaro saat ia sudah berdiri hanya beberapa langkah di depan kami. Ia melirik motor Bara dengan pandangan meremehkan, lalu kembali menatapku. "Pantas saja Tante Ratna sampai menangis di meja makan tadi, ternyata putrinya memang lebih suka sampah daripada keluarga sendiri."

Aku terkesiap. Jadi Mama benar-benar melakukan itu? Dia menceritakan kebohongan soal 'kelainan mental' padanya?

"Al, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Bara cuma—"

"Cuma apa? Cuma alat baru buat kamu memanipulasi keadaan?" Alvaro memotong kalimatku dengan tawa hambar yang menyakitkan. "Aku sudah tahu semuanya, Aira. Aku sudah tahu betapa liciknya kamu sejak kecil. Betapa kamu selalu berusaha merusak kebahagiaan Airin hanya karena kamu iri padanya. Dan sekarang... kamu menggunakan preman ini untuk menakut-nakuti dia di sekolah? Murahan sekali."

Aku merasakan mataku mulai panas, tapi aku menolak untuk menangis di depannya lagi. Rasa perih ini sudah terlalu sering aku rasakan. Di depanku, pria yang dulu kusebut pahlawan kini memandangku seolah-olah aku adalah noda kotor yang harus dibuang.

Bara, yang sejak tadi diam, perlahan turun dari motornya. Ia melangkah maju, berdiri tepat di sampingku, menempatkan tangannya di bahuku dengan sangat posesif. Ia jauh lebih tinggi dari Alvaro, dan aura beringas yang terpancar darinya membuat suasana semakin mencekam.

"Loe kalau ngomong dijaga, Pangeran Kodok," suara Bara sangat dingin, namun tenang. Ia menatap Alvaro dengan pandangan meremehkan yang sama kuatnya. "Gue nggak peduli loe denger dongeng apa dari keluarga Maheswari, tapi jangan pernah sebut dia murahan di depan gue kalau loe masih sayang sama nyawa loe."

"Loe membela dia?" Alvaro tertawa sinis, ia menatap Bara dengan kebencian murni. "Loe nggak tahu siapa yang loe bela, Bara. Dia itu parasit. Dia ahli dalam berakting menyedihkan supaya dapet perhatian. Loe cuma korban selanjutnya dari tipu daya dia."

"Korban?" Bara menyeringai dingin. Ia mencondongkan tubuhnya ke arah Alvaro, wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah pria yang sedang dikuasai cemburu itu. "Gue liat dia ketawa lepas malam ini. Sesuatu yang kayaknya nggak pernah dia lakuin selama ada di sekitar loe. Kalau menurut loe dia parasit, mungkin itu karena loe nggak pernah bisa jadi tempat yang layak buat dia tumbuh. Loe cuma sibuk sama ular peliharaan loe di dalem sana."

"Jaga mulut loe, brengsek!" Alvaro hendak melayangkan pukulan, tapi ia menahan diri saat melihatku tersentak. Tangannya yang mengepal bergetar hebat.

Alvaro menoleh padaku, matanya berkilat penuh luka dan amarah yang campur aduk. "Masuk, Aira. Papa sudah nunggu di dalem. Dan aku... aku nggak mau liat kamu sama cowok ini lagi. Ini peringatan terakhir."

Bara melepaskan rangkulannya di bahuku, lalu berbisik pelan, "Loe masuk aja. Biar urusan cowok ini, gue yang beresin."

Aku menatap Bara dengan ragu, lalu menatap Alvaro yang masih mematung dengan tatapan membunuh. Dengan langkah berat, aku mulai berjalan menuju pintu gerbang kecil di samping. Hatiku terasa remuk. Tawa yang tadi sempat menghiasi bibirku kini menguap, digantikan oleh rasa sesak yang familier.

Saat aku sudah melewati Alvaro dan hendak membuka gerbang, tiba-tiba sebuah tangan besar dan kuat mencengkeram pergelangan tanganku dengan kasar.

"Tunggu," desis Alvaro.

Ia menarik tubuhku hingga aku berbalik menghadapnya. Cengkeramannya sangat kuat, menimbulkan rasa perih di kulitku yang pucat. Matanya tidak lagi menatapku, melainkan tertancap lurus pada Bara yang kini sudah bersiap untuk menyerangnya.

"Jangan pernah loe pikir ini berakhir di sini, Bara," ucap Alvaro dengan nada yang sangat gelap. "Gue bakal pastiin loe nggak akan pernah punya kesempatan buat deketin dia lagi. Karena seburuk apa pun dia, dia tetangga gue, dan gue nggak akan biarkan dia dikotori oleh sampah kayak loe."

Bara menyeringai, ia menyalakan mesin motornya kembali, suaranya yang menggelegar seolah menantang Alvaro di tengah sunyinya malam. "Gue nggak takut sama ancaman anak mami kayak loe, Varo. Kita liat aja besok, siapa yang bakal loe sebut sampah saat semua topeng di rumah ini mulai retak."

Bara menatapku sekali lagi, memberikan sebuah kedipan tipis yang seolah-olah mengatakan 'semuanya bakal baik-baik saja', sebelum akhirnya ia melesat pergi, meninggalkan kepulan asap dan deru mesin yang perlahan menjauh.

Kini tinggal aku dan Alvaro di depan ambang pintu neraka ini. Alvaro masih mencengkeram tanganku, napasnya memburu, dan aku bisa merasakan aura cemburu yang begitu liar terpancar darinya—sebuah emosi yang seharusnya tidak ia rasakan untuk gadis 'licik' sepertiku.

"Sakit, Al... lepasin," rintihku pelan.

Alvaro tersentak, ia melepaskan cengkeramannya dengan kasar seolah tanganku adalah kotoran yang menular. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu menatapku dengan tatapan yang sangat benci namun sekaligus... frustrasi.

"Masuk," perintahnya dingin tanpa melihatku lagi. "Jangan bikin aku semakin muak liat muka kamu malam ini."

Aku menunduk, melangkah masuk ke dalam gerbang tanpa berani menoleh lagi. Di belakangku, aku bisa mendengar suara pintu mobil Alvaro yang dibanting sangat keras, diikuti oleh deru mesin mobilnya yang masuk ke halaman rumah. Di depanku, cahaya rumah Maheswari tampak begitu terang, namun aku tahu, di dalamnya hanya ada kegelapan yang siap mencabik-cabik jiwaku kembali.

1
Ma Em
Aira seharusnya keluar saja dari rumah itu untuk apa Aira bertahan dirumah seperti neraka itu karena Aira tdk diharapkan dan selalu direndahkan tanpa Aira Airin hanya tong kosong hanya sampah Aira msh mau saja dibodohi .
Aletheia
gak semudah itu kak,kan nunggu Aira dewasa atau lulus SMA dulu
Allea
sampai bab ini masih mempertahankan kebodohannya ckck aira aira dah pergi aja sih,selama ada kemauan jalan selalu ada pergilah menjauh dari keluargamu buktikan kamu hebat
Ma Em
Semangat Aira buktikan kalau Aira bkn anak yg bawa aib bkn anak yg bawa sial tapi sebaliknya Aira anak yg berprestasi dan sangat bersinar buat ayah , ibu dan Airin menyesal dan bongkar semua kebohongan dan keburukan Airin didepan Alvaro dan bilang pada Alvaro bahwa teman masa kecilnya bkn Airin tapi Aira , Airin cuma ngaku2 saja jadi Aira , jgn mau memaafkan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu Aira .
Ma Em
Aira jgn takut dgn Alvaro , lawan dia kalau Aira takut Alvaro makin berani menghina Aira , semoga saja kebenaran tentang Airin yg ngaku2 teman Alvaro waktu kecil segera terungkap .
Ma Em
Aira bangkitlah lawan mereka yg selalu menghina dan merendahkan kamu , bongkar semua keburukan dan kelicikan Airin agar kedua orang tuamu tau bahwa yg bodoh itu Airin bkn Aira , Aira jgn mau dipermainkan dan dimanfaatkan lagi sama Airin balas lah perbuatan mereka padamu Aira jgn takut ada Barra yg akan menjadi pelindungmu Air 💪💪💪.
Ma Em
Makanya Aira kamu hrs bangkit jgn mau diperalat sama Airin , buat Airin membayar semua perbuatan nya padamu Aira buat kedua orang tuamu menyesal juga Alvaro tunjukan pada mereka keahlianmu yg sebenarnya bkn Airin yg pintar tapi otak Aira yg digunakan Airin untuk mengelabui orang mereka .
Aletheia: sabar ya kak,kita buat supaya Aira bisa teguh jika nanti harus meninggalkan keluarganya☺️
total 1 replies
Ma Em
Bagus Aira bangkitlah dan balas semua perbuatan mereka yg sdh menyakiti dan memfitnah mu Aira terutama Airin jgn diberi maaf juga Alvaro buat dia menyesal .
Ma Em
Heran ya ada orang tua berat sebelah sama anak sendiri dijelek jelekan didepan orang lain hanya untuk dapat perhatian dari Alvaro , tunggu saja saat waktu sdh tiba dan kebenaran akan terungkap siapa Airin dan siapa Aira .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!